Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21
Sore itu, Nana keluar dari Rumah Besar Sie lewat pintu depan.
Hal sederhana itu terasa aneh.
Biasanya ia keluar lewat pintu samping, pintu servis, atau jalur yang membuatnya tampak seperti bayangan rumah. Hari ini ia duduk di kursi belakang mobil Daniel Tjang, mengenakan blus sederhana pilihan Stella dan membawa ponsel darurat dari Steven di dalam tas kecilnya.
Stella mengantarnya sampai tangga depan.
"Kalau merasa tidak enak, telepon," bisik Stella.
"Aku bawa ponsel."
"Bukan ponsel Koko Steven. Telepon aku."
Nana menahan senyum. "Iya, Cici Stella."
Daniel membuka pintu mobil dari luar. "Tenang, Cici Stella. Aku akan mengembalikan muridmu sebelum malam."
"Bukan muridku," kata Stella.
"Kalau begitu harta keluarga?"
Stella menatapnya dingin. "Jangan coba-coba membuat lelucon dengan itu."
Daniel mengangkat kedua tangan. "Baik. Aku mengerti. Hari ini tidak bercanda soal barang berharga."
Nana masuk ke mobil sebelum Stella menemukan alasan baru untuk menahannya. Loki duduk di depan, seperti biasa diam, matanya sesekali memeriksa kaca spion.
Mobil bergerak melewati gerbang. Nana menoleh ke belakang.
Di balkon lantai dua, Steven berdiri setengah tersembunyi di balik tirai.
Ia tidak melambai.
Nana juga tidak.
Namun ponsel darurat di tasnya bergetar sekali.
Pesan pendek dari nomor yang sudah disimpan Irwan:
Jalur diketahui. Jangan pindah mobil tanpa kabar.
Nana menatap layar itu. Ia hampir tertawa, tapi dadanya justru terasa hangat dan berat sekaligus.
"Pesan dari penjaga pintu hatimu?" tanya Daniel dari samping.
Nana mematikan layar. "Dari orang yang terlalu suka memberi instruksi."
"Ah, berarti benar."
Kedai kopi yang dituju Daniel berada di kawasan Pecinan Surabaya, di deretan bangunan tua yang catnya mulai mengelupas. Tidak ada papan mewah. Hanya meja kayu, kipas angin berputar lambat, dan bau kopi hitam yang pahit. Di sudut ruangan, seorang lelaki tua duduk dengan map plastik di pangkuan.
Nana langsung tahu ia bukan orang miskin, meski bajunya sederhana.
Sepatunya dirawat terlalu rapi. Jamnya tua tapi mahal. Cara ia memegang gelas juga seperti orang yang pernah lama duduk di ruangan ber-AC, bukan di warung panas.
"Lama tidak bertemu," kata lelaki tua itu kepada Daniel.
"Aku juga berharap lebih lama lagi," jawab Daniel ringan, lalu duduk tanpa menunggu dipersilakan. "Tapi dunia selalu kurang baik hati."
Lelaki tua itu melihat Nana. "Ini siapa?"
"Orang yang sedang belajar membaca cara orang kaya berbohong."
Nana menahan napas. Daniel tidak memperhalus apa pun.
Lelaki tua itu tertawa pendek, tapi matanya tidak ikut tertawa. "Kalau begitu dia harus mulai dari tanda tangan."
Map plastik dibuka. Di dalamnya ada fotokopi dokumen lama, beberapa halaman dengan cap bank, tanda tangan, dan coretan angka. Nana tidak mengerti semua isinya. Namun ia melihat pola yang pernah Daniel ajarkan: nama, tanggal, nilai, siapa yang menanggung utang, siapa yang terlihat bersih.
Daniel mendorong satu halaman ke arah Nana.
"Lihat tanda tangannya."
"Kelihatannya sama."
"Justru karena terlalu sama, dia palsu."
Nana menunduk lebih dekat.
Daniel menunjuk dua tanda tangan dengan ujung jarinya. "Orang yang menandatangani sepuluh dokumen dalam satu hari tidak akan punya tekanan tangan yang persis sama. Tangan manusia lelah. Mesin tidak."
Lelaki tua itu mengangguk pelan. "Dulu aku melihat ini. Aku memilih diam."
Suasana meja berubah.
Daniel masih tersenyum, tapi senyum itu menjadi tipis sekali. "Dan sekarang Bapak memilih bicara karena?"
"Karena aku sudah tua."
"Usia tidak membuat orang otomatis jujur."
"Karena orang yang dulu membayar kebungkamanku mulai mencari keluargaku."
Nana mengangkat kepala.
