Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan Tanpa Ampun
"Aku sudah muak dengan semua kebusukan kalian berdua!" jerit Amanda.
Pertahanan dirinya yang dibangun sekuat baja akhirnya runtuh. Tangisnya pecah meledak-ledak di dalam kamar itu—bukan lagi tangis kesedihan seorang korban yang lemah, melainkan teriakan pelepasan atas seluruh rasa benci, jijik, dan amarah yang menumpuk selama ini. Suaranya bergema memenuhi setiap sudut rumah, memotong kepanikan Zidan yang masih mematung tak berdaya di atas ranjang.
Tanpa sudi menatap dua wajah manusia bejat itu lebih lama lagi, Amanda membalikkan badan dan berlari kencang keluar dari kamar tamu. Ia tak peduli lagi pada rasa dingin yang menusuk atau keheningan malam yang pecah. Langkah kakinya bergerak cepat menembus koridor, meninggalkan bayang-bayang masa lalunya yang kelam.
"Amanda, tunggu!" panggil Arya tegas.
Arya memberikan isyarat cepat kepada dua saksi untuk mengamankan seluruh bukti dan menyegel situasi di dalam kamar. Tanpa mengulur waktu, Arya dan para saksi melangkah lebar mengikuti langkah Amanda dari belakang, memastikan wanita itu tetap aman di tengah gejolak emosinya.
Di dalam kamar tamu, Zidan terkulai lemas dengan wajah pucat pasi bagai mayat, sementara Zahra menangis histeris meratapi kehancuran nama baik dan masa depannya. Di luar, Amanda berdiri di bawah terangnya lampu pekarangan, menghirup udara malam dengan tangis yang perlahan mereda. Malam ini, di bawah pengawalan Arya dan hukum yang siap bertindak, sandiwara yang menyiksa itu resmi berakhir, dan gerbang pembalasan dendam yang sesungguhnya telah terbuka lebar.
Di pekarangan rumah yang dingin, Arya melangkah mendekati Amanda yang masih berusaha menenangkan napasnya. Tatapan Arya penuh dengan kepedulian dan ketegasan, tidak ingin membiarkan Amanda tetap berada di rumah beracun ini walau hanya untuk satu menit lagi.
"Bawa barang-barang yang kamu butuhkan. Pulang ke tempatku saja dulu malam ini," ucap Arya dengan suara lembut namun pasti. "Di sana kamu akan aman, dan kita bisa menata langkah hukum selanjutnya tanpa gangguan."
Amanda menatap Arya, lalu mengangguk pelan. Rasa percaya yang telah terbangun di antara mereka membuat Amanda yakin bahwa itu adalah keputusan terbaik. Tanpa membuang waktu, Amanda berbalik dan berjalan kembali masuk ke dalam rumah menuju kamar utamanya untuk mengambil barang-barang pribadinya.
Namun, belum sempat Amanda mengemas tasnya, suara derap langkah kaki terburu-buru terdengar mendekat. Zidan—yang baru saja mengenakan celana dan pakaian seadanya—berlari kencang menyeberangi koridor. Wajahnya bersimbah keringat dingin, matanya sembap dan memancarkan ketakutan luar biasa akan kehilangan segalanya.
"Amanda! Tunggu, Amanda... tolong dengarkan aku!" jerit Zidan panik.
Zidan langsung menerobos masuk ke dalam kamar dan tanpa rasa malu meluruhkan tubuhnya ke lantai. Ia bersimpuh tepat di depan kaki Amanda, meraih ujung gaun Amanda dengan jemarinya yang gemetar hebat.
"Maafkan aku, Amanda... Aku khilaf! Aku mohon maafkan aku! Aku tahu aku bersalah, tapi tolong jangan hancurkan rumah tangga kita... Aku sangat menyayangimu!" tangis Zidan pecah, meraung-raung meminta belas kasihan.
Amanda menghentikan gerakannya. Ia menunduk, menatap pria yang dulu begitu ia hormati kini bertekuk lutut di kakinya seperti pecundang. Tidak ada lagi rasa iba, tidak ada lagi cinta yang tersisa di hatinya—hanya ada rasa jijik yang mendalam.
Dengan satu kibasan kaki yang dingin dan tegas, Amanda menepis tangan Zidan dari gaunnya.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu, Zidan," ucap Amanda tajam, suaranya begitu dingin hingga sanggup membekukan ruangan. "Penyesalanmu tidak akan pernah bisa menghapus setiap kebohongan dan penipuan yang kamu lakukan. Hubungan kita sudah mati sejak hari kamu membawa wanita itu ke rumah ini."
Zidan tersentak, terjerembap ke lantai saat Amanda melangkah melewatinya tanpa menoleh sedikit pun. Amanda menyambar tas pakaian yang sudah disiapkannya, lalu melangkah mantap keluar kamar menemui Arya yang sudah menunggu di luar, meninggalkan Zidan yang meraung meratapi penyesalannya yang sudah terlambat.