Ruri dan Zainudin adalah orang yang sama-sama punya kisah gagal dalam rumah tangga. Zai mempunyai putra yang menguak tabir rumah tangganya, sementara Ruri harus berjuang sendiri demi anak-anaknya.
Pertemuan keduanya tak terduga di sekolah anak mereka. Apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Yuk, ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LSC 14
Di kediaman keluarga Zai.
Zai dan keluarganya baru saja sampai setelah dari persidangan. Mereka semua turun dari mobil. Gabriel digendong Zai yang sedang tertidur karena kelelahan bermain. Sedang Rere berjalan di samping papanya menuju kamar dan meletakkan Gabriel di kasur. Lalu, Rere ikut merebahkan tubuhnya di kasur yang bersebelahan dengan kasur Gabriel dengan wajah sendunya.
Tampak terlihat kesedihan di mata Rere karena kedua orang tuanya harus berpisah di saat usia mereka masih kecil. Zai pun menghampiri Rere dan mengusap kepalanya pelan.
"Rere. Maafkan Papa, Sayang! Mulai sekarang kita hidup bersama Kakek dan Nenek di rumah ini. Papa janji, akan membahagiakan kalian berdua," kata Zai memberitahu bahwa dirinya telah menjadi Ayah tunggal bagi keduanya.
"Tapi, Pa? Rere, masih kangen sama Mama," jawab Rere yang mulai menangis meneteskan air mata.
Zai langsung memeluk erat anak sulungnya itu. Memberikan ketenangan dan mencari kata-kata yang tepat untuk memberi pengertian padanya. Bahwa, Zai juga mampu mengurus mereka tanpa seorang Ibu.
"Sstt. Cup, cup, Sayang. Tenang ya? Ada Papa, Kakek dan Nenek disini yang akan selalu menemani Rere dan Gabriel bermain sehabis pulang sekolah." Zai berkata lembut dengan suasana hati anaknya yang sedang sedih.
Setelah memberikan ketenangan pada anaknya, Rere pun mulai tertidur karena kelelahan menangis di pelukan papanya. Zai merebahkan tubuh kecil Rere dan menyelimuti hingga bahu. Begitu juga Gabriel yang diselimuti hingga bahu.
Zai merasa bersalah kepada kedua anaknya. Akan tetapi, ini semua sudah takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan padanya. Kini, dirinya mulai bertekad bulat untuk menata masa depannya lebih baik. Soal jodoh, biar Tuhan yang menentukan segalanya.
"Kini, Zai sudah berpisah dengan Reni? Apa lebih baik aku pindah kerja saja, seperti saran Toni beberapa hari yang lalu?" monolog Zai memikirkan perkataan temannya.
"Nanti saja Zai pikirkan, lebih baik aku keluar menemui Bapak dan Ibu," imbuh Zai menatap kedua anaknya yang tertidur pulas dengan senyum tipis di kedua sudut bibirnya.
Zai membuka pintu kamar dan menutup kembali pintu. Lalu, dirinya berjalan menemui kedua orang tuanya di ruang tamu.
"Zai? Gimana keadaan Rere?" tanya Bu Erna cemas mengenai cucunya itu.
"Rere terus menangis dan Zai memberi pengertian sekaligus menenangkan dia tadi, Bu." Zai berkata dengan wajah sendu, tetapi tidak ada penyesalan di wajahnya tentang perpisahannya dengan Reni.
"Syukurlah, Zai. Walau pun begitu, kedua anakmu tetap membutuhkan perhatian dan kasih sayang darimu," tutur Bu Erna.
"Iya, Bu. Zai akan berjuang demi mereka berdua," ujar Zai berucap dengan tersenyum.
"Bapak dan Ibu merasa bersyukur Zai, sekarang kamu bebas dari wanita seperti Reni itu. Semoga kedepannya Zai mendapat jodoh yang lebih baik daripada si Reni itu." Bu Erna mendoakan Zai agar mendapat wanita yang sholehah nanti.
"Aamiin. Alhamdulillah Pak, Bu. Kini, Zai bisa bernapas lega bisa lepas dari Reni. Sekarang, Zai akan fokus bekerja demi kebutuhan anak-anak. Soal jodoh, biarlah takdir yang menentukan." Zai berkata dengan tersenyum penuh keyakinan.
Mereka bertiga berbicara panjang lebar membahas tentang rencana Zai kedepannya dan kedua orang tua Zai menyerahkan semua keputusan padanya.
