NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:101
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Pesta untuk yang Tertolak

"Selamat datang. Sekarang aturan sudah berubah."

Fajar mengucapkan kalimat itu entah untuk keberapa kali di depan pintu Klub Utama Surabaya. Jasnya rapi pada awal malam, tetapi satu jam kemudian dasinya mulai miring, dahinya berkeringat, dan senyumnya tetap lebar. Di tangannya ada daftar nama orang-orang yang dulu ditolak: pengusaha teknologi, dokter muda, pemilik bengkel besar, seniman, pemilik percetakan, guru yayasan, bahkan seorang mantan atlet nasional.

Beberapa datang dengan wajah tidak percaya.

Seorang pria berusia lima puluh berhenti di ambang pintu. "Saya pernah ditolak tiga kali. Anak saya bilang saya bodoh karena masih ingin masuk."

Fajar menunjuk ke dalam. "Malam ini Bapak masuk sebagai tamu kehormatan. Kalau ada yang bikin Bapak tidak nyaman, lapor saya. Saya suka terlihat sibuk."

Pria itu tertawa kecil, lalu matanya basah.

Raka berdiri di aula utama. Tidak memakai jas paling mahal. Ia memakai batik gelap yang dipilih Bibi Lestari. Hendra berdiri di sampingnya, lebih diam dari biasa. Bayu berada dekat meja dokumen, memastikan semua undangan tercatat sebagai tamu resmi. Komite lama kehilangan celah untuk memperdebatkan status mereka.

Pak Harjono hadir. Ia berdiri di sisi pintu dalam, menyambut dengan wajah kelabu. Setiap kali nama lama disebut, ia seperti menelan batu kecil. Raka tidak menyuruhnya meminta maaf satu per satu. Malam itu cukup membuatnya melihat wajah dari keputusan yang dulu ia tulis sebagai arsip dingin.

Acara dimulai ketika tiga puluh satu dari empat puluh tujuh undangan hadir. Lebih dari cukup untuk membuat ruangan tua itu bernapas berbeda.

Raka naik ke panggung kecil.

"Klub ini berdiri seratus tahun," katanya. "Seratus tahun bisa berarti kehormatan. Tapi bisa juga berarti kebiasaan buruk yang terlalu lama diberi nama tradisi. Mulai malam ini, Klub Utama tidak lagi menilai orang dari silsilah. Kita menilai dari integritas, kontribusi, dan cara seseorang memperlakukan orang lain ketika tidak ada kamera."

Tepuk tangan pertama datang dari seorang wanita pemilik usaha batik yang dulu ditolak karena bukan rekomendasi keluarga lama. Lalu menyusul yang lain. Dalam beberapa detik, aula yang biasanya penuh bisik-bisik tua berubah menjadi suara yang jujur.

Hendra mengangkat gelas.

"Tiga puluh tahun lalu, saya juga ditolak di sini," katanya tanpa mikrofon, tetapi cukup keras. "Waktu itu saya bersumpah akan menjadi cukup kaya untuk tidak peduli. Ternyata malam ini saya peduli lagi, karena ada orang yang tidak hanya ingin masuk, tapi mengubah pintunya. Raka, aku bangga berdiri di sini karena kamu."

Raka melihat mata Hendra basah. Untuk pria yang biasanya bicara angka dan proyek, itu lebih berat daripada pidato panjang.

Pak Wira dari dunia antik hadir membawa hadiah kecil: buku tua tentang koleksi Nusantara. Ia berkata bahwa klub yang membuka pintu akan mendapatkan cerita baru. Bayu langsung memastikan hadiah itu tercatat, membuat Pak Wira tertawa.

Di sisi lain ruangan, beberapa anggota komite lama berbicara pelan. Mereka tidak suka. Mereka merasa tempat yang dulu menjadi tanda pembeda kini terlalu ramai oleh wajah baru. Tetapi mereka tidak punya angka mayoritas, tidak punya narasi publik, dan tidak punya keberanian melawan pemilik baru di malam yang penuh saksi.

Raka tidak memaksa mereka tersenyum. Ia hanya memastikan mereka melihat bahwa kualitas tidak runtuh ketika pintu dibuka. Justru ruangan itu terasa hidup untuk pertama kalinya.

