NovelToon NovelToon
HERE I AM "GHOST"

HERE I AM "GHOST"

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:397
Nilai: 5
Nama Author: chiechie kim

Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.

Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.

Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal dari Jebakan

Dua minggu telah berlalu. Kabar tentang kepergian Yeon-woo perlahan mereda, namun kesedihan dan tanda tanya besar masih membayangi hati Min-woo dan Seung-hyun. Gadis itu dikabarkan mengakhiri hidupnya sendiri saat siaran langsung, tapi sikap takut teman sekelasnya serta hawa aneh yang mereka rasakan di kamar itu belum bisa hilang begitu saja.

Sore itu saat jam istirahat, Pak Kim guru yang sekaligus ketua kelompok pemburu hantu sekolah menghampiri mereka di koridor dengan wajah serius namun tenang.

“Min-woo, Seung-hyun, Soo-jin,” panggilnya pelan. “Setelah pulang sekolah nanti, silakan temui saya di ruang gudang tua sayap timur. Ada tugas yang menanti kalian.”

Mereka bertiga saling berpandangan. Hati mereka berdebar—sudah lama tidak ada panggilan seperti ini, dan mereka tahu, ini bukan sekadar urusan biasa. Dunia yang tak terlihat kembali meminta bantuan mereka.

“Iya Pak, kami mengerti,” jawab Min-woo.

Pak Kim lalu melanjutkan, suaranya lebih pelan lagi. “Kalian tahu sekolah di seberang sana lagi gempar? Ada beberapa siswi yang meninggal, dan yang lain terganggu mental. Yang saya dengar, mereka melakukan live streaming dan dipekerjakan oleh seseorang dengan imbalan yang besar. Jika penonton live mereka menurun, mereka mendapatkan ancaman—itu yang membuat mereka mengakhiri hidup dengan mengenaskan.”

Mata Seung-hyun membelok ke arah Min-woo. Di dalam hatinya, sebuah pertanyaan muncul dengan jelas. “Itu kan tempat sekolah Yeon-woo… apakah Yeon-woo juga berhubungan dengan penjahat itu?”

“Iya Pak, kami mengerti,” jawab Min-woo mantap, meskipun hatinya juga sudah penuh keraguan yang sama.

Bel pulang berbunyi. Tanpa banyak bicara, mereka pun bersiap menghadapi apa pun yang menanti di sana.

Pintu gudang tua berderit pelan saat mereka bertiga masuk. Ruangan itu remang dan berbau debu, namun Pak Kim sudah menunggu di tengah ruangan dengan wajah serius.

“Kalian sudah datang,” ucapnya pelan. “Ada kabar yang perlu kalian ketahui. Orang yang mempekerjakan dan mengancam para siswi itu akhirnya sudah ditangkap polisi tadi pagi. Rantai kejahatannya sudah putus.”

Soo-jin menarik napas lega sedikit, namun hati Min-woo justru semakin berat.

“Lalu… apa tugas kami sekarang?” tanyanya.

Pak Kim menatap mereka satu per satu. “Tugas kalian bukan lagi mencari pelaku, melainkan menenangkan arwah-arwah mereka yang masih gelisah. Terutama Yeon-woo dan siswi lain yang menjadi korban. Rasa takut, amarah, dan ketidakadilan yang mereka rasakan saat hidup masih mengikat mereka di dunia ini. Kalian harus membimbing mereka menerima kenyataan, dan membawa mereka ke tempat yang damai—supaya tidak ada lagi yang terganggu, dan mereka bisa beristirahat dengan tenang.”

Seung-hyun mengangguk pelan. “Kami mengerti, Pak.”

“Ini tugas yang berat karena menyentuh perasaan terdalam,” pesan Pak Kim terakhir kali. “Gunakan hati kalian, bukan kekuatan semata. Mereka hanya butuh seseorang yang mendengarkan dan membebaskan mereka dari rasa takut itu.”

Malam itu, suasana di sekitar rumah Yeon-woo terasa sunyi senyap. Sejak kepergiannya, tempat itu seolah kehilangan seluruh kehangatannya. Begitu mereka bertiga melangkah masuk ke dalam kamar gadis itu, udara dingin seketika menyelimuti kulit mereka—bukan dingin yang menusuk, melainkan dingin yang terasa penuh kesedihan yang tak terucapkan.

Soo-jin perlahan mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. Di sudut ruangan, dekat jendela tempat Yeon-woo biasa duduk, ia melihatnya.