Lelaki tua itu menatap gelas kopinya. "Wan punya tangan panjang. Dulu Tjang Group dijatuhkan dengan kertas. Sekarang Sie mungkin akan dijatuhkan dengan cara yang sama, hanya lebih rapi."
Nama Wan membuat kulit Nana meremang.
Daniel mengambil satu lembar lagi, lalu meletakkannya di depan Nana. "Ini yang harus kau pahami. Pisau tidak selalu besi. Kadang bentuknya cap, tanda tangan, nomor rekening."
"Dan orang kecil yang memegang cap itu bisa dipaksa," kata Nana pelan.
Daniel memandangnya. "Ya."
Nana teringat helper laundry dalam video Hasan. Terlihat seperti pelaku, lalu menjadi korban. Di dunia yang sedang ia masuki, tangan orang kecil bisa dipakai untuk mengirim ancaman, memalsukan bukti, menandatangani kebohongan, lalu dibuang saat tidak diperlukan.
"Bagaimana kau membuat dia bicara?" tanya Nana.
Daniel menyandarkan punggung. "Aku membeli utang adiknya."
Lelaki tua itu menegang, tapi tidak membantah.
Nana menatap Daniel. "Kau mengancamnya?"
"Aku memberi pilihan."
"Pilihan yang kau pegang harganya."
Daniel tersenyum lebih lebar. "Kau belajar cepat."
"Itu tidak lucu."
"Memang tidak." Daniel mengetuk meja sekali. "Kebebasan tidak selalu datang dari orang baik, Nana. Kadang orang bisa bicara karena seseorang yang lebih buruk dari ketakutannya datang membawa kuitansi."
Nana tidak menyukai kalimat itu. Namun ia tidak bisa sepenuhnya menolaknya. Lelaki tua di depan mereka memang bicara. Dokumen di meja memang terbuka. Kebenaran, setidaknya potongannya, muncul bukan karena dunia tiba-tiba adil, melainkan karena Daniel tahu tombol mana yang harus ditekan.
Loki tiba-tiba menoleh ke kaca jendela.
Daniel melihat gerakan kecil itu. "Apa?"
"Mobil abu-abu. Dua kali lewat," kata Loki.
Lelaki tua itu langsung memucat.
Nana meraba tasnya. Ponsel darurat terasa seperti batu kecil di dalam kain.
Ia tidak langsung berdiri. Matanya bergerak lebih dulu. Pintu depan terlalu terbuka, terlalu mudah dibaca. Dapur di belakang tertutup tirai plastik hijau. Di sebelah kasir ada rak biskuit kaleng yang bisa menghalangi pandangan beberapa detik. Dokumen di meja harus ikut dibawa, lelaki tua itu tidak boleh dibiarkan berdiri paling lambat.
"Mapnya masukkan ke tas," kata Nana pelan.
Daniel meliriknya.
"Kalau kita harus pindah, jangan biarkan kertasnya tertinggal."
Senyum Daniel muncul, kecil dan nyata. "Kau benar-benar tidak datang hanya untuk menonton."
Daniel tetap duduk santai. "Jangan panik. Orang yang benar-benar mau menyerang jarang lewat dua kali untuk pamer."
"Atau mereka ingin kita tahu mereka ada," kata Nana.
Daniel menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Nah, itu jawaban murid yang bisa hidup lama."
Ponsel darurat bergetar.
Nana mengeluarkannya.
Pesan baru dari Irwan:
Tetap di tempat. Tuan Steven minta kau jangan keluar lewat pintu depan.
Belum sempat Nana menunjukkan layar pada Daniel, ponsel pribadinya ikut bergetar. Nomor Steven.
Nana mengangkat.
"Jangan bergerak," suara Steven masuk tanpa salam. "Ada orang Hasan di luar."
Daniel mencondongkan badan, cukup dekat untuk mendengar. "Sampaikan padanya aku juga punya mata."
Steven di seberang telepon diam satu detik. "Tentu. Hanya saja matamu biasanya terlambat kalau sedang sibuk merasa menarik."
Daniel tertawa pelan. "Aku rindu kelembutanmu."
"Nana," kata Steven, mengabaikannya. "Dengar aku. Keluar lewat dapur belakang. Loki jalan dulu. Daniel terakhir."
Nana melihat lelaki tua yang tangannya mulai gemetar, melihat dokumen di meja, melihat Daniel yang masih tersenyum tapi matanya sudah menghitung pintu, lalu mendengar napas Steven yang tertahan di telepon.
Dua cara hidup itu kembali bertabrakan di depannya.
Daniel memberi pilihan.
Steven memberi instruksi.
Dan di luar kedai kopi, bahaya menunggu untuk melihat mana yang akan ia ikuti.