Selamat membaca ...!
Navian Narendra Devandra seorang pengusaha sukses di bidang property, kehidupannya begitu sempurna, dia memiliki seorang istri yang cantik jelita seorang model papan atas, tetapi semua itu berakhir begitu saja, ketika istrinya Vianna Dewi memutuskan bercerai setelah melahirkan anaknya karena tidak ingin karirnya hancur karena tubuhnya menjadi jelek.
Dalam kekalutan, Navian dipaksa untuk menikah lagi dengan adik dari mantan istrinya yang bernama Tiara Dewi Violina, demi anaknya yang baru lahir tujuh bulan.
Apakah pernikahan mereka akan berujung cinta, atau malah kebencian yang akan terbangun?
Saksikan kisahnya hanya di sini, jika membaca tinggalkan jejak ya ges 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
This is just fiction.
••••••••••••••••••••••••••
Zicara menjatuhkan bokongnya di atas kursi tepat di samping Tiara yang masih terbelangah, sepertinya gadis itu benar-benar terkejut dengan kedatangan sahabatnya di kampus di mana dirinya akan menganyam pendidikan lagi untuk yang kedua kalinya.
"Ya aku jadi asdos dosen seni dong, emangnya kamu, udah sarjana, masih aja kuliah lagi," canda Zicara bersandar pada kursi yang tengah dia duduki bersama Tiara.
Sontak saja Tiara memuntahkan gelaknya, beberapa kali gadis cantik itu memukul punggung sahabatnya karena geram dengan candaan Zicara, tetapi gadis berambut ikal di bagian ujungnya itu malah ikut tertawa bersama Tiara.
"Ya lagian kenapa harus capek-capek kuliah lagi sih, kenapa enggak waktu itu aja sekalian kamu ambil management bisnis Ra, bikin beban hidupmu nambah tahu gak," ujar Zicara menarik tubuhnya dari posisi duduk menjadi berdiri seraya menarik Tiara untuk ikut berdiri bersamanya.
"Dulu kan aku dipinta Kak Vianna buat ambil fakultas PGSD, katanya aku tidak boleh sekolah terlalu tinggi, uang papa bisa habis, ya memang aku pikir, aku harus tahu diri, masih untung papa mau menyekolahkan ku sampai jenjang sarjana," terang Tiara menundukkan kepalanya sembari mereka menyusuri lorong gedung seni.
"Kenapa sih nurut banget sama kakakmu yang lebih cocok disebut iblis tahu gak, kamu berhak memilih pilihan kamu Ra, jangan terlalu nurut sama mama dan kakakmu itu, karena itu bukan kewajiban kamu, papa kamu aja memberikan semua yang kamu butuhkan, kenapa kamu malah membatasi diri kamu hanya karena keinginan Tante Viara dan Vianna, maaf aku gak mau manggil kakak ya," protes panjang Zicara yang sedari tadi melipat kedua tangannya di depan.
Tiara termangu mendengar omelan sahabatnya, entah yang ke berapa kali Zicara mencibir ibu dan kakak angkatnya itu, sudah tak mampu terhitung lagi, jika menuruti kata hatinya yang sudah jengah dengan kedua wanita itu, Tiara pun sangat ingin mengunyah tubuh Viara dan Vianna hidup-hidup.
Namun, gadis berumur 23 tahun itu sangat mencintai dan menyayangi Ridzwan, dia tak ingin menghancurkan keluarga papa angkatnya hanya karena dirinya, dengan alasan ini Tiara membiarkan Viara dan Vianna melampiaskan kemarahan buta mereka padanya.
"Aku tidak mau keluarga papa jadi berantakan hanya karena aku, kamu tahu kan Zica, aku di dalam rumah itu hanya anak angkat, kedua orangtuaku sudah bersama Tuhan, dan hanya meninggalkan rumah yang sekarang aku tinggali, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain papa Ridzwan," kata Tiara terkurung sendu, suaranya berderai lirih.
Zicara terhenti, embusannya terbuang kasar. Sebenarnya dia sudah sangat jengah dan rasanya ingin membalas semua perbuatan Viara dan Vianna pada sahabatnya ini, tetapi Tiara adalah sosok wanita yang lembut dan tak pernah menyimpan dendam pada siapapun.
