Laras demi membahagiakan ibunya yang menginginkan cucu, rela menerima suami temannya yang dijadikan barang jaminan agar bisa mendapatkan uang yang banyak.
Seiring berjalannya Waktu, Laras benar-benar jatuh cinta pada suami jaminannya yang bernama Rayyan. Demikian pula Rayyan yang ternyata amnesia karena kecelakaan dan ditemukan oleh istri pertamanya( Naya) ia jatuh cinta pada Laras.
Mengetahui suaminya ternyata kaya raya, Naya ingin kembali pada suaminya dan melakukan berbagai usaha untuk memisahkan Rayyan dan Laras.
Akankah Laras bahagia dengan Rayyan? Siapakah yang akan dipilih Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7 Bersenang-Senang
.
Netra Laras berbinar cerah saat melihat jemari Rayyan mulai bergerak, optimis melihat Rayyan sembuh. Entah berapa lama lagi Rayyan akan terbangun yang terpenting Laras tetap terus berusaha. Tidak peduli dikatakan orang tidak waras karena ngomong dan tertawa sendiri. Hanya satu keyakinan Laras bahwa suaminya sebentar lagi akan siuman.
"Ayo semangat, Mas! Aku yakin pasti kamu mendengarkan aku kan? di sini tidak ada orang lain selain kita berdua. Tidak mungkin akan ada yang mengetahui apa yang kita bicarakan," ucap Laras mengajak Rayyan berbicara. Lama kelamaan Laras kecapekan dan karena malam telah larut, Laras pun tertidur di kursi samping Rayyan.
Ruangan Rayyan pun kembali sunyi, tidak ada lagi suara ceriwis Laras. Yang terdengar adalah suara dengkuran dan juga suara mesin alat perekam jantung. Laras tertidur dengan nyenyak hingga tidak sadar jika ada tangan yang membelai dan menatap wajah Laras dengan penuh arti yang dalam, seulas senyum penuh cinta menyaluran rasa hangat menuju ke wajah Laras. Menit berikutnya tangan itu kembali ke tempatnya karena Laras mengigau.
"Mm ... Mas Rayyan nakal sih! Geli tahu!" igau Laras. Membuat jantung yang tertempel alat pendeteksi itu berdebar dengan cepat hingga menimbulkan bunyi yang lebih nyaring daripada sebelumnya. Namun detik berikutnya, mesin itu mengeluarkan bunyi detakan normal lagi.
Suasana kembali tenang, Laras juga melanjutkan tidur nyenyaknya.
Keesokan harinya.
Senyuman Rayyan mengembang manakala Laras menghampiri dirinya yang duduk bersandar dengan kepala ranjang yang dinaikkan.
"Mbak Laras? Mbak ke mana aja, kenapa Rayyan ditinggalin terus? Pokoknya Rayyan tidak mau mbak Laras tinggal lagi!" ucap Rayyan menarik tangan Laras lalu bergelayut manja layaknya seorang anak kecil bermanja pada ibunya.
"Maaf, Mas. Tadi aku keluar sebentar untuk mencari sarapan dan juga ganti baju. Masa iya sedari kemarin malam pakai baju pesta. Mas sudah baikkan? Kapan mas siumannya? Kenapa Laras tidak tahu? Dan apakah mas siuman karena perkataan Laras semalam?" cecar Laras dengan percaya diri yang luar biasa. Kata emak Harti wanita yang sudah bersuami harus lebih percaya diri agar suaminya klepek -klepek.
Rayyan terdiam sejenak, alam pikirannya mencerna satu persatu apa yang ditanyakan oleh Laras. Alih-alih menjawab pertanyaan Laras, Rayyan kembali merengek seperti anak kecil.
"Mbak ... Mbak Laras, atit ...." ucap Rayyan menunjuk ke arah infus di tangannya.
Laras membulatkan matanya mendengar rengekan dari Rayyan yang sama persis dengan rengekan adiknya yang paling kecil dulu. Laras maju mendekati arah kepala ranjang di mana Rayyan menyandarkan kepalanya. Detik berikutnya Laras memegang dahi Rayyan.
"Tidak panas. Mas, kenapa mas Rayyan jadi kayak anak kecil begini?" tukas Laras membolak-balikkan telapak tangannya yang menempel di dahi Rayyan. Memeriksa apakah Rayyan demam dan mengigau atau benar-benar sakit.
"Sebentar ya, Mas. Aku panggil dokter terlebih dahulu. Kata dokter jika mas sudah siuman mbak harus lapor ke dokter!" seru Laras dengan wajah yang bahagia sembari menyelipkan anak rambut hitamnya yang sudah tertata rapi setelah dia pulang untuk mandi dan ganti baju.
***
Di waktu yang sama namun berbeda tempat, seorang perempuan yang baru saja mengantungi uang yang ditukarkan berupa cek menjadi tumpukan uang berwarna merah dengan nilai yang tertera di secarik kertas berharga itu.
Naya tidak menyangka jika suaminya berguna untuk hidupnya, sehingga ia bisa mendapatkan uang pemberian Laras hasil mengorbankan suaminya sendiri. Naya pun tidak memerdulikan Rayyan jika melanjutkan kontrak pernikahan bersama Laras atau tidak, yang terpenting uang dari wanita pemilik butik terkenal itu mengalir pada Naya.
