Celine selalu menyukai Ares. Dia mengabadikan seluruh momen laki-laki itu di sebuah buku kecil. Ratusan foto. Lalu kini buku itu hilang, menyisakan perasaan khawatir yang menghantui Celine setiap malam.
Celine hanya tidak tahu, buku itu berada di tangan Ares. Di simpan baik-baik, menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Celine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suziehloranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duduk Berdua di Kolam Ikan
"Sampai di sini pelajaran kita hari ini, jangan lupa tugasnya dikerjakan. Baik semuanya, selamat siang."
"Selamat siang Bu!" Serempak murid menjawab.
"Kantin yuk, lapar ini," tukas Berlian sembari membereskan alat tulisnya.
"Duluan aja, nanti aku nyusul kalau sempat. Ada urusan bentar, mau ketemu seseorang," kata Celine, ia menyimpan ponselnya ke saku rok, lantas bangkit berdiri.
Berlian penasaran. "Nggak biasanya, mau ke mana emang? Ikut dong, gak banget deh makan di kantin sendirian. Kalau urusanmu udah selesai baru kita gas nyari jajan!" Gadis itu mengulas senyum, tapi Celine membalas dengan gelengan kepala.
"Mau ketemu orang penting, udah ah! Maaf nih ye, aku pigi dulu!" kata Celine, ia bergegas pergi sebelum Berlian mengejarnya.
Kami udah kayak backstreet aja, tapi biar deh rahasia dulu hubungannya.
Celine berjalan menuju belakang sekolah, ke kolam ikan, setelah pelajaran berakhir tadi Ares mengiriminya pesan untuk datang. Bagi Celine ini bukan pertemuan biasa, melainkan kencan pertama mereka setelah resmi berpacaran. Hatinya menghangat.
Ketika dia sampai, langkahnya berhenti di belakang Ares yang sedang memperhatikan gerakan ikan di dalam air. Ia kemudian menoleh begitu menyadari keberadaan orang lain, Ares menipiskan bibir.
"Duduk sini, sebelah aku," kata Ares lantas menepuk rerumputan di sebelahnya.
"Iya." Celine duduk, ikut memperhatikan kolam. Pemandangan di sini memang indah, perempuan itu dibuat takjub.
"Ini tuh tempat favorite aku," kata Ares kemudian melemparkan remahan roti ke kolam, seketika beberapa ikan berkerumun. "adem gitu, bisa nenangin."
Celine mengangguk, matanya berbinar begitu melihat ikan koi merah yang menari-nari di dalam air, kakinya kemudian turun ke bawah berayun-ayun di sana, menciptakan cipratan kecil. Sejenak Ares terpana melihat tawa yang mengalun ketika Celine merasa tergelitik, ikan-ikan mengigit kulit mati di kakinya.
"Berasa pedicure, ugh haha!" kata Celine, ia kemudian menarik kembali kakinya.
"Bagus banget tempatnya," puji Celine.
"Waktu itu kan udah pernah ke sini, baru nyadar?" Ares menaikkan sebelah alisnya, bukan bermaksud menggoda tapi Celine dibuat kelabakan. Gadis itu tertawa canggung, menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Iya haha, baru nyadar."
"Aku pengen cerita, kamu mau dengar nggak?" Celine langsung menoleh. "Kurasa aku harus bilang, biar nanti kamu gak berandai-andai punya pacar dengan kriteria tinggi."
"Bilang aja,"
Laki-laki itu menarik napas panjang.
"Kamu pernah dengar kan aku ini sebatang kara, orang tuaku gak tahu masih ada apa enggak," tuturnya, ada kesedihan di nada suara Ares, hal itu juga membuat dada Celine sesak.
"Aku tahu." Celine mencoba mengerti, ia inisiatif meraih telapak tangan Ares yang mulai kaku. Tampak ada gejolak kesedihan di balik sorot mata laki-laki itu.
Ares melanjutkan, "Aku nggak bisa menuhi semua wish list kamu, gak bisa ngajak kamu ngedate di tempat yang lagi rame. Finansialku terbatas, makanya sejak awal aku takut ngajak pacaran,"
Matanya tertunduk.
