NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034

Pintu yang Ditutup

Tidak ada yang menjawab.

Maka Yolanda mencari tempat yang masih mau mendengarnya.

Dua hari kemudian, sebuah acara makan malam amal untuk restorasi museum kota digelar di Menteng. Acara itu kecil, tertutup, tetapi penuh orang yang wajahnya sering muncul di majalah bisnis dan akun sosialita. Setelah undangan-undangan lain ditarik, Yolanda akhirnya mendapat satu celah dari kenalan lama ibunya.

Ia datang dengan gaun putih sederhana, riasan tipis, dan mata yang sengaja dibiarkan terlihat sedikit sembap.

Jika kamera menemukannya, ia ingin terlihat seperti perempuan yang baru saja menangis, tetapi tetap berusaha kuat.

Yang tidak ia duga, Kiara juga hadir.

Kiara datang bukan sebagai sosialita. Ia datang bersama Gunawan Halim dan beberapa perwakilan Gerbang Majapahit untuk penggalangan dana restorasi arsip film lama. Kostumnya malam itu sangat sederhana, gaun hitam dengan selendang tipis. Rayhan berada di sisinya, tidak menempel, tetapi setiap orang di ruangan tahu jarak itu miliknya.

Begitu Yolanda melihat mereka, dadanya panas.

Kenapa Kiara selalu terlihat begitu aman?

Kenapa setelah semua yang terjadi, orang-orang tetap membuka jalan untuknya, sementara Yolanda harus memohon agar namanya tidak dicoret dari daftar tamu?

Seorang fotografer acara mengangkat kamera ke arah Kiara.

Yolanda mengambil napas.

Ini mungkin panggung terakhirnya.

Ia berjalan mendekat sebelum keberaniannya hilang.

"Kiara."

Suara itu cukup pelan untuk terdengar sopan, cukup keras untuk membuat beberapa kepala menoleh.

Kiara berhenti. Rayhan juga berhenti.

Dalam satu detik, udara di sekitar mereka berubah.

Yolanda memaksa senyum rapuh. "Aku cuma ingin minta maaf secara langsung. Selama ini mungkin banyak salah paham."

Kiara menatapnya, wajahnya tidak dingin, tetapi jelas menjaga jarak.

"Minta maaf untuk bagian yang mana?"

Pertanyaan itu terlalu tenang.

Yolanda menggigit bibir. "Untuk semua yang membuatmu terluka."

"Itu kalimat yang bagus untuk kamera," jawab Kiara.

Beberapa tamu menahan napas. Fotografer acara pura-pura menurunkan kamera, tetapi lensanya tetap mengarah.

Mata Yolanda langsung basah. "Aku tahu kamu membenciku. Tapi aku juga manusia, Kiara. Setelah malam gala itu, semua orang meninggalkan aku. Kerja samaku dibatalkan, teman-temanku menjauh, bahkan acara seperti ini pun hampir tidak mengizinkan aku datang. Aku cuma ingin hidupku kembali."

Kalimat itu mulai menarik simpati beberapa orang.

Yolanda tahu cara bekerja di ruangan seperti ini. Jangan menyerang terlalu keras. Jangan menyebut Rayhan lebih dulu. Cukup tunjukkan diri sebagai perempuan yang dihukum terlalu berat, lalu biarkan orang lain bertanya apakah Kiara dan Rayhan terlalu kejam.

Kiara belum menjawab ketika Rayhan bergerak.

Ia tidak maju banyak. Hanya setengah langkah, tetapi cukup membuat Yolanda berhenti menangis.

"Hidupmu kembali?" tanya Rayhan.

Nada suaranya rendah.

Yolanda menelan ludah. "Pak Rayhan, saya..."

"Malam gala, kamu mengatur staf untuk memisahkan Santi dari Kiara. Kamu membiarkan minuman bermasalah sampai ke tangannya. Kamu menyiapkan ruang dengan kamera untuk menjatuhkan reputasinya. Setelah itu, kamu memakai akun lama dan jaringan promosi untuk mengangkat rumor bahwa dia dikontrol."

Wajah Yolanda memucat.

Beberapa tamu mulai berbisik.

Rayhan tidak menaikkan suara. Justru karena itu, setiap kata terdengar lebih jelas.

