Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Getaran Gaib Kitab Tua
Perjalanan pulang sore itu terasa jauh lebih melelahkan dari biasanya, namun ada sesuatu yang berbeda di dalam dekapan Mahesa. Bus kota yang penuh sesak dan berbau keringat mengombang-ambingkan tubuh kurusnya di sepanjang Jalan Sudirman yang macet. Tangan kanan Mahesa tidak pernah sekalipun melepaskan cengkeramannya dari tali kantong plastik putih berisi baju kotor, yang di dalamnya tersembunyi sebuah kitab kulit kuno dari gudang bawah tanah Graha Subroto. Setiap kali bus mengerem mendadak dan tubuhnya bergesekan dengan penumpang lain, Mahesa refleks merapatkan plastik itu ke dadanya, seolah-olah seluruh dunia sedang mengincar isi tasnya.
Anehnya, sepanjang perjalanan, rasa hangat yang sempat ia rasakan di gudang tadi tidak kunjung hilang. Kain plastik itu terasa suam-suam kuku, memancarkan gelombang kehangatan yang konsisten menembus kaus seragamnya, langsung meresap ke dalam tulang rusuknya dan perlahan-lahan mengikis rasa lelah setelah seharian memeras pel.
Ketika kakinya kembali menapak di lantai semen rumah petaknya, malam telah turun sepenuhnya. Mahesa mendorong pintu kayu lapuk itu perlahan, meminimalkan suara agar tidak mengejutkan neneknya.
"Nenek? Sudah tidur, Nek?" bisik Mahesa dengan suara yang teramat pelan, melangkah masuk ke dalam ruangan yang remang-remang.
Dari atas kasur busa yang tipis, terdengar suara helaan napas yang berat diikuti oleh lenguhan kecil. "Belum, Sa. Nenek baru saja rebahan setelah minum air hangat yang kamu siapkan tadi pagi," sahut Nenek dengan suara yang terdengar sedikit lebih bertenaga dibanding kemarin malam, meski matanya tetap terlihat sayu.
Mahesa bernapas lega. Ia segera meletakkan kantong plastik putihnya di atas meja kayu di sudut ruangan, sedikit menyembunyikannya di balik tumpukan kain sarung agar tidak menarik perhatian.
"Alhamdulillah kalau agak mendingan, Nek. Mahesa buatkan bubur instan ya untuk makan malam?" tanya Mahesa seraya melangkah mendekati ranjang, mengecek suhu dahi neneknya dengan punggung tangan.
Nenek tersenyum tipis, menggeleng pelan seraya memegang tangan cucunya. "Nanti saja, Sa. Nenek belum lapar. Kamu itu yang penampilannya kusut begitu, cepat mandi dan makan dulu," ujar Nenek dengan nada penuh perhatian seorang tua.
"Iya, Nek. Ini Mahesa mau beres-beres dulu," jawab Mahesa seraya kembali berjalan ke arah meja kayu.
Saat tangannya kembali menyentuh kantong plastik untuk mengambil baju ganti, getaran halus itu kembali terasa. Kali ini rasanya seperti detak jantung sekunder yang berdenyut beraturan di balik lapisan kulit buku kuno tersebut. Denyutannya selaras dengan detak nadi di pergelangan tangan Mahesa, membuat pemuda itu terpaku selama beberapa detik di depan meja.
"Kamu kenapa, Sa? Kok malah bengong di situ?" tanya Nenek heran, memperhatikan gelagat cucunya yang tampak menegang.
Mahesa tersentak, cepat-cepat menarik tangannya dari atas plastik seolah habis menyentuh wajan panas. "Eh, nggak apa-apa, Nek. Cuma... cuma agak pusing sedikit karena AC bus tadi dingin banget," kilah Mahesa dengan tawa kecil yang dipaksakan untuk menutupi kepanikannya.
"Makanya, cepat mandi air hangat biar badannya segar lagi," nasihat Nenek seraya membetulkan posisi bantalnya.
"Iya, Nek. Mahesa ke kamar mandi umum dulu ya," pamit Mahesa dengan cekatan mengambil handuk dan baju ganti dari lemari plastik gantung, tanpa berani menyentuh kembali plastik misterius itu untuk sementara waktu.
Dua puluh menit kemudian, Mahesa sudah kembali ke dalam rumah petak setelah membersihkan diri di kamar mandi umum di ujung gang. Suasana di luar sudah mulai sepi, hanya menyisakan suara televisi sayup-sayup dari rumah tetangga. Neneknya rupanya sudah kembali terlelap, pulas oleh sisa rasa lelah akibat penyakitnya.
