"Menarik...!" seringai misterius seorang Ardiaz menghiasi wajah tampannya.
"Jangan panggil gue Ardiaz, kalau untuk mendapatkannya saja gue nggak bisa!!" imbuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
"Lo kemana aja kemarin? Chat gak dibalas, telepon gak diangkat." tanya Rasya saat melihat Ardiaz sudah duduk di bangkunya, ketika dia memasuki kelas.
"Ada apa memangnya?" balas Ardiaz.
"Kita khawatir sama lo." sahut Lutfi. "Habis dari kantin lo gak kelihatan lagi. Gak ada kabar pula. Gak biasanya kan lo begini." imbuhnya sambil duduk di sebelah Ardiaz.
Ardiaz menghela nafas, sambil bersandar pada sandaran bangkunya.
"Gue gak pa-pa." jawaban yang benar-benar tidak sesuai harapan Rasya dan Lutfi.
Rasya dan Lutfi hanya bisa saling pandang, lalu sama-sama mengangkat bahu.
"Nyokap Chiko ngundang kita ke rumah. Katanya ngajak makan bersama, syukuran atas kesembuhannya." ujar Lutfi kemudian.
"Kapan?" tanya Ardiaz.
"Sudah sih kemarin. Lo aja sok sibuk gak bisa dihubungi." balas Rasya sedikit kesal.
Lutfi menepuk-nepuk pundak Rasya, agar tidak sampai lepas kontrol.
"Nyokap Chiko nitip salam buat lo." kata Lutfi.
"Em. Thanks." balas Ardiaz sangat singkat.
"Lo sebenarnya lagi kenapa sih, bro...?" tanya Lutfi kemudian.
"Iya, lo juga kayaknya marah banget sama Starla waktu di kantin. Terus ada yang bilang lo berantem lagi sama dia tadi." Rasya menimpali.
"Tidak usah bahas dia." sahut Ardiaz dengan suara datar. Lalu melirik kedua temannya dengan tatapan tajam.
"Apa gue minta bantuan anak-anak saja, buat menyelidiki dan kasih pelajaran omnya Alea?"
"Kenapa lo natap kita kek gitu?!" Lutfi menyenggol lengan Rasya.
"Gue rasa, gue butuh bantuan kalian dan anak-anak." gumam Ardiaz.
"Wow...! Yakin, lo...?!" celetuk Rasya heboh sendiri. "Angin apa yang bikin lo butuh bantuan kita?"
Lutfi hanya geleng kepala. Meski dia paham maksud Rasya mengatakan itu. Karena selama mereka berteman, belum ada sejarahnya seorang Ardiaz minta bantuan mereka.
"Memangnya lo butuh bantuan apa dari kita?" tanya Lutfi.
"Ini soal Alea." balas Ardiaz dengan tatapan lurus ke depan.
Rasya dan Lutfi sedikit merasa ngeri mendengar intonasi yang tak biasa saat Ardiaz menyebut nama Alea.
___
Pada akhirnya Ardiaz menceritakan pertemuannya dengan Alea pada Lutfi dan Rasya. Juga sedikit latar belakang Alea.
"Bagaimana kalau Alea benar-benar ngalami gangguan mental?" celetuk Rasya sambil menatap Ardiay dan Lutfi bergantian.
Spontan saja Lutfi menginjak kaki Rasya yang kelepasan dalam bereaksi.
"Aah...!! Sakit ogeb...!!" Rasya terlihat menghentakkan kakinya sambil melotot ke arah Lutfi.
"Itu hanya akal-akalan omnya saja. Bibi yang mengasuh dia sejak kecil mengatakan kalau Alea sehat." balas Ardiaz.
"Lalu apa yang musti kita lakukan?" tanya Lutfi.
"Gue pengen lo semua bikin kapok orang yang mata-matai gue dan keluarga gue. Dan kayaknya..., salah satu dari mereka saat ini juga sudah standby di sekitar sekolah kita." balas Ardiaz.
"Yakin lo?!" sahut Rasya.
"Yups!" kata Ardiaz dengan penuh keyakinan. "Sejak keluar dari rumah, ada satu mobil yang selalu searah sama gue. Bokap gue juga bilang, kalau ada mata-mata di sekitar rumah sejak kemarin. Sepertinya mereka memang masih yakin kalau Alea masih ada sama gue." terangnya.
"Gue jadi penasaran sama Alea lo ini, bro." sahut Rasya menatap Ardiaz. "Hal istimewa apa yang ada pada Alea, sampai mereka segitunya ingin Alea kembali? Bukankah harusnya sudah enak ya, Alea pergi. Mereka bisa leluasa menguasai rumah Alea." begitu pikir Rasya.
"Entahlah. Tapi bokap gue bilang, sepertinya orang tua Alea bukan orang sembarangan." balas Ardiaz.
