Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Penawaran gila sang raja vampir
Sementara itu, di dalam kamar kosong yang sunyi, kondisi Elara terlihat semakin menyedihkan. Tubuhnya sudah terlampau lemas, tak bertenaga lagi di bawah kungkungan mutlak sang Raja Vampir.
Jacob terbukti jauh lebih kuat, bahkan lebih beringas daripada Edgard. Gairah ratusan tahun yang meledak tak terkendali membuat pria itu menjajah tubuh Elara tanpa ampun, meninggalkan begitu banyak tanda kepemilikan yang kontras di atas kulit mulus sang Siren.
Puncaknya, Jacob telah menancapkan taringnya, menandai leher kiri Elara secara permanen. Di sana, sebuah pola kelelawar emas kini terpahat indah, berkilau magis sebagai segel klaim dari sang penguasa malam.
Namun, kepuasan Jacob mendadak menguap saat ia menarik diri. Ketika manik mata merahnya yang menyala turun dan tertuju pada bahu kanan Elara, rahang Raja Vampir itu seketika mengeras sempurna. Aura membunuh yang pekat mendadak melingkupi ruangan.
Di atas bahu kanan gadis itu, terlihat jelas sebuah pola kepala serigala biru keemasan yang masih segar. Itu bukan tanda serigala biasa. Itu adalah tanda kepemilikan mutlak dari klan Blue Light Pack—tanda yang hanya bisa diukir oleh kalangan bangsawan berpangkat Alpha atau keturunan langsung dari darah murni Werewolf penguasa.
"Siapa yang sudah menandaimu?! Jawab aku!" desis Jacob dengan suara berat yang menggelegar ganjil, sarat akan murka dan rasa tidak terima karena ada predator lain yang telah mendahuluinya. Cengkeramannya pada sisi ranjang mengetat hingga kayu di bawahnya retak.
Dengan sisa-sisa kesadarannya yang kian menipis, Elara memaksakan kelopak matanya yang berat untuk terbuka. Ia menatap sayu manik mata Jacob yang masih menyala semerah darah.
"Aku... tidak tahu," jawab Elara teramat lemah, suaranya nyaris menyerupai bisikan parau. Air mata keputusasaan kembali mengalir di sudut matanya saat ia balik bertanya dengan sisa keberaniannya, "Dan kenapa... kenapa Anda melakukan hal sekejam ini padaku?"
Jacob tidak langsung menjawab. Pria itu bergeming sejenak, lalu beranjak turun dari atas ranjang tanpa memedulikan tatapan hancur Elara. Dengan gerakan yang teramat tenang dan elegan, ia mulai mengenakan kembali pakaian mewahnya yang sempat berantakan. Perlahan, kilatan merah menyala di sepasang matanya meredup, kembali berubah menjadi hitam kelam seperti semula.
"Semua ini di luar kendaliku. Insting vampirku telah menguasai akal sehatku sepenuhnya," ucap Jacob dingin dan datar, sembari mengancingkan kemeja sutranya tanpa sudi menoleh sedikit pun pada Elara. "Kau tenang saja. Aku bukan pengecut. Aku tidak akan kabur atau lari dari tanggung jawab atas apa yang terjadi malam ini."
Setelah seluruh pakaiannya terpasang sempurna tanpa cela, sang Raja Vampir kembali melangkah mendekati ranjang. Ia mendudukkan tubuh tegapnya di tepi kasur, mengamati lekat-lekat tubuh polos gadis itu yang dipenuhi jejak-jejak beringasnya.
"Aku tanya sekali lagi, siapa Werewolf yang telah menandaimu?" tuntut Jacob.
Meskipun indra penciuman vampir murninya bisa mengendus sisa feromon Werewolf yang tertinggal di tubuh Elara—aroma familier milik Edgard yang sangat ia kenali—Jacob tetap membutuhkan kepastian. Ia hanya ingin mendengar konfirmasi itu keluar langsung dari bibir sang Siren.
"Yang pasti... dia seorang Werewolf," jawab Elara dengan suara parau menahan tangis. "Tapi aku sama sekali tidak mengenalnya, apalagi melihat wajahnya dengan jelas. Saat itu kesadaranku terkikis habis karena meminum cairan aneh yang disediakan di dalam kamar."
Elara meringkuk, sama sekali tidak menyadari bahwa cairan yang membakar tenggorokannya malam itu adalah alkohol berkadar tinggi.
"Pria itu mendadak masuk ke kamarku. Awalnya, aku mengira dialah orang yang akan memberiku banyak uang... karena sebelumnya, seseorang menyuruhku untuk diam di kamar dan menuruti semua perintah pria yang akan datang membawa uang," tambah Elara lagi, suaranya bergetar hebat saat mengingat keluguan dan keputusasaannya yang dimanfaatkan oleh Madam Jane. "Namun, aku tidak pernah tahu jika kejadiannya akan berakhir sekeji ini. Dan sekarang... Anda justru datang dan melakukan hal yang sama buruknya padaku."
