Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Di Luar Tembok Rothmere
Sudah hampir seminggu Nathan tak perlu dibawa ke rumah sakit. Bagi Keluarga Rothmere, itu mungkin hanya perkembangan medis. Namun bagi Kemala, itu seperti keajaiban kecil.
Bayi yang dulu selalu dikelilingi dokter, perawat, dan berbagai alat pemantau kini bisa tidur lebih tenang. Tangisnya tak lagi sesering dulu. Berat badannya mulai bertambah. Wajahnya yang semula pucat kini terlihat lebih segar.
Karena itu, saat dokter anak Keluarga Rothmere datang pagi itu dan berkata Nathan harus menjalani kontrol rutin di rumah sakit khusus anak, Kemala langsung panik.
"Apakah ada masalah, Dok?" tanyanya cemas.
Dokter tersenyum. "Tidak. Ini hanya pemeriksaan kontrol."
Kemala mengembuskan napas lega. Namun kelegaan itu tak berlangsung lama.
"Nanti Tuan Bastian yang akan mengantar."
"Pak Bastian?" Kemala berkedip.
Dokter mengangguk. "Tuan ingin mendengar langsung hasil pemeriksaan Nathan."
Kemala hanya mengangguk pelan. Kemala merasakan begitu jelas jantungnya mendadak berdebar.
Setengah jam kemudian. Mobil hitam mewah milik Bastian melaju membelah jalanan Jakarta. Nathan tertidur pulas di kursi bayi khusus yang dipasang di tengah. Kemala duduk di samping Nathan. Sedangkan Bastian duduk di sisi lain sambil membaca laporan dari tabletnya.
Suasana di dalam mobil relatif tenang. Hanya suara pendingin udara dan dengungan mesin yang terdengar samar. Namun berbeda dengan ketenangan di dalam mobil, pikiran Kemala justru semakin kacau.
Gedung-gedung tinggi berlalu di balik kaca. Lampu lalu lintas yang padat, jembatan penyeberangan yang sering berlalu diatas kepala, dan trotoar yang banyak orang berjalan di sana. Semuanya terasa begitu familiar untuk Kemala. Mengundang kembali perasaan awal ketika menginjakkan kaki di Jakarta. Dituduh copet dan hampir kehabisan uangnya.
Jakarta, kota yang sebenarnya begitu menyakitkan untuk Kemala. Kota yang memberi wanita desa itu sebuah harapan. Sekaligus tempat yang terus mengingatkan Kemala pada kehilangan terbesar dalam hidupnya.
Kemala bahkan tak menyadari, jemari ramping wanita desa itu menggenggam ujung rok yang dikenakannya. Bastian yang sejak tadi membaca laporan akhirnya mengangkat kepala. Tatapan pria yang selalu berpakaian rapi itu jatuh pada wajah Kemala. Kemala terlihat begitu pucat dan tegang. Sangat jelas wanita itu sedang menahan sesuatu.
"Kamu baik-baik saja?" suara rendah Bastian memecah keheningan.
Kemala tersentak. "Eh?"
"Kamu terlihat gelisah," ucap Bastian.
Kemala buru-buru mengalihkan pandangan ke luar jendela. "Saya baik-baik saja, Pak."
Bastian menatapnya beberapa detik. "Kamu tidak pandai berbohong."
Kemala hanya terdiam menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi. Lalu Kemala mengalihkan pandangannya kepada bastian. Tergambar senyum tipis yang justru membuat wajah Kemala terlihat ayu walau dalam sendu.
"Saya hanya teringat sesuatu."
Jawaban itu cukup. Bastian tak bertanya lebih jauh. Pria itu tahu apa yang dimaksud Kemala. Hal yang Bastian memilih tak membukanya, karena itu merupakan luka yang masih segar. Mobil kembali dipenuhi keheningan. Keheningan yang sudah tak terasa canggung.
***
Rumah sakit khusus anak itu jauh berbeda dari rumah sakit tempat Kemala kehilangan bayinya. Bangunannya sangat modern, lebih terang, dan dipenuhi warna-warna cerah.
