Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Bu Ratna datang ke rumah sakit dengan mata bengkak dan hati penuh amarah.
Sabrina menunggunya di kafe kecil dekat lobi. Ia tidak memakai gaun mewah seperti biasa, hanya kemeja putih dan celana hitam. Penampilannya sederhana, tapi tetap membuat orang tahu ia bukan perempuan biasa.
Bu Ratna duduk tanpa basa-basi.
"Kamu bilang punya cara membuat Maya turun dari tempatnya."
Sabrina mengaduk kopi, tersenyum tipis.
"Saya bilang punya cara membuat semua orang melihat siapa Maya sebenarnya."
"Jangan main kata. Menantuku sakit. Anakku dipermalukan. Keluarga kami hampir hancur karena perempuan tua itu."
"Karena Maya?" Sabrina mengangkat alis. "Atau karena keluarga Ibu terlalu sering membuat keputusan buruk?"
Wajah Bu Ratna memerah.
Sabrina meletakkan sendok.
"Kalau Ibu mau marah, silakan. Tapi kalau Ibu mau menang, dengarkan."
Bu Ratna menahan diri.
Sabrina mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
"Maya mungkin bukan anak kandung keluarga yang membesarkannya."
Bu Ratna membaca sekilas, lalu mengerutkan kening. "Apa maksudnya?"
"Ada kemungkinan dia terkait dengan keluarga Surya Dharma."
"Surya Dharma?" Bu Ratna terkejut. "Keluargamu?"
Sabrina tersenyum tanpa hangat. "Keluarga ayah saya."
Bu Ratna langsung paham mengapa mata Sabrina begitu dingin.
"Kalau benar, dia akan menjadi ancamanmu."
"Kalau benar, dia juga akan semakin sulit disentuh." Sabrina mencondongkan tubuh. "Karena itu sebelum kebenaran terbentuk, kita buat narasinya lebih dulu."
"Narasi apa?"
"Perempuan miskin yang tiba-tiba menikah dengan Raka Wijaya, lalu mencoba mengaku sebagai darah keluarga Surya demi harta."
Bu Ratna diam, lalu perlahan tersenyum.
"Orang akan percaya?"
"Orang percaya pada cerita yang paling menarik. Apalagi kalau didorong dengan bukti yang dipilih."
"Bukti?"
Sabrina mengetuk dokumen. "Akta lahir Maya tidak rapi. Ada celah. Ibunya meninggal. Suami pertamanya tercatat meninggal, tapi dokumen lamanya juga menarik."
Bu Ratna menatapnya. "Apa maksudmu?"
"Saya sedang mencari tahu." Sabrina menyesap kopi. "Yang saya butuh dari Ibu adalah tekanan dari sisi keluarga Dimas. Buat Maya keluar dari perlindungan Raka. Buat dia emosional. Wanita hamil mudah goyah kalau anaknya sendiri dipakai."
"Dimas sekarang takut."
"Dimas lemah. Vina?"
Bu Ratna menghela napas marah. "Dia masih sakit."
"Justru itu. Kesedihan adalah senjata yang baik kalau diarahkan."
Untuk sesaat, Bu Ratna menatap Sabrina dengan rasa ngeri. Lalu rasa ngeri itu kalah oleh kebenciannya pada Maya.
"Apa yang harus kulakukan?"
Sabrina tersenyum.
"Mulai dengan membuat Dimas merasa ibunya akan mendapat keluarga baru dan membuangnya sepenuhnya."
Di apartemen, Maya tidak tahu percakapan itu terjadi.
Ia sedang duduk di ruang kerja Raka, memandangi brankas yang menyimpan surat ibunya. Raka bekerja di meja, tapi setiap beberapa menit ia melirik Maya.
"Berhenti melihat saya," kata Maya.
"Kamu terlihat seperti ingin membuka brankas lagi."
"Saya memang ingin."
"Untuk apa?"
"Memastikan suratnya tidak berubah."
Raka menutup dokumen.
"Surat itu tidak akan berubah karena kamu melihatnya sepuluh kali."
"Tapi hidup saya berubah."
Raka berdiri, berjalan ke arahnya.
"Kita akan lakukan tes DNA kalau kamu siap."
Maya menatapnya. "Kalau hasilnya benar?"
"Kita hadapi."
"Kalau hasilnya salah?"
"Kita hadapi juga."
"Mas Raka selalu membuat semuanya terdengar mudah."
"Tidak mudah. Tapi lebih baik daripada menebak."
Maya menyentuh perutnya. "Saya takut anak ini lahir dalam kekacauan."
Raka berjongkok di depannya.
"Anak ini akan lahir dengan ibu yang berani dan ayah yang sangat sulit disingkirkan."
Maya menatapnya.
"Mas memuji diri sendiri?"
"Aku menyampaikan fakta."
Ia tertawa pelan.
Suasana itu terputus oleh panggilan dari Pak Surya.
