Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Adik Durjana
Bajunya basah oleh keringat yang mengucur deras. Diaz duduk di tempat tunggu yang tersedia di luar lapangan padel bersama Devan lawan mainnya yang kalah dengan angka tipis. Istirahat sambil melihat temannya yang lain memasuki lapangan bersiap-siap untuk bermain.
Chat masuk dari Tya menjadi yang pertama dilihat begitu membuka aplikasi Whatsapp. Sebuah emoji cium menjadi balasan atas foto yang dikirimkan sang istri.
"Panu, mau tau bini gue lagi sama siapa?"
Sebelum Devan membuka mulut usai meneguk minuman, Diaz menunjukkan layar ponselnya ke depan muka Devan.
Devan melebarkan mata dan terbatuk seketika. "Oh, my darling!"
Diaz mencibir. Menarik tangan yang dicengkeram Devan karena saking antusiasnya melihat foto.
"Kudis, di mana mereka? Susul yuk!" Devan yang tadi terlihat lelah, kini kembali bertenaga.
"Nggak. Biarin Tya quality time sama temannya. Nggak mau ngerecokin."
"Tapi gue pengen ketemu Anya, Kudis. Help temanmu ini."
"Tanya Anya mau nggak didatengin lo."
"Kan pura-pura ketemu nggak sengaja gitu. Ah lo nggak setia kawan." Devan mendecak.
"Lo baca deh pesan dari Tya." Diaz membuka lagi ponselnya. Kembali disodorkan ke wajah Devan.
[Abey, ada pesan dari Anya. Katanya jangan sampai ajak mas Evan ke sini. Harap dimengerti katanya]
Devan mengembuskan napas kasar. Semangatnya yang menyala berubah melempem. Bibirnya manyun dengan pandangan menatap ke arah ujung sepatu.
"Lo serius nggak sih sama Anya?"
"Serius lah."
"Kalau serius, perjuangkan. Aku liatnya lo nggak sungguh-sungguh. Malah ketemuan sama mantan dan ke gep sama Anya lagi pelukan. Tau rasa lo sekarang dijauhin si Anya."
Devan diam. Dan diamnya itu membuat Diaz menghela napas. "Fix kalau kayak gini lo belum move on dari si Inez."
"Udah move on kok. Cuma si Inez udah tiga kali telepon gue, minta tolong. Orang tuanya mau cerai dan dia merasa depresi. Itulah mengapa gue waktu itu mau temuin dia. Sekali-kalinya itu, Kudis. Sialnya, kok bisa Anya datang ke cafe itu. Udah aku jelasin jujur sama Anya tapi dia malah jaga jarak sampe sekarang. Lah...baru juga misi pedekate." Devan membuka kaosnya yang basah sambil berdecak.
"Panu, gue mau garis bawahi masalah Inez yang beralasan depresi. Come on, jangan bodoh lo. Si Inez bukan teenager. Dia seumuran sama kita. Cara menyikapi orang tua mau cerai bakal beda saat kita remaja yang pantas disebut anak broken home. Seusia kita tuh bisa terserah kalau emang cerai jadi jalan terbaik. Karena kita juga punya urusan sendiri yang harus dihadapi. Gue bisa ngomong gini karena pengalaman pribadi."
Devan diam. Namun, kerutan di dahi menunjukkan keseriusannya menyimak uraian Diaz. "Maksud lo si Inez cuma modus biar nantinya ngajak balikan lagi?"
"Pikir aja sendiri."
Devan mendecak. "Oke lah nanti gue pikirin. Sekarang gue malah kepikiran kata-kata tadi. Lo dipanggil Abey sama Tya. Kebagusan itu. Harusnya Mas Kudis."
"Sirik lo." Diaz menatap tajam dengan memicing.
Devan menyeringai. "Emang artinya apa or singkatan apaan?"
"Kepo." Diaz beranjak pergi menuju locker.
***
Dua menu berbeda diantarkan waiters ke meja Tya yang baru saja mengirim foto selfie dengan Anya kepada Diaz. Tentu saja sudah minta izin dulu pada teman baik yang duduk di seberang meja segaris dengannya.
"Tya, Mas Diaz nggak ngasih tahu ke Mas Devan posisi kita di mana, kan?"
"Don't worry, Anya. Aku udah wanti-wanti dan jawaban Abey, 'oke, yang'."
Anya menarik kedua sudut bibir. "Thanks ya. Aku lagi nggak mau bahas dia, Tya. Cowok plin-plan.."
Dari raut mukanya, Tya bisa melihat perubahan ekspresi Anya dari ceria menjadi datar. Ia sudah tahu masalahnya apa. Tempo lalu Anya yang bercerita lewat chat.
