"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Gerbang dan Aroma Anggrek Putih
Sore hari di hari kelima perjalanan, kabut pegunungan mulai perlahan terbuka, menyingkap sebuah lembah raksasa yang dikelilingi oleh tebing-tebing kapur menjulang tinggi.
Aroma harum bunga anggrek putih liar yang tumbuh subur di sepanjang dinding tebing langsung memenuhi udara—segar, manis, dan menenangkan jiwa. Inilah Lembah Anggrek, pusat netral dunia persilatan di wilayah timur yang menjadi tuan rumah konferensi turnamen lima tahunan.
Di pintu masuk lembah, berdiri sebuah gerbang marmer putih raksasa bertuliskan ukiran emas: Arena Kebajikan dan Pedang Muda.
Ribuan orang memadati jalanan batu di bawah gerbang tersebut. Karavan pedagang senjata dari berbagai kota, tenda-tenda tabib keliling, hingga puluhan rombongan pendekar muda dengan seragam kebanggaan sekte masing-masing menciptakan lautan warna dan suara yang luar biasa riuh.
Zhou Hao menganga lebar di atas kudanya, kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan tak henti-hentinya.
"Astaga... gila!" seru Zhou Hao takjub. "Lihat kedai senjata di sana itu, Changqing! Mereka memajang pedang berukir emas di etalase depan toko! Kota Lembah Hitam kemarin tidak ada seujung kukunya dibanding tempat ini!"
Bahkan Chen Wu—yang biasanya bersikap tenang dan angkuh, tampak sedikit gugup melihat betapa banyaknya pendekar muda di sekeliling mereka yang memancarkan aura Pendekar Menengah hingga Pendekar Tinggi.
Hanya Wei Changqing yang menunggangi kudanya dengan santai. Wajah pemuda 19 tahun itu setenang air. Dalam memori kehidupannya yang dulu, ia pernah menghadiri konferensi yang sepuluh kali lipat lebih megah dari ini di ibukota kekaisaran. Namun, di dalam hatinya, denyut rindu yang mendalam mulai terasa bergetar hangat.
‘Di suatu tempat di dalam lembah ini... kau berada, Shen Yue,’ batin Changqing.
Paman Guru Lin menuntun rombongan menuju Meja pendaftaran Resmi Turnamen yang terletak di tengah kota lembah.
Meja pendaftaran itu dijaga oleh empat orang tetua dari Sekte Penjaga Lembah Anggrek. Di depan meja, antrean dibagi menjadi dua jalur: Jalur VIP untuk sekte-sekte besar bertanda khusus, dan Jalur Umum untuk sekte-sekte kecil dan menengah.
Saat Paman Guru Lin menyerahkan token kayu identitas Sekte Lembah Bambu Biru, petugas pendaftaran, seorang pria paruh baya bermata sinis, hanya melirik token itu sekilas sebelum mencoret-coret buku besar pendaftaran dengan malas.
"Sekte Lembah Bambu Biru? Peringkat kelas bawah wilayah barat," gumam sang petugas tanpa memandang wajah Paman Guru Lin. "Dua perwakilan bertanding: Chen Wu dan Wei Changqing. Penginapan kalian dialokasikan di Pondok Bambu Selatan Nomor 14 di pinggiran luar kota dekat kendang kuda umum."
"Tunggu dulu, Tuan Petugas!" protes Zhou Hao tidak terima. "Kenapa kami ditempatkan dekat kandang kuda? Rombongan Sekte Pedang Badai yang baru lewat tadi diberikan penginapan mewah tiga lantai di pusat kota!"
Petugas pendaftaran itu mendengus sinis, mengetuk penanya ke atas meja. "Sekte Pedang Badai menyumbang lima ratus keping emas untuk kas penyelenggaraan turnamen dan memiliki tiga Grandmaster di sekte mereka! Sekte kecil kalian menyumbang apa selain dua peti herbal murah? Kalau tidak puas dengan penginapannya, silakan tidur di hutan di luar gerbang lembah!"
"Kau...!" Zhou Hao hendak melangkah maju karena marah, namun tangan Chen Wu segera menahannya.
Chen Wu, yang telah mengingat pesan Changqing di perkemahan malam sebelumnya, menggelengkan kepalanya pelan pada Zhou Hao. "Cukup, Hao. Kita datang ke sini bukan untuk mempermasalahkan kemewahan kamar tidur. Jangan buat keributan di meja pendaftaran."
