NovelToon NovelToon
REMBULAN YANG DIRINDUKAN

REMBULAN YANG DIRINDUKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.

Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Langit di atas pesantren tiba-tiba tampak mendung, seolah-olah awan pun enggan menyaksikan tragedi yang akan segera terungkap. Di dalam studio, Bella masih menggenggam surat usang milik Fatih—alias Abbas, nama yang kini berdengung hebat di kepalanya bagai tawon yang mengamuk. Jantungnya berdegup kencang, antara rasa syukur yang membuncah dan ketakutan yang mencekik. Namun, sebelum ia sempat mencerna takdir indah itu, sebuah ketukan keras di pintu depan meruntuhkan segalanya.

Kedatangan Sang Arsitek Kehancuran

Di ruang tengah, Abi Ahmad Bashir baru saja selesai merapikan beberapa kitab ketika suara salam terdengar dari balik pintu jati.

"Assalamu’alaikum...!" suara itu berat dan berwibawa, namun mengandung nada yang dingin.

Abi membukakan pintu. Di hadapannya berdiri tiga orang pria. Dua di antaranya mengenakan seragam polisi lengkap dengan atribut yang tampak sangat meyakinkan: Iptu Deni yang terlihat cerdas dan profesional, serta Aiptu Herman yang memiliki perawakan lebih kasar dan tatapan mata yang tajam. Di belakang mereka, sesosok pria dengan wajah kuyu dan pakaian sederhana tampak tertunduk lesu.

"Wa’alaikumussalam warohmatulloh," jawab Abi tenang, meski ada getaran kekhawatiran di dadanya. "Oh, ada Pak Polisi... Mari, silakan masuk."

Mereka duduk di kursi kayu ruang tamu. Iptu Deni membuka topinya, menaruhnya di atas meja dengan gerakan yang terukur. "Benar ini rumah Bapak Kiai Ahmad Bashir?"

"Benar, itu saya sendiri. Ada apa ya, Pak? Tumben sekali kepolisian berkunjung ke kediaman kami yang sederhana ini," tanya Abi, mencoba mencari tahu arah pembicaraan.

"Begini, Pak Kiai... sebelumnya kami dari kepolisian mohon maaf yang sebesar-besarnya jika kunjungan kami terasa lancang dan mengganggu ketenangan keluarga ini," Iptu Deni memulai dengan nada yang sangat sopan, taktik manipulasi yang sempurna. "Kami sedang menjalankan tugas berdasarkan laporan kehilangan orang dan dugaan tindak pidana."

Abi mengernyitkan dahi. "Gimana ya maksudnya?"

Iptu Deni mengeluarkan sebuah lembar foto dari map cokelatnya. "Apa Pak Kiai mengenal gadis yang ada di foto ini?"

Mata Abi terpaku pada foto itu. Itu adalah foto Bella, namun dengan riasan yang jauh lebih tebal dari biasanya. "Iya... benar. Ini menantu saya, istri dari anak saya, Fatih."

Mendengar pengakuan jujur Abi, Iptu Deni menoleh ke arah pria di belakangnya. "Ini, Pak Kiai... perkenalkan, beliau adalah Bapak Dahlan. Ayah kandung yang sudah lama mencari keberadaan anaknya."

Abi tersentak. "Bukannya dia sudah tidak punya ayah kandung? Yang saya tahu dari cerita anak saya, dia hanya memiliki ayah tiri?"

Iptu Deni tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat bulu kuduk berdiri. "Itulah gunanya kami di sini, Pak Kiai. Agar semuanya terang benderang. Jika diizinkan, bisakah Nak Bella dipanggil ke sini, biar "clear" semuanya? Kita selesaikan secara kekeluargaan sebelum kami ambil tindakan hukum lebih lanjut."

Abi yang menjunjung tinggi keadilan tidak punya pilihan lain. "Zahra! Zahra, panggil mbakmu ke sini sekarang, nak!"

Pertemuan yang Berdarah

Di studio, Zahra dan Bella yang tadinya tenggelam dalam haru seketika tersadar. "Ya, Abi! Ayo Mbak, Abi memanggil," ajak Zahra.

Bella melangkah ke ruang depan dengan perasaan yang tidak enak. Di belakangnya, Umi Fatimah juga muncul dari dapur membawa nampan berisi gelas air minum untuk tamu, namun langkahnya terhenti saat melihat dua seragam polisi di ruang tamunya.

Begitu kaki Bella menginjak lantai ruang tamu, dunianya seolah berhenti berputar. Matanya bertatapan langsung dengan Dahlan.

"Ayah...?" Bella terhenyak. Tubuhnya bergetar hebat. "Kenapa Ayah bisa ada di sini?"

Dahlan tiba-tiba berdiri, wajahnya berubah menjadi sangat memelas. Air mata buaya mulai mengalir di pipinya yang keriput. "Nak... pulanglah, Nak... Maafin Ayah. Ayah tahu Ayah mungkin terlalu keras sama kamu, tapi jangan lari seperti ini..."