"Kan mau curhat soal cowok yang bikin kau nggak bisa tidur."
Anya mengerjap. Senyumnya kembali terbit. Jus mangga yang gelasnya berembun mulai disedot. "Kemarin malam abis pulang ngeles privat anak SMP, aku mampir ke cafe. Lagi pengen cappucino ice. Aku masuk sambil ngebalesin chat. Nggak nyangka malah nabrak orang depan kasir. Sampai kue yang dia pegang jatuh dan hancur. Padahal tadinya mau dibungkus."
Tya melongo. "Terus kau minta maaf?"'
"Iya. Dan aku siap ganti rugi dengan kue baru. Tapi dia nolak dengan ketus. Wajar sih dia marah karena kue yang jatuh itu kemungkinan untuk pacarnya soalnya pakai angka 23. Tapi dia nggak mau. Malah suruh kasih tip buat OB yang bersihin lantai.
Dan makin merasa bersalah deh waktu waiters bilang cowok itu sepertinya lagi nunggu pacarnya datang karena pesan dua minuman tapi ternyata nggak datang. Mungkin surprise nya gagal makanya kuenya mau dibawa pulang. Lah...malah aku tumpahin. Asli, Tya. Semalam sampai nggak bisa tidur. Merasa bersalah banget."
Tya manggut-manggut. "Manusiawi sih kalau kau sampai kepikiran apalagi ditambah punya sifat nggak enakan."
"Itu dia."
"Masih kebayang nggak wajah cowok itu?" tanya Tya yang mulai mencicipi spaghetti carbonara miliknya. "Semisal suatu hari nanti siapa tahu ketemu lagi."
"Tinggi, ganteng. Sepertinya bakal ingat deh. Tapi nggak tahu juga sih." Jawaban Anya bernada mengambang. Sangat tidak meyakinkan.
"Jangan sampai nanti malam gelisah lagi, Anya. Kalau malam kedua gelisah lagi bisa jadi..."
"Bisa jadi apa?" Anya sampai urung memasukkan dimsum udang ke dalam mulutnya. Sumpit terhenti di udara.
"Kau butuh asupan magnesium. Biar bisa merelaksasi otot agar tidur nyenyak."
"Ini serius kan, Tya. Bukan sedang bercanda?"
"Serius dong. Apa biasanya tidurmu nyenyak atau tidak?"
"Lebih tepatnya sering insomnia. Kupikir pengaruh kopi. Tapi begitu berhenti ngopi malam, tetap aja suka kambuh insomnia nya."
"Cobain deh beli suplemen magnesium. Minum satu jam sebelum tidur. Ini pengalaman Kak Bisma, kakak aku. Dia dulu insomnia. Alhamdulillah jadi bisa tidur pulas tiap hari."
"Wow...wow." Terdengar suara diiringi tepuk tangan slow motion.
Membuat Tya dan Anya menoleh bersamaan. Napas Tya tercekat. Tak mengira bakal didatangi oleh Leony. Padahal tadi saat menuju toilet sudah dihindari agar tidak berpapasan.
"Biasa makan di kaki lima sekarang di kelas bintang lima. Welcome, OKB." Leony menepuk bahu Tya. Ia menghampiri meja Tya bersama seorang temannya. Pertemuan ini memang tidak sengaja. Tatapannya mengedar mencari tempat duduk yang nyaman, malah melihat keberadaan Tya.
Tya tak terpengaruh oleh sindiran Leony yang tidak tahu etika. Tetap tenang melanjutkan melahap spaghetti carbonara. Tidak menganggap remaja fashionable itu ada.
Lain halnya dengan Anya yang terkejut dan merasa heran. "Siapa?" tanyanya lewat gerak bibir tanpa suara.
"Ini adiknya Mas Diaz. Harap maklum ya, Anya. Otaknya kurang lurus agak kurang satu ons karena saraf yang mengatur attitude terganggu."
"Kurang ajar." Leony melayangkan tangan.
Tetapi Tya sigap menangkap tangan yang hendak menampar pipinya itu. "Adek durjana, mohon jangan kurang ajar sama kakak iparmu ini. Aku bisa mengadu ke Kak Diaz. Dan kau bakal dihukum tak dikasih uang jajan sama Ayah."
Sehat selalu 🤲🏻
Pak Husein kan..yg sebenarnya punya pekerbunan sawit itu?
Koi rela menunggu ibu suri sampai segitunya pak?
cerita dong pak..🤭😄
Ada something sama pak Husein ini pasti, semoga segera bersatu ya..ibu suri dan pak Husein😁