Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19 - Jejak Pertama
Akhirnya.
Kata itu muncul di kepala Felicia seperti bunyi kunci yang diputar.
Rasa sakit di bahu kirinya belum selesai. Setiap napas masih membuat rusuknya seperti ditekan dari dalam. Pelipisnya dibalut kasa tipis, telapak tangannya perih, dan infus di punggung tangan kanan membuat gerakannya terbatas. Namun ketika guru pendamping menyebut masalah daftar kuda, mata Felicia justru menjadi lebih terang.
Orang yang memasang jebakan akhirnya meninggalkan ekor.
"Masuk," kata Nathan.
Nada suaranya tidak keras, tetapi guru pendamping langsung menegakkan punggung. Di belakangnya berdiri manajer operasional klub berkuda, seorang pria paruh baya dengan kemeja putih yang sudah lecek di bagian kerah. Ada dua staf sekolah di belakangnya, membawa map cokelat dan tablet.
Jayden berdiri paling dekat pintu. "Kalau cuma mau bilang ini kecelakaan, mending keluar lagi."
"Jay," tegur Nathan pendek.
Jayden mendecak, tetapi tidak bergerak mundur.
Manajer klub menelan ludah. "Kami tidak akan menyebut ini kecelakaan biasa sebelum pemeriksaan selesai. Kuda hitam nomor tujuh sudah diamankan di kandang isolasi. Dokter hewan sedang mengambil sampel air minum, pakan, dan darah."
Sebastian mengangkat mata dari tablet medis yang dipinjamnya dari perawat. "Gejalanya sebelum insiden?"
"Gelisah, berkeringat, sulit dikendalikan, reaksi berlebihan terhadap suara."
"Tidak sesuai dengan profil kuda untuk peserta pemula," kata Sebastian.
"Betul."
Felicia bersandar sedikit ke bantal. "Daftarnya."
Satu kata itu lebih efektif daripada semua pidato. Staf sekolah membuka map. Di atas meja kecil samping ranjang, ia meletakkan dua lembar kertas yang sudah dilapisi plastik bening.
Lembar pertama berisi daftar awal peserta dan kuda. Nama Felicia Winarko berada di baris tengah, di samping keterangan: kuda cokelat nomor tiga, kategori tenang, cocok untuk pemula.
Lembar kedua hampir sama, tetapi di baris yang sama tertulis: kuda hitam nomor tujuh.
Jayden mengumpat pelan. "Jadi benar diganti."
Calvin mencondongkan badan. Senyum tipisnya hilang sejak tadi. "Siapa yang mengubah?"
Guru pendamping menyeka keringat di pelipis. "Di sistem klub, perubahan masuk pukul 09.14 pagi. Permintaannya tercatat dari panitia dokumentasi acara. Alasannya, kuda hitam nomor tujuh lebih bagus untuk kamera sponsor."
Felicia hampir tertawa.
Lebih bagus untuk kamera.
Tubuh mungil ini sampai masuk IGD karena estetika dokumentasi. Alasan yang sangat indah, sangat mahal, dan sangat bodoh.
Nathan mengambil lembar kedua tanpa menyentuh bagian tanda tangan. "Panitia dokumentasi atas nama siapa?"
Staf sekolah membuka tablet. "Salah satu siswa panitia. Dia bilang menerima instruksi lewat pesan WhatsApp dari nomor yang mengaku perwakilan sponsor."
"Nomornya?" tanya Nathan.
"Sudah dihapus dari ponselnya."
Jayden maju satu langkah. "Dihapus?"
"Dia panik setelah insiden. Katanya takut disalahkan."
"Lucu," kata Calvin lembut. "Orang yang takut disalahkan biasanya menyimpan bukti untuk melindungi diri, bukan menghapusnya."
Ruang observasi mendadak lebih dingin.
Manajer klub cepat-cepat menambahkan, "Kami sudah meminta backup dari sistem pendaftaran digital. Perubahan tetap tercatat. Hanya sumber instruksi awal yang belum jelas."
Nathan menaruh kertas kembali ke meja. "Jangan sebut belum jelas kalau sebenarnya ada jejak yang tidak ingin dibuka."
Pria itu pucat.
Felicia memiringkan kepala. "Ada orang tua sponsor yang menekan?"
Tidak ada yang menjawab selama dua detik.
Dua detik cukup.
Jayden tertawa pendek, kasar. "Nah. Ketemu."
"Kami belum bisa menyimpulkan," kata guru pendamping cepat. "Sekolah harus hati-hati. Keluarga sponsor..."
"Feli hampir mati," potong Nathan.
Semua orang diam.
Itu pertama kalinya sejak Felicia mengenalnya, Nathan memotong ucapan orang dewasa tanpa basa-basi. Wajahnya tetap rapi, kancing kemejanya tetap tertutup, rambut emasnya tetap jatuh indah di dahi. Namun matanya keras.
"Jangan pakai kata hati-hati untuk menunda kebenaran," lanjut Nathan. "Pakai kata itu untuk menjaga bukti."
