NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Nama Baru

...

Langkah kaki wanita itu tidak lagi seringan kabut di atas aspal basah Gangnam. Di bawah langit Jakarta yang pekat oleh jelaga, uap panas, dan aroma pekat dari tumpukan sampah yang membusuk di tepi sungai, dia melangkah dengan sepasang sandal jepit murah yang menipis. Gaun linen longgar berwarna pudar membungkus tubuh rampingnya yang kini terlihat sedikit lebih kurus. Rambut hitam panjang yang dulu menjadi simbol keangkuhannya sebagai ratu mafia kini telah dipangkas pendek sebahu, diwarnai cokelat terang yang agak kusam agar menyatu dengan lingkungan sekitar.

Di dalam saku pakaiannya, sebuah kartu identitas lokal berbahan plastik tipis tersimpan rapat.

Tania Sae Ning.

Itulah nama yang kini melekat pada dirinya. Nama Marysa telah dia kubur dalam-dalam di dasar Laut Cina Selatan bersama dengan runtuhnya Klan Baekje. Di negara kepulauan yang luas ini, dia bukan lagi seorang buronan kelas kakap yang dicari oleh seluruh jajaran kepolisian Seoul. Dia hanya seorang wanita asing keturunan Asia Timur yang mencoba mengasingkan diri dari kerasnya dunia luar.

Tania memilih untuk tinggal di salah satu sudut paling terpencil dan kumuh di pinggiran Jakarta Utara. Sebuah kawasan padat penduduk yang dihuni oleh para buruh cuci, pemulung, dan pekerja pelabuhan kelas bawah. Rumah kontrakan yang dia sewa hanyalah sebuah petak sempit berukuran tiga kali empat meter dengan dinding tripleks yang mulai lapuk dimakan usia dan atap seng yang akan berisik luar biasa setiap kali hujan tropis turun mengguyur. Bau air selokan yang menggenang hitam di depan pintu menjadi teman sarapannya setiap pagi.

Dia tidak ingin membuat ulah. Di tempat ini, Tania tidak berniat untuk membangun kembali imperium narkoba atau menguasai jalur penyelundupan senjata seperti yang ayahnya ajarkan. Sebaliknya, dia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi manusia biasa manusia yang energinya habis hanya untuk memikirkan bagaimana cara bertahan hidup esok hari di tengah kemiskinan murni. Ada ketenangan yang aneh saat dia harus mengantre air bersih bersama ibu-ibu setempat, atau saat dia harus menghitung sisa uang kertas kumal di dompetnya hanya untuk membeli sekeranjang kecil nasi dan lauk sederhana.

Namun, seorang ratu tetaplah seorang ratu, bahkan ketika dia mengenakan pakaian usang di pemukiman kumuh.

Tiga kilometer dari pemukiman tersebut, di sebuah gudang tua dekat pelabuhan peti kemas yang sibuk, anak-anak buah setianya yang tersisa telah mendirikan markas operasional yang baru. Mereka bergerak dalam senyap yang mutlak. Sesuai perintah tegas dari Tania, mereka tidak diizinkan untuk mendekat atau menampakkan diri di sekitar kontrakannya agar tidak memancing kecurigaan intelijen lokal.

Meskipun demikian, dari kejauhan yang tak tersentuh, mereka tetap menjaga keselamatan Tania. Setiap pergerakan orang asing yang masuk ke dalam radius pemukiman kumuh itu selalu dipantau oleh mata-mata terlatih yang menyamar sebagai tukang loak atau pengemudi angkutan umum. Mereka memastikan bahwa tidak ada satu pun bahaya yang bisa menyentuh Tania saat wanita itu sedang mencoba menjalani hidup barunya yang lambat.

Tania duduk di ambang pintu kontrakannya yang terbuka, menatap anak-anak kecil bertelanjang dada yang sedang berlarian mengejar ban bekas di atas tanah becek. Dia menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis. Kali ini, senyuman itu terasa sedikit lebih ringan, meski matanya tetap menyimpan kekosongan yang pekat.

