Sebuah kerajaan di negara Inggris sedang dilanda kegelisahan yang besar. Di mana Pangeran pertama dari kerajaan besar itu mengalami musibah. Bahkan, tahta lnya sebagai Putra Mahkota harus digeser. Pangeran Arthur Sebastian Earl yang dulunya menjadi Putra Mahkota harus merelakan tahta tersebut untuk adiknya–Pangeran Phillips Gilbert Earl, setelah kecelakaan.
Yang mana semakin membuat Pangeran Arthur menjadi tak terkendali. Semua meninggalkannya, bahkan kekasihnya. Sejak saat itu, Pangeran Arthur menjadi sosok yang arogan. Sampai pada akhirnya semua anggota kerajaan sepakat mencarikan calon istri untuk Pangeran Arthur.
Namun, siapa yang menyangka bila karakter Maise Rosaline berbanding terbalik. Pangeran Arthur menyadari ada satu hal besar yang sedang disembunyikan oleh Maise saat ini. Apa yang sedang disembunyikan oleh Maise? Mengapa Pangeran Arthur begitu terkejut? Simak kisahnya hanya di Who Are You?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Debat
"Itu merupakan keputusan final. Semua anggota dewan kerajaan, komisaris, dan perdana menteri juga ada di sana. Sebenarnya ini kesempatan yang bagus. Hanya saja, ah. Bagaimana mengatakannya ya?" Pangeran Arthur bingung memberikan penjelasan pada Alice.
"Mengapa Pangeran Arthur tidak melakukan operasi mata saja?" Alice memberanikan diri bertanya tentang operasi mata.
Namun, Alice mendadak merasakan aura yang berbeda. Gadis itu meneguk ludahnya sendiri. Ia mulai waspada. Firasat Alice mulai tidak nyaman. Benar saja, Pangeran Arthur tertawa terbahak-bahak. Membuat Alice semakin was-was.
"Apa kamu bilang? Operasi mata?" Pangeran Arthur menggeram. Ia menatap Alice penuh kebencian.
"Zaman sekarang sudah canggih. Aku yakin kamu bisa sembuh dengan cepat," ucap Alice.
"Keluar!" usir Pangeran Arthur.
"Apa?" Alice mendadak bingung. Pangeran Arthur mengusirnya keluar? Gadis itu mengerjapkan matanya.
"Kubilang keluar!" teriak Pangeran Arthur tiba-tiba.
"Hei! Kenapa kamu malah marah?" tanya Alice.
"Apakah kamu tuli? Aku menyuruhmu keluar dari sini! Cepat keluar!" Pangeran Arthur berbalik.
Laki-laki itu sudah mengeratkan lehernya dan mengepalkan kedua tangannya. Meskipun Pangeran Arthur berada di atas kursi roda, ia memiliki pandangan mata setajam silet. Seketika membuat Alice terpaku.
"Bisakah kamu tenang dulu?" Alice mencoba untuk mengajak Pangeran Arthur berbicara.
"Aku berada di pihakmu. Entah mengapa kamu sekarang malah memusuhiku? Aku pikir kita sedang salah paham. Bagaimana kalau kamu beritahu aku apa yang mengganjal di hatimu? Mungkin kita bisa mencari jalan keluar bersama-sama," bujuk Alice.
"Berada di pihakku? Kamu yakin?" Pangeran Arthur tampak menarik sudut bibirnya. Laki-laki itu menyeringai aneh. Matanya mengintimidasi Alice.
"Tentu saja. Maka dari itu kita harus berbicara dan saling jujur. Bukankah kita sekutu? Aku rasa ini hanya kesalahpahaman yang kecil. Kita bisa menyelesaikan ini. Sebab kamu menjadi emosional saat aku membahas operasi mata," terang Alice.
"Kamu bilang aku emosional? Ha-ha-ha! Dari awal seharusnya aku tahu kamu pun tidak akan tulus. Cepat pergi dari kamarku!" Pangeran Arthur mulai membentak. Dada bidangnya pun bergerak naik turun.
"Hei! Jangan mentang-mentang kamu yang memiliki kamar ini, kamu seenaknya mengusirku? Kita sedang mencari solusi bersama. Ayolah, jangan terlalu kekanakan! Apa yang membuatmu menjadi semarah ini?" Alice menjadi kesal lantaran Pangeran Arthur tiba-tiba marah. Cukup membuat Alice bingung.
Prang!
Pangeran Arthur menjatuhkan vas bunga. Membuat Alice berjingkat kaget. Gadis itu menatap tidak percaya pada Pangeran Arthur yang juga sedang menatapnya.
"Apa yang kamu lakukan?" geram Alice.
"Sial! Aku seharusnya tidak memilihmu! Kalau kamu menyesal memiliki suami yang buta, silahkan kamu pergi dari sini! Aku tidak akan pernah melarangmu! Kamu masih paham kata-kataku bukan?" Pangeran Arthur kian marah.
"Apa?" Kedua mata Alice melebar.
"Siapa yang menyesal? Kalau seandainya aku menyesal memiliki suami buta, mengapa aku bersedia bersamamu? Sejak awal, aku memiliki kesempatan untuk menghentikan pernikahan ini. Tapi apa? Aku masih bertahan. Tidak bisakah kamu membedakan antara ketulusan dan penyesalan?" tantang Alice.