Raka mengangkat dengan speaker atas permintaan Maya.
"Raka," suara Pak Surya terdengar lelah. "Saya ingin meminta maaf. Sepertinya Sabrina mendengar sebagian pembicaraan kita."
Maya menegang.
Raka berdiri. "Apa yang dia lakukan?"
"Dia menanyakan arsip keluarga lama. Saya menegurnya, tapi dia menghindar."
Maya menutup mata.
Pak Surya melanjutkan, "Bu Maya, jika Anda bersedia, saya ingin tes DNA dilakukan secepatnya. Bukan untuk memaksa Anda menerima saya. Tapi agar tidak ada pihak yang memutar cerita."
Maya menatap Raka.
Raka tidak menjawab untuknya.
Ia menunggu.
Maya menarik napas.
"Baik, Pak. Tapi saya ingin prosesnya resmi, tertutup, dan hasilnya diserahkan kepada saya juga. Bukan hanya kepada Bapak."
Suara Pak Surya melembut. "Tentu."
Panggilan selesai.
Maya duduk diam.
Raka bertanya, "Kamu yakin?"
"Tidak."
"Tapi tetap mau?"
"Kalau saya menunggu sampai tidak takut, mungkin saya tidak akan pernah tahu."
Raka mengangguk.
Namun sebelum jadwal tes ditetapkan, Dimas menelepon.
Maya ragu, lalu mengangkat dengan Raka di sampingnya.
"Bu," suara Dimas terdengar kacau. "Apa benar Ibu akan jadi keluarga Surya?"
Dada Maya mencelos.
"Siapa yang bilang?"
"Bu Ratna. Vina. Semua orang mulai bicara. Mereka bilang kalau Ibu punya keluarga baru, Ibu akan membuang aku sepenuhnya."
Maya menutup mata.
Sabrina sudah bergerak.
"Dimas," katanya pelan, "kamu sudah dewasa. Jangan biarkan orang lain terus memasukkan racun ke telingamu."
"Tapi benar?"
"Ibu sendiri belum tahu."
"Kalau benar, aku ini apa?"
Pertanyaan itu terdengar seperti anak kecil yang takut ditinggal. Untuk sesaat, hati Maya melemah.
Lalu ia mengingat semua luka.
"Kamu tetap anak yang pernah Ibu besarkan. Tapi itu tidak berarti kamu berhak menyakiti Ibu agar merasa aman."
Dimas terdiam.
Di seberang, terdengar suara Bu Ratna sayup-sayup.
"Tanya soal warisan! Jangan bodoh!"
Maya mendengarnya.
Raka juga.
Wajah Raka langsung dingin.
Maya berkata, "Dimas, matikan telepon. Bicara dengan Ibu saat kamu benar-benar ingin bicara sebagai anak, bukan sebagai utusan orang lain."
Ia memutus panggilan.
Tangannya gemetar.
Raka mengambil ponsel dari tangannya dan meletakkannya di meja.
"Kamu baik-baik saja?"
Maya menggeleng.
"Tidak. Tapi saya tidak hancur."
Raka menatapnya.
"Itu kemajuan."
Maya tertawa kecil, pahit.
Malam itu, berita pertama muncul di akun gosip bisnis:
`Istri baru Raka Wijaya disebut sedang menelusuri hubungan darah dengan keluarga Surya Dharma. Kebetulan atau ambisi baru?`
Foto yang dipakai adalah foto Maya saat keluar dari rumah lamanya, wajah pucat, memegang amplop tua.
Raka membaca berita itu.
Matanya berubah gelap.
Maya berdiri di sampingnya, melihat judul itu tanpa bicara.
Lalu ia berkata, "Mereka ingin saya malu lagi."
Raka menatapnya.
Maya mengangkat wajah.
"Kali ini saya tidak mau."
Pak Surya memandangnya dengan sorot yang berat. Ia seperti ingin meminta maaf untuk sesuatu yang bahkan belum terbukti.
"Kalau hasilnya benar, kamu berhak atas namaku," katanya.
Maya menggeleng. "Saya tidak sedang mencari nama untuk berlindung. Saya hanya ingin tahu kenapa saya ditinggalkan, dan siapa yang selama ini berbohong."
Raka berdiri di sampingnya. Ia tidak menyentuh Maya, tetapi jarak mereka cukup dekat untuk membuat semua orang tahu ke mana keberpihakannya.
Di luar ruang kerja itu, Sabrina membaca pesan dari Bu Ratna.
`Saya mau bicara. Tapi jangan sampai Dimas tahu.`
Sabrina membalas cepat.
`Dimas justru harus tahu pada saat yang tepat. Dia harus melihat ibunya memilih siapa.`
Ia menatap bayangan dirinya di kaca lift.
Jika Maya mendapatkan ayah, suami, dan anaknya kembali sekaligus, maka Sabrina akan mengambil satu hal yang paling mudah digoyahkan.
Kepercayaan Dimas pada ibunya sendiri.
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