Nathan langsung dibawa menuju ruang pemeriksaan. Dokter spesialis anak memeriksa berbagai indikator kesehatan bayi itu dengan teliti. Kemala berdiri tak jauh dari ranjang pemeriksaan. Tangan wanita itu saling menggenggam erat.
Sementara Bastian berdiri di samping dokter. Ekspresi pria gagah itu tetap datar seperti biasa. Setelah hampir tiga puluh menit pemeriksaan berlangsung, dokter akhirnya melepas sarung tangannya.
"Saya rasa kita bisa bernapas lebih lega sekarang."
Kemala langsung menoleh. "Maksud Dokter?"
"Berat badannya naik." Dokter tersenyum.
Mata Kemala langsung berbinar. "Benarkah?"
"Iya."
Dokter menunjukkan grafik perkembangan Nathan. "Sistem pencernaannya juga jauh lebih baik dibanding minggu lalu."
Kemala menatap grafik itu meski tak terlalu memahaminya. Namun satu hal yang wanita yang selalu menjaga Nathan itu mengerti. Kondisi Nathan sudah sangat membaik dan itu cukup.
"Syukurlah ...."
Dokter lalu menoleh ke arah Kemala. "Sebagian besar perkembangan ini berasal dari ASI yang dia terima."
Kemala langsung menggeleng. "Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan."
"Tidak semua orang bisa melakukannya sebaik ini.".
Kemala tidak tahu harus menjawab apa. Wanita desa itu hanya menunduk malu. Di sisi lain, Bastian memperhatikan semuanya dalam diam. Nathan memang putra Bastian. Seorang pewaris Rothmere yang sangat berharga. Nathan kelak akan menjadi penerus keluarga besar itu.
Kebanyakan orang yang pernah Bastian temui pasti akan memanfaatkan kesempatan untuk menempel kepada Rothmere jika memiliki kesempatan seperti Kemala. Namun kebahagiaan yang muncul di wajah Kemala terlihat begitu tulus. Sama sekali tak terlihat dibuat-buat. Tak mengandung kepentingan apa pun yang selama ini sering berputar di lingkungan Bastian. Seolah bayi itu benar-benar berarti baginya.
Pemandangan itu memantik kehangatan dalam diri Bastian. Hal yang tak pernah Bastian rasakan.
Setelah pemeriksaan selesai, mereka menunggu mobil disiapkan. Nathan sudah kembali tertidur. Cuaca siang itu cukup cerah. Mereka memilih menunggu di taman rumah sakit.
Kemala duduk di bangku kayu sambil memperhatikan suasana sekitar. Sudah lama sekali wanita desa itu tak berada di luar kediaman Rothmere. Bahkan hampir lupa bagaimana rasanya melihat dunia selain koridor marmer dan taman pribadi keluarga konglomerat itu.
Di seberang sana, seorang ibu muda sedang menggandeng anak laki-lakinya. Tak jauh dari mereka, seorang ayah menggendong bayi sambil tertawa bersama istrinya.
Pemandangan biasa. Namun cukup membuat mata Kemala memanas. Wanita itu buru-buru mengalihkan pandangan, tetapi rasa sesak itu tetap datang.
Bastian duduk di bangku yang sama. Tak terlalu dekat juga tak terlalu jauh. Bastian sengaja menjaga jarak yang nyaman. Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam. Sampai akhirnya Kemala bersuara.
"Pak Bastian..."
"Hm?"
"Kalau tim Anda tidak menemukan anak saya bagaimana?" Kemala menunduk.
Kemala yang selalu teringat anaknya di setiap momen-momennya selama ini membuat pertanyaan itu keluar begitu saja. Tak direncanakan dan tak dipikirkan sebelumnya. Namun setelah mengatakannya, Kemala justru merasa takut mendengar jawabannya.
Bastian tak langsung menjawab. Pria itu memandang taman di depannya beberapa saat. Lalu berkata pelan.
"Kalau satu cara gagal, saya cari cara lain."
Kemala menoleh. "Sampai kapan?"
"Sampai membuahkan hasil."
Tak ada janji manis yang keluar dari Bastian. Tak ada kata-kata menghibur. Hanya jawaban sederhana. Namun justru karena itulah Kemala mempercayainya.