"Gak! Aku gak mau! Aku bahagia di sini! Ayah pergi!" Bella berteriak histeris, ia mundur ke arah Umi yang langsung merangkulnya.

"Nak Bella," Iptu Deni memotong dengan suara tenang yang manipulatif. "Kamu boleh saja bahagia di sini, tapi apa kamu tega meninggalkan ayah kandungmu sendirian dalam penderitaan? Beliau sakit-sakitan mencari kamu ke mana-mana."

Zahra yang melihat situasi semakin kacau dan curiga akan gelagat Iptu Deni, diam-diam menyelinap ke belakang. Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponselnya dan menghubungi Fatih. "Abang, cepat pulang! Ada polisi! Mbak Bella mau dibawa!"

Logika yang Terhasut

Kurang dari sepuluh menit, suara raungan motor terdengar di halaman. Fatih dan Lukman melompat dari motor bak pembalap yang baru saja mencapai garis finis. Firasat Fatih benar ada yang tidak beres, benarkah Bella itu buronan yang dicari...!! Pikiran fatih kalut , ada sesuatu yang Bella sembunyikan dariku..Mereka Fatih dan Lukman merangsek masuk ke dalam rumah. 

"Ada apa ini?!" bentak Fatih, matanya merah karena amarah dan kekhawatiran.

Dahlan dan Aiptu Herman tampak sedikit panik melihat kedatangan Fatih yang sangat dominan, namun Iptu Deni tetap tenang. Ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.

"Anda suaminya?" tanya Iptu Deni.

"Ya, saya suaminya! Ada urusan apa polisi masuk ke rumah orang tua saya.. tanpa izin?!"

"Saya Iptu Deni dan rekan saya Aiptu Herman Kami dari kepolisian sedang menjalankan tugas, Ustadz. Mencari anak yang hilang, dan kebetulan anak itu adalah Bella, putri kandung dari Bapak Dahlan ini," Iptu Deni menunjuk Dahlan.

"Ayah kandung?" Fatih menatap Dahlan dengan hina lalu ke arah Bella, Bella berharap suaminya membelanya. "Bukankah kamu ayah tirinya yang tega menjual anakmu sendiri? Saya tahu semua ceritanya dari Bella!"

"Bukan, Ustadz. Saya ayah kandungnya," Dahlan memotong sambil menangis sesenggukan. "Maafkan saya, Pak Polisi... Maafkan saya, Ustadz... Saya tidak pernah menjual dia. Walau saya orang miskin, saya pengangguran... namun Karena dia ingin hidup mewah, dia cari uang dengan cara menjual dirinya sendiri! Sudah banyak lelaki yang jadi pelanggannya..."

"Jaga bicaramu!" Fatih maju selangkah, hendak mencengkeram kerah baju Dahlan. "Dia istri saya! Saya tahu siapa dia! Saya yang pertama tidur dengannya, dia masih gadis!"

Dahlan dan kedua polisi gadungan itu sempat terdiam sejenak. Skenario "pelanggan" itu terbantahkan. Namun, Aiptu Herman yang sedari tadi bersandar di pintu sambil menghisap rokok—tindakan yang sangat tidak sopan di rumah kiai—mengangkat kakinya ke kursi dan menyeringai.

"Jadi begini, Tadz," Herman angkat bicara dengan nada preman. "Si Bella ini memang gak tidur bareng pelanggan. Modusnya lebih cerdik. Dia kasih obat tidur ke pelanggannya di hotel, terus dia bawa kabur uang dan ponsel korban. Itu sebabnya dia buron."

Fatih terdiam. Kata "buron" dan "obat tidur" seolah menghantam harga dirinya sebagai seorang ustadz dan pendidik. Ia menoleh ke arah Bella yang pucat pasi. "Coba jelaskan, Bella! Apa benar semua ini?"

"Tidak... aku tidak pernah melakukan itu! Aku tidak pernah ke hotel!" Bella menggelengkan kepalanya dengan tangis yang meledak.

Iptu Deni mengeluarkan sebuah ponsel dan menunjukkan sebuah akun media sosial yang bernama Bella . "Ini akun dia, Ustadz. Dia bekerja sendiri dengan akun online. Lihat fotonya."

Di layar ponsel itu, terpampang foto Bella mengenakan pakaian minim dengan riasan menggoda. Foto yang pernah diambil secara paksa oleh Dahlan saat menyekapnya di penginapan tempo hari.

"Dia sering beroperasi di Hotel Arimbi dan Penginapan Melati," tambah Aiptu Herman meyakinkan.

Fatih merasakan dadanya sesak. Logika hukumnya—atau lebih tepatnya ego laki-lakinya yang terluka—mulai menguasai akal sehatnya. Ia melihat bukti foto itu, ia melihat polisi di depannya, dan ia merasa harga diri keluarganya sedang diinjak-jink.

"Bella... apa yang kamu sembunyikan dariku? Jawab aku! Jangan cuma nangis!" Fatih membentak dengan suara menggelegar.

Lukman mencoba menahan bahu Fatih. "Sabar, Fatih... sabar. Jangan emosi."