"Aku takut kamu malah gak senang kalau udah samaku."
Celine tersenyum tulus, ia elus pelan tangan Ares. "Kita pacaran aja aku udah syukur banget, makasih ya udah mau jujur. Aku nggak nuntut ini itu kok, kamu juga pasti punya kesibukan nanti. Sebatas jalan di trotoar aja aku udah senang, asal sama kamu." Ucapan itu terlontar begitu saja, tanpa pertimbangan, seolah sudah tertahan sejak lama.
"Makasih," kata Ares. "boleh aku bersandar sebentar, mau tidur, rasanya berat banget kepalaku."
"Oh iya." Celine gugup kala Ares menyandarkan kepala di bahunya, ia mengepalkan kedua tangannya berusaha bersikap normal. Sayangnya Ares menyadari hal itu, dia tertawa kecil.
"Jangan grogi banget, bukannya ini hal biasa buat orang pacaran?"
"Aku gak gitu!" kata Celine mengelak, ia mengambil ponselnya berusaha mengalihkan perhatian dengan aktivitas di benda pipih itu. "Kamu tidur aja, matamu kayak lelah banget. Lagi banyak pikiran, ya?"
"Banyak banget ..." gumam Ares lalu menutup matanya, anak rambut Celine menerpa wajahnya. "semalam ada lagi desain baru yang harus dibuat."
Aktivitas Celine berhenti, matanya menyusuri wajah laki-laki itu, ada kerutan samar di sana. "Kamu begadang, ya?" tanyanya. "Semalam waktu habis dari pasar malam nggak langsung tidur?"
"Ya gimana mau tidur, aku banyak kerjaan. Nanti kalau dibiarin gak makan, haha." Ares tertawa, ia membuka matanya. Mereka kini bertatapan, sudut bibirnya melengkung ke atas.
"Kalau gitu kenapa semalam ngajakin ke pasar malam, lain kali juga bisa," kata Celine. "Tengok sekarang hasilnya."
"Makasih udah khawatir, tapi kalau nunggu hari yang baik, kesalahpahaman ini akan terus berlanjut. Gak papa deh capek dikit yang penting kita udah bisa bareng." ungkapnya.
"Iya, sih, tapi kan ..." Gadis itu memalingkan wajah, sikap Ares yang manis membuatnya gugup.
Ares tertawa lepas ketika melihat ekspresi konyol Celine, sampai-sampai dia memegangi perutnya. Perempuan di depannya tercengang, tak pernah menyangka Ares bertingkah seperti itu di hadapannya, ia mengulas senyum tipis.
Dari arah selatan seseorang memperhatikan interaksi mereka berdua, Jasmine terpaku di tempat. Bekal yang ia genggam jatuh bebas ke hamparan rumput, tak ada yang mendengar karena Celine dan Ares sibuk dengan dunianya.
Gadis itu mengedipkan matanya berulang kali, berusaha menyakinkan dirinya, bahwa apa yang ia lihat hanya halusinasi. Bibirnya melengkung ke bawah dengan sorot mata yang tertunduk, tangannya terkepal kuat.
"Itu bukannya kakak kelas yang aku temui di kafe waktu itu?" gumamnya. "Kok bisa bareng Ares, mereka kayak dekat banget."
Awalnya Jasmine datang ke sini untuk menemui Ares, karena dia berpikir suasana hati laki-laki itu sedang tidak baik. Di tempat favoritnya pasti lebih bagus diajak ngobrol, mana tahu tadi cuman tersulut emosi, pikirnya. Namun apa yang ia lihat membuatnya bungkam, dia pikir Celine hanya sebatas teman sekelas Ares yang tak dekat. Akan tetapi kini mereka duduk berdua di tepi kolam, sembari bercanda ria.
Persis seperti pasangan.
Jasmine merasa telah dikhianati, waktu itu ia dengan sukarela mencurahkan isi hatinya pada perempuan itu.
"Dia tahu aku suka Kak Ares, makanya jadi gini?"
Salut banget sih author lucu gemes