Paman Guru Lin menghela napas, menerima kunci kayu mereka dengan senyum pahit, lalu menuntun rombongan menuju pinggiran selatan kota.
Saat mereka berjalan menyingkir dari tempat pendaftaran, Changqing berjalan sejajar dengan Chen Wu dan menepuk bahunya ringan.
"Sikapmu tadi bagus sekali, Kakak Senior Chen," puji Changqing dengan suara pelan. "Kemewahan penginapan hanyalah ilusi mata. Semakin jauh penginapan kita dari pusat kota, semakin tenang kita bisa mengatur pernapasan dan bermeditasi malam ini, sebelum putaran penyisihan besok pagi."
Chen Wu mengangguk mantap, matanya menyala dengan tekad pembuktian yang bersih. "Kau benar, Changqing. Biar mereka meremehkan kita di meja pendaftaran hari ini. Besok di atas arena, pedang kita yang akan menjawab mereka."
Sore harinya, setelah merapikan barang-barang di Pondok Bambu Selatan Nomor 14 yang sederhana namun bersih dari debu, Changqing meminta izin pada Paman Guru Lin untuk berjalan-jalan sebentar ke pasar malam persilatan di pusat kota.
Ia berjalan sendirian menyusuri lampion-lampion merah yang mulai dinyalakan di sepanjang jalanan Kota Lembah Anggrek.
Tujuan Changqing bukanlah membeli pedang baru atau mencari hiburan. Kepekaan inderanya di tingkat Pendekar Nirwana diaktifkan secara halus menyaring hawa-hawa pedang yang bertebaran di seluruh penjuru kota turnamen.
Ia merasakan aura tajam dari delegasi Sekte Pedang Langit di penginapan timur, sekte ortodoks yang kelak menjadi salah satu pemicu perang agung. Ia juga merasakan aura darah pekat dari delegasi Klan Teratai Darah di utara.
Dan kemudian... tepat saat langkah Changqing melewati jembatan batu di atas sungai lembah yang dipenuhi bunga teratai mengapung...
Deg!
Jantung Wei Changqing bergetar hebat. Langkah kakinya terhenti secara refleks di tengah jembatan batu.
Di udara malam beraroma bunga anggrek itu, kepekaan jiwanya menangkap sebuah riak energi yang begitu akrab, begitu lembut, dan telah ia rindukan selama enam puluh tahun dalam kesedihan masa tuanya.
Aura dari Sekte Teratai Salju.
Aura dari wanita yang pernah gugur memeluknya di puncak Gunung Langit Menangis.
Changqing menoleh dengan cepat ke arah seberang sungai bercahaya lampion di ujung jembatan. Changqing berdiri dengan mematung.
Angin malam membawa riak aura spiritual yang begitu halus dari arah rombongan kereta sutra putih di seberang sungai. Itu adalah delegasi Sekte Teratai Salju, sekte medis dan pedang netral tempat bernaungnya, Shen Yue.
Jari-jari tangan Changqing mencengkeram pembatas jembatan batu hingga putih. Selama beberapa detik, dorongan emosional di dalam dadanya begitu kuat hingga ia nyaris melompat melintasi atap-atap rumah untuk berlari menghampiri kereta tersebut. Ia ingin melihat wajahnya. Ia ingin membiarkan air matanya jatuh dan memeluk wanita yang telah mati melindunginya di kehidupan sebelumnya.
Namun, Changqing memejamkan matanya rapat-rapat.
Ia mengambil napas panjang yang sangat dalam, menyalurkan niat pedang Nirwana untuk menenangkan gejolak di dalam hatinya.
‘Tidak sekarang, Changqing,’ batinnya mengingatkan diri sendiri dengan keras. ‘Kau tidak lagi berada di masa depan. Saat ini, Shen Yue berusia delapan belas tahun. Dia belum mengenalmu. Jika kau mendatanginya malam ini seperti orang gila, kau hanya akan menakutinya dan menarik perhatian pendekar sekte lain yang sedang memata-matainya.’
Changqing melepaskan cengkeramannya dari jembatan batu. Ia membuka mata, menatap kereta sutra putih itu berbelok masuk ke dalam gerbang penginapan mewah di utara kota.
"Aku sudah menunggu enam puluh tahun, Shen Yue," bisiknya pada arus sungai di bawah jembatan. "Aku bisa menunggu satu malam lagi hingga kita bertemu secara resmi di bawah cahaya matahari arena."