Fajar akhirnya duduk di dekat dapur sambil memegang teh.

"Bos, aku sudah menyambut lebih banyak orang daripada resepsionis hotel. Gajiku naik?"

"Kamu sudah minta naik sejak jadi manajer balap."

"Karena jabatan tambah terus."

"Nanti kita cetak kartu nama: Fajar Nugroho, segala urusan yang merepotkan."

Fajar tertawa keras.

Mimpi memberi notifikasi saat acara hampir selesai.

[Milestone Pengaruh Sosial tercapai.]

[Hadiah: 8.000 poin. Gelar: Pembaharu. Ramuan Karisma Menengah diperoleh.]

Raka menerima hadiah itu dalam diam. Gelar bukan untuk dipamerkan. Efek sosialnya terasa lebih penting: orang-orang yang dulu ditolak kini pulang membawa cerita bahwa PT Langit Sembilan tidak hanya membeli aset, tetapi mengubah aturan.

Di balkon klub, Hendra berdiri di samping Raka memandang lampu kota.

"Dari pelayan restoran ke pemilik klub tua," kata Hendra. "Kalau aku tidak melihat sendiri, aku mungkin menuduh cerita ini terlalu berlebihan."

"Saya juga kadang begitu."

"Jangan kehilangan rasa tidak percaya itu. Orang yang terlalu cepat merasa pantas biasanya mulai busuk."

Raka mengangguk.

Ponselnya berdering. Nomor asing.

Suara perempuan terdengar manis, tetapi lapisan niatnya terlalu licin.

"Pak Raka? Saya Mega Putri. Influencer nomor satu di Jawa Timur. Saya dengar Anda akan mendukung festival budaya terbesar Surabaya. Saya mau kolaborasi."

Fajar, yang sudah memeriksa nama itu, membuat wajah aneh.

"Bos," bisiknya, "follower lima juta. Reputasi... agak amis."

Raka menatap layar.

"Kirim proposal tertulis. Tidak ada klaim sebelum kontrak."

Di seberang, Mega tertawa kecil. "Wah, Pak Raka serius sekali. Kita bisa bikin sesuatu yang viral."

Di tengah acara, perempuan pengusaha batik yang pertama bertepuk tangan mendekati Bibi Lestari, yang datang sebagai tamu keluarga. Mereka berbicara tentang kain, jahitan, dan tangan yang lelah. Bibi awalnya malu karena merasa tidak pantas berada di klub tua itu, tetapi perempuan itu memuji batiknya dengan tulus. Raka melihat dari jauh dan merasa keputusan memakai batik Bibi malam itu tepat. Ia tidak membawa keluarganya untuk disembunyikan di sudut kemenangan.

Pak Harjono harus menyambut seorang dokter muda yang pernah ditolaknya karena tidak punya rekomendasi. Dokter itu tidak memaki. Ia hanya berkata, "Saya sudah membangun klinik sendiri sekarang. Lucu, ya, dulu klub ini merasa saya tidak cukup layak." Harjono tidak punya jawaban. Justru kesopanan dokter itu membuatnya terlihat lebih kecil.

Bayu menjaga agar acara tidak berubah menjadi ajang balas dendam liar. Semua pidato disaring, semua media diberi batas, dan undangan lama yang ingin menyerang pribadi Harjono diminta menahan diri. Raka ingin malam itu tentang pintu baru. Ia tidak memberi panggung bagi caci maki. Itu membuat banyak tamu menghormatinya lebih dalam. Ia bisa menghancurkan Harjono, tetapi memilih membuat aturannya mati di depan saksi.

Menjelang akhir, beberapa anggota lama yang semula sinis mulai berbicara dengan pengusaha baru. Mereka melihat peluang. Raka tidak keberatan. Dunia bisnis bergerak dari kepentingan. Yang penting, mulai malam itu, kepentingan mereka harus melewati aturan yang lebih adil.

Malam itu Harjono pulang lebih cepat, tetapi tidak ada yang mengejarnya. Hukuman terberatnya justru melihat klub tetap hidup tanpa kendali penuhnya.

Raka menjawab datar, "Saya tidak membayar orang untuk berbohong lebih menarik demi saya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!