Ketika hubungan Raffael dan Yayank mulai goyah karena pengakuan Raffael akan cintanya pada Hanna, Hanna terjebak dalam kebingungan. Di saat yang bersamaan, Rey mulai merasakan dilema. Adik angkatnya, Ella, dengan berani mengungkapkan perasaannya, meski Rey sudah berulang kali menolak. Rey merasa hidupnya mulai semakin rumit dengan adanya perasaan-perasaan yang tidak seharusnya muncul, baik terhadap Ella maupun Hanna.
Di tengah kekacauan itu, mereka bertiga harus menghadapi kenyataan bahwa cinta sering kali hadir dengan cara yang tidak terduga. Hanna terjebak di antara dua pria yang sangat penting baginya. Raffael, sahabat setia yang selalu ada, dan Rey, yang meskipun keras kepala, mampu membuat jantungnya berdebar. Akankah persahabatan mereka mampu bertahan di tengah badai perasaan yang terus bergolak? Atau, salah satu dari mereka harus mengorbankan segalanya demi sebuah cinta yang tak terungkap?
Happy Reading guys 🧾🧾🧾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Quebec City
Sepanjang perjalanan kembali menuju perusahaan, Hanna hanya termenung. Rasa shocknya belum sepenuhnya hilang. Lututnya masih terasa ngilu dan bergetar. Hanna sangat terkejut saat mendengar tentang Lucy hilang, di pikirannya bahkan sudah terlintas hal yang paling buruk yang bisa terjadi. Hanna mengerlipkan matanya, untuk menepis pikiran - pikiran yang masih mengganggunya.
"Sayang..." Tangan Rey dengan lembut meraih tangan Hanna. Memasukkan jari jemarinya kedalam rongga - rongga jemari Hanna, lalu menggenggamnya. "Lucy sudah aman sekarang, apa lagi yang mengganggu pikiranmu?" Rey tampak khawatir melihat Hanna.
"Rey, apa aku penyebab dari semua hal buruk yang di alami Lucy?"
Hanna tak menoleh, ia masih saja betah memandang kosong keluar jendela mobil.
"Mengapa kau bisa punya pemikiran seperti itu, sayang. Mana mungkin itu semua karenamu."
Rey menyentak pelan tangan Hanna yang sedang di genggamannya, untuk mengembalikannya dari pikiran - pikiran buruk yang kini sedang memenuhi rongga otaknya.
Hanna tersenyum getir, entah mengapa rasa bersalah begitu menyelimutinya. Ia berfikir andai saja dirinya tidak kembali ke London, andai saja ia tak menemui Lucy setelah kembali dari makam Deon.
"Sayang, ayolah.. Buang semua pikiran buruk itu."
Rey kembali mengoceh ketika Hanna tampak tak begitu menanggapi ucapannya dan masih juga termenung. Rey menarik tangan Hanna yang berada di dalam genggamannya, mencium punggung tangan Hanna berulang kali, hingga perhatian Hanna benar-benar teralihkan padanya.
Dan berhasil, Hanna menoleh lalu tersenyum atas perlakuan Rey.
"Oh iya, minggu depan ada perjalanan dinas ke Kanada."
"Kanada?"
"Iya, aku berencana berinvestasi disana. Kau tertarik untuk ikut?"
Hanna berfikir sejenak.
"Jika kau tak ikut, aku bisa minta Mama untuk kesini agar menemanimu." Lanjut Rey.
"Tidak perlu, aku akan ikut denganmu." Putus Hanna.
*
^Quebec city^
Hanna dan Rey tiba di Bandara Internasional MontQiaral-Peirre Elliot Trudeau pukul 16.45am.
Sebuah mobil limousine sudah terparkir berserta dua orang pengawal yang siap membawa Rey dan Hanna ke kediaman Tuan Deward Jackson yang berada di tengah kota Quebec City.
Kota yang termasuk kedalam salah satu kota wisata itu sungguh memanjakan mata, keputusan Hanna untuk ikut tak disesalinya sama sekali. Hanna tampak langsung jatuh cinta pada kota itu sejak pertama kali memijakkan kakinya di kota yang pada akhirnya akan membuat hidupnya benar - benar berubah.
