NovelToon NovelToon
Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.

"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."

Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.

Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.

Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.

Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.

Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 003

"Ko Hafeng... kamu di situ?"

Suara Wanyu menempel di sisi lain pintu kabinet seperti napas dingin.

Meiran tidak bergerak. Hafeng juga tidak. Dalam ruang sempit itu, bahu mereka hampir saling menekan. Hanya satu gerakan kecil, satu papan gambar jatuh, dan seluruh studio akan tahu bahwa Lo Hafeng bersembunyi bersama Lim Meiran di dalam kabinet peralatan.

Nilai Cinta masih menyala merah di tepi pandangan Meiran.

-100.

Angka itu seperti tamparan yang belum selesai.

Hafeng menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Meiran ketika ia berbisik, "Ini semua salahmu."

"Aku tidak menyangkal."

"Buka."

"Kalau kamu ingin keluar sebagai bahan gosip, silakan."

Mata Hafeng menyipit. "Kamu mengancamku?"

"Aku sedang memberimu pilihan."

Di luar, Wanyu mengetuk pintu kabinet pelan.

Tok.

Suara kecil itu membuat punggung Meiran semakin rapat pada papan gambar. Hafeng mengulurkan tangan, seolah hendak mendorong pintu. Meiran cepat menahan lengannya, kali ini hanya dengan dua jari di manset kemejanya.

Panel sistem langsung berkedip.

**【Sistem Predator】Kontak fisik tambahan terdeteksi. Tidak disarankan memperpanjang kontak pada Nilai Cinta -100.**

Terima kasih atas peringatannya yang terlambat, Sisi.

Hafeng menatap dua jari Meiran di mansetnya. "Lepaskan."

Meiran melepaskan. "Tiga detik lagi."

"Untuk apa?"

"Agar dia mulai ragu apakah kamu benar-benar di sini."

Hafeng terlihat ingin membantah, tetapi Wanyu sudah memanggil lagi, nada suaranya lebih pelan.

"Ko Hafeng, aku masuk, ya?"

Pintu studio berderit. Wanyu rupanya tidak hanya berdiri di depan kabinet, ia juga memastikan tidak ada orang lain di ruangan itu. Bayangannya bergerak melalui celah bawah.

Meiran mengangkat tangan, menghitung tanpa suara.

Satu.

Dua.

Tiga.

Hafeng membuka pintu kabinet dari dalam.

Wanyu mundur terkejut ketika Hafeng keluar dengan wajah dingin dan tabung gambar di tangan. Gerakannya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja terjebak di ruang sempit dengan musuhnya.

"Kamu kenapa di situ?" tanya Wanyu.

"Mengambil alat."

Jawaban Hafeng pendek.

Meiran tetap berada di dalam kabinet, menunggu dua detik sebelum keluar sambil membawa gulungan kanvas kosong. Ia sengaja tidak terburu-buru. Jika ia terlihat bersalah, Wanyu akan menang. Jika ia terlihat terlalu santai, Hafeng akan semakin marah.

Pilihan kedua lebih berguna.

Wanyu menatapnya. Senyumnya sempat hilang sebelum kembali dipasang.

"Meiran? Kamu juga di sini?"

"Studio seni memang untuk mahasiswa seni," jawab Meiran. "Aneh kalau aku muncul di bengkel mesin."

Wajah Wanyu menegang halus.

Hafeng menoleh tajam pada Meiran. "Jangan mulai."

"Aku belum mulai apa pun."

"Kamu menarikku masuk ke kabinet."

Wanyu membeku. Beberapa detik kemudian, matanya melebar dengan sangat pas, tidak terlalu berlebihan, cukup untuk terlihat terluka jika ada orang ketiga yang melihat.

"Meiran, kenapa kamu melakukan itu?" suaranya melembut. "Kalau kamu ingin bicara dengan Ko Hafeng, kamu bisa bicara baik-baik. Jangan membuatnya tidak nyaman."

Kalimat itu nyaris sempurna.

Meiran bahkan ingin bertepuk tangan.

Ia menaruh gulungan kanvas di meja. "Benar. Aku salah."

Wanyu tampak tidak siap mendengar pengakuan secepat itu.

Hafeng juga diam sepersekian detik.

Meiran melanjutkan, "Karena itu aku tidak akan mengulang cara yang sama."

"Bagus," kata Hafeng dingin.

"Aku akan pakai cara yang lebih jelas."

Hafeng menatapnya lagi. "Apa maksudmu?"

Meiran tidak menjawab di depan Wanyu. Ia mengambil map sketsanya, melewati Hafeng, lalu berjalan menuju pintu studio. Hafeng ternyata mengikutinya, mungkin karena amarahnya belum selesai, mungkin karena ia tidak suka Meiran meninggalkan pertanyaan begitu saja.

Wanyu ikut melangkah. "Ko Hafeng, kelasmu..."

"Nanti," jawab Hafeng tanpa menoleh.

Satu kata itu membuat senyum Wanyu retak lebih jelas.

Meiran menangkapnya dari pantulan kaca jendela studio. Bagus. Bukan hanya Hafeng yang harus dipindahkan dari alur lama. Wanyu juga harus belajar bahwa panggung bukan lagi miliknya seorang.

Begitu mereka keluar ke koridor samping yang lebih sepi, Hafeng menangkap pergelangan tangan Meiran.

Pegangannya kuat, tetapi tidak sampai menyakitkan.

