Apakah kau percaya pada cinta?
Morgan dipertemukan dengan Vivian, seorang wanita yang pernah dia cintai dulunya. Setelah 7 tahun berpisah, akhirnya mereka bertemu.
Perjalanan cinta mereka menghadapi banyak sekali tantangan, hingga jarak dan waktu benar-benar memisahkan mereka.
Namun semakin jauh mereka dipisahkan, mereka semakin menyadari bahwa mereka saling membutuhkan.
Apakah mereka berhasil dipersatukan kembali? Bagaimana perjalanan cinta mereka akan terjadi?
Penuh dengan nuansa romantis bercampur pelajaran hidup yang menarik, ikuti kisahnya disini!
Update setiap hari pukul 23:00 - 02:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theofanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Menangkapmu!
Vivian terlelap dalam dekapan Morgan ketika mereka menyaksikan film You Are The Apple Of My Eye.
Padahal sebelumnya posisi duduk Vivian agak jauh dari Morgan, namun ketika Vivian mulai mengantuk dan setengah sadar Vivian mendekatkan tubuhnya pada Morgan karena merasa kedinginan.
Morgan melihat kening Vivian yang berada tepat dibawah bibirnya. Morgan memerhatikan wajah Vivian yang sedang tidur dengan teliti.
"Vivian, kau sungguh membuat hari-hariku yang biasa-biasa saja menjadi penuh dengan misteri dan senyuman karena getaran-getaran yang kurasakan ketika aku melihatmu. Bahkan saat ini, kau yang terlelap dipelukanku, aku merasakan lagi getaran itu. Kurasa kali ini, tidak, selama-lamanya aku akan ...." Tiba-tiba Vivian melingkarkan tangannya dan memeluk tubuh Morgan yang menjadi kasur empuknya.
"Uh, apa ini? Apakah dia sengaja memelukku?" Morgan memerhatikan wajah Vivian dan ternyata Vivian memang tertidur lelap dan mungkin tidak sadar apa yang dilakukannya.
Morgan juga merasa nyaman, meskipun dalam posisi duduk di sofa, namun dengan Vivian yang tertidur pulas memeluknya erat membuat Morgan merasakan kehangatan.
Wajah Morgan memerah dan Morgan merasa gerah, namun Morgan tak ingin bergerak agar Vivian tetap nyaman dalam tidurnya.
Morgan mengambil selimut tebal yang berada dibelakangnya dan menyelimuti tubuh mereka berdua.
Musik dari dalam kamar Morgan menyala tiba-tiba dan memutar semua lagu favorit Morgan.
Morgan teringat bahwa itu adalah alarm yang dibuatnya memainkan musik setiap pukul 01.00.
Alunan melodi instrumen memainkan musiknya mulai dari A Thousand Years hingga All I Want For Christmas Is You.
Morgan memandang keluar jendela, ia melihat salju yang lebat menghujani kota Paris.
Lambat laun Morgan saat menyaksikan salju yang turun tepat disampingnya membuat Morgan mengantuk, dalam rayuan malam yang hangat, Morgan akhirnya tertidur bersama Vivian dipelukannya.
Malam berlalu dengan penuh kejutan, seseorang yang tidak kau sangka akan datang kedalam hidupmu dan membuatmu merasakan kehangatan ketika bersamanya.
Tidak perlu mencari dengan susah payah, pada akhirnya seseorang yang merupakan belahan jiwamu akan datang padamu, apapun caranya itu adalah sebuah rahasia.
Badai salju telah berhenti, sinar matahari yang hangat telah terbit menyinari Morgan & Vivian yang berada disofa bagian samping jendela kaca besar.
Vivian terbangun saat mimpi Vivian yang indah bertemu seorang pangeran berkuda itu berakhir.
Ketika Vivian membuka matanya sedikit, dia merasakan dekapan yang hangat sedang melingkari tubuhnya.
