Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.
Aku nggak sengaja di sini.
Klik.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"
Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.
Jantungku berhenti.
Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.
Kraaak.
"Menangkap."
Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
konfrontasi di balik meja kerja
Hujan deras yang mengguyur malam itu membuat kaca jendela sedan hitam dialiri air yang konstan, mengaburkan pemandangan lampu jalanan kota. Di dalam kabin yang senyap, aku mendekap map cokelat pemberian Devan dengan kekuatan yang membuat ujung-ujung jariku memutih.
Pesan singkat di ponsel tadi terasa seperti vonis mati yang terus berdentum di kepalaku.
Begitu mobil berhenti sempurna di teras mansion, aku tidak menunggu sopir membukakan pintu. Aku melangkah keluar, membiarkan beberapa tetes air hujan membasahi rambut hitam panjangku sebelum aku menapakkan kaki di aula utama.
Suasana lantai satu begitu sunyi.
Pak Bara tidak terlihat di tempatnya biasa, memberikan indikasi jelas bahwa seluruh area ini sengaja dikosongkan untuk urusan pribadi sang pemilik. Aku melangkah dengan kaki yang terasa seperti jeli menuju sayap timur, tempat pintu kayu ruang kerja Axel berada.
Dengan tangan kiri yang gemetar, aku mengetuk pintu itu dua kali.
"Masuk."
Suara bariton yang dingin akan otoritas mutlak terdengar dari dalam. Aku memutar knop pintu perlahan dan mendorongnya terbuka.
Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu meja kuningan yang temaram, melemparkan bayangan panjang yang dramatis di dinding panel kayu. Axel sedang duduk di balik meja marmer besarnya. Dia telah menanggalkan jas formalnya, hanya menyisakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan samar tato ular yang melilit hingga ke pangkal lehernya. Di jemarinya, sebuah pena logam hitam bergulir dengan irama yang konstan.
Aku melangkah mendekat, berhenti tepat dua meter di depan mejanya, lalu meletakkan map cokelat dari Devan di atas permukaan marmer yang dingin.
"Ini... dokumen yang Anda minta, Tuan Axel," kataku, tidak berani menatap matanya langsung.
Axel tidak langsung mengambil map itu. Dia menghentikan gerakan penanya, lalu perlahan mendongakkan kepala. Mata hitamnya menatapku lurus, sebuah pandangan kosong tanpa empati yang seolah bisa membaca setiap ketakutan di dalam jiwaku.
"Kau membiarkan seorang pria mendekatimu di koridor kampus, Dan kau menerima sesuatu darinya setelah semua peringatan yang kuberikan," ucapnya, suaranya sangat tenang, namun ketenangan itu justru jauh lebih mengerikan daripada bentakan kemarahan.
"Dia... Devan hanya ingin membantu ku agar tidak tertinggal nilai kelompok, Tuan. Ini murni tentang tugas kuliah fotografi, tidak ada maksud lain," aku membela diri dengan suara yang bergetar hebat. "Saya sudah mencoba menjaga jarak seperti aturan yang Anda buat."
Axel bangkit berdiri dari kursinya. Kehadiran fisiknya yang tinggi tegap langsung memberikan tekanan psikologis yang masif di ruangan yang temaram ini.
Dia berjalan memutari meja marmer, melangkah perlahan mendekat ke arah tempatku berdiri. Instingku meneriakkan tanda bahaya untuk mundur, namun aku memaksa kedua kakiku untuk tetap diam membeku di atas lantai kayu.
Aturan nomor tiga Jangan bergerak.
Axel berhenti tepat di depanku. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan radiasi panas dari tubuhnya dan aroma tembakau mahal yang keluar kuat. Dia mengulurkan tangan kanannya, jari-jarinya yang panjang bergerak lambat, menyentuh daguku dan memaksaku untuk mendongak, menatap langsung ke dalam sepasang matanya yang mati.
"Aku tidak peduli apa alasannya, Nona Pramesti," desisnya rendah di depan wajahku.
"Di duniaku, ketidakpatuhan sekecil apa pun terhadap instruksiku adalah bentuk pelanggaran otoritas. Kau mengkhawatirkan nilai kuliahmu, atau kau sebenarnya takut pria itu terluka oleh tindakanku?"
Air mataku akhirnya runtuh, membasahi jemarinya yang terasa dingin di kulit daguku. "Saya mohon... jangan apa-apakan Devan. Dia tidak tahu apa-apa tentang situasi saya di rumah ini. Ini semua salah saya karena tidak tegas menolaknya."
