Banyak yang bilang jika persahabatan antara seorang pria dan wanita tidak akan bisa terjalin dengan murni, selalu ada perasaan cinta tersembunyi yang tertutup oleh status sahabat dan itu terjadi pada ku ...
Entah sejak kapan itu bermula, nama ku Jasmine, aku memiliki sahabat sejak kecil bernama Gibran, kami tumbuh besar bersama bahkan kedua keluarga kami juga kenal dekat sampai suatu hari ada usulan untuk menjodohkan kami berdua, saat itulah aku sangat senang tapi tidak dengan dia.
Dia mencintai orang lain, sahabat ku yang lain, Ruby.
Aku mencoba ikhlas, aku merelakan cinta pertama ku menikah dengan wanita pilihannya, tapi aku tidak pernah berpikir kalau takdir mengejutkan akan membawaku pada posisi menjadi istri ke dua Gibran.
Hanya saja kisah kami bukan kisah manis yang bisa membuatku mengungkapkan bahwa aku bahagia dapat menikah dengan sahabat sekaligus cinta pertama ku.
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu kenangan manis
Sarapan bersama setelah pertengkaran panjang kami yang membuat Gibran sudah lama tidak ikut sarapan di tempatku. Aku mengingat-ingat kapan terakhir Gibran sarapan dengan kami, dan ternyata jauh sebelum pertengkaran kami terjadi. Gibran tidak lagi ikut sarapan dengan kami semenjak ia mengganti motornya dengan mobil dan menjemput Ruby setiap hari hingga ia selalu telat datang menjemputku.
Mengingat fakta itu membuat nafsu makanku seketika berkurang. Bahkan setelah ini kami mungkin akan menjemput Ruby lebih dulu. Semua ini semakin mengganggu karena aku sudah menyadari perasaanku pada Gibran dan ciuman semalam sungguh membuatku semakin ingin memiliki Gibran untuk diriku sendiri.
Sejujurnya aku sangat takut, aku takut menjadi serakah karena perasaan ini dan malah menghancurkan hubungan ku dengan Gibran.
"Makan yang bener jangan ngelamun," ucap Gibran mengingatkanku yang sejak tadi hanya bermain-main dengan nasi goreng di atas piringku tanpa menyantapnya.
"Gak enak makan gue," sahut ku pelan, nyaris tidak bersemangat.
"Kamu sakit, Nak?" tanya Nenekku khawatir. Aku segera mengangkat pandanganku, pikiranku yang kacau sejak semalam membuatku lupa untuk tersenyum dihadapan Nenekku yang membuatnya khawatir sekarang.
"Gak kok, Nek...," jawabku tersenyum tipis, tapi aku masih tidak juga menyentuh sarapanku.
Gibran lantas menghela nafas, ia terdengar kesal. Kemudian ia mengambil piringku lalu menuangkan nasi goreng milikku ke atas piringnya.
"Jangan banyak gaya, makan..." Ucapan Gibran mungkin terdengar dingin, tapi tidak dengan tindakannya karena ia sedang berusaha menyuapiku sekarang.
"Ayo melati, gue juga butuh makan nih."
Aku melirik ke arah Nenekku, merasa ragu untuk menerima suapan dari Gibran, tapi Nenekku terlihat tersenyum dan mengangguk pelan tanda dia tidak keberatan jika Gibran menyuapiku barulah aku menerima suapan itu.
"Gitu dong, nanti telat kita kalau nungguin mood lo balik," gumam Gibran sambil kembali memakan nasi gorengnya dengan porsi dua kali lipat di atas piringnya, dengan sendok yang sama yang ia gunakan untuk menyuapiku.
"Jangan jorok deh, Gibran ..."
"Jorok kenapa?"
"Kok pake sendok bekas gue sih?"
"Emangnya kenapa kita kan udah ciu-"
Gibran langsung menutup mulutnya rapat-rapat, ia terkejut pada dirinya sendiri yang nyaris membongkar rahasia kami semalam. Tentunya aku tidak tinggal diam karena aku langsung memberikannya tatapan sinis pada kebodohannya.
Entah drama apa yang akan terjadi jika aku dan Gibran ketahuan sudah berciuman oleh Nenekku, mungkin kami akan dinikahkan saat ini juga.
Atau aku harus melakukanya dengan begitu Gibran akan menjadi milikku sepenuhnya?
Oh Tuhan, pikiranku semakin liar tidak terkendali sekarang.
"Kalian udah apa?" Nenekku bertanya dengan lembut, tapi tatapannya memicingkan tatapan tajam penuh curiga padaku dan juga Gibran.
"Maksudku kita kan udah tumbuh besar bersama, Nek..." jawab Gibran sambil tersenyum kikuk. "Iya kan, Melati..." kini ia bahkan menyenggol kakiku dengan kakinya dan meminta bantuanku memperkuat alibinya.