"Kamu menyebut semua itu salah paham?"

Yolanda melihat sekeliling. "Saya tidak pernah berniat sejauh itu. Saya hanya... saya panik. Semua orang selalu berpihak pada Kiara sekarang. Saya merasa tidak punya tempat."

"Kamu tidak kehilangan tempat," kata Rayhan. "Kamu kehilangan panggung."

Kalimat itu jatuh seperti pisau yang sangat tipis.

Kiara merasakan jemarinya mendingin di sisi tubuh.

Rayhan menoleh pada panitia acara yang berdiri kaku tak jauh dari mereka. "Apakah acara amal museum malam ini ingin menjadi panggung klarifikasi pribadi Yolanda Yanuar?"

Wajah panitia berubah pucat. "Tentu tidak, Pak Rayhan."

"Kalau begitu, pilih. Acara berlanjut dengan tujuan amalnya, atau Purnawan Group menarik dukungan restorasi arsip film dan museum malam ini."

Tidak ada teriakan.

Tidak ada ancaman kasar.

Namun semua orang tahu jawabannya sebelum panitia membuka mulut.

Yolanda membeku.

Kiara menoleh pada Rayhan, dadanya tiba-tiba terasa sempit. Ia tahu Yolanda salah. Ia tahu perempuan itu berbahaya. Tetapi melihat Rayhan menutup pilihan sebuah ruangan penuh orang dengan satu kalimat membuatnya kembali teringat pintu kaca Purnawan Tower.

Begitu mudah.

Terlalu mudah.

Panitia menunduk. "Kami akan meminta Nona Yolanda meninggalkan acara."

Air mata Yolanda akhirnya benar-benar jatuh. "Jadi begini? Kalian semua takut padanya sampai tidak ada yang berani bertanya apa aku juga korban?"

Seorang sosialita yang tadi sempat tampak iba langsung memalingkan wajah.

Tidak ada yang menjawab.

Karena jawaban berarti memilih sisi.

Dan di ruangan itu, tidak ada yang cukup bodoh untuk memilih sisi berlawanan dengan Rayhan Purnawan demi Yolanda Yanuar.

Dua petugas acara mendekat. Mereka tidak menyentuh Yolanda, hanya berdiri di sisi kanan dan kiri dengan sopan.

"Silakan, Nona Yolanda."

Yolanda menatap Kiara. "Kamu puas?"

Kiara membuka mulut, tetapi Rayhan lebih dulu berkata, "Jangan bicara padanya."

Yolanda tertawa kecil. Tawa itu pecah, hampir tidak stabil.

"Lihat, Kiara? Bahkan menjawab pun kamu harus dilindungi. Kamu pikir ini cinta? Dia mengatur siapa yang boleh bicara denganmu, siapa yang boleh melihatmu, siapa yang boleh hidup di dekatmu."

Kali ini, bisik-bisik ruangan berhenti.

Kalimat itu menghantam tempat yang sejak beberapa hari ini sudah retak di kepala Kiara.

Rayhan tidak berubah wajah.

"Keluar."

Satu kata.

Petugas acara bergerak lagi.

Yolanda mundur, masih menatap Kiara. "Suatu hari kamu akan takut padanya. Dan saat hari itu datang, tidak akan ada orang tersisa untuk membantumu."

Rayhan menoleh pada Adi.

"Catat kalimat itu sebagai ancaman langsung."

"Baik, Pak."

Yolanda seperti baru sadar bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya sedang menjadi tali untuk menjerat lehernya sendiri. Ia menutup mulut, lalu akhirnya berjalan keluar dengan mata merah.

Pintu ballroom tertutup di belakangnya.

Acara amal berlanjut.

Musik kembali menyala. Orang-orang kembali berbicara, bahkan tertawa kecil setelah beberapa menit, seolah yang terjadi hanyalah gangguan teknis.

Kiara berdiri di tempat yang sama, selendang tipis di bahunya terasa tiba-tiba berat.

Rayhan menunduk sedikit. "Kamu tidak perlu mendengar ucapannya."

Kiara menatap pintu yang baru tertutup.

"Tapi aku sudah dengar."

Rayhan diam.

Itu membuat Kiara lebih gugup daripada jika ia langsung menjawab.