Axel menatap tetesan air mataku selama beberapa detik dengan pandangan yang sulit diartikan sebuah perhitungan rumit yang berputar di balik mata hitamnya. Dia melepaskan pegangannya di daguku dengan sentakan kecil, lalu berbalik mengambil map cokelat di atas meja dan melemparkannya langsung ke dalam perapian yang menyala di sudut ruangan.
Aku terkesiap melihat api dengan cepat melahap lembar-lembar kertas analisis data dari Devan hingga menjadi abu hitam dalam hitungan detik.
"Tugas kelompokmu akan diselesaikan oleh tim legal yayasan dengan nilai yang sempurna, jadi kau tidak perlu bantuan dari siapa pun lagi di kampus itu," ucap Axel datar, kembali menyandarkan pinggulnya di tepian meja marmer sembari melipat tangan di dada. Tato ular di leher belakangnya tampak menegang seiring rahangnya yang mengeras.
"Tindakan pendisiplinanmu malam ini tidak akan berupa air dingin seperti kemarin," Axel menjeda kalimatnya, matanya turun menatap pergelangan tangan kananku yang masih sedikit memerah. "Kau akan tetap berada di ruangan ini, duduk di kursi itu, dan menyusun ulang seluruh laporan riset mediamu menggunakan mesin ketik manual di sudut sana sampai fajar tiba. Tanpa istirahat, tanpa bantahan."
Aku menoleh ke arah meja kecil di sudut ruangan, tempat sebuah mesin ketik tua berwarna hitam pekat sudah disiapkan di bawah sorot lampu kecil. Itu adalah bentuk tekanan psikologis yang melelahkan, memaksa fisik dan pikiranku bekerja di bawah pengawasan langsung darinya sepanjang malam.
"Paham, Aira?" tanyanya mutlak.
"Pa_paham, Tuan Axel," jawabku lirih, menghapus sisa air mata di pipi.
Aku berjalan menuju sudut ruangan dan duduk di kursi kayu yang keras, mulai memasukkan lembar kertas putih ke dalam mesin ketik. Sementara di belakangku, Axel kembali duduk di kursi kerjanya, mengawasiku dalam keheningan malam yang pekat di bawah guyuran hujan. Batas di antara kami kembali mengeras oleh hukum dan kendalinya yang tanpa kompromi.
Suara ketukan tuas mesin ketik manual mulai memecah keheningan ruang kerja. Tak... tak... tak...
Bunyinya terasa begitu nyaring, beradu dengan gemuruh hujan deras di luar dinding marmer. Setiap ketukan jari-jariku di atas tombol logam yang keras mengirimkan denyut perih yang halus ke pergelangan tangan kananku yang belum pulih sepenuhnya.
Namun, aku tidak berani melambat sedikit pun.
Dari sudut mataku, aku bisa merasakan keberadaan Axel yang duduk diam di balik meja marmer besarnya. Dia tidak lagi memeriksa berkas atau menyentuh laptopnya.
Pria itu hanya bersandar, menumpukan dagunya pada tautan jemari tangannya, sementara sepasang mata hitamnya terus mengunci setiap pergerakan punggungku. Tatapannya begitu intens dan berat, seolah sedang menghitung setiap detik ketahananku di bawah tekanan psikologis yang dia ciptakan.
Keheningan di antara kami terasa begitu pekat, menyiksa mentalku secara perlahan. Udara di dalam ruangan ber-AC ini terasa semakin dingin, menusuk kulitku yang hanya terbalut kemeja kuliah tipis. Ketika jarum jam dinding kuningan mendekati pukul dua pagi, mataku mulai terasa seberat timah. Konsentrasiku pecah, dan aku melakukan kesalahan ketik pada baris analisis ketiga.
Sret.
Aku refleks menarik kertas itu keluar dengan panik, membuat bunyi sobekan yang kasar di keheningan malam. Tubuhku mendadak kaku, bersiap menerima reaksi atau interupsi dingin dari arah meja kerja Axel.
Namun, Axel tetap diam. Dia hanya mengubah posisi duduknya, meluruskan kakinya yang panjang sembari meraih gelas kristal berisi cairan amber di sampingnya. Dia menyesapnya perlahan, membiarkan bunyi es batu yang berbenturan dengan kaca menjadi satu-satunya jawaban atas kesalahanku. Isyarat tak tertulis bahwa tidak ada ruang untuk mengeluh; aku harus memasukkan lembar baru dan memulainya lagi dari awal. Di bawah sorot lampu meja yang temaram, aku menahan air mataku agar tidak jatuh mengotori kertas baru, memaksa jemariku kembali bergerak di atas mesin ketik tua itu demi mematuhi hukum malam sang naga.
kalo berkenan mmpir juga thor😉