"Omong kosong! Jadi kamu tidak ingin keluar? Baiklah, biar aku yang keluar!" Pangeran Arthur hendak memencet tombol yang ada di kursi rodanya.
Namun, Alice buru-buru melangkahkan kakinya keluar kamar. Begitu gadis itu berada tepat di depan pintu, Pangeran Arthur langsung menutup pintu. Alice berdiri mematung di sana. Ia memandang pintu kayu yang berukiran indah dan menjulang tinggi itu dengan tatapan bingung.
"Aish. Sebenarnya dia kenapa?" Alice melirik jam yang melingkar di tangannya.
Untung saja, saat itu hari masih sore. Sehingga ketika Alice diusir keluar, belum terasa memalukan. Alice mendesah pasrah. Gadis itu mengedarkan pandangan mata ke sekelilingnya. Kemudian ia menghela napas dalam-dalam. Lalu Alice membawa langkah kakinya untuk pergi dari depan pintu kamarnya.
"Apakah terjadi sesuatu, Permaisuri?" Seseorang lagi-lagi mengejutkan Alice yang tengah melamun.
"Ah, mengapa semua orang sangat suka sekali membuatku terkejut? Tuan Alpha? Mengapa Anda masih berada di sini?" Alice mengusap dadanya pelan.
Jantung Alice berdetak kencang lantaran kedatangan Alpha yang mengagetkannya. Gadis itu mengedarkan pandangan mata ke sekelilingnya. Ia penasaran lantaran Alpha selalu saja datang seperti hantu.
"Bagaimana Anda tahu kalau saya berada di sini?" tanya Alice penasaran.
"Anda terlalu banyak berpikir, Permaisuri. Saya baru saja ingin menawarkan menu makan malam untuk Pangeran Arthur. Tapi, saya tidak tahu mengapa Pangeran Arthur menutup pintu dengan kasar. Em, itu sedikit membuat saya takut untuk bertanya," jelas Alpha.
Alice mengamati perubahan mimik wajah Alpha. Bahkan gadis itu sampai harus menyipitkan kedua matanya. Alice menghela napas panjang. Ia memilih untuk berbalik tanpa kata dan meninggalkan Alpha di sana.
"Ah! Permaisuri, tunggu!" Alpha berseru. Ia menatap pintu kamar Pangeran Arthur dan kemudian mengikuti Alice pergi.
Alpha menyerah. Percuma ia memanggil Alice sebab gadis itu terus mengabaikannya. Alpha memilih untuk mengikuti jejak Alice tanpa bersuara lagi. Laki-laki itu cukup penasaran mengapa Alice keluar dari kamar.
"Apakah Permaisuri dan Pangeran Arthur bertengkar?" Alpha kembali bertanya ketika ia melihat Alice telah duduk di bangku taman.
"Dasar mata-mata! Pangeran Arthur menyuruhmu untuk mengikutiku?" kesal Alice.
"Tidak, Permaisuri. Saya sudah mengatakan yang sebenarnya. Saya pikir itu suatu kebetulan," sahut Alpha.
Alice menoleh kepada Alpha. "Dia mengusirku keluar dari kamar."
"Hah?" Alpha melongo.
Alpha seperti tidak percaya kalau Pangeran Arthur benar mengusir Alice keluar dari kamar. Melihat ekspresi Alpha, Alice berdecak kesal. Ia lalu menatap lurus ke depan.
"Dari wajahmu jelas sekali terlihat Anda tidak mempercayai saya, Tuan Alpha," ketus Alice.
"Apakah Anda melakukan kesalahan?" tanya Alpha penuh selidik.
"Hei! Aku tidak melakukan kesalahan apapun, Tuan Alpha. Kami berdua berbicara satu sama lain dan bertukar pemikiran. Entah mengapa dia menjadi sangat marah setelah aku memberikan solusi. Itu menjengkelkan!" Alice menggelengkan kepalanya. Ia menahan kekesalannya dalam hati.
"Boleh saya tahu apa solusi yang Anda berikan?" Alpha cukup penasaran dengan solusi yang diberikan oleh Alice. Sehingga menimbulkan kemarahan Pangeran Arthur.
"Aku mengatakan kalau dia bisa operasi mata. Itu akan membantunya untuk tantangan yang diberikan oleh raja. Aku tidak salah bukan mengatakannya?" Alice membela diri. Ia menatap Alpha untuk meyakinkannya.
Namun, di luar dugaan Alice. Alpha justru memijat kedua pelipisnya. Terdengar helaan napas dari laki-laki itu. Alice merasakan firasat yang buruk.
"Apakah aku salah memberikan solusi dengan operasi mata?" tanya Alice.
"Salah besar. Karena Pangeran Arthur membenci seseorang yang tidak bisa menerima kekurangannya." Jawaban dari Alpha membuat Alice membeku.
"Mungkinkah Pangeran Arthur berpikir aku tidak bisa menerima kekurangannya?" Alice memejamkan kedua matanya. Ia lupa jika Pangeran Arthur sangat sensitif dengan hal itu.
"Seperti Permaisuri Callista yang meninggalkan Pangeran Arthur setelah mengalami kebutaan dan kelumpuhan." Kalimat Alpha sangat menusuk kalbu.
"Tanpa sadar aku menyakitinya. Bisa-bisanya aku mengatakan bahwa dia sangat labil?" Alice membatin penuh sesal.
balaskan dendam gengmu!