Aku sudah membuang duniaku, Herry, batin Tania, jemarinya bergerak menyentuh permukaan dadanya yang kini tidak lagi terasa terlalu nyeri akibat luka lama di penjara. Aku sudah melangkah sejauh ini ke tempat kumuh, hanya untuk memastikan bahwa ketika kamu menemukanku nanti, kita tidak lagi dipisahkan oleh lencana dan takhta.

...

Di belahan bumi yang lain, musim dingin di Seoul semakin mencengkam, persis seperti suasana di dalam ruang kerja Kapten Herry.

Sudah tiga minggu sejak hilangnya Marysa dari Lembaga Pemasyarakatan Cheongju, dan investigasi yang dipimpin oleh Herry menemui jalan buntu yang membuat frustrasi. Seluruh rekaman CCTV di sekitar penjara telah diperiksa berulang kali, puluhan sipir telah diinterogasi hingga babak belur di ruang internal, namun tidak ada satu pun petunjuk yang menjelaskan bagaimana seorang tahanan wanita itu bisa lenyap tanpa jejak dari penjara dengan sistem pengamanan tertinggi di negara itu.

Herry duduk di balik mejanya yang dipenuhi oleh cangkir kopi instan yang mengering dan tumpukan dokumen yang berantakan. Penampilannya tidak lagi sebersih biasanya. Kerah kemejanya sedikit longgar, matanya dihiasi lingkaran hitam yang tebal, dan rahangnya yang tegas selalu mengeras kuat setiap kali mendengar laporan nihil dari anak buahnya.

Dia mendadak stres. Bukan hanya karena tekanan dari para petinggi kepolisian yang menuntut hasil, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih mengerikan sedang terjadi di dalam kepalanya sendiri.

Sejak malam pelarian Marysa, Herry mulai diserang oleh kilasan-kilasan memori yang datang secara acak dan tiba-tiba. Saat dia sedang menyetir, saat dia sedang menatap dinding kosong, atau bahkan saat dia sedang makan, bayangan-bayangan itu akan meledak di dalam benaknya, memicu rasa pening yang luar biasa di pelipisnya.

...

Malam ini, dalam kesunyian kantornya yang mulai sepi, kilasan itu datang lagi dengan kekuatan yang lebih besar.

Herry memejamkan matanya rapat-rapat, meremas kepalanya dengan kedua tangan. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, dia melihat kejadian itu secara samar namun terasa sangat nyata. Dia melihat dirinya sendiri, bersandar pada tumpukan palet kayu di Pelabuhan Incheon dengan perut yang bersimbah darah hangat. Udara malam itu sangat dingin, dan dia tahu ajalnya sudah dekat.

Namun kemudian, sesosok wanita datang menembus kegelapan malam. Wanita itu berlutut di sampingnya, mengabaikan darah yang mengotori pakaiannya, dan menekan luka di perut Herry dengan tangannya yang gemetar. Herry samar-samar mengingat rasa hangat dari telapak tangan itu. Dia ingat suara napas wanita itu yang tersengal-sengal menahan tangis. Dan yang paling membuat jantungnya berdegup kencang, dia melihat wajah wanita itu dengan lebih jelas sebelum pandangannya malam itu menggelap total.

Wajah itu adalah wajah mirip Marysa?

ah! Tidak mungkin!

"Kapten Herry? Anda baik-baik saja?"

Sebuah suara wanita yang lembut namun bernada menuntut memecah paksa kilasan memori di kepala Herry.

Herry tersentak, langsung menurunkan tangannya dari kepala dan membuka mata. Di hadapannya, berdiri seorang wanita berpenampilan sangat anggun dan mahal. Jessica Hwang Won. putri dari Wakil Komisaris Jenderal Kepolisian Seoul, wanita yang secara resmi telah diumumkan sebagai tunangan Herry dan akan segera dia nikahi dalam beberapa bulan ke depan.

Jessica berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Herry dengan kerutan kecil di dahinya yang dilapisi riasan sempurna. "Kudengar dari ayahku, kamu melewatkan jam makan malam keluarga lagi hanya untuk mengurusi berkas mafia wanita yang sudah kabur itu. Kamu terlihat sangat berantakan, Herry."