Gadis berambut ikal itu menoleh dan menghadap pada Tiara, dia tangkup pipi tirus Tiara sampai wajah gadis yang mengikat rambutnya menyerupai ekor kuda mengerucut ke depan, Tiara mengerang mencoba melepaskan tangan Zicara dari kedua pipinya.
"Aarghh ... Zica, sakit ...," protes Tiara.
"Pokoknya kalau mereka datang dan membuat kamu terluka lagi, aku yang akan jambak rambut dua nenek lampir itu sampai kepalanya botak," ungkap Zicara geram.
Perlahan tangan Zicara meleleh dan menerbitkan senyuman di wajah Tiara yang lembut dan mulus, wajah gadis itu bahkan lebih mulus dan putih dibanding Vianna yang merupakan seorang top model, tubuh Tiara pun lebih proporsional karena Tiara memang suka berolahraga kala sang baskara belum menyusutkan sinarnya.
Tiba di kelas pertama yang dia masuki untuk hari ini, kelas pengantar ekonomi, di mana dosen utama untuk mata pelajaran ini adalah Marwan, papa kandung dari Navian, salah satu orang yang sangat dihindari oleh Tiara.
Kelas telah dimulai dari beberapa menit yang lalu, sedangkan Marwan belum juga tiba di ruangan kelas, keterlambatan Marwan membuat kegaduhan di dalam kelas, termasuk Tiara yang masih berdebaran menanti sosok yang dia kenali.
Om Marwan kemana ya? Tumben banget dia terlambat, biasanya selalu tepat waktu.
Seperti Kak Navian yang tidak suka orang yang ngaret, makanya dia gak suka aku, soalnya aku suka terlambat.
Batin Tiara berujar dan menyimpulkan sendiri sembari dia menopang dagunya, kemudian dia tersengih.
Navian dan Tiara adalah adik dan kakak kelas, saat Tiara masuk ke sekolah di mana Navian berada, itu artinya Navian dan Tiara terpaut umur hanya dua tahun saja, sama halnya dengan Vianna, karena Navian dan Vianna seumuran, ego mereka sama-sama keras.
Tiara sering telat masuk kelas karena dia harus menggunakan angkutan umum atau bahkan dia akan berlari untuk mencapai gedung sekolah karena keadaan jalanan yang macet, dan Navian adalah kakak kelas yang merupakan anggota osis yang memantau siswa-siswi mana aja yang telat ke sekolah.
'Kamu ini langganan telat ya, ngapain aja kamu di rumah, udah sana kerjakan hukumannya.'
Mengingat untaian kata Navian saat dia masih menduduki bangku SMA sontak membuat Tiara termangu dengan senyumannya yang kosong, sampai gadis itu tidak menyadari bahwa marwan telah tiba menduduki kursinya di depan, tepat di samping whiteboard besar, sedang di hadapan whiteboard itu ada infocus untuk keperluan presentasi.
Tak jauh dari keberadaan meja dosen, ada sebuah stroller bayi yang dibawa langsung oleh Marwan, pria berumur 45 tahun itu kembali mendekati stroller bayi yang di mana sang cucu tengah terlelap di sana.
"Selamat pagi rekan-rekan sekalian," sapa Marwan pada seluruh mahasiswanya yang berjumlah lebih dari enam puluh orang termasuk Tiara.
"Pagi Pak ...," sahut semuanya serempak, terkecuali Tiara, karena gadis itu masih terantuk pada ingatan masa SMA-nya saat dia masih bisa bertemu Navian setiap harinya.
"Sebelum pelajaran dimulai, saya mau minta maaf dulu pada kalian karena saya membawa cucu saya, karena di rumah tidak ada yang bisa menjaganya, anak saya bekerja di perusahaan bersama istri saya, sedangkan di rumah hanya ada asisten rumah tangga yang tentunya sedang mengerjakan berbagai macam pekerjaan, jadi saya terpaksa membawanya bersama saya," terang Marwan mengurai senyuman memelas agar mendapat izin dari seluruh mahasiswa.
"Tidak apa-apa Pak," sahut semuanya lagi secara bersamaan.