Bastian bukan tipe orang yang mengucapkan sesuatu tanpa maksud. Jika Bastian berkata akan mencari, maka pria yang penuh dengan keseriusan itu benar-benar akan mencari.
Kemala menundukkan kepala. "Terima kasih."
Bastian hanya mengangguk kecil. Bastian bisa merasakan harapan yang begitu dalam dibalik kata terima kasih itu.
Dalam perjalanan pulang, Bastian harus menghadiri pertemuan singkat dengan seseorang. Karena Nathan masih tertidur dan lokasinya tak jauh, mereka langsung menuju sebuah kafe premium di kawasan bisnis Jakarta.
Begitu masuk area kafe, seorang pria yang duduk di dekat jendela langsung berdiri. "Ah, akhirnya datang juga."
Reynard Mahendra, sahabat lama Bastian terlihat menghampiri mobil Bastian. Pria yang selalu berpakaian kasual itu tersenyum lebar ketika Bastian turun dari mobil. Pandangan pria berbaju kasual itu jatuh pada Kemala yang terlihat di dalam mobil.
"Oh."
"Selamat siang." Kemala menunduk sopan.
Reynard mengamati wajah Kemala beberapa detik. Lalu terkekeh.
"Jadi akhirnya Nona Kemala diajak keluar oleh orang kaku ini?"
"Reynard." Tatapan Bastian menusuk.
"Apa? Aku cuma bertanya."
"Ada apa?" Kemala bingung.
"Tidak ada." Reynard tertawa. "Dia memang menyeramkan seperti ini setiap hari."
"Kalau begitu berhenti bicara," decak Bastian dingin.
"Mustahil." Reynald kembali tertawa.
Atmosfer yang muncul langsung berbeda. Jauh lebih santai dan lebih ringan. Kemala bahkan tanpa sadar tersenyum kecil. Dan hal itu tak luput dari perhatian Bastian. Lalu Bastian menutup pintu mobilnya. Meminta sopir untuk menunggu serta dan memerintahkan pengawal yang tadi membukakan pintu Bastian untuk menjaga Nathan serta Kemala.
Tak begitu lama pembahasan proyek selesai, Bastian berjalan bersama dengan Reynald hingga depan cafe. Mobil Bastian sudah berada di depan mereka berdua. Reynald yang selalu jahil tiba-tiba membuka pintu belakang mobil Bastian. Reynald kembali membuka percakapan kepada Kemala.
"Jakarta sejauh ini bagaimana?" Pertanyaan sederhana.
Namun senyum Kemala perlahan memudar. Wanita itu justru mengalihkan pandangannya ke arah depan. "Masih menakutkan."
Reynard yang tadinya santai langsung terdiam. Pria yang selalu mudah bercanda itu melihat bayangan luka yang selama ini tersembunyi di balik sikap tenang wanita itu. Dan Reynald memilih tidak bertanya lebih jauh.
Mobil kembali memasuki gerbang Kediaman Rothmere. Kemala turun lebih dulu sambil menggendong Nathan yang masih tertidur. Lampu-lampu taman menyala lembut. Angin malam berembus pelan. Dari balkon lantai dua, sepasang mata memperhatikan pemandangan itu tanpa berkedip.
Tangan Raline mencengkeram pagar balkon. Nathan berada di pelukan Kemala. Bastian berjalan di samping mereka. Pemandangan yang sebenarnya biasa. Namun di mata Raline, itu terlihat seperti sebuah keluarga kecil. Dan pemandangan itu membuat perutnya terasa mual.
"Menjijikkan," bisik wanita bergaun mewah itu pelan.
Raline masih merasakan posisinya selalu tak aman. Madam Eleanora memang mengancamnya. Namun bagi wanita itu, ancaman terbesar justru berada pada Nathan dan wanita desa yang membuat kondisi Nathan semakin membaik.
Saat itu, Raline yang biasanya impulsif, menyadari sesuatu. Nathan adalah pusatnya, bukan wanita desa itu. Cengkraman tangan Raline di sisi pagar balkon semakin menguat.
“Kali ini aku tak boleh gagal!”
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