NovelToon NovelToon
Suara Yang Tak Pernah Terucap

Suara Yang Tak Pernah Terucap

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.

Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.

Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.

Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.

Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.

Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keinginan untuk kembali bertemu

Suara pintu kamar berderit pelan, yang membuat Yuda menoleh.

Yuna keluar dengan langkah kecil. Rambutnya sedikit berantakan, mata setengah berat, tapi ekspresinya tetap serius seperti biasa.

Ia berdiri beberapa detik di ambang ruang keluarga, lalu berjalan menghampiri kakaknya.

“Aku tidak bisa tidur,” katanya dengan nada terlalu formal untuk anak sepuluh tahun. “Meskipun malam telah larut, entah mengapa kelopak mataku sulit untuk terpejam.”

Yuda terkekeh pelan. “Bahasanya bisa gak sih nggak kayak pembawa berita?”

Yuna tidak menanggapi candaan itu. Ia hanya menatap televisi dengan wajah datar, jelas mengantuk tapi gengsi untuk mengakuinya.

Yuda menepuk pahanya. “Sini.”

Tanpa banyak protes, Yuna merebahkan kepalanya di atas lutut kakaknya. Tubuh kecilnya bersandar nyaman, satu tangan memeluk bantal tipis yang tadi ia bawa dari kamar.

Televisi memantulkan cahaya lembut ke wajah mereka.

Yuna menonton dengan tatapan malas. Kelopak matanya sudah mulai turun sedikit demi sedikit.

Yuda membiarkannya. Tangannya sesekali mengusap pelan rambut adiknya, gerakan otomatis yang sudah terbiasa.

Beberapa menit berlalu.

Napas Yuna mulai lebih teratur, meski belum sepenuhnya tidur.

Yuda mengambil ponselnya dengan satu tangan, berusaha tidak banyak bergerak agar kepala di lututnya tetap nyaman. Ia membuka layar tanpa tujuan jelas. Sekadar menggulir, sekadar mengalihkan pikiran.

Namun pikirannya tetap kembali ke foto itu.

Ke nama itu. Ke pertanyaan yang belum sempat ia jawab dengan jujur pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba Yuna bersuara. Pelan, tapi jelas.

“Kakak kenapa?”

Yuda berhenti menggulir layar.

“Kenapa apanya?”

“Raut wajahmu nampak menunjukkan ekspresi kegelisahan malam ini.”

Kalimatnya terlalu rapi untuk anak sepuluh tahun yang hampir tertidur. Yuda menunduk, menatap wajah adiknya yang masih memejam setengah.

“Kamu bisa lihat?”

“Meskipun mataku hampir terpejam, kemampuan observasiku tidak ikut melemah tahu,” gumam Yuna malas.

Yuda terdiam. Ia tidak langsung menjawab.

Tangannya kembali mengusap rambut Yuna perlahan.

“Cuma mikir kerjaan kok,” jawabnya akhirnya, ringan.

“Hm.” Yuna menghela napas kecil. “Itu bukan jenis kegelisahan finansial loh.”

Yuda tersedak tawa kecil. “Sok tau kamu ih.”

“Ada sedikit perubahan pada cara sudut bibirmu terangkat saat menatap layar. Itu bukan ekspresi stres. Itu ekspresi… harapan.”

Sunyi sebentar. Televisi terus berbicara sendiri.

Yuda menatap ponselnya yang kini layar sudah redup.

Harapan.

Kata itu terasa terlalu besar.

“Tidur sana, jenius kecil,” bisiknya pelan.

Yuna tidak membalas.

Beberapa detik kemudian, napasnya benar-benar teratur.

Yuda menyandarkan kepalanya ke dinding.

Ekspresi harapan, ya?

Ia menatap langit-langit rumah yang sederhana itu.

Mungkin benar. Mungkin malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama hanya fokus bertahan hidup, ia membiarkan dirinya berharap. Dan itu yang membuat wajahnya terlihat berbeda.

Yuda menyandarkan kepalanya ke dinding.

