Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Kembali
Beberapa bulan telah berlalu sejak pertempuran dengan raksasa buatan itu. Desa kembali pulih sepenuhnya – pepohonan hijau rimbun menjulang tinggi, sungai mengalir jernih, dan hasil panen warga desa melimpah seperti dulu. Kehidupan berjalan dengan damai, dan setiap malam, warga berkumpul di lapangan tengah desa untuk berbagi cerita serta merencanakan masa depan bersama.
Aldi kini telah menjadi salah satu pemimpin utama dalam menjaga keseimbangan energi alamiah di desa dan sekitarnya. Bersama Dinda, Bara, dan Rian, mereka membentuk sebuah kelompok penjaga yang rutin melakukan patroli di hutan, memeriksa kondisi alam serta memberikan bantuan kepada makhluk hidup yang membutuhkan.
Salah satu pagi yang cerah, Aldi sedang bersama beberapa anak desa mengajarkan mereka cara merasakan dan menghormati energi alamiah di sekitarnya. Mereka berada di dekat sumber mata air yang menjadi jantung dari hutan, tempat airnya dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan.
“Perasaan dengan lembut,” ujar Aldi dengan suara rendah. “Setiap tetes air, setiap daun yang bergerak tertiup angin – semuanya memiliki energi yang hidup. Kita hanya perlu belajar untuk mendengarkan.”
Saat itu, angin tiba-tiba menjadi dingin meskipun matahari bersinar terik. Aroma yang tidak dikenal menyebar di udara – aroma tanah basah dan sesuatu yang menyerupai logam yang terbakar. Anak-anak mulai merasa tidak nyaman dan berkerumun dekat Aldi.
Aldi merasakan getaran energi yang berbeda dari biasanya – energi yang dingin dan penuh dengan niat jahat. Dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah pegunungan yang jauh, di mana awan gelap mulai berkumpul padahal cuaca seharusnya cerah.
“Kembali ke desa sekarang!” perintah Aldi dengan cepat kepada anak-anak. “Beritahu Kakek Jaya dan teman-teman bahwa ada sesuatu yang tidak biasa di arah pegunungan!”
Anak-anak berlari dengan cepat meninggalkan tempat itu. Aldi tetap berdiri di sana, mencoba merasakan lebih dalam sumber energi yang aneh itu. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang sedang tumbuh di balik pegunungan – sesuatu yang lebih besar dan lebih berbahaya dari raksasa yang mereka kalahkan sebelumnya.
Tak lama kemudian, Dinda, Bara, dan Rian datang dengan kecepatan tinggi bersama beberapa warga desa yang sudah merasakan getaran yang sama. Kakek Jaya juga ikut datang, wajahnya penuh kekhawatiran yang jarang terlihat.
“Saya sudah merasakannya,” kata Kakek Jaya sambil menatap ke arah pegunungan. “Bayangan dari masa lalu yang kita pikir sudah hilang. Kelompok jas hitam tidak hanya kembali – mereka telah menemukan sesuatu yang bisa mengubah seluruh keseimbangan alam.”
Rian yang baru saja melakukan pemeriksaan dari udara dengan bantuan burung-burung pengawas, segera melaporkan apa yang dia lihat. “Ada sebuah pangkalan besar yang mereka bangun di lembah terdalam pegunungan,” katanya dengan suara serius. “Dan di tengah pangkalan itu, ada struktur yang menyerupai menara raksasa yang terus memancarkan energi hitam pekat. Energi itu mulai menyebar ke sekitarnya – pepohonan mulai layu, sungai kecil mengering, dan hewan-hewan mulai kabur dari area itu.”
“Kita tidak bisa menunggu lama lagi,” ucap Bara dengan wajah tegas. “Jika energi itu terus menyebar, tidak hanya desa kita yang akan terpengaruh, tapi seluruh wilayah hutan dan dataran di sekitarnya.”
Aldi mengangguk dengan berat. Dia tahu bahwa mereka harus bertindak cepat, tapi juga tahu bahwa kekuatan kelompok jas hitam kali ini jauh lebih besar. Mereka perlu membuat rencana yang matang dan mungkin mencari bantuan dari desa-desa lain yang juga menjaga keseimbangan alamiah.
