Liam tidak pernah merasakan cinta sebelum bertemu dengan Lyra Maharani, perempuan yang masih terikat dengan masa lalunya hingga membuat Liam meradang lantaran cintanya tak kunjung disambut oleh Lyra.
"Menikahlah denganku." -Liam Malik
"Saya tidak bisa."-Lyra Maharani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalu Unaiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Waktu berjalan lambat, setiap hari yang dilalui begitu berat oleh Lyra berjalan seperti merangkak. beberapa hari yang lalu Sofia sudah pulang dari rumah sakit. Sekarang dia menjalani rawat jalan.
Karena kondisi Sofia yang masih harus terus dipantau, Lyra juga semakin sibuk, dia harus lebih sering memeriksa keadaan putrinya itu di sela-sela melakukan pekerjaannya. Meski lebih melelahkan dari sebelumnya namun dia lebih tenang karna dia bisa melakukan pekerjaanya sambil bisa merawat Sofia.
Lyra perlahan-lahan sudah bisa menyesuaikan diri dengan rutinitasnya dari pagi hingga malam. Pada hari pertama Sofia pulang, dia agak sedikit kewalahan. Putrinya itu tidak bisa ditinggal saat malam, mungkin karna terbiasa selalu ditemani saat di rumah sakit oleh Camila saat dia sedang tidak ada di sana.
Jam sepuluh seharusnya Lyra sudah ada di mansion untuk menjalankan tugasnya membantu Liam tidur, namun Sofia tidak bisa ditinggal, putrinya itu selalu terbangun kala menyadari Lyra hendak beranjak dari sampingnya.
Hal itu tentu saja membuat Liam sedikit kesal, laki-laki itu selama beberapa minggu ini sudah terbiasa tidur cepat. Namun dia harus mengalah bagaimana pun dia menekan Lyra, Sofia tetaplah prioritas utama perempuan itu.
Jadi dengan terpaksa jam tidur Liam tergantung jam tidur Sofia. Lyra baru bisa meninggalkan Sofia setelah memastikan gadis kecil itu tidak akan terbangun selama Lyra berada di mansion.
“Apa putrimu sudah benar-benar tidur?” Tanya Liam kala membuka pintu kamarnya untuk Lyra.
“Sudah Tuan,” jawab Lyra dengan yakin.
“Jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi,” ucap Liam masih terdengar kesal.
“Sekali lagi saya memohon maaf Tuan.” Lyra menunduk menunjukkan penyesalan.
Liam tak menjawab, laki-laki itu langsung memutar badannya, mematikan lampu utama kamar dan segera naik ke atas tempat tidur. Dia masih kesal bila teringat kejadian kemarin malam.
Sebuah kejadian yang membuat Liam cukup naik darah. Sofia tiba-tiba terbangun pukul sebelas malam dan menyadari Lyra tidak ada di sampingnya. Gadis kecil itu pun menangis sembari memanggil-manggil Mamanya yang alhasil membangunkan Bi Mirah yang berada tepat di sebelah kamar mereka.
Cukup lama Bi Mirah mencari Lyra di paviliun dan sekitarnya namun dia tak juga menemukan keberadaan Ibu satu anak itu, akhirnya Bi Mirah memutuskan menghubungi ponsel Lyra setelah menyadari bahwa ponsel perempuan itu tidak berada di kamar mereka.
Lyra yang saat itu sedang berada di kamar Liam pun terkejut setelah mendapatkan panggilan dari Bi Mirah. Karna lupa memasang mode senyap pada ponselnya Liam pun terbangun kala ponsel Lyra berdering sehingga membuat keadaan menjadi kacau kala Bi Mirah mendengar suara Liam lewat sambungan telepon.
Beruntung Lyra bisa membuat alasan jika dia sedang berada di mansion untuk membuatkan minuman untuk Liam yang tidak bisa tidur. Bi Mirah tidak banyak bertanya lagi, perempuan itu hanya menyuruh Lyra segera kembali jika sudah selesai karna Sofia terus menangis mencarinya.
“Apa Bi Mirah mengatakan sesuatu tentang kejadian kemarin?” Liam kembali bertanya. Laki-laki itu sudah mulai menutup matanya. Diam-diam menikmati aroma tubuh Lyra yang sudah menjadi aroma favoritnya. Sepertinya ini menjadi aroma yang harus dia hirup sebelum dia tidur.
“Tidak ada Tuan,” jawab Lyra singkat.
Setelahnya tidak ada lagi percakapan di antara mereka berdua. Liam sudah tenggelam oleh rasa nyaman yang membuatnya perlahan-lahan merasa mengantuk. Sekarang sudah pukul setengah dua belas.