Gunawan datang dengan wajah yang untuk pertama kalinya tidak bercanda. "Kiara, kalau kamu mau pulang..."

"Tidak." Kiara menarik napas. "Aku datang untuk acara museum. Aku akan selesaikan tugasku."

Rayhan menatapnya lama, lalu mengangguk. "Aku di sini."

Ucapan itu seharusnya menenangkan.

Kiara mengangguk, tetapi di bagian paling dalam dadanya, kata-kata Yolanda masih bergerak seperti duri kecil.

Dia mengatur siapa yang boleh bicara denganmu.

Selama sisa acara, Rayhan tetap menjadi pendamping sempurna. Ia mengambilkan air hangat. Ia memastikan Kiara tidak berdiri terlalu lama. Ketika seorang donatur tua memuji akting Kiara, ia mundur setengah langkah agar Kiara bisa menerima pujian itu sendiri. Ia bahkan tersenyum sopan pada orang-orang yang menyapa.

Tidak ada seorang pun akan menyebutnya monster.

Tapi Kiara sudah melihat bagaimana pintu tadi tertutup.

Setelah acara selesai, mereka masuk ke mobil melalui pintu samping hotel. Hujan tipis turun di luar, mengetuk kaca seperti jari kecil.

Kiara duduk diam.

Rayhan tidak langsung memegang tangannya.

Di kursi depan, Adi menerima panggilan singkat melalui earpiece. Suaranya rendah, tetapi karena mobil terlalu hening, beberapa potong kalimat tetap sampai ke telinga Kiara.

"Ya. Pihak museum sudah mengganti daftar dokumentasi."

"Tidak, jangan unggah bagian itu."

"Kontrak konten Yanuar? Bekukan dulu sampai ada audit."

Kiara menoleh sedikit.

Rayhan juga mendengar. Ia tidak menghentikan Adi. Hanya setelah laporan selesai, ia berkata, "Pastikan tidak ada foto Kiara dipakai dalam narasi Yolanda malam ini."

"Baik, Pak."

"Untuk keluarga Yanuar, jangan sentuh proyek yang tidak terlibat. Hanya yang memberi Yolanda akses."

Adi mengangguk. "Saya paham."

Kalimat itu seharusnya membuat Rayhan terdengar adil. Ia bahkan memberi batas: jangan sentuh yang tidak terlibat.

Tetapi Kiara justru merasakan sesuatu yang lebih dingin.

Karena batas itu datang dari Rayhan, bukan dari aturan umum. Seolah nasib sebuah keluarga, sebuah kontrak, sebuah pintu sosial, semua berada di ujung kalimatnya. Jika ia berkata jangan sentuh, mereka aman. Jika ia berkata tutup, pintu tertutup.

Rayhan menoleh padanya. "Kamu dengar?"

Kiara tidak berbohong. "Iya."

"Aku tidak akan memakai fotomu untuk menghancurkannya."

"Aku tahu."

"Aku juga tidak akan menyentuh orang yang tidak terlibat."

"Aku dengar."

Rayhan diam.

Justru diam itu membuat Kiara tahu ia menunggu pertanyaan yang lebih sulit.

Beberapa menit kemudian, Kiara bertanya, "Apa yang akan terjadi pada Yolanda?"

Rayhan menatap hujan di kaca.

"Dia akan hidup."

Kiara menoleh padanya.

Rayhan baru melihatnya. Mata itu lembut untuk Kiara, tetapi kalimat berikutnya tidak.

"Untuk apa yang dia lakukan padamu, itu sudah sangat baik."

Dingin menjalar pelan di punggung Kiara.

Rayhan mengulurkan tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya, seolah mengingat bahwa malam ini ia tidak boleh memaksa Kiara menerima kelembutannya.

"Sayang," panggilnya pelan.

Kiara menatap tangan itu.

Setelah beberapa detik, ia meletakkan ujung jarinya di telapak Rayhan.

Rayhan menggenggamnya dengan hati-hati, hampir takut.

Di luar mobil, pintu hotel tempat Yolanda diusir sudah tertutup rapat.

Di dalam mobil, Kiara mulai memahami bahwa bagi Rayhan, cinta berarti memastikan semua pintu yang mengarah padanya hanya bisa dibuka olehnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!