Apa jadinya jika Elena, seorang Letnan Militer jenius dari masa depan terjebak di tubuh Rania Belmont. Nona bangsawan lemah yang selalu di siksa oleh Selir Ayah nya?
Di dunia baru ini, Elena bukan hanya harus membalas dendam pada mereka yang menyiksanya, tapi juga memikul beban berat dari sebuah Sistem. Mencegah Kiamat.
Caranya? Dengan menjinakkan Aron Gild, Raja Tirani berdarah dingin yang kekuatannya bisa menghancurkan dunia jika suasana hatinya memburuk.
Bagi dunia, Aron adalah monster, tapi bagi Elena, Aron adalah bayi besar yang haus kasih Sayang.
"Dunia ini bisa hancur besok, aku tidak peduli, tapi jika kamu yang pergi, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun manusia yang tersisa di bumi ini untuk meratapi kematianmu, kamu adalah rumahku, Rania, dan rumahku tidak boleh tergores sedikit pun," ucap Aron posesif.
"Sial! Kalau dia se manis ini, indikator kiamatnya memang turun, tapi jantungku yang malah mau meledak!" batin Rania, mengigit bibir bawah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LENCANA BULAN SABIT
"Nona? Anda melamun?" Lina menyentuh pundak Rania pelan.
"Ah, tidak. Lina, bantu aku mencoba gaun ini. Kita harus memastikan besok aku terlihat seperti ancaman yang paling cantik di istana itu," ucap Rania dengan senyum miring yang terlihat sangat berbahaya.
Tentu saja Rania ingin tampil bersinar nanti waktu acara di istana, karena Rania tahu, kakak tirinya itu akan kepanasan dan iri melihat dirinya.
"Sudah cukup kalian menikmati hidup dengan membawa nama Belmont, karena mulai besok, hanya aku yang menjadi Nona muda satu-satu kelurga Belmont," batin Rania, tersenyum miring.
Lina dengan cekatan membantu Rania memakai gaun biru safir itu.
Begitu kainnya jatuh menyentuh lantai, sosok Rania berubah total, dia tidak lagi terlihat seperti gadis yang malang, melainkan seperti seorang ratu yang baru saja merebut kembali tahtanya.
"Wah... Nona, Anda cantik sekali! Duke dan Tuan Muda pasti akan menyesal sudah mengabaikan Anda," puji Lina tulus.
Rania melihat pantulan dirinya di cermin retak itu, jujur saja dia juga terpesona dengan kecantikan dirinya sendiri.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah lorong, menuju kamar Rania.
Brak
Pintu kamar dibuka dengan kasar tanpa ketukan, Duke Victor berdiri di sana, masih dengan wajah lelahnya, namun matanya membelalak lebar saat melihat Rania mengenakan gaun istrinya.
"Eleanor...?" bisik Victor lirih, suaranya bergetar hebat.
Rania berbalik perlahan, dagunya terangkat tinggi.
"Maaf mengecewakanmu, Duke. Ini aku, Rania, Putri kandung dari Duches Eleanor Belmont, anak yang Anda sebut sebagai pembunuh ibunya sendiri," ucap Rania, penuh penekanan.
Duke Victor seolah tersadar dari lamunannya, dia berpegangan pada pintu agar tidak terjatuh, melihat sosok istri tercintanya ada di dalam tubuh putri nya sendiri, yang dai abaikan dan hancurkan hidup nya.
"Kenapa... kenapa kamu memakai itu? Dari mana kamu mendapatkan kuncinya?" tanya Duke Victor, lemah.
"Kenapa? Apa Anda takut aku mengungkap rahasia yang Ayah kubur bersama Ibu?" tanya Rania sambil melangkah mendekat.
"Aku sudah mengetahui tentang lencana bentuk bulan sabit itu, Duke," bisik Rania, dingin.
Deg
Duke Victor menegang, memegang dadanya, dia merasa jantungnya di cabut paksa.
"Bagaimana mungkin..." gumam Duke Victor, menggeleng kan kepala nya, lemah.
Rania hanya mengangkat bahunya acuh, tidak mungkin juga dia jujur, kalau dia mendapatkan kunci itu dari sistem.
"Tahun ini aku akan ikut ke perjamuan musim semi, yang di gelar oleh kaisar, jangan coba-coba melarang ku, atau aku akan memakai gaun ini untuk berjalan ke makam Ibu dan menceritakan betapa hebatnya Ayah menjaga anak putri nya selama ini," ucap Rania, menyindir Ayah nya.
Duke Victor terdiam seribu bahasa, ada rasa sakit, rindu, dan penyesalan yang mendalam di matanya, namun egonya masih mencoba bertahan.
"Istana itu berbahaya, Rania, kamu tidak tahu apa-apa tentang Kaisar Aron," ucap Duke Victor, menatap putri nya.
