NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 #Permintaan konyol

​Deru halus mesin mobil Anya akhirnya berhenti di area parkir khusus penghuni Tower Mandala. Anya mematikan mesin, namun jemarinya masih mencengkeram kemudi dengan erat. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang tidak beraturan sejak dia melewati gerbang keamanan super ketat tadi.

​Sebelum membuka pintu mobil, Anya sengaja menoleh ke arah kaca spion tengah untuk memastikan penampilannya. Hari ini, dia melakukan renovasi total pada gaya berpakaiannya. Tidak ada lagi gaun beludru merah menyala dengan potongan dada deep V-neck yang provokatif. Tidak ada lagi riasan bibir merah merona atau sapuan kosmetik yang mencolok.

​Siang ini, Anya dengan sengaja mengenakan sweater oversize berwarna abu-abu longgar yang menenggelamkan lekuk tubuh indahnya, dipadukan dengan celana jeans panjang longgar serta sepatu sneakers putih. Rambut cokelat bergelombangnya dibiarkan tergerai bebas tanpa tatanan apa pun, menutupi sebagian besar leher dan rahangnya.

​‘Lihat saja, Om-Om mesum itu pasti tidak akan bergairah melihat penampilanku yang mirip karung goni begini,’ batin Anya penuh kelicikan, merasa strategi pertahanannya kali ini sangat aman dari radar predator Bara Fernandez.

​Begitu Anya melangkah keluar dari mobil, seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam rapi yang sejak tadi berdiri di dekat lift privat langsung melangkah maju dengan sopan.

​"Selamat siang, Nona Zevanya. Saya Reno, asisten pribadi Pak Bara," sapa pria itu sembari membungkuk hormat. "Pak Bara sudah menunggu Anda di atas. Mari, silakan lewat sini."

​Anya hanya mengangguk formal, melangkah mengekor di belakang Reno memasuki lift privat yang melesat cepat menuju lantai 45. Begitu pintu lift berdenting terbuka, Anya langsung dihadapkan pada sebuah penthouse dua lantai yang super megah dengan konsep minimalis modern. Dinding kaca raksasa yang menjulang tinggi menampilkan panorama lanskap gedung pencakar langit Jakarta secara vertikal.

​Namun, Anya sama sekali tidak takjub atau terpukau dengan kemegahan tempat tinggal tersebut. Sebagai putri tunggal dari Tito Sanjaya, kemewahan, pilar marmer, dan perabotan berlapis emas sudah menjadi pemandangan sehari-hari di rumahnya sendiri yang bak istana.

​Di ujung ruangan, di atas sofa kulit hitam yang mewah, Bara Fernandez sedang duduk santai sembari memegang segelas es kopi. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu telah menanggalkan jas formalnya, hanya mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga ke siku. Matanya yang tajam bagai elang langsung berkilat terang, memancarkan kepuasan yang mendalam saat melihat sosok 'gadis cerinya' kini benar-benar berada di dalam wilayah kekuasaannya lagi.

​"Terima kasih, Reno. Kamu bisa kembali ke depan," ujar Bara, suaranya yang bariton terdengar berat dan berwibawa memenuhi ruangan.

​"Baik, Pak," Reno membungkuk lalu melangkah mundur, meninggalkan mereka berdua dalam kesunyian yang mendadak terasa mencekam bagi Anya.

​Anya berdiri tegak beberapa meter di depan meja. Belum juga Bara mengeluarkan sepatah kata pun untuk menyuruhnya duduk, Anya sudah melangkah maju dengan angkuh. Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan Bara, lalu menyilangkan kedua kaki panjangnya yang terbalut jeans dengan gaya menantang.

​"Jadi... apa yang Om inginkan dari rahasia ini? Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu luang," tembak Anya langsung, menatap Bara dengan dagu terangkat, mencoba mengembalikan gaya kepedeannya.

​Bara tidak langsung menjawab. Dia meletakkan gelas kopinya ke atas meja kaca dengan pelan, lalu perlahan bangkit berdiri. Tubuh tegapnya yang setinggi 185 sentimeter itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Anya yang melihat pergerakan itu mendadak menegang. Nyalinya sedikit menciut saat Bara tiba-tiba menundukkan tubuhnya, bertumpu pada kedua lengan sofa yang diduduki Anya, mengurung gadis itu sepenuhnya di bawah tubuh kekarnya.