“Mas Rayyan ternyata berguna juga. Walaupun dia tidak menghasilkan uang jutaan dari hasil kerja kerasnya menjual siomay, yang penting jasadnya berguna aku manfaatkan. Kalaupun iya Mbak Laras memperpanjang kontrak, akan aku kasih tarif delapan ratus juta setahun!” monolog Naya dengan antusias membayangkan uang delapan ratus juta berada di depan matanya. Bagi wanita pecinta uang, Naya tidak memikirkan perasaan suaminya demi kesenangan sendiri.
“Sekarang jadwalnya aku foya-foya, lagipula Mas Rayyan juga sudah menjadi bagian orang kaya seperti Mbak Laras. Pemilik butik terbesar sejagat kota ini, bahkan banyak kok pebisnis terkenal yang belanja di butik itu, pasti harga baju di butik Mbak Laras harganya mahal, makanya bukan orang sembarang belanja di butik itu,” tukas Naya sama sekali tidak merasa bersalah telah menggadaikansuaminya demi segepok uang yang belum pernah dia miliki selama hidup di dunia
“Aku belanjakan saja uang ini untuk membeli perabotan rumah dan mengganti barang-barang yang sudah rusak. Banyak perlengkapannya rumah yang tak layak pakai, terutama dapur!” Kini Naya bersiap-siap untuk membelanjakan uang yang jumlahnya tidak sedikit itu, sesekali ia menampakkan kakinya di lantai mall.
Mobil logo blue bird menjadi alat transportasi Naya dari rumahnya ke tempat berlantai belasan di mall dengan ulasan bintang lima dari tiap pengunjungnya, tidak diragukan lagi fantastis nya harga serta kualitas furniture yang dijual di mall tersebut tak diragukan lagi.
Naya menatap tiap perlengkapan rumah yang akan dibelinya. Tanpa pikir panjang Naya membelinya dan menyisakan beberapa juta uang untuk simpanan.
“Huft …! Ternyata belanja juga sangat melelahkan, sekarang aku lapar.” Naya mengusap perutnya yang terasa lapar, dia pun memilih restoran bintang lima untuk mengisi perutnya.
Jejeran makanan mahal tertata dengan rapih, pertama kali baginya mencoba makanan dengan bil termahal dari biasanya ia dan Rayyan dinner di restoran biasa, itupun kalau hasil penjualan siomay laris selama sebulan sekali.
Naya menyerang makanan yang di depannya seorang diri, kepuasan telah Naya rasakan ketika perutnya tak mampu menampung sisa makanan yang masih utuh tak tersentuh karena ia sudah kekenyangan. Bahkan, dessert penutup tak sempat dimakannya.
Naya ingin membawa pulang sisa makanannya, namun ia terlampau gengsi untuk memintanya sehingga membiarkan sisa makanan yang masih utuh di mejanya.
Setelah puas belanja kebutuhan rumah yang ia tempati, Naya langsung mengistirahatkan dirinya di kamarnya.
“Sisa uang yang dikasih Mbak Larasa masih banyak banget, aku gunakan untuk apa lagi, ya … Toh, kalau uangnya habis ‘kan, aku bisa memintanya sama mas Rayyan, dia pasti dikasih uang sama Mbak Laras karena kan mas Rayyan sekarang suaminya Mbak Laras. Ah, Naya kau memang pintar!” puji Naya terhadap dirinya sendiri, akal cerdik yang memanfaatkan suaminya sendiri.
Sama sekali Naya tak mempedulikan perasaan Rayyan, bahkan selamanya Naya ingin Rayya bekerja sebagai suami simpanan agar uang dari klien yang menyewa jasa suaminya terus mengalir.
Naya meraih ponselnya, ia mendial nomor seseorang untuk rencananya besok, Naya akan merilekskan pikiran dan tubuhnya untuk berlibur. Ia sudah bosan hidup tak berkecukupan, sehingga inilah permulaan bagi Naya terbebas dari jerat hidup sudah.
“Halo sayang!” suara bariton terdengar saat sambungan telepon terhubung dengan nomor yang dituju Naya.
“Halo, mas, kamu besok sibuk tidak. Kalau kamu tidak sibuk, aku mau mengajakmu liburan ke bali. Kamu jemput aku ya besok,” ucap Naya dalam sambungan telepon, membuat pria di seberang sana menyungging senyum.
“Kau banyak uang sayang?” tanyanya karena tak mungkin jika dirinya ‘lah yang membayar biaya liburan wanita itu, sementara dirinya hanya kekasih gelap dalam hubungan Naya dan Rayyan.
“Kau tenang saja mas, aku punya banyak uang untuk kita berlibur. Kau mau kan jemput aku di rumah, besok kita langsung ke Bali untuk liburan!” seru Naya tak sabar memanjakan dirinya dengan uang yang diberikan Laras.
“Baiklah sayang. Besok aku akan menjemputmu, kita liburan bersama,” ujarnya lalu mematikan sambungan telepon.