Meiran berhenti dan menatap tangannya.

"Kalau kamu ingin mempertahankan reputasi sebagai pria terhormat," katanya, "jangan menarik perempuan di koridor kampus."

Hafeng segera melepaskan, seolah baru sadar ada dua mahasiswa lewat di ujung lorong.

"Kamu benar-benar tidak tahu malu."

"Itu kalimat lama. Cari yang baru."

"Lim Meiran."

Nada suaranya turun. Marahnya tidak lagi panas, tetapi padat. Lebih berbahaya.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu pagi ini. Tapi dengarkan baik-baik. Aku tidak suka kamu. Aku tidak tertarik padamu. Aku muak dengan caramu membuat semua orang berpikir aku punya hubungan denganmu."

Setiap kata menghantam tepat sasaran.

Di kehidupan sebelumnya, kalimat itu cukup untuk membuat Meiran berlari ke toilet dan menangis sampai mata bengkak. Hari ini, dadanya tetap sakit, tetapi rasa sakit itu seperti bekas luka lama yang disentuh, bukan luka baru yang menguasai tubuh.

Panel sistem berkedip pelan, seakan ikut menonton.

Nilai Cinta: -100.

Meiran mengangkat wajah. "Selesai?"

Hafeng terdiam.

"Kalau sudah selesai, sekarang giliranku."

"Aku tidak mau mendengarkan."

"Tapi kamu tetap berdiri di sini."

Rahang Hafeng mengeras lagi.

Di ujung lorong, dua mahasiswa yang tadi lewat memperlambat langkah. Meiran melihat mereka, lalu sengaja menaikkan suara secukupnya. Konflik yang tersembunyi hanya akan menjadi cerita versi Wanyu. Konflik yang terlihat bisa ia kendalikan sendiri.

"Lo Hafeng, kamu membenciku karena aku mengejarmu tanpa aturan. Baik. Aku akui itu menjijikkan."

Bisikan kecil terdengar dari ujung lorong.

Hafeng tampak tidak nyaman. "Pelankan suaramu."

"Kenapa? Bukankah kamu ingin semua orang tahu aku tidak punya hubungan denganmu?"

"Jangan memutarbalikkan kata-kataku."

"Aku tidak memutarbalikkan. Aku merapikannya."

Wanyu muncul di pintu studio, berdiri cukup jauh untuk terlihat tidak ikut campur, cukup dekat untuk mendengar. Meiran tahu perempuan itu sedang menunggu kesempatan. Maka Meiran memberinya sesuatu untuk didengar.

"Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu tanpa hasil," kata Meiran.

Hafeng mencibir. "Akhirnya sadar?"

"Tapi aku tidak bilang aku akan menyerah."

Wajah Hafeng berubah gelap.

Wanyu melangkah setengah maju. "Meiran..."

Meiran mengangkat satu tangan tanpa menatapnya. Gerakan kecil itu cukup untuk menghentikan Wanyu di tempat.

"Kamu suka angka, kan?" Meiran menatap Hafeng. "Nilai, peringkat, hasil yang bisa dilihat semua orang. Kita pakai itu."

"Kita?"

"Ujian tengah semester tinggal beberapa minggu. Kamu selalu nomor satu di jurusan desain arsitektur lintas kelas, dan aku selalu dianggap hanya tahu menggambar wajahmu." Meiran tersenyum tipis. "Mari bertaruh."

Hafeng menatapnya seolah ia baru saja mengucapkan lelucon paling buruk pagi itu.

"Aku tidak tertarik."

"Takut kalah?"

Kata itu bekerja.

Bukan karena Hafeng mudah dipancing seperti anak kecil. Justru karena pria seperti dia tidak tahan jika harga dirinya disentuh di tempat yang tepat. Meiran tahu itu dari masa depan, dari rapat-rapat bisnis, dari cara Hafeng mengerjakan ulang satu maket semalaman hanya karena seorang dosen menyebut desainnya kurang bernyawa.

Mata Hafeng menjadi lebih dingin. "Kamu tidak akan menang melawanku."

"Kalau begitu, terima."

Wanyu cepat berkata, "Ko Hafeng, tidak perlu meladeni. Semua orang tahu kemampuanmu."

Meiran akhirnya menoleh pada Wanyu. "Justru karena semua orang tahu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kan?"

Wanyu tersenyum kaku.

Hafeng menatap Meiran lama. "Apa taruhannya?"

Sistem di kepala Meiran berbunyi sebelum ia menjawab.

**【Sistem Predator】Peluang menciptakan ikatan berulang terdeteksi. Host, lanjutkan.**

Meiran menahan senyum.

Ikatan berulang. Itulah yang ia butuhkan. Bukan cinta hari ini. Bukan maaf. Bukan belas kasihan. Ia butuh alasan yang sah untuk membuat Lo Hafeng terus berada di sekitarnya sampai angka merah itu punya celah untuk berubah.

Ia melangkah mendekat satu langkah.

Hafeng tidak mundur, tetapi bahunya menegang.

"Taruhannya sederhana," kata Meiran. "Kalau aku menang, kamu harus menjadi milikku selama satu bulan."

Koridor langsung sunyi.

Hafeng menatapnya tajam. "Apa maksudmu, milikmu?"

Meiran tersenyum, pelan dan berbahaya.

"Kita bertaruh, Lo Hafeng."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!