NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Mikayla

Rumah Untuk Mikayla

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Ibu Tiri
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benturan Ego dan Kepedulian yang Salah Arti

Malam semakin larut ketika Pak Hendra dengan jaket tebalnya baru saja hendak melangkah keluar dari pintu teras. Tangannya yang memegang kunci mobil bergetar karena rasa khawatir yang sudah memuncak. Namun, tepat saat kakinya baru menginjak anak tangga teras pertama, siluet yang sejak tadi ia tunggu-tunggu akhirnya muncul dari balik kegelapan pagar rumah.

Kayla melangkah masuk dengan santai, menggendong tas ranselnya di satu bahu. Ekspresi wajahnya sedatar papan tulis, seolah tidak terjadi apa-apa, seolah ia tidak baru saja membuat seisi rumah panik setengah mati.

"Kay, kamu dari mana aja? Papih khawatir tahu!" ucap Pak Hendra langsung. Suaranya meninggi, campuran antara rasa lega yang amat sangat dan amarah yang sempat tertahan.

Kayla menghentikan langkahnya di depan sang ayah. Ia menatap Pak Hendra tanpa kedipan, lalu mendengkus pelan. "Lebay banget sih. Kayla habis cari angin," ucap Kayla dengan nada yang teramat santai, bahkan terkesan menyepelekan.

"Cari angin? Sampai jam sepuluh malam?!" Suara Pak Hendra kini bergaung di halaman rumah yang sepi. Napasnya memburu. "Kayla, kamu jangan kelewatan ya! Kamu ini anak perempuan. Bahaya buat kamu keluyuran di luar sana jam segini!"

"Udahlah, Pih. Jangan sok peduli sama Kayla," potong Kayla cepat. Kalimat itu meluncur tajam seperti sembilu, membuat Pak Hendra seketika terbungkam. Kayla menatap ayahnya dengan senyum sinis yang menyakitkan. "Papih pikirin aja tuh calon istri Papih. Enggak usah repot-repot ngurusin Kayla."

Wajah Pak Hendra seketika memerah. Rasa bersalah, sedih, dan amarah bercampur menjadi satu di dadanya. "Mikayla, kamu tuh ya! Papih bingung harus kayak gimana lagi biar kamu sadar kalau Papih ngelakuin ini semua tuh demi kamu, Nak!"

"Demi aku?" Kayla tertawa sumbang, setetes air mata yang hampir jatuh buru-brew ia seka dengan kasar. "Demi ego Papih mungkin iya! Jangan bawa-bawa nama Kayla buat pembenaran kalau Papih beneran mau nyari pengganti Mommy!"

Tanpa menunggu balasan lagi, Kayla melangkah lebar menerobos masuk ke dalam rumah. Ia mengentakkan kakinya kasar di anak tangga, lalu masuk ke kamarnya di lantai atas, meninggalkan Pak Hendra yang berdiri mematung di lantai bawah dengan dada yang sesak. Rumah itu kembali diselimuti keheningan yang mencekam.

Sambil mengusap wajahnya yang lelah, Pak Hendra meraba saku celananya. Ia segera mencari nomor Arka untuk memberikan kabar.

"Halo, Arka? Kamu enggak usah nyari lagi, Nak. Kayla... Kayla udah pulang baru aja. Maaf ya sudah merepotkan kamu malam-malam begini," ucap Pak Hendra lirih di telepon, digandengi ucapan terima kasih yang tulus sebelum menutup sambungan.

Keesokan harinya di sekolah, atmosfer di sekitar bangku Kayla terasa sangat panas sejak pagi. Arka, yang tadi malam sempat mengitari jalanan kota dengan motornya dalam keadaan panik, kini berdiri di samping meja Kayla dengan kedua tangan bersedekap di dada.

Cowok itu tidak berhenti-henti mengomel, meluapkan seluruh rasa frustrasi dan kekhawatirannya yang menumpuk sejak semalam.

"Lo mikir enggak sih, Kay? Otak lo ditaruh di mana semalam? Om Hendra nelpon gue sambil nangis-nangis panik! Gue nyariin lo ke sana-kemari kayak orang gila, sementara lo malah asyik nongkrong di markas berandalan itu sama Gavin? Lo tahu kan cowok itu bahaya?!" cerca Arka tanpa jeda, wajahnya mengeras menahan kesal.

Kayla yang sejak tadi berusaha fokus mencatat materi di bukunya akhirnya mengentakkan pulpennya ke atas meja. Ia mendongak, menatap Arka dengan tatapan ketus yang tak kalah tajam.

"Duh, Ka! Bisa diem enggak sih? Kuping gue pengang tahu enggak dari pagi dengerin lo ngomel terus!" semprot Kayla tidak mau kalah. "Lagian gue juga enggak apa-apa kan sekarang? Gue aman, buktinya gue bisa balik ke rumah dan sekarang duduk di depan lo dengan utuh!"