Langit-langit rumahnya tampak biasa saja. Cat putih yang mulai kusam di sudut. Kipas angin berputar pelan, bunyinya berdecit halus tiap beberapa detik.

Di pangkuannya, Yuna sudah benar-benar tertidur. Dengkur kecilnya terdengar tipis, nyaris lucu. Tangannya masih memeluk bantal dari kamar seolah itu harta paling berharga.

Yuda menatap ke depan dengan pikiran berputar.

Ia kurir. Dan Nazwa adalah pelanggan.

Kalau ia datang sebagai tamu biasa… apa alasannya?

“Permisi, Kak… saya cuma mau silaturahmi?”

Tidak masuk akal. Terlalu canggung. Terlalu tiba-tiba.

Namun kalau ia datang sebagai kurir—

Itu wajar. Itu profesional. Itu tidak melanggar apa pun.

Pikirannya berhenti sejenak. Lalu satu ide muncul.

Konyol. Sangat konyol. Tapi… efektif.

Bagaimana kalau ia memesan barang untuk diantar sendiri ke alamat rumah Nazwa?

Barang kecil saja. Murah saja. Tidak aneh.

Ia tetap bekerja. Tetap sesuai SOP. Ia hanya… kebetulan yang mengantar.

Hanya ingin bertemu lagi. Bukan untuk hal yang aneh juga. Hanya ingin memastikan apakah debar tadi bukan sekadar perasaan sepihak.

Yuda menelan ludah. Batinnya bergolak penuh dilema.

Apakah hal ini terdeteksi melanggar aturan? Apakah ini bisa disebut manipulasi sistem? Karena setiap data pelanggan sebenarnya dia juga berhak tahu sebagai penunjuk jalan dan arah, dan dirinya malah menyalahgunakannya?

Ia meraih ponselnya meski tangannya gemetar. Antara mencoba pelan agar tidak mengganggu Yuna, dan pikiran yang masih mempertimbangkan keputusannya kini.

Pertama, ia membuka kembali aplikasi kurir. Masuk ke history pengantaran. Mencari nama itu.

Nazwa.

Detail terbuka.

Pesanan: satu set skincare.

Harga: Rp185.000.

Yuda mengernyit.

“Setara tiga kali isi bensin dan sarapan satu minggu…” gumamnya pelan.

Ia menggeleng kecil.

Dunia memang berbeda.

Tapi entah kenapa, bukannya membuatnya mundur, justru semakin memantapkan tekadnya.

Ia keluar dari aplikasi kurir. Lalu membuka aplikasi belanja. Kali ini bukan sebagai pengantar, melainkan sebagai pembeli.

Rasanya aneh memang.

Jarinya ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengetik di kolom pencarian sesuatu yang bahkan belum pernah ia ketikkan seumur hidupnya.

Rekomendasi skincare.

Enter.

Dalam sekejap, layar dipenuhi ratusan produk.

Serum pencerah. Toner hydrating. Essence. Moisturizer gel. Ampoule.

Nama-namanya saja sudah membuat dahinya berkerut.

Harga-harganya lebih parah.

Rp79.000.

Rp129.000.

Rp249.000.

Rp315.000.

“Gila…” ia berbisik pelan. “Masa satu botol kecil bisa seharga dua bungkus nasi Padang sih?”

Ia menggaruk kepalanya, benar-benar tercengang.

Botolnya kecil. Isinya mungkin cuma beberapa tetes sekali pakai. Tapi harganya bisa buat bensin motor seminggu. Kepalanya mulai migrain melihat istilah-istilah yang tidak ia pahami.

Brightening. Barrier repair. Niacinamide 10%. Centella asiatica.

“Centella ini nama dinosaurus kali ya? Terinspirasi dari sana? Atau malah... bahan dasarnya dari minyak bumi?" gumamnya lagi sembari menggaruk kepalanya tak paham.

Di pangkuannya, Yuna bergerak sedikit tapi tetap tertidur.

Yuda masih menatap layar itu lama.