Untuk menghindari kejadian kemarin terulang kembali Lyra benar-benra memastikan Sofia sudah tertidur pulas sebelum meninggalkannya. Memastikan bahwa putrinya tidak akan terbangun saat dia tidak berada di sampingnya.
Lyra sebenarnya sudah cukup mengantuk, beberapa kali dia menguap. Dia melihat ke arah wajah Liam, kening laki-laki itu masih mengkerut yang menandakan bahwa laki-laki itu masih belum benar-benar tertidur. Jika dia pergi sekarang laki-laki itu pasti akan terbangun.
Lima belas menit menunggu, rasa kantuk Lyra semakin parah, matanya sudah merah dan berair lantaran sering menguap.
Perlahan-lahan Lyra membaringkan tubuhnya yang awalnya setengah terbaring. Tangannya yang menepuk-nepuk bahu Liam perlahan-lahan juga melemah. Hingga tanpa sadar dia tertidur.
Untuk pertama kalinya Lyra tanpa sadar tertidur di sebelah Liam. Keduanya tertidur dengan nyenyak, tidak terganggu dengan keberadaan satu sama lain.
***
Pukul empat subuh, Lyra terbangun seperti biasa. Perempuan itu meregangkan tubuhnya, namun terasa aneh, dia tidak bisa bergerak. Tubuhnya seperti terbelit dan terasa berat. Dengan mata masih mengantuk perempuan itu membuka matanya.
Jantungnya seketikan bertalu-talu kala menyadari kamar yang dia tempati saat ini bukanlah kamarnya dengan Sofia. Ditambah lagi suara nafas teratur dari seseorang yang begitu dekat di telinganya serta belitan tangan dan kaki yang seolah memeluknya kuat.
Lyra berusaha menelan ludahnya yang sudah kering. Perlahan-lahan dia memutar kepalanya dan mendapati wajah Liam yang sedang terlelap berada beberapa senti dari wajahnya. Lyra segera merutuki kecerobohannya. Bagaimana bisa dia tertidur di kamar Liam, di atas ranjang yang sama dengan majikannya itu, bahkan dalam posisi yang sangat intim seperti ini.
Beruntung dia terbangun lebih dulu dari Liam, dia tidak bisa membayangkan jika Liam bangun lebih dulu dan menyadari keberadaan Lyra di sampingnya. Liam pasti akan mengamuk. Lyra menghembuskan nafasnya pelan, dia harus segera pergi dari kamar Liam sebelum laki-laki itu terbangun.
Dengan hati-hati Lyra mengangkat lengan Liam yang melilit perutnya dan memindahkannya. Kaki Liam yang juga menindih paha Lyra juga dia pindahkan dengan sangat hati-hati. Jangan sampai gerakan yang dia buat membangunkan Liam.
Lyra baru bisa menghembuskan nafas lega setelah berhasil turun dari ranjang. Dia mengigit bibirnya kala melihat area kasur di sebelah Liam di mana dia tertidur. Terdapat beberapa helai rambutnya di sana. Lyra sedang menimbang, haruskah dia membersihkannya terlebih dahulu atau dia biarkan saja.
Akhirnya Lyra memilih membiarkannya saja, karna jika dia ingin membersihkan helai-helai rambut itu maka dia harus naik lagi ke atas kasur, dia tidak ingin melakukan hal itu dan membuat Liam terbangun.
Sebelum meninggalkan kamar Lyra tidak lupa mematikan lampu tidur yang sebelumnya masih menyala. Dia memutuskan untuk segera kembali ke paviliun untuk memeriksa keadaan putrinya.
Sesampainya di paviliun, Lyra memutuskan untuk mulai beberes, sebentar lagi matahari akan terbit.
Meski berusaha terlihat baik-baik saja, Lyra jelas masih merasakan debaran di dadanya kala merasakan pelukan erat Liam di tubuhnya beberapa saat yang lalu. Meski mencoba mengabaikannya Lyra tetap tidak bisa menghilangkan wajah Liam yang saat itu tepat berada di depan wajahnya.
“Ada apa denganku?” gumam Lyra pada dirinya sendiri.
Dia bukan lagi anak remaja yang akan berdebar-debar jika berdekatan dengan lawan jenis. Lyra menghembuskan nafasnya pelan, dia harus sadar, sering kali perasaan itu menipu. Tidak pantas dia merasa berdebar di dekat Liam. Karna jika sampai dia benar-benar jatuh cinta pada laki-laki itu maka hidupnya akan kembali hancur, bahkan mungkin bisa lebih hancur lagi.