Aku tersenyum untuk menutupi rasa jengkel karena kebodohannya dan menyahut dengan tidak ikhlas, "Iya bang." Namun, bukannya senyuman terima kasih yang aku dapatkan malah Gibran memelototiku tidak senang. Siapa suruh dia memanggilku Melati!
"Ya, itu kalian tahu kalau sekarang udah besar, tapi kenapa masih suka berantem?"
Kini aku dan Gibran kembali terdiam, sedikit bingung menjawab pertanyaan Nenekku karena pertengkaran kami sebelumya lebih serius dari pertengkaran yang pernah terjadi diantara kami.
"Kok gak dijawab?"
"Nasi goreng buatan Nenek emang yang paling enak ya, Gibran?" Aku dengan sengaja menghindar dari pertanyaan nenek ku dengan menyuapi Gibran satu sendok penuh nasi goreng ke mulutnya yang membuatnya nyaris tersedak, tapi pria itu masih bisa tersenyum walaupun senyumannya terlihat menyeramkan terutama ketika ia kesulitan mengunyah nasi goreng yang memenuhi mulutnya itu, bahkan ia harus meneguk segelas air untuk membantunya menelan.
"Emang gak ada yang menandingi nasi goreng buatan Nenek, apalagi pakai telor dadar." Kini giliran Gibran yang menyuapiku satu sendok penuh nasi goreng dan disusul dengan sepotong besar telur dadar tanpa menunggu aku mengunyah nasi goreng yang sudah lebih dulu berada di dalam mulutku.
Dengan susah payah aku mengunyah semua hal yang Gibran suapi. Sungguh pria ini sudah bosan hidup!
Gibran nyaris tersedak karena ulahku setelahnya, tapi meskipun sambil terbatuk-batuk, ia tetap saja menyuapiku dan begitu seterusnya hingga nasi goreng di atas piring kami habis dan nenek ku tertawa setelah itu yang sontak membuat aku dan Gibran menatap Nenekku dengan tatapan bingung.
"Sebesar apapun usia kalian, kayaknya kalian akan terus hidup dalam masa-masa kekanak-kanakan kalau kalian bersama," komentar Nenekku yang masih tertawa dan berhasil membuat ku dan juga Gibran merasa malu karena sikap kami barusan sungguh mencerminkan sikap kami ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.
Namun, sungguh ... Kenangan saat itu sangatlah indah dan sepertinya hari ini juga akan menjadi kenangan indah lainnya yang aku dan Gibran miliki bersama.
***
Haruskah aku merasa senang karena kekonyolan kami akhirnya membuat ku nyaris terlambat hingga Gibran langsung mengantarkan ku ke sekolah tanpa menjemput Ruby lebih dulu.
"Senyum-senyum... Seneng udah buat gue nyaris mati keselek?" cibir Gibran yang saat ini masih mengemudikan mobilnya.
"Kaya lo gak buat gue keselek aja!" Aku menyahut tidak kalah sinis.
"Lo yang duluan kan suapin gue pakai porsi besar?" Gibran sungguh tidak mau mengalah tapi aku juga pantang menyerah, "Siapa suruh lo buat Nenek curiga? Buat kesel aja!"
"Siapa suruh lo panggil gue bang? Inget ya gue sampai kapanpun gak mau jadi Abang loe!"
"Terus maunya jadi apanya gue?"
Gibran tertegun sejenak, dia terlihat gugup menanggapi pertanyaanku. Apa ini artinya aku boleh berharap lebih?
Dia masih belum menjawab pertanyaanku ketika mobilnya telah berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolahku.
"Lo sendiri maunya jadi apanya gue?"
Kini giliran Gibran yang balik bertanya padaku, ia bahkan mencondongkan tubuhnya ke arahku dan membuat tubuhku membeku apalagi ia menatapku dalam tanpa bisa sedikitpun aku pahami arti dari sorot matanya yang membuatku gugup
Kedua mataku terkunci, aku tidak bisa melepaskan kemanapun sorot matanya bergerak bahkan ketika pandangannya perlahan turun. Dia membuatku sulit untuk bernafas karena aku hampir tahu pasti kemana arah matanya menatapku sekarang.
Ke arah bibirku... Apa ia mulai tergila-gila dengan bibirku? Atau aku yang mulai gila karenanya?
Aku mulai kesulitan bernafas ketika Gibran terus bergerak mendekat, mungkin terlalu dekat hingga aku dapat merasakan hangatnya deru nafasnya menerpa wajahku.
Gibran, kamu sungguh tidak ingin mencium bibirku disini, kan?
***
jadi novel adil tu buang sisi wanitamu, bersikaplah netral lihat dari semua sisi, rasakan posisi semua sudut padang, jangan hanya melihat dan merasakan dari sudut padang pemeran utama wanita saja karena itu membuat jadi egois karena