Ini memang konyol. Tapi untuk pertama kalinya, ia melakukan sesuatu bukan karena tuntutan hidup. Melainkan karena ingin.

Ia menarik napas panjang.

“Tenang aja. Cari yang murah dulu.”

Jarinya mulai memfilter harga terendah. Tekadnya membulat.

Kalau peluangnya kecil, ia akan menciptakan satu kesempatan lagi. Walau harus pusing dulu melihat dunia skincare yang terasa seperti planet asing baginya.

Dia kembali menggulir layar ponselnya setelah rasa pusing mereda. Ia berhenti pada satu produk. Harganya masih masuk akal. Tidak terlalu murah. Tidak terlalu mahal.

Tapi kemasannya…

Botolnya tampak biasa. Desainnya kurang meyakinkan. Warna labelnya seperti hasil cetakan rumahan.

Ia menyipitkan mata.

“Kalo dia gak suka barang yang murah gimana ya…” gumamnya pelan.

Bayangan Nazwa berdiri di depan pagar kembali muncul. Rumah rapi. Halaman luas. Skincare sebelumnya saja harganya seratus delapan puluh lima ribu.

Kalau ia mengirim sesuatu yang terlihat murahan…

Bagaimana kalau justru terlihat tidak pantas?

Pikirannya mulai pesimis.

Ia keluar dari aplikasi belanja. Mengecek rekening M-BANKING. Mengecek saldo aplikasi E-wallet.

Mulutnya bergumam. Menghitung setiap kemungkinan tentang rencana yang setidaknya membuatnya bisa ngobrol lebih lama, dan lebih mengenal dirinya lagi.

Rahangnya mengeras. Matanya menajam. Ada kilatan tekad yang muncul pelan, tapi jelas.

"Kalo mau ngasih...." Ia menghela napas kasar. Mengumpulkan keberanian yang perlahan meredup. "Jangan setengah-setengah."

Ia menggulir lagi. Lebih serius kali ini.

Filter rating bintang empat ke atas. Ulasan muncul ribuan. Foto before-after yang meyakinkan. Harga mulai melonjak bagaikan harga sembako menjelang ramadhan.

Rp199.000.

Rp205.000.

Rp230.000.

Dadanya naik turun pelan. Ia menekan dadanya untuk membantunya bernapas dengan normal.

Hingga ia menemukan satu set skincare seharga Rp200.000. Kemasan elegan. Rating tinggi. Review-nya panjang-panjang dengan foto asli pembeli. Sedikit lebih mahal dari pesanan Nazwa sebelumnya.

Yuda menatap angka itu lama.

Dua ratus ribu. Setara hampir setengah cicilan motor bulan ini.

Ia menarik napas perlahan.

“Oke,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Gapapa.”

Matanya melirik ke arah dapur, lalu ke arah Yuna yang masih tertidur.

“Puasa rokok seminggu. Dan tiap hari bawa bekal biar gak kelaparan di jalan.”

Ia mengangguk kecil, seolah membuat kontrak dengan dirinya sendiri.

Tekadnya bulat.

Jarinya bergerak ke ikon pesan.

Alamat pengiriman: rumahnya sendiri.

Metode pembayaran: via rekening.

Ia sengaja memastikan jadwalnya kosong di hari estimasi tiba. Supaya ia bisa menerima pesanan itu dirumahnya, dan bukan malah ayah atau ibunya yang memesan. Mau dibawa kemana wajah itu jika tahu anak laki-lakinya memesan skincare?

Namun jarinya masih ragu untuk menekan ikon setuju. Dia kembali menimbang.

Apakah tidak terlalu agresif jika memberikan hadiah mahal kepada seseorang yang bahkan masih bertemu tak lebih dari dua kali?

Ia meremas rambutnya. Pikiran-pikiran itu mulai membuatnya bingung.

Hingga solusi lain tiba-tiba datang dalam wujud iklan.

Sebuah set skincare lain dengan harga yang lebih terjangkau. Kemasannya menarik, ratingnya oke, hanya jumlah paketnya yang membedakannya.

