Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.
Kesimpulan Yu: dia pasti model.
Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.
Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.
"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Nasi Goreng Spesial
Yu mencium aroma bawang putih sebelum melihat Zhen.
Aroma itu keluar dari dapur, bercampur dengan wangi kecap manis dan sedikit asap dari wajan panas. Ia baru selesai mandi setelah kelas sore, rambut masih dibungkus handuk, ketika perutnya berbunyi keras di depan pintu kamar sendiri.
Di dapur, Zhen berdiri dengan celemek abu-abu.
Yu berhenti.
Ada banyak hal yang bisa ia terima tentang Zhen. Tinggi tidak masuk akal. Wajah seperti model otomotif. Pulang malam. Punya akun racing populer. Punya aturan kulkas yang lebih ketat daripada dosen pembimbing. Tapi celemek?
Celemek abu-abu dengan tulisan kecil:
Don't touch my pan.
Yu menatap tulisan itu.
Zhen menoleh. "Kenapa?"
"Kamu masak?"
"Kamu melihatku berdiri di dapur dengan wajan."
"Aku cuma memastikan itu bukan instalasi seni."
Zhen mengangkat alis, lalu kembali mengaduk nasi di wajan. Gerakannya rapi, cepat, tanpa percikan berantakan. Telur sudah matang di sisi lain, sosis dipotong kecil, daun bawang masuk terakhir. Semua terasa terlalu teratur untuk sesuatu bernama nasi goreng.
Burger duduk di dekat pintu dapur, ekor bergerak pelan, seperti penonton setia acara memasak.
"Kamu belum makan," kata Zhen.
Yu membuka mulut untuk berbohong, tapi Zhen menatapnya lebih dulu.
"Jangan."
"Aku belum bilang apa-apa."
"Wajahmu sudah."
Yu menutup mulut.
Sebenarnya ia memang belum makan. Jadwal kelasnya berantakan, tugas menumpuk, dan sejak transfer lima puluh juta itu, ia merasa setiap rupiah harus ditebus dengan hidup lebih hemat. Makan siang hanya roti murah dan kopi dari vending machine.
Zhen mengambil piring putih, menaruh nasi goreng di atasnya, lalu menambahkan telur mata sapi dengan pinggir garing sempurna. Ia meletakkan piring itu di meja makan.
"Makan."
"Ini buat aku?"
"Burger tidak makan nasi goreng."
Burger menggonggong pelan, seolah keberatan.
Yu duduk. "Kamu nggak makan?"
"Sudah."
"Kapan?"
"Tadi."
"Kamu masak buatku saja?"
Zhen mengambil gelas dari rak, menuang air hangat, lalu meletakkannya di samping piring. "Aku masak kebanyakan."
Yu melihat wajan yang sudah kosong.
"Kebanyakan?"
"Makan."
Yu menyendok nasi goreng itu dengan curiga. Satu suap masuk ke mulutnya.
Ia berhenti.
Enak.
Bukan sekadar enak karena lapar. Nasinya tidak lembek, kecapnya pas, bawang putihnya wangi, ada sedikit pedas yang muncul belakangan. Rasanya seperti makanan rumahan yang tahu kapan harus menghibur tanpa bertanya apa-apa.
Yu menatap piring.
"Gimana?" tanya Zhen.
"Biasa aja."
Zhen bersandar di meja dapur. "Kamu menelan terlalu cepat untuk jawaban itu."
Yu menyendok lagi. "Aku lapar."
"Tadi katanya biasa aja."
"Biasa aja tapi bisa dimakan."
Sudut bibir Zhen bergerak sedikit. Ia tidak membalas. Justru itu yang membuat Yu merasa kalah.
Sambil makan, Yu berusaha menyesuaikan teori di kepalanya.
Model event otomotif yang bisa masak.
Mungkin wajar. Orang tampan juga perlu makan. Tapi mengapa masakannya terasa seperti sesuatu yang dipelajari untuk merawat diri, bukan sekadar bertahan hidup? Mengapa piringnya dipilih yang hangat dulu, airnya tidak dingin karena ia sering sakit perut, dan porsinya pas, tidak terlalu banyak?
Terlalu detail.
Laki-laki seperti Kevin dulu bahkan tidak tahu Yu tidak suka daun ketumbar.