Mendengar penuturan jujur dari Elara, firasat Jacob seketika mengarah pada satu nama yang sangat familier. Sosok itu adalah sepupu dari cucunya sendiri, yang secara silsilah keluarga besar mereka juga merupakan cucu baginya.
Akal sehat Jacob menepis kemungkinan lain. Tidak mungkin jika Oliver—sahabat lamanya yang merupakan mantan Alpha tua bangka—atau anak Oliver bernama Ethan yang menjabat sebagai Alpha saat ini, yang tega berbuat sebejat itu. Terlebih, Ethan sudah beristri dan memiliki anak. Itu sangat mustahil. Pelaku yang mengukir tanda serigala biru keemasan ini pasti tidak lain dan tidak bukan adalah Edgard.
Namun, ada hal lain yang membuat sang Raja Vampir jauh lebih terkejut. Gadis Siren di hadapannya ini tampaknya telah dimanfaatkan oleh seseorang untuk dijadikan pemuas nafsu di tempat hiburan malam.
"Kau bilang kau disuruh oleh seseorang?" tanya Jacob, memastikan pendengarannya sendiri. Tatapannya menajam, menembus manik mata Elara. "Dan jangan bilang kau sama sekali tidak tahu jika kau telah dijual, dan sebenarnya sedang dimanfaatkan oleh orang tersebut? Kau... bekerja di sebuah tempat hiburan?"
Elara mengernyit bingung, tatapannya menyiratkan kepolosan yang kontras dengan kemalangan yang menimpanya. "Aku hanyalah seorang Siren yang selama ini hidup di lautan. Aku tidak tahu apa itu tempat hiburan. Maka dari itu, aku percaya-percaya saja pada wanita paruh baya tersebut karena dia telah menolongku dan terlihat sangat baik."
Air mata Elara kembali menggenang di pelupuk matanya, meluncur lambat melewati pipinya yang pucat. "Namun, ternyata niat baiknya itu menyimpan maksud terselubung yang tidak pernah kuketahui. Sekarang aku hanya ingin hidup tenang, tanpa mau bertemu apalagi melihat wanita itu lagi."
Elara menundukkan kepala, meremas ujung selimut tebal yang melindunginya dari hawa dingin. "Aku juga ingin meminta maaf karena tadi sempat mencium Anda... dan memfitnah Anda sebagai kekasihku yang telah menghamiliku. Aku sengaja melakukan itu demi mengelabui para penjaga istana agar aku terbebas dari hukuman penjara bawah tanah."
Elara kembali mendongak, menatap penuh harap pada sepasang manik mata hitam kelam sang Raja Vampir. "Jadi, kumohon... sekarang lupakan saja semuanya yang telah terjadi di antara kita. Aku hanya ingin hidup tenang. Bisakah Anda membantuku untuk pulang ke rumah seorang pria bernama Cedric Valerius?"
Elara tahu betul risikonya. Meminta pertanggungjawaban dari Raja Vampir ini sama saja dengan bunuh diri. Ia bisa berakhir di tiang gantungan. Urusan balas dendam pada Helios melalui menantu Jacob bisa dipikirkan nanti. Saat ini, hidup bersama Cedric adalah pilihan terbaik. Pria Elf itu tulus, lurus, dan jauh lebih aman daripada monster di depannya.
"Tidak akan pernah," sahut Jacob dingin.
Jacob mengenal nama itu. Sebagai mertua Stefany Elves dan besan Raja Arthur, ia hafal silsilah kaum Elf. Pria itu pasti Cedric Valerius, anak mantan Panglima Elf Hutan, Axel Valerius. yang kini menjabat sebagai Walikota Luminara, wilayah yang berbatasan langsung dengan teritorinya.
"Kau harus ikut ke kastilku," perintah Jacob mutlak. "Tidak ada bantahan."
Jacob merasa lidahnya mendadak kelu. Logikanya ingin menolak gadis ini mentah-mentah. Namun, instingnya tidak rela jika miliknya tinggal di rumah pria lain. Ia ingin mengurung Elara dan menjadikannya hak milik pribadi. Padahal, sebelumnya sang Raja Vampir menolak keras takdir gila bersama Siren ini.
Elara membelalakkan mata tidak percaya. "Kenapa aku harus tinggal di kastil Anda?" tanyanya retoris. "Bukankah kemarin Anda sendiri yang mengusirku dari sana?"
"I-tu... itu karena kemarin aku belum mengenalmu dan kau sembarangan menyusup ke wilayahku,"