"Aman lo billing?!" Arka mencondongkan tubuhnya, menatap lekat-lekat mata Kayla. "Semalam itu cuma keberuntungan, Mikayla! Lo enggak pernah tahu isi kepala anak-anak motor kayak Gavin itu gimana. Kalau terjadi sesuatu yang buruk sama lo di tempat pengap kayak gitu, siapa yang mau lo salahin? Bokap lo? Atau gue yang gagal jagain lo?!"

"Gue enggak pernah minta lo buat jagain gue, Arka!" seru Kayla, suaranya mulai memancing perhatian beberapa anak kelas yang baru datang. Kayla mengatur napasnya yang memburu, mencoba meredam suaranya agar tidak menjadi tontonan. "Gue cuma butuh ketenangan. Dan di rumah, atau bahkan di deket lo yang hobi ceramah begini, gue enggak dapet itu."

Arka tertegun. Kata-kata Kayla barusan telak menghujam perasaannya. Rasa kecewa yang mendalam terkilat di sorot mata cowok itu. Ia diam, menatap sahabat masa kecilnya yang kini terasa semakin jauh dan asing di depannya.

Melihat perubahan ekspresi Arka, ada secercah rasa bersalah yang mendadak muncul di hati Kayla. Namun, gengsinya yang setinggi langit membuat Kayla buru-buru mengalihkan pembicaraan saat matanya menangkap sosok ketua OSIS yang melongok di depan pintu kelas mereka.

"Udahlah... tuh, lo dicariin sama Pak Bambang di ruang guru. Katanya ada perlu penting banget soal berkas kelas atau OSIS," ucap Kayla, nadanya merendah, menunjuk ke arah pintu dengan dagunya.

Arka menghela napas panjang, mencoba menekan egonya yang terluka. "Gue pergi dulu. Tapi urusan kita belum selesai, Mikayla." Cowok itu akhirnya melangkah pergi dengan gusar, meninggalkan area kelas.

Setelah Arka benar-benar pergi, Kayla bernapas lega. Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum ponsel di atas mejanya kembali bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor asing yang berbeda lagi.

“Gavin baik ya buat lo, hati-hati Kayla dia buaya yang siap nerkam lo kapan aja.”

Deg.

Jantung Kayla berdegup kencang. Bulu kuduknya meremang seketika. Siapa orang ini? Bagaimana bisa dia tahu persis apa yang terjadi antara dirinya dan Gavin? Belum sempat ia mencerna atau memikirkan arti dari pesan teror psikologis tersebut, sebuah siluet tubuh tinggi besar mendadak berdiri tegap di depannya, menghalangi cahaya lampu kelas yang menyorot mejanya.

Kayla buru-buru membalikkan layar ponselnya ke bawah, lalu mendongak. Gavin sudah berdiri di sana dengan senyum khasnya yang percaya diri.

"Gimana, Kay? Seru kan kemarin bareng gue?" ucap Gavin, menopang kedua tangannya di pinggiran meja Kayla, mencondongkan tubuhnya dengan gaya kasual.

Kayla berusaha bersikap senormal mungkin, menutupi kepanikan akibat pesan misterius yang baru saja dibacanya. Ia menatap Gavin dengan pandangan matanya yang kembali dingin. "Biasa aja," jawab Kayla datar.

Gavin tidak terpengaruh oleh jawaban ketus itu. Pandangan matanya justru turun, tertuju pada pergelangan tangan kanan Kayla. Senyum di bibir cowok bad boy itu seketika mengembang lebar saat melihat gelang tali berwarna merah pemberiannya kemarin masih aman melingkar dengan manis di sana. Fakta bahwa Kayla tidak membuang gelang itu sudah cukup menjadi kemenangan besar baginya.

Gavin menegakkan kembali tubuhnya, menatap Kayla dengan binar mata yang melembut. "Kalau nanti lo butuh pelarian lagi, gue siap nemenin lo kapan aja, Kay," ucap Gavin pelan namun penuh penekanan, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah santai menuju bangkunya sendiri di barisan paling belakang kelas.

Kayla terpaku di kursinya, menatap punggung Gavin yang menjauh, lalu beralih menatap gelang merah di tangannya. Di satu sisi, perhatian Gavin terasa menghangatkan hatinya yang sedang terluka, namun di sisi lain, peringatan dari pesan misterius tadi terus berdengung di kepalanya, menciptakan labirin kecemasan yang semakin gelap.

Sepanjang sisa jam pelajaran hari itu, pikiran Kayla sama sekali tidak tertuju pada papan tulis. Di barisan paling belakang, ia bisa merasakan sesekali tatapan Gavin mengarah kepadanya, sementara di barisan depan, punggung tegap Arka tampak kaku, memancarkan aura dingin yang belum mereda sejak pertengkaran mereka tadi pagi.

Kayla menatap layar ponselnya yang mati dengan cemas. Ibu jarinya berulang kali mengusap pinggiran casing ponsel.

Apa gue bilang ke Gavin aja ya, kalau gue diteror sama orang yang bawa-bawa nama dia? batin Kayla bimbang.

