Seorang siswa yang terlambat ke sekolah berpindah ke dunia lain bersama dengan dua orang yang tak dikenalnya, setelah mereka ditabrak truk secara tidak sengaja.
Menurut suara misterius yang mereka dengar saat baru sampai di dunia itu, mereka harus menyelamatkan dunia itu dari kekacauan.
Kehidupan mereka berubah sejak mereka bertemu dengan seorang lelaki yang mengaku sebagai orang terkuat di dunia itu dan mereka belajar tentang keabadian dari orang itu.
Ikuti perjalanan mereka di dunia yang tak terduga, penuh darah, pertarungan, dan pengkhianatan itu.
[1 chapter untuk satu hari, dimohon bersabar...
Ada beberapa adegan garing, kalo gk lucu dimohon jangan ketawa...
Apabila terdapat kesamaan nama orang, lokasi, ataupun jurus, mohon maaf karena itu adalah ketidaksengajaan, beberapa disengaja ;)
Original story by Slitherio/Rio Andriana]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Slitherio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Pulau Giok Putih III
Agus memegang tongkat emasnya dengan erat, ia yakin tangannya sudah semakin cepat sejak lebih dari setengah tahun lalu, tetapi ia masih saja terasa kurang.
Menyerah, Agus akhirnya memilih kembali ke tempat tinggal dua guru mereka dan memilih beristirahat.
Ia melihat kalau Ray dan Zon sedang duduk sambil berbincang. Tidak diketahui apa yang mereka bicarakan sampai wajah Ray bisa antusias begitu. Yah, ini adalah pertama kalinya sejak Ray mendengar kisah tujuh makhluk kuat yang dulu pernah menguasai Benua South dari Zon.
Kalau Mira, ia sedang berbincang dengan Tianyun dan sepertinya perbincangan mereka menarik. Agus ingin bergabung, tetapi ia ragu.
Sejak mereka terpental ke dunia aneh ini, dirinya jarang berbincang dengan Ray, Mira, ataupun guru mereka. Alasannya karena Agus masih belum terlalu bisa bergaul dengan orang-orang baru.
Tak di dunia ini ataupun di dunia asal mereka, sama saja. Agus tak memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang-orang baru.
Sebab itulah Agus lebih memilih menyendiri di hutan Pulau Giok Putih untuk mengasah kecepatan tangannya sekaligus meningkatkan praktiknya. Ia hanya akan kembali saat makan dan istirahat di rumah miliknya buatan Tianyun dan Zon.
Agus meletakkan tongkatnya di dekatnya dan ia lalu duduk bersila. Yang perlu ia lakukan saat ini hanyalah memurnikan semua Mana yang ia miliki.
Agus terlalu fokus melakukannya sampai ia lupa waktu. Ray memanggilnya untuk makan sekalipun tak didengarnya.
Agus sebenarnya mendengarnya, tetapi ia ingin berlatih lebih lama lagi. Jujur saja, ia sedang memikirkan cara untuk bisa menembus Self Forging tingkat ke-15.
Merasa buntu, ia lalu meraih tongkatnya dan bergumam, “Berikan aku petunjuk...” Agus memejamkan matanya.
Saat ia kembali membuka matanya, ia berada di tempat yang tak asing. Tempat itu adalah tempat tinggal dari Whu, penunggu dari Golden Staff.
Agus menghela napas panjang lalu ia berjalan mendekati seseorang yang memakai jubah berwarna hitam dengan topeng berwarna hitam yang memiliki motif alis yang panjang.
“Apa kau meminta bantuanku?” tanya orang itu.
Agus mengenalinya sebagai Whu, sang roh penunggu Golden Staff yang merupakan senjata milik praktisi tongkat terhebat sepanjang masa, yaitu Kera Sakti.
Agus mengangguk, “Apakah senior memiliki cara untuk bisa membuat tanganku ini lebih cepat lagi?”
“Cukup berlatih, bukan? Masa kau tak tahu itu?” Whu menyentil hidung Agus.
Agus melompat mundur dan langsung memegangi hidungnya yang berwarna merah karena disentil oleh Whu, “Apa-apaan jari itu?!”
“Ini hanya jari biasa, tak lebih...” Whu menaikkan jari telunjuknya.
“Oke...” Agus memijat keningnya, “Aku punya permintaan...”
“Apa itu?”
“Ajari aku agar bisa memainkan tongkat dengan cepat!” Agus membungkuk dan Whu menaikkan alisnya.
Whu mengangkat tangannya, “Baru sampai mana kecepatan tanganmu?”
Agus melihat ke sekelilingnya, selain dirinya dan Whu tak ada satupun tongkat yang bisa ia pakai untuk menunjukkan kecepatannya.
“Nih aku ada tongkat...” Whu memberikan sebuah tongkat kayu yang entah sejak kapan sudah ada disana.