Sebenarnya itu sangat nyaman bagi Vivian sehingga Vivian hampir tidak ingin beranjak, namun ketika Vivian melihat keatas, ada wajah seseorang yang semalaman menjaga Vivian dalam dekapannya.
Vivian menarik napas dan mengenali pria itu adalah Morgan yang sedang tertidur memeluknya, dan tangan Vivian juga sedang dalam posisi memeluk tubuhnya.
Wajah Vivian memerah dan kepanasan, setelah tahu bahwa dirinya ternyata berpelukan dengan Morgan semalaman.
"Baiklah, aku tidak sadar jika aku memeluk dirimu semalaman, dan kau juga memeluk diriku seperti ini. Ini hangat, memang, namun jantungku berdebar terlalu kencang saat ini sehingga sangat menggangguku. Eh, ternyata begini wajahnya dari bawah ketika sedang tidur. Dia tampan juga, tidak, dia sangat tampan. Pantas saja banyak wanita menyukainya, namun apakah ada wanita yang sepertiku dapat tidur dalam dekapannya? Tunggu, apa yang kupikirkan. Tidak, tidak tidak, aku tidak memikirkannya. Oh sial, apakah dia akan bangun jika aku menciumnya? Kurasa dia takkan bangun. Baiklah ini saatnya."
Vivian mendekatkan bibirnya pada pipi Morgan yang dipenuhi dengan bulu-bulu tipis yang menutupi sebagian pipi dan dagunya. Selangkah demi selangkah bibir Vivian mendekati pipi Morgan.
*bruk
Morgan terbangun dan bibirnya mengenai bibir Vivian yang sedang ingin mencium pipinya.
Menyadari mereka sedang berciuman dengan tidak sengaja, Vivian spontan langsung menarik Morgan dengan sekuat tenaga kedepan hingga Morgan terjatuh dari sofanya.
"Oh Morgan ... aku ...maafkan aku, aku tidak sengaja." Vivian dengan perasaan bersalah langsung berdiri dan membantu Morgan yang baru bangun dari tidurnya yang dibangunkan dengan sebuah pukulan ke lantai, wajah terlebih dahulu.
"Morgan, aku menyesal, maafkan aku."
Vivian meminta maaf hingga menundukkan badannya kedepan.
Vivian melihat Morgan berdiri dengan wajah yang menghadap kebawah.
"Baiklah, aku mengerti. Bolehkah aku membalas mu?!" Morgan langsung mengejar Vivian.
Spontan Vivian berlari sambil berteriak dan tertawa lepas.
Akhirnya Morgan berhasil menangkap Vivian, namun tiba-tiba ponsel Vivian yang berada dalam kamarnya berdering.
Vivian berlari ke kamarnya meninggalkan Morgan dan mengangkat telepon dari ayahnya.
Vivian baru ingat jika dirinya belum memberitahukan keberadaannya kepada orang tuanya.
Pantas saja ponselnya berdering beberapa kali.
"Halo ayah."
"Halo Vivian. Sayang, kau ada dimana?"
"Aku ada di apartemen temanku yah. Tadi malam saljunya sangat tebal dan badai salju turun. Aku takut jika aku memaksa untuk pulang."
"Baiklah sayang, ayah dan ibumu cukup khawatir dengan keadaanmu, apalagi tadi malam badainya cukup parah. Kalau begitu apakah kau ingin ayah menjemputmu sekarang?"
"Ah tidak perlu ayah, aku akan menelepon Kimberly, kebetulan Kimberly ingin berkunjung kerumah."
"Jika kau tidak dengan Kimberly, lalu dengan siapa kau sekarang sayang?"
"Temanku ayah."
"Pria atau wanita?"
"Dia pria, namun ayah jangan khawatir, dialah yang menjagaku tadi malam ketika aku selesai menonton konser. Aku berkata pada Kimberly agar ia pulang duluan karena aku ingin bertemu dengan artis yang tampil. Namun ketika aku ingin pulang dan keluar dari aula, badai salju tiba-tiba turun. Dialah yang menjagaku dan memberikanku tempat menginap, pakaian, dan cokelat panas."