Logikanya meronta. Jika ia memberi tahu Gavin, cowok itu pasti akan mengamuk dan mencari pelakunya, yang justru bisa memicu tawuran atau keributan besar. Namun, jika ia tetap diam, rasa takut yang menggerogoti dadanya perlahan bisa membuat ia gila. Kayla merasa seperti berjalan di atas seutas tali tipis yang siap putus kapan saja.

Ketegangan batin itu mencapai puncaknya saat bel tanda jam istirahat akhirnya berbunyi nyaring. Begitu sebagian besar murid berhamburan keluar kelas menuju kantin, ponsel di atas meja Kayla kembali bergetar kuat.

Drrtt...

Jantung Kayla seolah mencelos ke lambung. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membalikkan ponselnya. Benar saja, sebuah notifikasi dari nomor asing kembali muncul. Kali ini, tidak hanya berisi barisan teks teks biasa. Ada sebuah lampiran file gambar di sana.

Kayla membuka pesan itu, dan sedetik kemudian, seluruh pasokan oksigen di sekitarnya seolah tersedot habis. Wajahnya memucat sempurna.

Pesan itu mengirimkan sebuah gambar foto digital. Itu adalah foto dirinya sendiri yang sedang duduk di atas boncengan motor sport Gavin kemarin siang, tepat saat mereka baru saja keluar dari gerbang belakang sekolah. Foto itu diambil dari jarak dekat, dari balik bayangan pohon beringin seberang jalan. Sudut pengambilannya sangat rapi, menyoroti ekspresi wajah Kayla dan gelang merah yang melingkar di pergelangan tangannya.

Tepat di bawah foto itu, sebuah pesan singkat tertulis:

“Lo gak bakal lepas dari mata gue.”

Napas Kayla memburu. Ia spontan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas yang mulai sepi, lalu beralih menatap ke luar jendela. Rasa paranoid seketika menyerangnya. Ia merasa seolah-olah sepasang mata bermasker hitam itu sedang menatapnya dari balik dinding sekolah, menertawakan ketakutannya yang kini berada di ambang batas. Ini bukan sekadar orang iseng salah kirim. Ini adalah pengintaian nyata.

Rasa takut dan cemas itu terus menemani Kayla hingga bel pulang sekolah terakhir berbunyi. Kayla buru-buru memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan gerakan terburu-buru, ingin segera keluar dari atmosfer sekolah yang terasa mencekam. Namun, baru saja ia menyampirkan tasnya di bahu, sesosok tubuh tinggi sudah berdiri kokoh di samping mejanya.

Arka. Kali ini, cowok itu tidak membawa helm cadangan ataupun menawarkan pilihan. Wajahnya tampak mengeras, rahangnya terkatung rapat, menampilkan ketegasan seorang pelindung yang tidak bisa diganggu gugat.

"Kay, lo pulang bareng gue. Gak ada penolakan," ucap Arka. Suaranya terdengar berat, dalam, dan penuh penekanan di setiap suku katanya. Mata elangnya menatap Kayla lurus-lurus, mengunci segala celah bagi Kayla untuk memberikan alasan bohong seperti tadi siang.

Kayla mendongak, bersiap untuk melayangkan protes. Namun, sebelum sepatah kata pun lolos dari bibirnya, sebuah langkah kaki yang santai mendekati meja mereka. Gavin berjalan melewati barisan meja sambil memutar-mutar kunci motornya di ujung jari telunjuk.

Gavin menghentikan langkahnya tepat di samping Arka, menatap kedua sahabat masa kecil itu dengan senyum miring yang memprovokasi. Ia melirik Arka dari atas ke bawah, lalu beralih menatap Kayla dengan binar mata yang jenaka.

"Kay, hari ini gak cari angin lagi kita?" tanya Gavin, nadanya sengaja dikeraskan agar Arka mendengar. Cowok bad boy itu kemudian melirik Arka sekilas, lalu terkekeh sinis. "Bodyguard lo kaku banget ya, Kay. Kayak patung sekolah. Yaudah deh, gue duluan ya. Bye, Princess."

Gavin memberikan kedipan mata singkat ke arah Kayla sebelum berbalik, melangkah santai keluar kelas dengan menyampirkan jaketnya di bahu kiri, membiarkan siulan kecilnya menggema di koridor.

Dada Arka bergemuruh hebat mendengar provokasi itu. Kepalan tangannya di dalam saku celana mengeras hingga urat-uratnya menonjol, namun ia menahan diri demi keselamatan Kayla. Ia kembali menatap Kayla dengan tatapan menuntut. "Ayo pulang, Kay. Sekarang."

Kayla hanya bisa mengembus napas pasrah. Dengan perasaan campur aduk antara frustrasi karena masalah rumah, kesal pada sikap kaku Arka, dan ketakutan yang mendalam akibat foto teror di ponselnya, ia akhirnya berdiri. Mereka pun berjalan beriringan menuju parkiran dan pulang menembus jalanan kota yang mulai padat. Kayla memilih diam sepanjang jalan, menyembunyikan ponselnya rapat-rapat, tanpa tahu bahwa di balik kaca spion motor Arka, bayangan hitam dari masa lalu terus mengikuti pergerakan mereka dengan senyum kepuasan yang mengerikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!