Agus terdiam. Darimana Whu mendapatkan tongkat itu?
“Banyak pikiran kau! Cepat tunjukkan!” Whu melemparkan tongkat yang ada di tangannya pada Agus dan Agus menerimanya.
Agus menatap tongkat yang ada tangannya, “Tongkatnya ringan, ya?”
“Banyak bicara kau!”
Agus tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya lalu ia memainkan tongkatnya seperti yang ia pelajari selama ini.
“Ini bahkan masih kurang untuk bisa disebut sebagai penguasaan tongkat tingkat ahli...” Whu menepuk dahinya sambil menggeleng.
Agus menaikkan alisnya, “Apa maksud senior?”
Whu mengangkat tangannya, tongkat yang ada di tangan Agus berpindah ke tangannya dengan cepat.
Agus menaikkan alisnya, “Bagaimana bisa?”
“Tadi itu termasuk penguasaan tongkat tingkat penjelmaan...” Whu mengangkat tongkatnya.
Agus tak terlalu memahami apa yang terjadi, tapi yang selanjutnya ia rasakan adalah angin yang keras menerpa tubuhnya.
“Tadi itu adalah penguasaan tongkat tingkat ahli...” Whu masih memasang posisi seperti tadi, “Apa kau mengerti yang baru saja terjadi?”
Agus menggeleng, “Tidak...”
“Penjelasannya adalah, aku tadi mengayunkan tongkatku sebanyak dua kali dan apakah kau melihatnya?” Whu menatap Agus.
“Tidak...”
“Itu artinya pemahamanmu tentang tongkat masihlah dangkal...” Whu menjentikkan jarinya, tongkat kayu yang ada di tangannya menghilang.
“Tak peduli tongkat macam apa yang kau pegang, kalau kau bisa membuat tongkat sama kuatnya dengan Golden Staff, maka bisa dibilang kalau penguasaan tongkat milikmu sudah mencapai ahli. Kalau kau bisa mengubah apapun itu menjadi senjata semacam tongkat kayu ini, maka penguasaan tongkat milikmu sudah mencapai penjelmaan...”
Agus memejamkan matanya, ia tahu kalau ia masih banyak kurangnya, bahkan kekurangannya lebih banyak dari Ray yang hanya bisa memakai pedang.
“Kau terlalu mengandalkan senjatamu, tak mengandalkan dirimu sendiri...” Whu mendekat dan memukul kepala Agus pelan.
“Setidaknya berlatihlah dengan tongkat yang lain...” Whu kembali memukul kepala Agus.
“Jika dalam situasi pertarungan betulan, kalau kau hanya mengandalkan tongkatmu, kau bisa kalah...” Whu memukul kepala Agus lagi.
Agus hanya bisa diam, mau sampai kapan kepalanya dipukul seperti ini?
“Kau akan kuajari cara menjadi lebih kuat dari teman-temanmu...” ujar Whu. Agus tak bergeming setelah Whu mengatakan itu.
“Kau boleh saja memiliki praktik yang tinggi, tetapi ada yang lebih tinggi darimu saat ia memegang senjata itu...” Whu berhenti memukul kepala Agus dan ia berbalik.
“Namanya adalah... Kera Sakti Shoun yang berhasil melampaui Self Forging tingkat ke-15 dan menjadi praktisi Immortal World...”
***
Ray mengetuk pintu rumah Agus dengan sedikit lebih keras, ia tak yakin ketukannya yang kedua puluh bisa memanggil Agus keluar.
Ray menggaruk kepalanya, ia sendiri sudah lapar dan ia disuruh memanggil Agus oleh Tianyun.
Tianyun terlihat berkuasa disini, tetapi nyatanya ia bahkan tak ada bedanya dengan yang lain jika di hadapan Zon.
Diantara mereka, hanya Zon dan Tianyun yang bisa diandalkan kalau Pulau Giok Putih diserang lagi oleh Aliran Hitam.
Lalu, dari tujuh pedang yang disebutkan mampu membuka dimensi lain, Ray sudah memiliki tiga. Yaitu Black Dragon Sword, Red Flame Sword, dan Blue Thunder Sword. Masih ada empat lagi.
Selain berlatih, Ray juga meminta beberapa jurus elemen api pada Zon. Ray merasa kalau ia kekurangan jurus elemen.
Untuk jurus senjata, Ray memintanya pada Tianyun yang memang dikenal sebagai ahli pedang terhebat.
Ray kembali mengetuk pintu rumah Agus. Masih tak ada jawaban.
Menyerah, Ray akhirnya berjalan pergi untuk mengatakan pada dua gurunya kalau Agus sedang berlatih.
Tanpa Ray ketahui, Agus memang berlatih, tetapi di dimensi yang lain.