" *Ibu, anak kita menemukan seorang pria. Kemarilah dan bicara dengannya*."
Vivian langsung mematikan panggilannya karena Vivian merasa malu harus menjelaskan pada ibunya.
Padahal dirinya dan Morgan belum atau tidak berpacaran sama sekali, hanya sebuah takdir yang mempertemukan mereka hingga mereka dapat sejauh ini.
Ketika Vivian membalikkan badannya, ternyata Morgan telah duduk dibelakangnya dari tadi, dan hal ini mengagetkan Vivian karena dirinya baru saja menceritakan tentang Morgan pada orang tuanya.
"Hmm," gumam Morgan didepan Vivian yang mematung.
"Em, Morgan apa kau lapar?"
"Ya aku lapar."
"Aku juga, kau mau aku memasakkan bagi kita hidangan?"
"Baiklah, namun kita harus berbelanja dulu keluar karena makananku di kulkas telah habis."
Tiba-tiba ponsel Vivian berdering lagi, panggilan dari orang tuanya berkali-kali ditolak Vivian karena Vivian malu untuk menjelaskannya.
"Angkatlah dulu, siapa tahu kita akan makan bersama orang tuamu." Morgan berjalan melangkah keluar agar memberikan ruangan pada Vivian untuk menjelaskan semuanya.
"Halo Vivian putriku."
"Halo ibu."
"Kemarilah, bawalah pria itu makan bersama dirumah kita. Ibu akan memasak banyak makanan bagi kita semua."
"Ibu, tidak!"
"Pokoknya ibu tidak mau tahu, kau harus kerumah bersama pria itu!" Tutup Mrs. Wisse dengan nada yang tegas.
Vivian adalah putri yang baik dan mendengarkan semua yang orang tuanya minta, karena Vivian sadar bahwa hanya dirinyalah satu-satunya anak mereka yang mereka harapkan.
"Oh baiklah," gumam Vivian dan memandang dengan cemberut kearah luar.
"Baiklah apanya?" Morgan ternyata ada dibelakangnya daritadi, pantas saja Vivian merasakan kasurnya agak tertekan karena berat.
"Dasar kau, kukira kau sudah pergi tapi malah menguping dari tadi dibelakang ku. Begini, orang tuaku mengajakmu untuk makan siang disana ...." Vivian belum melanjutkan kata-katanya dan Morgan menyela,
"baiklah, ayo pergi!" Ajak Morgan dan Morgan berlari ke kamarnya dan bersiap.
"Tapi ...." Vivian menghela nafasnya menyembunyikan perasaan yang malu.
yuk mampir juga di novel ku
yang berjudul
SAMA RUPA BEDA NASIB
aku nyicil baca dan like nya y, aku jadikan favorite dulu
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya
Semangat Up Kak 🌸🌸
Eh, ada si Gwen, Aerin ikut gk?
Morgan cepat sembuh ya...
kasihan vivian, apalagi dia sedang hamil 😢
kok jd kesel ya sama william😌
Wah wah, pesen ngga sepanjang biasanya aja harus diselidiki.. wah 😆🤣
wah wah, Cie yang di temenin Jeremy.. Cie Cie.. yang dimasakin..
uhh indah bgt oemandangannya suka deh huhu😢
hai kakak, maaf ya aku baru mampir lagi huhu😭
Adudu Will kamu itu keren masa gitu 😭
angela, masalah lacak melacak emang jagonya. tapi maaf, vivian udah tau.
kaget juga dia ternyata william yang melakukannya
di tunggu respek nya. 2 like 👍👍
(Baru kali ini liat Wiliam di suruh suruh)🤣🤣
Semoga penyakit Morgan cepet sembuh,biar Vivian gak nangis-nangisan lagi🙂🙂