"Justru karena aku tahu dia berbahaya, aku harus di sana," batin Rania teringat cincinnya yang tertinggal.
"Pergilah, Ayah, aku butuh istirahat. Oh, dan katakan pada gundik mu, jangan repot-repot mengirim pelayan untuk meracuni ku malam ini, karena aku tidak segan-segan memotong tangan siapa pun yang masuk tanpa izin," usir Rania, dingin, membuat Victor akhirnya berbalik dan pergi tanpa kata.
Setelah pintu tertutup, Rania menghela napas panjang, lalu dia melepas gaunnya dan kembali mengenakan pakaian tidurnya yang sederhana.
"Nona, apa Anda benar-benar tidak takut pada Kaisar?" tanya Lina sambil melipat gaun itu kembali dengan sangat hati-hati.
Rania merebahkan dirinya di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang kusam.
"Tentu saja takut, takut kaisar gila itu berulah, dan membuat dunia ini kiamat, sebelum aku balas dendam pada orang yang selama ini menyakiti Rania asli," batin Rania.
Lina yang melihat Nona nya seperti nya memang sangat kelelahan dan butuh istirahat, dia memilih diam, tidak lagi banyak bertanya.
"Besok akan menjadi hari yang panjang. Tidurlah, Lina, besok kita harus mulai berperang yang sesungguhnya," ucap Rania, lirih.
"Baik, Nona, selamat malam," jawab Lina, membungkuk hormat, sebelum keluar dari kamar Rania.
Setelah Lina keluar, keadaan kamar Rania benar-benar sangat sunyi.
Rania memejamkan matanya, teringat bagaimana hangatnya mana Kaisar Aron saat bersentuhan dengannya di gang gelap tadi.
"Cincin itu satu-satunya bukti kalau aku pernah menyelamatkan nyawa pria paling berkuasa di kekaisaran ini, kalau dia tahu siapa aku sebelum aku siap, dia bisa menjadi pelindungku, atau justru orang pertama yang memenggal kepalaku karena tahu kelemahannya," batin Rania menggenggam lencana milik ibunya itu.
Malam itu, di kediaman Belmont yang sunyi, dua orang tidak bisa tidur.
Duke Victor yang terus terbayang wajah istrinya pada diri Rania, di sertai perasaan bersalah yang terus menggerogoti hati nya.
Sementara Rania yang terus memikirkan bagaimana cara merebut kembali cincinnya dari tangan sang Kaisar tanpa harus menyerahkan nyawanya.
"Hidup ku benar-benar sial," ucap Rania, menggerutu.
Karena tidak bisa tidur, Rania memilih latihan, dia tidak mungkin selama nya hidup dengan tubuh lemah nya ini, dirinya akan kembali melatih fisik nya, agar kembali kuat seperti dirinya dulu, sewaktu menjadi Letnan Militer.
"Sakit ini nyata. Artinya aku masih hidup, dan aku punya kendali," batin nya, sambil terus melatih otot-otot nya.
Tiba-tiba, Rania merasakan aliran hangat mengalir dari ulu hatinya, rasa sesak di dadanya perlahan menghilang, digantikan oleh tenaga baru yang terasa lebih padat.
Saat itulah, suara desas-desus terdengar dari balik dinding kamarnya, suara para pelayan paviliun utama yang sedang lewat.
"Kamu dengar tidak? Tuan Muda Dante tadi mengamuk di tempat latihan, katanya dia tidak sengaja mematahkan tiang kayu karena pikirannya kacau," bisik salah satu pelayan.
"Iya, aku juga dengar Nyonya Diana sedang memanggil tabib, bahkan aku dengar luka di jari tangan Nona Viola akan berbekas dan kemungkinan akan cacat," bisik salah satu pelayan, dengan suara kecil nya.
"Nona Rania benar-benar berubah ya? Dulu dia bahkan tidak berani menatap mata kita," ucap yang lain.
Rania mendengarkan sambil tetap memejamkan mata, senyum miring nya tersungging di wajahnya.
"Baru segitu saja sudah kacau? Tunggu saja permainan yang sebenarnya, akan aku buat kalian, menginginkan kematian diri kalian sendiri," batin Rania, menatap tajam ke luar jendela.
Rania kembali melatih otot nya, tapi tiba-tiba, fokusnya teralihkan oleh suara getaran rendah yang datang dari arah jendela.
Sretttt
Dengan gerakan gesit, Rania langsung menyambar belati kecil yang baru dia beli di pasar dan bersembunyi di balik tirai.
Srett...
Sebuah bayangan mendarat di ambang jendela.
Rania bersiap untuk menyerang, namun dia menghentikan gerakannya saat melihat sosok itu berlutut di depan nya.
Sosok itu mengenakan pakaian serba hitam dengan topeng perak yang menutupi sebagian wajahnya.
sehat selalu buat autor paling the best lah pokoknya 👏👏👏👏