Mahesa duduk bersila di lantai semen, tepat di samping meja kayu. Ia menatap kantong plastik putih itu dengan pandangan penuh selidik. Rasa penasaran dan ketakutan bertarung hebat di dalam benaknya. Setelah memastikan napas neneknya terdengar teratur, ia mengulurkan tangan yang masih sedikit basah, lalu merogoh ke dalam plastik, menembus tumpukan baju kotor hingga jemarinya menyentuh permukaan luar kitab kulit tersebut.
Deg.
Satu getaran gaib yang lebih kuat dari sebelumnya langsung menyengat telapak tangan Mahesa. Itu bukan fiksi atau sekadar halusinasinya akibat kelelahan. Udara di sekitar meja kayu itu mendadak terasa sedikit berembun, dan wangi cendana kuno yang pekat mulai menyeruak keluar dari dalam plastik, memenuhi ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter tersebut.
"Ini beneran aneh. Masa buku tua bisa punya getaran kayak ada setrumnya gini?" bisik Mahesa pada dirinya sendiri, matanya membelalak lebar di balik lensa kacamata tebalnya.
Ia menarik kitab itu keluar dengan sangat perlahan. Di bawah sinar remang-remang bohlam lima watt, sampul kulit hewan itu tampak seolah-olah memiliki guratan serat yang bergerak samar ketika terkena cahaya. Hawa hangat yang mengalir dari kitab itu kini mulai merambat naik ke pergelangan tangan Mahesa, menyusup ke dalam aliran darahnya, memberikan sensasi nyaman yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Rasa pegal di bahunya akibat memeras kain pel seharian mendadak menguap begitu saja.
Mahesa menimbang-nimbang kitab tebal itu di kedua tangannya. "Beratnya pas banget. Tapi kenapa aksaranya aneh begini ya? Kayak tulisan kuno di prasasti-prasasti," gumam Mahesa lirih sembari mengusap karakter huruf berlekuk di bagian sampul depan.
Niatnya untuk membuka dan membaca isi halaman dalam kitab itu begitu besar. Jemarinya sudah menyentuh pinggiran lembaran kulit pertama, bersiap untuk membaliknya. Namun, tepat pada saat itu, getaran di dalam kitab itu mendadak berubah menjadi denyutan yang lebih cepat, seolah-olah memberikan peringatan tersembunyi. Pikiran Mahesa mendadak teringat pada kondisi rumah petaknya yang terbuka dan rentan. Jika ada tetangga seperti Bu Parmi atau Pak Joko yang tiba-tiba mengintip dari celah jendela kayu yang renggang, atau jika Neneknya mendadak terbangun dan melihatnya memegang benda mistis, situasinya akan menjadi rumit.
"Jangan sekarang, Sa. Badanku juga masih belum tenang betul. Lagian kalau ini barang keramat, aku nggak boleh sembarangan membukanya tanpa persiapan," kata Mahesa menasihati dirinya sendiri dengan nalar yang masih berjalan logis.
Ia mengembuskan napas panjang, meredam ego dan rasa penasarannya yang membubung tinggi. Mahesa memutuskan untuk mematuhi intuisi batinnya yang mengatakan bahwa malam ini bukanlah waktu yang tepat untuk membuka rahasia di dalam lembaran kulit tersebut. Yang ia butuhkan saat ini adalah mengamankan benda ini dari jangkauan siapa pun.
Mahesa bangkit berdiri dengan perlahan, melangkah ke sudut ruangan di mana terdapat sebuah peti plastik tua tempat ia menyimpan dokumen-dokumen penting seperti kartu keluarga dan ijazah sekolahnya yang sudah agak menguning. Ia membuka peti itu, menggeser beberapa map, lalu meletakkan kitab kulit kuno itu di bagian paling dasar, tertimbun oleh lembar-lembar kertas legalitas hidupnya yang tak seberapa.
Setelah menutup kembali peti plastik itu dan menguncinya dengan gembok kecil, Mahesa kembali duduk di tepi kasur tipisnya. Ia memandangi tangannya yang tadi digunakan untuk memegang kitab. Sisa-sisa kehangatan gaib itu masih terasa di ujung-ujung jarinya, meninggalkan rasa kesemutan yang halus namun menyenangkan.
"Buku itu... sebenarnya milik siapa di kantor ya? Dan kenapa bisa ada di balik tembok gudang tua?" tanya Mahesa dalam hati, menatap kosong ke langit-langit kamar yang berwajah noda bekas bocor air hujan.
Segala pertanyaan itu menggantung di udara malam, tanpa ada jawaban yang pasti. Mahesa kemudian merebahkan tubuhnya di samping ranjang neneknya, beralaskan selembar tikar pandan yang sudah mulai rontok seratnya. Sambil memejamkan mata di tengah kegelapan malam, ia menyadari satu hal: hidupnya yang membosankan, culun, dan penuh penindasan sebagai seorang OB rendahan, tampaknya mulai bergeser ke arah sebuah labirin misteri yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, menyisakan getaran gaib yang terus berdenyut lembut di dalam ingatannya.