Jarinya sedikit gemetar. Memastikan tiap kandungan pada produk dengan mencari tiap informasi melalui aplikasi pencari.

"Oke. Mending, yang ini saja. Semoga saja dia suka. Dan semoga saja... aku gak di cap sebagai penguntit yang lancang."

Dia mengatupkan bibirnya. Lalu mengklik ikon beli.

Tulisan dilayar menampilkan kata: pesanan sedang diproses.

Yuda keluar dari aplikasi belanja. Tangannya kembali membuka galeri.

Foto itu masih ada.

Nazwa berdiri dengan paket di tangan. Wajahnya tertangkap sederhana, tanpa pose dibuat-buat. Bahkan sedikit kaku. Namun justru itu yang membuatnya terasa nyata.

Yuda menatapnya lebih lama dari sebelumnya. Hatinya berdebar pelan.

Entah kenapa, tiba-tiba muncul keinginan yang bahkan lebih konyol dari ide memesan skincare tadi.

Bagaimana kalau foto ini dijadikan wallpaper?

Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.

“Maaf ya, Wa. Aku keknya... kurang sopan."

Tapi jarinya tidak langsung menjauh.

Ia membuka opsi. Set as wallpaper. Jarinya menggantung di atas tombol konfirmasi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, layar ponsel Yuda tak menampilkan pemandangan gunung default.

Ia kembali memandangi wajah itu.

Di pangkuannya, Yuna mendengkur kecil, tidak tahu kakaknya sedang membuat keputusan-keputusan nekat malam ini.

"Ini lancang, Yud. Apakah menurutmu beretika memasang foto pelanggan menjadi bagian dari ponselmu?"

Tiba-tiba suara tegas dalam dirinya memberontak.

Dia dengan cepat mengganti wallpaper wajah itu menjadi gambar pemandangan gunung default lagi. Lalu dengan cepat masuk ke gallery.

Mencari foto Nazwa. Menekannya lama. Dan menghapusnya seperti biasa. Seperti bukti penerimaan barang oleh customer biasa yang hanya memenuhi penyimpanan ponselnya.

1
Cecilia
dilempar dong😭
Chimpanzini Sudah Hiatus: tumben mampir kak/Curse/
total 1 replies
mmmmuuuuu
sehat² dah para kurir
Writer_lynn
Tempat terbaik untuk merenung☺️
saya orang gila baru
perpustakaan memang semenenangkan itu
saya orang gila baru
"di di"/Slight/
saya orang gila baru
apakah namanya benar² rahasia/Sly/
saya orang gila baru
klo diganti "sudut bibirnya terangkat" pasti lebih bagus😌
Pengabdi Uji
km jutek jg kali jd org2 tktduan😭😭
Pengabdi Uji
ooohh si cewe di omelin bosnya ya
Pengabdi Uji
wkwk enggak lg ngulek itu bk. fashion show🤣
Mingyu gf😘
hahaha😆😆emang suka gitu kalau mengikuti maps yang banyak belokan
Mingyu gf😘
hayoo nazwa🤭🤭🤭
Mingyu gf😘
tapi perasaan kurir gak ada libur
Cecilia
ANJERRRRR NANGGUNG BANGETTT
Chimpanzini Sudah Hiatus: /Shy//Shy//Shy/
total 1 replies
Cecilia
dia lucu banget sihh😭
Chimpanzini Sudah Hiatus: adekku kok. makanya lucu/Proud/
total 1 replies
Cecilia
aku jga mww
Chimpanzini Sudah Hiatus: wkwk author pun jga mau🤣🤣
total 1 replies
Cecilia
mari kita juluki romi si uler coklat
Chimpanzini Sudah Hiatus: mana boleh kek gitu
total 1 replies
Cecilia
BU LINA CANTIKKK BANGETTT
Chimpanzini Sudah Hiatus: /Awkward//Awkward//Awkward/
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
cantik nya😍😍😍😍😍
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
ya itu akan timbul alami ketika bertemu orang baik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!