“Kita akan membagi menjadi dua kelompok,” kata Aldi setelah berpikir sebentar. “Kelompok pertama akan pergi ke desa-desa tetangga untuk memberitahu mereka tentang ancaman ini dan meminta bantuan. Kelompok kedua akan melakukan pengintaian lebih dekat ke pangkalan mereka untuk mengetahui apa yang sebenarnya mereka lakukan dan mencari kelemahan yang bisa kita manfaatkan.”
Tanpa perlu banyak bicara, mereka mulai membagi tugas. Dinda dan Rian akan memimpin kelompok yang pergi ke desa tetangga, sementara Aldi dan Bara akan memimpin kelompok pengintaian. Kakek Jaya akan tinggal di desa untuk memimpin persiapan pertahanan serta meramu ramuan pemurni yang lebih kuat dari sebelumnya.
“Saya akan memberikan kalian sesuatu yang bisa membantu,” kata Kakek Jaya sambil mengeluarkan dua kalung yang terbuat dari kayu langka dengan batu permata di tengahnya. “Ini adalah kalung penyangga yang dibuat oleh leluhur kita. Mereka akan melindungi kalian dari energi negatif dan membantu kalian tetap terhubung dengan alam di sekitarnya.”
Aldi dan Bara menerima kalung dengan rasa syukur. Mereka segera bersiap untuk berangkat, membawa perlengkapan yang diperlukan serta ramuan penyembuh yang sudah disiapkan Dinda. Sebelum mereka pergi, seluruh warga desa berkumpul untuk memberikan dukungan dan doa agar mereka aman dan berhasil.
“Sekali lagi, kita harus melindungi apa yang kita cintai,” ucap Aldi kepada semua orang. “Tetapi ingat – kita tidak melakukannya hanya untuk diri kita sendiri, tapi untuk semua makhluk hidup yang ada di bumi ini. Kita adalah penjaga keseimbangan, dan itu adalah tugas yang kita harus jalankan dengan penuh rasa tanggung jawab.”
Dengan itu, kelompok pengintaian mulai bergerak menuju pegunungan. Jalan yang mereka tempuh semakin sulit – pepohonan mulai jarang, tanah menjadi kering dan retak, dan udara semakin dingin dengan energi negatif yang menyelimuti setiap sudut. Mereka melihat tanda-tanda bahwa kelompok jas hitam telah melakukan eksperimen yang sangat berbahaya – pohon-pohon yang tidak hanya layu tapi juga berubah bentuk aneh, dan sumber air yang menjadi keruh dengan warna hitam pekat.
Saat mereka mendekati lembah di mana pangkalan berada, mereka melihat sosok-sosok kelompok jas hitam yang sedang berkeliaran di sekitar area itu. Di tengah pangkalan berdiri menara raksasa yang mereka sebutkan – struktur yang terbuat dari logam hitam dan bahan aneh yang menyerupai akar pohon raksasa yang saling terjalin. Dari bagian atas menara, energi hitam pekat terus menyembur ke langit, membentuk awan gelap yang semakin membesar.
Aldi merasakan bahwa sumber energi utama dari menara itu bukan hanya dari alam sekitar, tapi juga dari sesuatu yang lebih dalam – mungkin dari kekuatan yang terkunci di dalam bumi yang mereka berhasil lepaskan. Dan di depan pintu masuk pangkalan, berdiri sosok pemimpin kelompok jas hitam dengan wajah yang penuh kemarahan dan keyakinan bahwa dia akan memenangkan perang kali ini.
“Mereka sudah menunggu kita,” bisik Bara dengan suara rendah.
Aldi mengangguk. Dia melihat bahwa tidak hanya kelompok jas hitam yang ada di sana – mereka telah menciptakan makhluk-makhluk buatan lain yang menyerupai binatang raksasa dengan tubuh logam dan kulit kayu yang mengkilap. Makhluk-makhluk itu berdiri siap untuk menyerang setiap yang mencoba menghalangi rencana mereka.
“Kita harus berhati-hati,” ucap Aldi. “Tapi kita tidak bisa menyerah. Semua yang kita cintai ada di tangan kita sekarang.”
Saat mereka siap untuk melangkah lebih dekat, energi hitam dari menara mulai menyebar lebih cepat ke arah mereka. Udara menjadi semakin berat, dan tanah di bawah kaki mereka mulai bergetar. Pertempuran yang lebih besar dari sebelumnya siap dimulai – pertempuran yang akan menentukan masa depan desa, hutan, dan seluruh alam di sekitarnya.