Ya, ada sesuatu disana yang sedang menanti Hanna.
"Kau menyukainya?" Rey memastikan, walau bisa dilihat dengan jelas dari raut wajah Hanna kalau ia begitu menikmati pemandangan sore di kota itu.
Senja dengan warna jingga itu menyuguhkan pemandangan yang akan menghipnotis siapa saja yang melihatnya.
"Sangat, aku sungguh sangat menyukainya." Seloroh Hanna, tanpa bisa mengalihkan pandangan matanya yang sedang tertuju ke arah ujung kota dengan matahari yang siap untuk terbenam.
Hanna dan Rey, disambut hangat oleh Tuan Deward Jackson sesampainya di kediaman megahnya.
"Apa perjalanan kalian menyenangkan?"
Tuan Deward membuka pembicaraan setelah mempersilahkan Hanna dan Rey duduk.
"Ya, istriku sangat menikmatinya." Dengan tatapan di alihkan ke arah Hanna, yang setelahnya ikut membenarkan ucapan Rey.
Tuan Deward tertawa pelan, "Syukurlah." Imbuhnya kemudian.
Hanna mengalihkan pandangannya ke arah seorang gadis yang berada di samping Tuan Deward. Gadis anggun nan cantik, ia hanya diam saja sedari tadi. Sesekali ia hanya melempar senyum ketika tatapannya dan Hanna beradu.
"Oh ya, perkenalkan.." Sambung Tuan Deward kemudian. "Ini putriku, Qiara." Tuan Deward memperkenalkan Qiara pada Hanna dan juga Rey. "Dia gadis yang sangat pemalu.." Lagi - lagi Tuan Deward tertawa pelan.
Benar saja, Qiara langsung tersipu.
Perkenalan itu hanya berlangsung singkat, karena sesaat kemudian pelayan menyampaikan kalau makan malam sudah selesai dihidangkan.
Tuan Deward kembali mempersilahkan Hanna dan Rey. Waktunya mereka menikmati makan malam.
Ke empat orang itu, beranjak dari duduknya. Melangkah menuju ruang makan yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka berada.
Di ruang makan itu, makanan dengan segala jenis masakan sudah terhampar memenuhi meja makan dengan ukuran 10x2m itu.
Sungguh berlebihan untuk dinikmati oleh 4 orang saja.
Terlebih, Hanna adalah orang yang paling tidak bisa menyia-nyiakan makanan.
Hanna menelan salivanya kasar, melirik satu persatu masakan yang tersaji di hadapannya. Semua makanan itu tampak sangat menggugah selera Hanna. Sanggupkah ia menghabiskan semuanya? Oh, tidak Hanna. Jangan lakukan itu!
"Ayo, silahkan di nikmati." Tuan Deward mempersilahkan.
Baru satu suapan saja, mata Hanna langsung membulat sempurna. Sudut bibirnya terangkat diiringi dengan anggukan kepalanya pelan. "Lezat..." Batin Hanna memuji.
Entah ada yang memperhatikan tingkah Hanna atau tidak, yang jelas ia begitu menikmati makanan di hadapannya dengan lahap.
"Pa, apa aku boleh ikut acara Cowboys besok?" Qiara bersuara.
"Qiara, bukankah kita sudah membahasnya. Kau hanya boleh pergi jika membawa minimal dua pengawal."
"Aku akan pergi dengan Hanna," Kalimat itu sontak membuat Hanna tersedak. Hanna langsung meneguk air mineral yang disodorkan Rey.
Bisa-bisanya Qiara membawa-bawa nama Hanna tanpa berkompromi dulu dengan Hanna. Lagi pula Hanna tak tau menau tentang acara Cowboys yang di maksud Qiara.
"Bukankah dengan begitu aku tak perlu pengawal. Rasanya canggung sekali aku harus dikawal saat bermain dengan teman-teman ku, Pa." Lirih Qiara pelan.
