Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.
Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.
Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.
Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Ayo menikah!
Ana terbangun saat sinar matahari menerobos masuk melalui kisi-kisi jendela kamarnya. Selama beberapa detik ia bingung menatap sekelilingnya, tak tahu sedang berada di mana. Beberapa saat kemudian barulah Ana tersadar dan tersenyum lebar.
Disibaknya selimut yang menutupi tubuhnya, lalu menatap jam di dinding. Matanya membulat sempurna begitu melihat jarum jam hampir menunjuk angka 7. “Mati Aku!”
Ana bergegas bangun dan segera membersihkan diri. Setengah jam kemudian ia keluar dari kamarnya dengan penampilan rapi. Rok hitam selutut dipadu kemeja putih dibalut blazer warna hitam. Rambut panjangnya diikat ekor kuda, wajah putihnya dipoles bedak tipis-tipis. Bibirnya yang ranum tampak merah alami.
“Selamat pagi, Tuan.” Sapa Ana sambil tersenyum. Hugo yang tengah sarapan pagi mendongak, sebelah alisnya terangkat melihat penampilan Ana dan balas tersenyum.
“Apa tidurmu nyenyak?” mata Hugo menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ana merasa lelaki itu sedang menilainya. Hanya sesaat, lalu pandangan Hugo beralih ke makanan di depannya lagi.
“Maaf, Tuan. Aku kesiangan bangun,” ujar Ana mengabaikan pertanyaan Hugo. Ia lalu berdiri di dekat laki-laki itu, menunggu perintahnya.
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” kata Hugo lagi.
Ana mengangguk, “Nyenyak sekali, Tuan.”
Hugo tersenyum samar, pagi ini Ana kelihatan lebih segar. Pakaian yang dikenakannya pun tampak pas di tubuhnya. Hugo memberi dua pilihan untuk seragam kerjanya, dan Ana setuju mengenakan pakaiannya yang sekarang ketimbang model satunya. Hugo pikir, dengan begitu Ana tak perlu repot lagi harus mengganti pakaian saat keluar rumah untuk satu urusan.
“Kau juga harus sarapan.” Hugo mengangkat gelas minumnya yang kosong. Ana langsung sigap mengisinya. Seperti biasa, Hugo selalu minum air putih hangat saat sarapan pagi. Roti tawar kesukaannya dibalur dengan selai kacang coklat, lalu dipotong kecil. Ana ingat dengan baik setiap detail kebiasaan Hugo.
Ana menarik kursi di depan Hugo, mereka duduk berhadapan. Ana lalu mencomot roti tawar di atas meja dan mengolesnya dengan selai srikaya. Hugo duduk mengawasi, ia menahan senyum. Ana tampak lahap menyantap rotinya, dan tidak merasa canggung saat makan bersama dengannya satu meja seperti sekarang.
“Ingat, siang nanti Kau harus datang ke kantor pengacara Mayapada. Aku akan suruh sopir untuk menjemputmu dan mengantarmu ke sana.”
“Siap, Tuan.” Jawab Ana singkat, masih mengunyah makanannya. Ia ikut berdiri saat Hugo beranjak dari kursinya. Wajah laki-laki itu tampak kebingungan, menoleh ke kanan kiri sambil memeriksa saku baju dan celananya. “Ada apa, Tuan? Tuan cari apa?”
“Hp Aku. Padahal tadi Aku kantongin, kok gak ada?”
Ana menyambar gelas minumnya dan meneguknya cepat, ia seka mulutnya dengan punggung tangannya. Hugo yang melihatnya langsung mengernyitkan dahi. “Pakai tisu, Anaa?” tegurnya kemudian.
“Maaf.” Ana meraih tisu di atas meja, dan kembali menyeka mulutnya. “Biar Aku cari di kamar Tuan, mungkin ketinggalan di sana.”
Tanpa menunggu jawaban laki-laki itu, Ana melesat cepat dan berlari menaiki anak tangga. Lima menit kemudian ia kembali dengan ponsel di tangannya. “Ini Tuan, hpnya.”
“Terima kasih,” sahut Hugo, sejenak menatap Ana heran. Bagaimana ia bisa berlari secepat itu, dan kembali dengan wajah tetap segar tanpa keringat sedikit pun.
Ana meringis, menoleh ke arah lain tak berani beradu pandang. Setengah mati ia menahan napas agar terlihat tetap tenang, padahal jantungnya berdegup kencang setelah berlari cepat barusan.
Jam delapan tepat Hugo berangkat ke kantornya, mereka akan bertemu siang nanti di tempat pengacara Mayapada untuk menghadiri pembacaan wasiat papa Fitra.
Ana menarik napas lega, lututnya goyang. Ia lalu menarik kursi di dekatnya dan menjatuhkan bo kongnya di sana. Ia usap keringat yang mengalir di pelipisnya. “Untung masih di rumah, kalau ketinggalan di tempat lain. Gimana carinya, dia orangnya pelupa?”
Jam dua siang, atas perintah Hugo, pak Gani datang menjemput Ana di rumah. Sesuai kesepakatan, mereka bertemu di kantor pengacara Mayapada. Dalam perjalanan ke sana, Ana terus berpikir. Kenapa papa Fitra memberinya warisan, padahal mereka tidak ada hubungan darah dan Ana hanya bekas anak menantu di keluarganya. Ia juga tidak punya anak dari pernikahannya dengan Hugo, tidak ada yang mengikat mereka.