Yeon-woo berdiri di sana, namun tubuhnya tampak samar dan tak berwarna. Wajahnya bukan lagi penuh senyum seperti dulu, melainkan penuh ketakutan, matanya basah seolah menangis tanpa suara. Ia sesekali melirik ke arah pintu, ke arah layar ponsel yang masih tertutup kain, lalu menunduk gemetar seolah mendengar ancaman yang masih terus berbisik di telinganya.

“Yeon-woo…” panggil Soo-jin pelan dan lembut.

Sosok itu tersentak kaget, mundur perlahan menempel ke dinding. Ia tidak berteriak, hanya menatap mereka dengan tatapan penuh permohonan dan ketakutan yang mendalam. Seolah masih ada bayangan orang yang mengancamnya, yang memaksanya melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan.

Min-woo merasakan dada sesak melihatnya. “Dia tidak marah… dia hanya takut,” bisiknya lirih. “Ketakutan itu masih mengikatnya di sini.”

Soo-jin menggenggam tangan Seung-hyun erat, meremasnya pelan seolah mengalirkan kekuatan. Matanya tak lepas menatap sosok Yeon-woo yang masih gemetar ketakutan di sudut ruangan.

“Seung-hyun…” bisiknya pelan namun mantap. “Kau siap melihat apa yang sebenarnya terjadi padanya? Melihat semua rasa sakit yang ia sembunyikan sendirian?”

Seung-hyun menarik napas panjang, mengangguk tegas. Ia meremas kembali tangan Soo-jin sebagai tanda ia siap.

“Ayo kita temani dia kembali ke masa itu… agar dia tahu, dia tidak sendirian saat itu. Dan dia tidak bersalah.”

Seketika pandangan mereka berdua mengabur. Ruangan kamar perlahan berubah kembali menjadi hari-hari sebelum semua itu berakhir.

Min-woo yang berdiri di luar ikatan itu hanya bisa melihat mereka berdua, lalu menatap kembali ke sosok Yeon-woo yang masih samar di hadapannya.

Pemandangan di sekitar mereka perlahan menjadi nyata kembali. Soo-jin dan Seung-hyun berdiri di sudut belakang kelas, seolah tak terlihat oleh siapa pun. Di hadapan mereka, suasana kelas masih riuh sehari-hari, belum masuk jam pelajaran.

Di bangkunya, Yeon-woo duduk tenang dengan ponsel yang diarahkan ke wajahnya. Wajahnya benar-benar cerah dan tulus, belum ada beban yang mengganjal.

“Yeon-woo, kamu sedang melakukan siaran langsung?” tanya teman sebangkunya pelan.

“Iya,” bisik Yeon-woo sambil tersenyum lebar, matanya berbinar riang. “Aku cuma iseng saja, suka berbagi cerita sama mereka.”

Ia kembali menatap layar dan menyapa penontonnya dengan santai. Komentar-komentar yang muncul pun penuh pujian dan sapaan ramah:

“Wah… kamu cantik sekali!”

“Kamu sekolah di mana?”

“jiyu, nanti jam berapa kamu pulang sekolah? Aku jemput ya.”

jiyu adalah nama samaran dari Yeon woo

Yeon-woo menjawab dengan senyum yang tulus, menceritakan hal-hal kecil tentang sekolah dan hobinya. Saat itu ia benar-benar melakukannya karena kesenangan sendiri, tanpa paksaan, tanpa rasa takut—hanya berbagi senyum dengan siapa saja yang mau melihatnya.

Soo-jin menatapnya sedih. Inilah Yeon-woo yang asli, yang penuh cahaya, sebelum dunia yang kejam mengubah segalanya.

Tiba-tiba ikon hadiah besar berkilat di layar ponselnya, disertai suara notifikasi yang nyaring. Yeon-woo terlonjak kaget, matanya membelalak tak percaya.

“Hah?! Apa itu yang tadi melintas? Hadiah? Siapa yang memberiku hadiah sebesar ini?” serunya kaget.

Ia segera menelusuri deretan komentar, mencari nama pengirimnya. Namun tidak ada nama yang tertulis—hanya satu titik hitam kecil sebagai identitas akun itu.

“Tidak ada namanya… hanya tanda titik saja,” gumam Yeon-woo pelan, sedikit bingung.

“Wah, Yeon-woo! Kamu senang sekali ya?” tanya teman sebangkunya ikut melirik layar.

“Iya, ada yang memberiku hadiah yang sangat besar! Sini lihat!” Yeon-woo mencondongkan ponselnya, lalu kembali menatap layar dengan senyum tulus penuh rasa terima kasih. “Terima kasih! Siapa pun kau, terima kasih banyak sudah mendukung siaranku!”

1
chie_bapeer
❤️❤️❤️
chie_bapeer
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!