Sis berbisik di kepala Felicia, "Ketua OSIS mode pengadilan aktif. Sis merinding."
Felicia menahan senyum.
Sebastian berdiri dan mengambil posisi di samping meja. "Saya perlu tahu tiga hal. Pertama, siapa yang terakhir memberi makan atau minum kuda nomor tujuh. Kedua, apakah ada CCTV di lorong kandang. Ketiga, apakah kuda itu memang ada jadwal tampil hari ini sebelum namanya dimasukkan ke daftar Felicia."
Manajer klub langsung membuka catatan. "Yang terakhir memberi makan staf kandang resmi, dia sudah dimintai keterangan. CCTV ada, tapi kamera sudut belakang kandang sempat mati sekitar tujuh menit karena gangguan listrik lokal. Kuda nomor tujuh seharusnya tidak dipakai untuk peserta sekolah. Dia baru kembali dari latihan agresif."
"Tujuh menit," ulang Calvin.
Ia menatap meja, lalu tiba-tiba mengambil salah satu pensil dari tas sekolah Felicia yang dibawakan perawat. Dengan satu tangan ia menggambar cepat di kertas kosong: denah kasar kandang, lorong belakang, tempat ember minum, posisi kamera, dan area yang tidak terekam.
Gerakannya tenang, indah, hampir malas. Namun garisnya tepat.
"Kalau kamera mati di sini," katanya, menunjuk sudut belakang, "orang dari area sponsor bisa masuk lewat pintu samping tanpa lewat meja registrasi. Butuh akses?"
Manajer klub menjawab pelan, "Pintu samping biasanya terkunci."
"Biasanya," ulang Calvin.
Felicia memandang gambar itu. Ia ingat permukaan air di ember yang bergetar, pesan dengan tanda centang tanpa nama, dan bau pakan yang terlalu tajam.
"Sis."
"Ada, Tuan Rumah."
"Tampilkan rekaman pantulan yang kamu simpan."
Di udara dekat ranjang, layar transparan muncul hanya untuk mata Felicia. Gambar itu tidak sempurna. Permukaan air membuat huruf pecah. Namun masih terlihat layar ponsel seseorang, sebuah pesan singkat, dan tanda centang.
Sis memperbesar bagian atas.
Nama kontak tidak ada. Foto profil pun buram. Hanya terlihat latar putih dengan bentuk bunga kecil di sudut.
Felicia menyipit.
Ia pernah melihat pola itu.
Putih bersih. Bunga kecil. Terlalu rapi.
Di casing ponsel Yesika Prasetyo.
"Ada apa?" tanya Sebastian, cepat menangkap perubahan matanya.
Felicia tidak menjawab langsung. "Panitia yang menerima pesan itu ada di rumah sakit?"
Guru pendamping mengangguk. "Di luar. Dia dibawa untuk memberi keterangan kepada sekolah."
"Panggil."
Guru pendamping ragu. Nathan hanya menoleh sedikit. Ragu itu langsung hilang.
Beberapa menit kemudian, seorang siswa panitia masuk dengan wajah pucat. Seragamnya masih berdebu dari klub. Ia tidak berani menatap Felicia lama-lama.
"Kamu yang mengganti daftar?" tanya Felicia.
Siswa itu gemetar. "Aku cuma input sesuai instruksi. Aku nggak tahu kudanya akan seperti itu."
"Aku tidak tanya perasaanmu."
Bibirnya mengatup.
"Siapa yang menginstruksikan?"
"Nomor tidak dikenal."
"Isinya?"
"Katanya dari sponsor dokumentasi. Mereka minta peserta utama dipindah ke kuda yang lebih mencolok. Katanya sudah disetujui pihak sekolah."
"Kamu percaya begitu saja?"
Ia menunduk semakin dalam. "Profil WhatsApp-nya terlihat... resmi."
Calvin meletakkan pensil. "Resmi seperti apa?"
"Ada logo acara."
"Bukan bunga?" tanya Felicia.
Siswa itu tersentak.
Ruang itu langsung menangkap reaksi tubuhnya. Jayden bahkan tidak perlu bicara. Tatapannya saja sudah cukup membuat siswa itu mundur setengah langkah.
"Ada bunga," aku siswa itu akhirnya. "Tapi kecil. Aku pikir bagian dari logo sponsor."
Nathan membuka ponselnya. "Kirim backup chat dari aplikasi cloud kalau ada."
"Sudah terhapus."
"Screenshot?"
"Tidak ada."
"Riwayat notifikasi?"
Siswa itu tampak bingung.
Sebastian menyela, "Beberapa ponsel menyimpan pratinjau notifikasi walau chat dihapus. Kalau kamu tidak menghapus cache, masih ada peluang."
"Ponselmu," kata Felicia.
Ia menyerahkan ponsel dengan tangan gemetar. Nathan menerimanya, tetapi tidak membuka sembarangan.
"Kita butuh izinmu untuk memeriksa data notifikasi terkait perubahan daftar kuda," kata Nathan formal. "Hanya bagian itu. Ada guru sebagai saksi."