"Sabar gimana, Man?! Nama baik Abi taruhannya!" Fatih menepis tangan Lukman.

Umi Fatimah maju, memeluk Bella yang gemetar. "Fatih! Beraninya kamu membentak istrimu di depan Umi! Ini fitnah, Nak! Ini semua fitnah!"

"Tidak, Umi! Fahakum bidhowahir,, ini dhohirnya Tidak mungkin polisi salah bicara! Mereka punya data, mereka punya SOP!" Fatih mulai kehilangan kendali diri. Ia merasa dibohongi oleh wanita yang baru saja ia cintai.

Pengusiran dan Jeritan Terakhir

Bella menatap Fatih dengan pandangan yang hancur. Ia ingin berteriak bahwa dia adalah Wulan, bidadari yang Fatih cari selama sepuluh tahun. Namun, melihat kebencian di mata Fatih saat ini, ia tahu Fatih tidak akan percaya. Kata-katanya akan dianggap sebagai kebohongan baru.

"Bella, jelaskan!" teriak Fatih lagi.

Bella hanya bisa menggeleng dan menangis sesenggukan. "Tidak... aku tidak seperti itu..."

Lalu ini apa..?" Fatih menunjukkan bukti akun itu, yang langsung zahra ambil, dan zahra kirimkan ke ponselnya tanpa mereka sadari..

 Itu..itu..._!!" Zahra menggantung sambil terisak..

"Cukup!" Fatih menunjuk ke arah pintu. "Tangisanmu tidak bisa membuktikan apapun..Kalau kamu tidak mau jujur dan hanya bisa menangis, pergi kamu dari sini! Aku tidak sudi rumah Abi ditempati oleh wanita kotor sepertimu!"

"Gak..bang.. aku nggak..." Bella tersungkur di lantai.

"Abang! Abang jahat! Kenapa Abang mengusir Mbak Bella?!" Zahra ikut berteriak sambil menangis, mencoba menarik tangan kakaknya.

"Diam kamu, Zahra! Kamu anak kecil, jangan ikut campur!"

Dahlan melihat kesempatan itu. Ia segera menyambar lengan Bella dan menariknya berdiri. "Ayo pulang, Nak. Biar Ayah yang urus kamu."

Dahlan menyeret Bella keluar rumah. Bella meronta-ronta, tangannya mencoba menggapai ke arah Fatih, dan memohon kepada umi.. bang, tolong bang.. aku bukan.. bukan.. seperti itu.. umi.. tolong aku umi..!!" Bella terus meronta.

namun Fatih justru membuang muka. Ia memunggungi istrinya, membiarkan kemarahan membakar habis sisa-sisa kasih sayangnya.

Di belakang mereka, Umi Fatimah jatuh terkulai. "Bella... anakku... Fatih, Umi tidak akan... Umi..." Suara Umi menghilang, matanya gelap, dan ia pingsan di pelukan Abi.

"Umi!" Abi dan Zahra segera berteriak panik membantu Umi.

Saat Bella dipaksa masuk ke dalam mobil hitam oleh Dahlan dan kedua polisi gadungan itu, tepat sebelum pintu mobil tertutup, Bella mengeluarkan seluruh sisa energinya untuk berteriak. Sebuah teriakan yang memecah keheningan pesantren.

"KANG ABBAS...!!! TOLONG AKU...!!!"

DEG.

Fatih tersentak. Nama itu. Panggilan itu. Hanya Wulan yang memanggilnya dengan nama itu. Hanya Wulan yang tahu nama julukan rahasianya di pesantren sepuluh tahun lalu.

Fatih memutar tubuhnya dengan cepat. Matanya membelalak. "Wulan...? Wulan!"

Logika hukum yang tadi membentengi hatinya seketika runtuh. Ingatan tentang surat-surat di studio, tentang binar mata Bella yang familier, dan tentang panggilan "Abbas" menyatu menjadi satu kebenaran yang menyakitkan.

"WULAN! TUNGGU! WULANN!!!"

Fatih berlari sekuat tenaga mengejar mobil yang mulai melaju. Namun, mobil itu dipacu kencang oleh Iptu Deni. Debu jalanan beterbangan, menutupi pandangan Fatih.

Dari kaca belakang mobil, Bella melihat Fatih yang berlari mengejar sambil memanggil namanya. Air matanya mengalir, namun mobil itu semakin menjauh, membawa Bella kembali ke tangan singa yang siap menerkamnya, meninggalkan Fatih yang jatuh bersimpuh di tengah jalan, merutuki kebodohannya yang telah mengusir bidadari yang selama ini ia cari.

1
falea sezi
😒😒 umi umi klo qm. jodohin fatih pasti bella pergi jauhh🤣🤣🤣 biar mampus anak mu itu
Katumbiri Lazuardi: iya kak, makasih komen nya.. sehat selalu.. jangan lupa like dan subcribe ya.. ikuti terus
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Katumbiri Lazuardi: siap kak, jangan lupa like dan subcribe nya .. terus ikuti yah🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!