Changqing berbalik dengan jubah abu-abu berkibar tenang, melangkah pulang menuju area selatan.
Di dalam Pondok Bambu Selatan Nomor 14, suasana malam terasa begitu damai dan terkendali.
Saat Changqing melewati kamar Chen Wu, ia melihat melalui celah pintu bahwa Kakak Senior Pertama sektenya itu sedang bersila bermeditasi dalam ketenangan aliran pernapasan yang rapi, tanpa hawa nafsu menyerang berlebih seperti minggu lalu. Bimbingan Changqing selama perjalanan telah berhasil mengubah mental Chen Wu dari pendekar yang mudah cemas menjadi petarung yang stabil.
Changqing masuk ke kamarnya sendiri, duduk bersila di atas tikar bambu.
Ia meletakkan pedang besi hitam kusamnya di depan lutut. Dalam keheningan malam sebelum turnamen, Changqing memejamkan mata dan mengirimkan sehelai benang kesadaran jiwanya melintasi jarak puluhan kilometer menuju perbukitan barat Sekte Lembah Bambu Biru—menuju jimat pedang kayu yang ia berikan pada Baii Ling.
Melalui resonansi inti pedang rahasianya, Changqing merasakan getaran stabil dari pedang kayu tersebut.
Di kejauhan sana di dalam pondok kebun herbal sekte, Baii Ling kecil sedang duduk bermeditasi dengan patuh di bawah sinar bulan, menjalankan Ilmu Pernapasan Hati Es Nirwana persis seperti yang ia janjikan. Benih pengabdian yang ia tanam telah berakar kokoh. Baii Ling aman dan tumbuh dengan baik.
Changqing tersenyum puas. Seluruh fondasi internal di belakangnya telah aman seratus persen.
Kini, seluruh kesadaran fisiknya dipusatkan pada Dantian-nya yang padat di tingkat Pendekar Menengah Tahap 5. Ia siap menghadapi badai apa pun yang akan dilepaskan oleh dunia persilatan esok hari.
Tenggg... Tenggg... Tenggg...
Keesokan harinya, tepat saat fajar muncul menyingkap kabut Lembah Anggrek, gema ketukan lonceng tembaga raksasa berdentang seratus delapan kali dari arah tengah kota.
Itu adalah tanda resmi dimulainya Konferensi Turnamen Lembah Anggrek ke-42!
Ribuan pendekar muda, ketua sekte, pengawal, dan penonton mengalir dari empat penjuru kota menuju arena Utama Marmer Putih—sebuah arena terbuka berbentuk lingkaran raksasa yang dikelilingi oleh delapan pilar naga batu dan tribun penonton bertingkat lima.
Panji-panji kebanggaan sekte berkibar gagah di bawah langit pagi.
Di tribun kehormatan utara, duduk para pimpinan dari sekte-sekte besar: Sekte Pedang Langit dengan jubah keemasan mereka yang menyilaukan mata, serta Klan Teratai Darah dengan jubah merah gelap mereka yang memancarkan hawa dingin.
Di antara ribuan peserta yang berbaris memasuki lapangan tengah arena, rombongan kecil Sekte Lembah Bambu Biru berjalan masuk di bawah panji biru sederhana mereka yang dibawa oleh Zhou Hao.
Chen Wu berjalan di depan dengan postur tegak dan mata tajam yang siap bertarung.
Di samping kanan Chen Wu, melangkah Wei Changqing. Jubah abu-abunya berkibar dan pedang hitam kusam di pinggangnya bahkan tidak menarik perhatian siapa pun di antara ribuan senjata pusaka yang berkilauan di lapangan.
Namun, saat Changqing menapakkan kakinya ke atas lantai marmer putih arena, pandangannya langsung menyapu ke arah barisan delegasi sekte netral di sayap barat lapangan.
Di sana, di antara barisan murid wanita berjubah sutra salju murni dari Sekte Teratai Salju... berdiri seorang gadis muda berambut panjang hitam pekat yang diikat dengan pita sutra perak. Wajahnya begitu cantik, jernih, dan agung, seperti bunga teratai yang mekar di atas es.
Itu dia, Shen Yue.
Mata hitam Changqing bergetar hebat. Nafasnya tertahan. Setelah melewati puluhan tahun rasa bersalah, kematian, dan memutar balik waktu menembus hukum alam... akhirnya sang legenda berdiri hanya berjarak lima puluh langkah dari wanita yang paling ia cintai di seluruh benua.
lanjutkan Thor.....👍👍🙏