Siswa itu mengangguk cepat. "Iya. Silakan. Aku nggak mau disalahkan sendirian."
"Bagus," kata Felicia. "Akhirnya otakmu kembali."
Jayden hampir tertawa, tetapi tertahan oleh amarah.
Nathan dan Sebastian bekerja bersebelahan. Satu membuka pengaturan notifikasi dengan rapi, satu membaca pola waktu. Calvin berdiri di belakang mereka, memperhatikan detail kecil yang orang lain lewatkan. Jayden tetap di dekat pintu, tubuhnya seperti pagar hidup.
Felicia hanya berbaring, tetapi pusat ruangan tetap berada di tangannya.
Beberapa menit berlalu. Monitor di samping ranjang berbunyi pelan. Di luar, suara orang dewasa berbicara tertahan terdengar dari koridor. Sesekali ada nama keluarga besar yang diselipkan terlalu hati-hati, Salim, Hartono, Widjaja, Tanuwijaya.
Tidak ada yang menyebut Prasetyo.
Belum.
Lalu Sebastian berkata, "Dapat."
Nathan membekukan gerakan jarinya.
Di layar ponsel siswa panitia, riwayat notifikasi lama muncul dalam daftar kecil. Pesan lengkap tidak tersimpan, tetapi pratinjau pendek masih ada.
Tolong pindahkan Felicia Winarko ke kuda nomor tujuh. Sudah disetujui. Cantik untuk kamera. Jangan tunda.
Di bawahnya ada nomor pengirim.
Tidak tersimpan sebagai kontak. Namun sistem ponsel menampilkan satu hal lain: nama akun pembayaran yang pernah dipakai nomor itu untuk mengirim uang transport panitia.
Y. Prasetyo.
Guru pendamping menarik napas tajam.
Manajer klub langsung menunduk, seperti lantai mendadak lebih menarik daripada layar.
Jayden bergerak lebih cepat daripada pikiran. "Gue keluar."
"Berhenti," kata Felicia.
Satu kata. Jayden berhenti di ambang pintu, rahangnya mengeras.
"Sayang, itu sudah jelas."
"Jelas untuk kita," jawab Felicia. "Belum cukup untuk membuat dia tidak bisa lolos."
Jayden memukul kusen pintu dengan telapak tangan, cukup keras untuk membuat guru pendamping tersentak. "Dia nyaris bikin lo mati."
"Karena itu jangan beri dia kesempatan jadi korban."
Kalimat itu membuat ruangan kembali hening.
Calvin tersenyum lagi, tetapi senyum itu tipis seperti goresan pisau di kertas. "Ci mau dia berdiri sendiri di tempat paling terang."
"Aku mau dia tidak punya lubang untuk bersembunyi."
Nathan menatap Felicia. Amarah di matanya masih ada, tetapi ia menundukkan kepala sedikit. "Aku akan minta sekolah mengamankan ponsel panitia, log sistem klub, CCTV, dan sampel dari dokter hewan. Pernyataan resmi hanya menyebut investigasi berjalan, tanpa nama pelaku."
"Bagus."
Sebastian menambahkan, "Kita juga perlu hasil laboratorium. Kalau ada zat pemicu agitasi, itu mengubah status dari kelalaian acara menjadi tindakan berencana."
"Tulis," kata Felicia kepada guru pendamping.
Guru pendamping segera membuka catatan.
Pada saat itu, ponsel Nathan berbunyi.
Satu pesan masuk ke grup OSIS acara berkuda. Nada notifikasinya kecil, tetapi semua orang di ruangan seperti mendengarnya.
Nathan melihat layar.
Wajahnya menjadi dingin.
"Dari siapa?" tanya Felicia.
Nathan membalik ponsel agar ia bisa membaca.
Yesika Prasetyo:
Aku baru dengar kondisi Felicia. Aku benar-benar sedih. Kalau butuh bantuan klarifikasi ke sponsor, aku siap membantu. Semoga tidak ada yang membuat isu ini melebar tanpa bukti.
Sangat halus.
Sangat cantik.
Sangat ingin mengunci mulut semua orang sebelum nama Prasetyo keluar.
Felicia tertawa pelan sampai rusuknya sakit. Ia mengangkat tangan kanan yang terpasang infus, lalu menunjuk layar ponsel siswa panitia.
"Balas nanti," katanya. "Setelah kita punya satu bukti lagi."
"Bukti apa?" tanya guru pendamping.
Felicia menatap nama Y. Prasetyo di layar, lalu menoleh ke manajer klub.
"Cari rekaman pintu samping kandang dari kamera area parkir sponsor. Bukan kamera kandang."
Wajah manajer klub berubah.
Felicia tersenyum.
"Karena kalau dia masuk dari pintu yang tidak terekam, mobilnya tetap harus lewat jalan yang punya kamera."
Tidak ada yang bicara.
Di koridor luar, suara hak sepatu berhenti tepat di depan pintu ruang observasi.
Lalu suara Yesika terdengar lembut dari balik pintu.
"Boleh aku masuk? Aku ingin menjenguk Felicia."