Yu menunduk dan menyuap lebih pelan.
"Pedas?" tanya Zhen.
"Nggak."
"Mata kamu merah."
"Kena uap."
"Jarakmu satu meter dari wajan."
"Uap bisa agresif."
Kali ini Zhen benar-benar tersenyum, sangat tipis, tapi cukup membuat Yu hampir menggigit sendok.
Setelah makan, Yu ingin mencuci piring sendiri. Zhen menolak.
"Aku yang masak, aku yang cuci," kata Yu.
"Logika dari mana?"
"Logika orang normal."
"Piringku, dapurku."
"Sekarang dapur share."
Zhen menatapnya, seperti kalimat itu mengingatkannya pada malam pertama mereka ribut. Lalu ia mengulurkan tangan ke arah piring.
Yu juga mengulurkan tangan.
Jari mereka hampir bersentuhan.
Hampir.
Zhen berhenti tepat di ambang kulit.
Yu ikut berhenti.
Mereka saling menatap di atas piring kosong.
Akhirnya Zhen berkata, "Kalau mau menyentuh, setidaknya jangan pakai alasan piring kotor."
Napas Yu tertahan.
Apakah dia tahu?
Zhen mengambil piring itu sebelum Yu bisa menjawab, membawanya ke wastafel, dan mulai mencuci seolah baru saja mengatakan komentar tentang cuaca.
Yu duduk kaku di kursi.
Setelah dapur bersih, Burger datang membawa leash dengan mulutnya. Ia meletakkannya di kaki Yu, lalu menatapnya penuh harap.
"Dia ngajak jalan?" tanya Yu.
"Dia tahu kamu butuh jalan."
"Aku atau dia?"
"Dua-duanya."
Malam itu, mereka turun ke area taman apartemen. Hujan sudah berhenti, meninggalkan jalan setapak yang mengilap di bawah lampu taman. Udara Jakarta lembap, tapi lebih ringan daripada kamar dan tugas kuliah.
Zhen memegang leash, Yu berjalan di sisi lain Burger. Mereka tidak banyak bicara. Burger kadang berhenti mengendus pot tanaman, kadang menarik sedikit saat melihat kucing liar di kejauhan. Zhen tidak pernah menarik kasar. Ia hanya memanggil, "Burger," dan anjing itu kembali.
Yu memperhatikan dari samping.
"Kamu sabar juga," katanya.
"Dengan anjing, iya."
"Dengan manusia?"
"Tergantung manusia."
"Aku termasuk?"
Zhen menoleh. Lampu taman jatuh di matanya, membuat wajah dinginnya terlihat lebih lembut daripada biasanya.
"Kamu sedang mendaftar?"
Yu memalingkan wajah. "Nggak jadi."
Burger tiba-tiba berlari kecil mengejar daun yang tertiup angin. Leash tertarik. Yu yang berdiri terlalu dekat ikut maju, dan Zhen refleks meraih pergelangan tangannya.
Sentuhan itu hanya sebentar.
Tapi kali ini Yu tidak panik.
Ia hanya berhenti, membiarkan ketenangan itu lewat di tubuhnya seperti hujan tipis yang akhirnya menemukan tanah kering.
Zhen melepaskan perlahan.
"Jalan lihat depan," katanya.
"Daunnya yang agresif."
"Sekarang daun juga salah?"
Yu menahan senyum. "Iya."
Mereka melanjutkan langkah. Di ujung taman, dua mahasiswi yang juga tinggal di gedung itu melewati mereka. Salah satunya menatap Zhen, lalu berbisik kepada temannya dengan wajah kaget.
"Itu Kak Zhen Fasilkom, kan?"
Yu mendengar.
Zhen juga pasti mendengar, tapi ia tidak bereaksi.
Mahasiswi itu berbisik lagi, lebih pelan, namun tetap tertangkap telinga Yu.
"Yang IPK-nya selalu 4.0 itu?"
Langkah Yu melambat.
Zhen menarik Burger sedikit agar tidak menginjak genangan.
Yu menatap profil sampingnya.
Model otomotif, racer, tukang aturan kulkas, koki nasi goreng, dan sekarang... IPK 4.0?
Ia tiba-tiba merasa teori hidupnya sedang retak di tempat baru.