Kontan Tiara yang mendengar suara para mahasiswa itu segera mengerjap terbangun dari lamunan panjangnya, dia tegakkan tubuhnya, mengguncang kepalanya, matanya dia kedipkan berkali-kali sampai dia menyadari ada Marwan di bawah tengah memulai mata pelajarannya.
"Selamat pagi Tiara, kamu baik-baik aja Nak?" tanya Marwan membuat seluruh mata tertuju pada Tiara.
Degh!
Jantung Tiara berdebaran dengan kecepatan yang membuat tubuhnya lemas, tangan yang gemetaran segera dia sembunyikan ke bawah meja, peluhnya bercucuran di area telapak tangan, gugup melanda gadis itu dengan utuh.
"Pa-pagi O-om, baik, Tiara baik," jawab Tiara terbata-bata, netranya bergerak kesana-kemari tanpa arah dan tujuan, tatahan wajahnya yang cantik membeku di sana.
"Baguslah Nak, jaga kesehatan ya ...," lanjut Marwan membuat semua mahasiswa di sana kebingungan.
Sementara Tiara hanya mengangguk dengan gugup. Puluhan mata yang tak henti memandangnya membuat rasa terbata-bata yang dimiliki gadis itu membuncah tak terkendali. Seorang teman satu meja panjangnya yang tertanam kuat dengan lantai kelasnya terlihat bergeser mendekati Tiara.
"Kamu kenal profesor Marwan? Teman papa kamu ya Ra?" tanya salah satu teman wanitanya itu.
Tiara menoleh tanpa menggerakkan wajahnya karena merasa tidak enak dengan Marwan yang tengah menjelaskan mata pelajaran yang dia ajarkan. "Iya, makanya dia kenal aku, mertua Kakakku," jelas Tiara berbisik.
"Oh ... Pantesan aja." Wanita itu kembali ke posisinya semula.
Satu menit berlalu, dua menit, bahkan puluhan menit sampai akhirnya mata pelajaran yang dipimpin oleh Marwan selesai, itu artinya tiga jam sudah berlalu begitu lambat bagi Tiara, penjelasan yang diuraikan Marwan lebih banyak keluar dari benaknya.
Beruntungnya gadis itu masih bisa fokus untuk mencatat dan sesekali dia mencuri-curi waktu merekam Marwan selama mata pelajaran berlangsung. Ini adalah cara Tiara agar dia bisa lebih fokus menyerap mata pelajaran yang dijelaskan oleh Marwan.
"Oke, untuk tugas dikumpulkan dua minggu dari sekarang, tolong secepatnya dikerjakan, jika ada yang tidak dimengerti silakan hubungi saya di jam saya ada di kampus, karena jika sudah di rumah saya sibuk dengan mengurus cucu," ucap Marwan mengakhiri mata pelajarannya.
"Baik Pak, terima kasih."
"Silakan kalian keluar kelas, saya masih menunggu anak saya," pungkas marwan lagi sembari dia menyesar ke mejanya.
Tanpa bersuara, satu per satu mahasiswa yang mengisi kelas Marwan keluar dari ruangan kelas secara bergantian, tetapi Tiara masih terdiam di mejanya, dia memerhatikan teman-temannya keluar dari kelas tanpa beban, berbeda dengannya.
Bisa ngilang langsung aja gak sih tanpa harus melewati pintu atau jendela, mau langsung pergi, ya mana bisa, gak sopan Tiara ....
Batin Tiara mengutuk dirinya sendiri.
Namun, tidak ada pilihan lain, gadis itu segera bergerak cepat merapikan mejanya dan berlari kecil menuruni undakan yang sekaligus digunakan untuk meja dan kursi para mahasiswa/i, dia tinggalkan meja dan kursi panjang dengan warna coklat muda di sana.
Sebelum mengakhiri pertemuannya dengan kelas tersebut, Tiara sempat memberanikan diri untuk menemui Marwan sebagai bentuk sopan terhadap orang yang dia kenali, terutama Marwan adalah mantan mertua kakaknya.
"A-aku pulang dulu ya Om," pamit Tiara menjulurkan tangan kanannya.
...See you next part....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mampir juga di karyaku yaa
yuk mampir juga di karyaku
"Mencintaimu dalam DIAM"
Jangan lupa like, komen dan subscribe