​Jantung Anya serasa ingin melompat keluar dari posisinya. Wajah tampan Bara yang bersih tanpa jambang kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Tatapan mata elang pria itu menatap lekat-lekat pada bibir ranum Anya, membuat ingatan tentang ciuman panas di toilet semalam kembali berputar liar di kepala Anya. Anya refleks memejamkan matanya rapat-rapat, menahan napas sembari menekan kepalanya ke belakang, bersiap jika pria licik ini akan menuntut ciuman panas atau sentuhan intim lainnya seperti kemarin.

​Namun, setelah beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menegangkan, tidak ada sentuhan apa pun yang mendarat di bibirnya.

​Sayup-sayup, Anya justru mendengar suara kekehan rendah yang sangat seksi sekaligus menyebalkan dari arah depan wajahnya. Anya perlahan membuka matanya, dan mendapati Bara sudah menegakkan kembali tubuhnya sembari bersedekap dada, menatapnya dengan pandangan mengejek.

​"Kamu pikir aku akan menciummu lagi, hm?" sindir Bara, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman misterius. "Keinginanmu terlalu tinggi, Zevanya."

​Wajah Anya seketika memerah padam karena malu sekaligus kesal. "Siapa juga yang mau dicium oleh Om-Om mesum sepertimu?! Cepat katakan apa maumu!"

​Bara berjalan kembali ke sofa utamanya, lalu meraih sebuah map dokumen tipis dan melemparkannya ke atas meja kaca di depan Anya. "Mulai besok, kamu harus datang ke penthouse-ku setiap hari setelah jam kuliahmu selesai. Tugasmu adalah menjadi pelayan pribadiku di rumah ini, dengan tenggat waktu yang tidak ditentukan."

​"What?!" Anya seketika berdiri dari duduknya, matanya membelalak sempurna seolah baru saja mendengar petir di siang bolong. "Om?! Seriously?! Seorang putri Sanjaya yang agung... disuruh jadi pelayan di sini?! Are you crazy?! Otak Om sudah geser ya karena terlalu banyak menghitung angka investasi?!"

​Bara dengan santai menyesap kembali es kopinya, sama sekali tidak terpengaruh oleh histeria Anya. "Aku sangat waras, Zevanya. Dan kontrak itu tidak menerima negosiasi."

​"Nggak bisa! Ini gila!" tolak Anya dengan tangan berkacak pinggang, napasnya memburu karena emosi yang meluap. "Om tahu nggak, di rumahku sendiri, aku itu selalu dilayani oleh dua pelayan pribadi sejak kecil! Jangankan membersihkan debu atau mengepel lantai, bahkan untuk melepaskan sepatuku sendiri saja aku hampir tidak pernah melakukannya! Semuanya sudah ada yang mengurus! Dan sekarang Om menyuruhku membersihkan tempat raksasa ini sendirian?!"

​Bara menaikkan satu alisnya tebalnya, menatap penampilan serba longgar Anya siang ini dengan pandangan geli. "Oh, jadi putri konglomerat yang manja ini tidak bisa melakukan pekerjaan rumah?" memancing Bara dengan nada meremehkan yang sangat kentara.

​"Bukannya tidak bisa! Tapi aku tidak level jadi pelayan di rumah Om-Om menyebalkan sepertimu!" ketus Anya, giginya bergelatuk menahan geram. "Lagipula, kalau Papa sampai tahu anaknya jadi pembantu di tempat paman calon tunangannya sendiri, Papa bisa meratakan gedung ini dengan tanah!"

​"Papamu tidak akan pernah tahu... kecuali kamu sendiri yang membongkarnya dan merelakan cerita malam itu sampai ke telinganya," balas Bara dengan nada suara yang sangat tenang namun mengunci pergerakan Anya secara mutlak. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap Anya dengan senyum kemenangan yang mutlak. "Pilihan ada di tanganmu, Pelayan Kecil. Menjadi pelayan pribadiku selama beberapa jam sehari, atau kehilangan seluruh kebebasanmu di tangan Tito Sanjaya."

​Anya mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya, menatap Bara dengan pandangan mata yang jika bisa mengeluarkan api, maka pria di hadapannya ini sudah berubah menjadi abu sejak tadi. Perang argumen mereka kali ini benar-benar dimenangkan oleh Bara secara mutlak, dan Anya tahu, dia baru saja menandatangani kontrak menuju neraka pribadinya.

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!