"Dari cerita lo, gue rasa mereka memiliki kendala dalam menguasai aset mendiang ortu Alea tanpa adanya Alea. Jadi mereka butuh Alea sekarang." begitu yang dapat disimpulkan oleh Lutfi.
"Kalau memang begitu, kenapa mereka malam itu mau jual Alea ke club malam?" sahut Rasya seakan menyangkal pendapat yang disampaikan oleh Lutfi.
"Bisa jadi mereka baru tahu, kalau untuk menguasai semuanya harus ada tanda tangan Alea misalnya. Atau mungkin uang yang ditinggalkan menipis, dan hanya Alea yang bisa mencairkannya. Atau bisa juga hanya Alea yang mengetahui apa saja aset milik ortunya." celoteh Lutfi.
"Apapun itu, saat ini gue cuma pengen mata-mata sialan itu kapok dan mundur. Biar gue dan bokap gue bisa leluasa menjalankan strategi." ujar Ardiaz.
"Itu bisa diatur, bro." balas Lutfi.
"Semoga saja mereka bisa diandalkan. Bisa jadi vampir gue kalau setiap malam begadang mikirin dia. Dan terus nungguin kabar darinya. Lagian itu cewek juga ngapain aja sih di sana? Sampai gak balas-balas chat gue." umpat Ardiaz dalam hati.
"Tapi, tunggu dulu!!" sahut Rasya.
Kali ini Rasya mengangkat tangannya, lalu berlahan mencondongkan tubuhnya ke arah Ardiaz dengan sorot matanya yang tajam, seakan mengorek sesuatu dari dalam diri sahabatnya itu. Tentu saja hal itu membuat Ardiaz kaget, sehingga dia sedikit menjauhkan wajahnya dari Rasya.
"Lo sampai segininya belain Alea. Yang jelas-jelas bukan siapa-siapa lo. Pasti ada apa-apa ini. Ngaku lo?!" ujar Rasya yang masih fokus menatap Ardiaz.
"Ada apa-apa gimana..., maksud lo...?!" balas Ardiaz yang mulai tak nyaman.
"Itu karena nyokap gue. Dia terlanjur sayang sama Alea. Itu saja..." begitulah alibi Ardiaz.
"Oh..., nyokap...!" ujar Rasya dan Lutfi sambil saling lirik.
Senyum tipis penuh arti menghiasi wajah kedua teman Ardiaz. Ya, mereka menyadari sesuatu yang terjadi pada Ardiaz. Tapi mereka memilih untuk diam, sampai Ardiaz bersedia mengungkapkannya.
___
Sepulang sekolah...
Ardiaz melihat spion mobilnya. Dia curiga mobil di belakangnya tengah mengikutinya. Pasalnya mobil itu terus berada di belakang mobilnya sejak keluar dari sekolah.
"Di rumah diikuti, di sekolah diikuti. Bener-bener nih, orang!!" gerutu Ardiaz.
Kemudian Ardiaz menelepon Lutfi dan memberitahu apa yang terjadi. Dia juga menyebutkan nomor mobil penguntit itu. Ardiaz yakin sekali Lutfi dan Rasya akan melakukan sesuatu pada orang itu. Sehingga Ardiaz dengan santainya mengemudikan mobilnya menuju kantor papinya.
Entah apa yang sudah teman-temannya lakukan. Sehingga Ardiaz tak lagi melihat mobil mencurigakan itu, saat hampir tiba di kantor papinya. Tapi dia tidak peduli dengan apapun yang mereka lakukan. Dia hanya dia bergerak dengan leluasa kemanapun.
Tiba di gedung bertingkat tinggi milik papinya, Ardiaz segera menuju ke lobi.
"Papi ada mbak Nov?" tanya Ardiaz pada seorang pegawai bernama Novi.
"Ada, mas. Pak Arlan pesan kalau masnya datang di suruh langsung ke ruangan saja." ujarnya.
"Baiklah. Terimakasih." balas Ardiaz.
"Sama-sama, mas." kata Novi sambil sedikit menganggukkan kepala.
Ardiaz belum sampai di depan ruangan papinya, tapi dia sudah melihat sosok yang sangat dia banggakan itu keluar dari ruangannya.
"Kamu sudah datang. Ayo kita pergi sekarang!" kata Arlan.
"Kemana, pi...?" tanya Arlan.
"Bertemu pengacara Roger." jawabnya pelan tapi cukup tegas.
"Secepat ini papi menemukannya? Apa dia pengacara yang sangat terkenal, ya...?!" pikir Ardiaz sambil mengikuti langkah papinya.
"Luar biasa lo, AL...! Lo bisa banget membuat mami dan papi gue sepeduli ini sama lo." batinnya lagi.
......................