Herry mengatur ritme napasnya yang sempat memburu, mencoba mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi sedingin es, seperti patung marmer yang tak tersentuh oleh kelemahan manusia. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapa pun, terutama di hadapan Jessica atau ayahnya yang memegang kendali atas karier masa depannya.

"Aku hanya kelelahan, Jessica. Kasus ini melibatkan reputasi divisi kita, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja," jawab Herry, suaranya terdengar sangat datar, berat, dan kaku.

Dia berdiri dari kursinya, merapikan kerah kemejanya yang sempat kusut. Rasa pening di pelipisnya masih tersisa, menyisakan keresahan yang luar biasa yang merayap di dalam dadanya. Namun lagi dan lagi, Herry meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua kilasan memori tentang Marysa malam itu hanyalah sebuah bayangan sebuah trik dari alam bawah sadarnya yang terlalu terobsesi dengan kasus ini. Tidak mungkin seorang kepala mafia kejam seperti Marysa adalah orang yang menyelamatkan nyawanya lima tahun lalu. Itu adalah sebuah anomali logika yang tidak boleh dia percayai.

"Ayahku bilang, jika dalam satu minggu ini kamu belum juga menemukan petunjuk tentang Marysa, kasus ini akan dialihkan ke Badan Intelijen Nasional," kata Jessica, melangkah mendekat dan menyentuh lengan seragam Herry dengan ujung jarinya yang berkuku rapi. "Kamu harus fokus pada acara pertunangan kita, Herry. Jangan biarkan seorang kriminal merusak masa depan yang sudah kita bangun dengan susah payah."

Herry menatap jemari Jessica di lengannya, namun entah mengapa, sentuhan itu terasa sangat asing bagi kulitnya. Sentuhan yang tidak memicu kehangatan apa pun, sangat berbeda dengan rasa hangat abstrak dari telapak tangan wanita di Pelabuhan Incheon yang terus-menerus menghantui tidurnya.

"Aku mengerti," sahut Herry pendek, menarik lengannya perlahan dengan dalih mengambil dokumen di atas meja. Tatapan matanya kembali mengunci dingin ke arah berkas Marysa yang terbuka. "Aku akan menyelesaikan ini dengan caraku sendiri."

Jessica mengembuskan napas panjang, tampak tidak puas dengan respons dingin calon suaminya, namun dia memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan dan berjalan keluar dari ruangan setelah mengucapkan selamat malam yang formal.

Begitu pintu ruang kerjanya kembali tertutup rapat, Herry menjatuhkan kembali tubuhnya ke kursi. Dia mengambil selembar foto Marysa yang diambil dari database penjara sebelum wanita itu kabur. Dia menatap mata kelam wanita di dalam foto itu dengan intensitas yang menakutkan.

Ada ruang kosong yang besar di dalam dada Herry, sebuah lubang hitam yang kini mulai bergejolak hebat setiap kali dia mencoba melupakan eksistensi sang ratu mafia. Kebingungan, stres, dan rasa penasaran yang gelap kini telah sepenuhnya mengakar di dalam jiwanya. Meskipun otaknya menolak keras, namun nalurinya sebagai seorang pria tahu bahwa pelarian Marysa bukanlah akhir dari segalanya. Ini adalah sebuah undangan tersirat untuk masuk ke dalam permainan yang jauh lebih besar?

Di bawah langit Seoul yang membeku, Kapten Herry bersumpah di dalam hatinya bahwa dia tidak akan pernah berhenti memburu wanita ini bukan lagi hanya demi lencana emas atau kehormatan hukum negaranya, melainkan demi menemukan jawaban atas jiwa dan masa lalunya yang terasa hilang setiap kali sepasang mata kelam itu menatapnya dari balik kegelapan.

...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Thanks for reading🖤🩶🤍

Jika suka silahkan tinggalkan jejak kalian ^_^

Terimakasih :*

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!