Seketika Hanna langsung merasa kasian pada gadis itu, melihat begitu banyaknya pengawal yang mengawal kediaman Tuan Deward, bisa di pastikan gerak gerik dari setiap pergerakan Qiara tak luput dari pengawalan. Pasti ada masa dimana gadis itu ingin bebas, bermain dengan teman-temannya seperti orang-orang normal pada umumnya.
Asumsi Hanna terlalu jauh, ia bahkan berfikir sedetail itu.
"Qiara jangan buat Papa mengulangi ucapan Papa untuk kedua kalinya."
Tuan Deward menegaskan.
Bentakan kecil itu bahkan langsung menciptakan buliran bening yang mengalir di pipi mulus gadis itu.
Qiara bangkit dari duduknya, berlari menuju kamarnya.
Sepertinya ini bukan pembahasan pertama mereka.
Hanna hanya memperhatikan punggung gadis itu yang berlalu pergi sambil terus menyeka air matanya.
Rey yang menyadari itu, langsung menggenggam tangan Hanna.
Hanna menoleh ke arah Rey, pun dengan Rey yang menatap Hanna penuh arti. Lalu menggeleng pelan, mungkin Rey bermaksud untuk melarang Hanna ikut campur dalam masalah Tuan Deward dan putrinya.
"Maaf atas keributan kecil ini." Pungkas Tuan Deward kemudian.
*
Tok!Tok!
"Qiara, ini aku, Hanna."
Hanna masuk kedalam kamar Qiara setelah dipersilahkan oleh sang empunya.
"Maaf, aku bawa-bawa namamu." Qiara menyesal, ia sangat putus asa dan tak tahu lagi bagaimana caranya untuk membujuk Papa nya yang keras itu.
Hanna duduk di pinggir tempat tidur. Sedangkan Qiara, duduk di tengah - tengah tempat tidur sambil memeluk boneka beruang besarnya.
"Apa kau sangat ingin pergi ke acara itu?"
Qiara hanya mengangguk, ekspresi kecewanya tergambar jelas.
"Papamu punya alasan tersendiri mengapa melarang mu pergi jika tanpa pengawalan." Hanna mencoba menenangkan gadis yang sedang ngambek itu.
Sebelumnya, Hanna sempat berkompromi dengan Tuan Deward.
Tuan Deward menjelaskan mengapa ia melarang Qiara pergi tanpa pengawalan. Dan alasannya masuk akal, Hanna pun setuju dengan itu.
Dan kini, Hanna mencoba menjelaskan dengan caranya pada gadis itu. Berharap gadis itu bisa memahami kekhawatiran Papanya.
"Andai saja kalian berada di posisiku. Andai saja kalian bisa rasakan apa yang aku rasakan." Qiara menunduk dalam. "Aku sangat iri pada teman-temanku. Mereka bisa bermain dan pergi kemanapun yang mereka inginkan. Sedangkan aku..." Kalimat Qiara menggantung.
Hanna menghela napas dalam, "Andai saja kau tahu Qiara, teman-teman mu yang di luar sana justru lebih iri lagi terhadap kehidupan mewahmu ini. Paling tidak, itulah yang aku rasakan dulu saat seusiamu." Batin Hanna bergejolak.
"Baiklah, jika kau sangat menginginkannya. Aku akan mewujudkannya."
Diiringi dengan senyumannya.
Namun, Qiara tak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Hanna. Papanya bukan orang yang mudah di bujuk.
"Jangan menggodaku Hanna."
"Kau terlalu meremehkanku, aku sudah membujuk Papa mu dan berhasil mendapatkan izinnya."
To Be Continued 🍁
semangat lg thoorr..... 💪💪🌹🌹
sampai lupa jalan critanya 🤭😁
sudahi hiatus nyaaaa
cepat lah up thorrrrr 🤧🤧🤧
tak kasatmata=tk dapat di lihat,tidak nyata.
tak kasatmata= tak dapat di lihat,tak nyata.
klo aku yg di tanya Ray kmu mau makan apa. jwananku, aku mau makan kamu Ray... km menggemaskan 🤣
Lanjut ka Thor and ttp semangat💪