Apa papa kasihan padanya, atau papa benar-benar ingin mewujudkan janjinya yang pernah ia ucapkan pada Ana waktu itu? Ana pusing sendiri memikirkannya, ia takut kalau Hugo salah paham lagi dengannya. Ia senang tinggal di rumah besar itu, suka dengan suasana sekitarnya. Tapi tak pernah bermimpi ingin mengambilnya dari Hugo sang pewaris utama.
Ana tenggelam dalam lamunannya sendiri, hingga tak menyadari mobil yang membawanya pergi sudah sampai di tempat tujuan. Ia tersadar saat pak Gani membukakan pintu mobil untuknya.
“Nona, kita sudah sampai.”
Ana menatap bangunan tiga lantai di depannya itu, tulisan besar kantor pengacara Mayapada terpampang jelas di sana. “Terima kasih, Pak.”
Ana bergegas turun, di depan pintu masuk sudah ada pria muda berpakaian rapi yang berdiri menyambutnya. “Nona Ana, silakan ikuti Saya.”
Pria itu membawa Ana memasuki sebuah ruangan besar, di depan sana ada pintu besar yang tertutup rapat. Sepertinya itu ruangan pengacara Sony, terlihat papan namanya tertempel di pintu masuk.
“Silakan, Nona. Mereka sudah menunggu di dalam.” Pria itu membuka pintu di depannya dan membukanya lebar. Ana tersenyum ramah sambil mengucap terima kasih. Pria itu tak langsung pergi, setelah Ana melangkah masuk, ia menutup kembali pintu di belakangnya.
“Selamat siang,” sapa Ana pada seisi ruangan yang langsung menoleh padanya secara bersamaan. Ada lelaki setengah baya yang mirip sekali wajahnya dengan papa Fitra, juga wanita paruh baya hadir di antara mereka. Mereka berdua mengangguk dan tersenyum saat melihat kedatangan Ana.
Hugo yang duduk menyilangkan kaki di sofa panjang, langsung menurunkan kakinya dan menepuk tempat kosong di sampingnya. Ana menurut, mereka duduk berdampingan.
Setelah berbasa-basi sebentar menanyakan perihal tempat tinggal Ana yang sekarang, yang dijawab dengan lugas oleh Ana, kedua pengacara itu mulai pada inti pertemuan. Surat wasiat papa Fitra mulai dibacakan.
Ana dan Hugo mendengarkan dengan saksama, ada aset milik papa Fitra yang disumbangkan untuk amal. Rumah yayasan tempat tinggal anak-anak terlantar dan orang tua jompo akan dibalik nama sesuai dengan nama sang ketua yayasan di sana. Sepertinya wanita paruh baya itu sekarang pemiliknya.
Lalu perusahaan jasa yang selama ini dijalankan oleh sang paman, adik papa Fitra, akan sepenuhnya diserahkan padanya. Semua sudah pernah dibicarakan saat papa masih ada, dan Hugo juga mengetahui hal itu. Ia tak menyanggah karena tahu bagaimana usaha keras sang paman dalam menjalankan perusahaan. Sepertinya lelaki setengah baya di depan itu orang yang dimaksud.
Tiba giliran Ana dan Hugo, kedua orang yang bersama mereka tadi sudah keluar ruangan. Hugo tampak tegang, dan Ana terus mere mas tangannya. Ia berusaha tetap tenang meski bulir keringat sudah tampak di wajahnya.
“Saudari Ana akan mendapatkan dana perwalian sejumlah milyaran rupiah, juga rumah besar di wilayah barat yang ditempati oleh Tuan Hugo Denis saat ini. Dan Tuan Hugo Denis akan mendapatkan sejumlah perusahaan grup Mayapada, dengan syarat ...”
“Apa syaratnya?” tanya Ana dan Hugo serempak.
“Kalian berdua harus menikah secara sah menurut hukum dan tinggal bersama dalam kurun waktu paling sedikit enam bulan.”
“Menikah?”
“Anda serius?!”
“Kami sangat serius. Oke, Saya lanjutkan. Ini belum selesai dibacakan!” pengacara Sony menatap tajam kedua orang di hadapannya itu. “Jika salah satu dari kalian memutuskan untuk berpisah dan pergi sebelum jangka waktu enam bulan berakhir, siapa pun yang ditinggalkan berhak mendapatkan warisan yang sudah dijanjikan. Kalian bisa lihat, Saya tidak mengada-ada. Semua sudah diatur sedemikian rupa oleh tuan Fitra.”
Hugo menarik lembar wasiat di tangan Sony, membacanya dengan teliti. Ia mengepalkan tangannya, dan surat wasiat itu mengerut di tangannya. “Aku tidak akan membiarkan apa yang sudah menjadi milikku selama ini hilang begitu saja.”
Ana syok, tak mampu berucap apa-apa. Menghela napas saja rasanya susah. Ia tahu Hugo pasti kesal dengan keputusan papanya itu. Jumlah warisan yang diterimanya sangat besar, jauh lebih besar dari dana bantuan yang sudah diberikan Hugo pada ibu Astrid.
“Tidak ada jalan lain, jika itu memang keinginan papa. Baiklah!” Hugo meraih lengan Ana dan menyentaknya kuat hingga mengejutkan gadis itu, tubuhnya kini merapat di rengkuhan kuat lengan Hugo. “Ayo, menikah!”
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