"Oya, Pak. Kemungkinan rumah Zai akan kujual dan pindah disini untuk sementara waktu." Zai berkata memberitahukan keinginannya pada orang tuanya.
"Ya, terserah kamu saja Zai. Bapak dan Ibu ikut saja keputusanmu itu," jawab Pak Gatot dan Zai menganggukkan kepala pelan.
Kini, setelah obrolan panjang. Mereka semua kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat siang. Terutama Zai yang kini bisa tidur dengan nyenyak setiap hari.
Dua hari kemudian.
Perpisahan tak membuat Zai patah semangat. Justru, dirinya semakin tersenyum lebar dengan statusnya yang baru ini. Kini, setelah persidangan dua hari yang lalu, Zai segera berangkat bersama Toni dinas keluar kota atas perintah atasannya.
"Sayang, kalian berdua jangan nakal ya? Ingat, pesan Papa. Belajar yang rajin dan turuti apa yang dikatakan Kakek dan Nenek ya?" tutur Zai menasehati kedua anaknya tersebut.
"Siap, Papa!" jawab keduanya kompak mengangguk paham.
"Anak pintar. Baiklah, Papa berangkat dulu," pamit Zai memeluk keduanya dan mereka mencium punggung tangan Zai bergantian.
"Pak, Bu. Zai, titip Rere dan Gabriel ya?" ucap Zai tersenyum menatap wajah tua kedua orang tuanya.
"Kamu tenang saja Zai. Sekarang pergilah, nanti terlambat," ujar Pak Gatot tersenyum.
Zai pun berangkat menuju kantor menaiki motor untuk menemui Toni dan atasan mereka Pak Abdi. Begitu sampai di kantor, Zai turun dari motor dan melangkah masuk ke dalam. Ternyata, Toni telah menunggu dirinya datang dan segera melapor bahwa mereka siap berangkat tugas dinas.
"Kami siap berangkat, Pak." Toni dan Zai berucap bersamaan dan Pak Abdi mengangguk pelan.
Kemudian mereka segera berangkat memakai mobil patroli dengan beberapa orang menuju Kota L.
Dalam perjalanan, Zai sesekali tersenyum dan tertawa mendengar candaan teman-temannya. Bahkan, kini berita tentang status dudanya telah sampai di telinga semua orang di kantor polisi. Namun, Zai menikmati status barunya dan tetap fokus bekerja karena untuk sementara ingin menikmati kesendiriannya dulu hingga hatinya siap mencari jodoh.
Di tempat berbeda, Reni datang berkunjung ke rumahnya yang dibeli Zai beberapa tahun yang lalu dan terkejut saat melihat banner bertuliskan, "RUMAH DI JUAL"
"Apa! Dijual! Gak salah ini!" geram Reni berdiri di depan gerbang dengan menahan amarah karena rumah dijual tanpa pemberitahuan.
"Sekarang, aku hanya dapat separo harta dari rumah ini. Kini, rumah kamu jual begitu saja tanpa memberitahuku." monolog Reni berbicara pada dirinya sendiri dengan kesal melihat tulisan di gerbang.
"Dasar. Gak punya perasaan."
Reni pun menghentakkan kakinya berlalu pergi dari sana dengan perasaan kesal karena mantan suaminya menjual rumah itu.
Reni menghentikan taksi yang lewat dan masuk mobil lalu memberitahukan tujuannya kepada sopir tersebut.
"Ke kafe Pak."
"Baik. Mbak."
Setengah jam berlalu. Taksi sampai di sebuah kafe, lalu Reni menyerahkan uang dua lembar ratusan ribu kepada sopir lalu keluar dari mobil.
"Terimakasih, Mbak."
"Hmmm."
Taksi melaju meninggalkan area kafe tersebut dan Reni berjalan masuk ke kafe dengan langkah gemulainya karena ingin menikmati masa statusnya yang baru sebagai janda muda.
Reni duduk di pojok dekat jendela agar bisa melihat orang yang berlalu lalang. Pegawai kafe datang dan Reni langsung memesan segelas bir besar untuk mencairkan suasana hatinya yang sakit karena mantan suaminya menjual rumah mereka yang seharusnya milik Reni.
Segelas bir diletakkan di meja dan Reni langsung menenggaknya hingga separo. Hingga dirinya memesan segelas bir kedua dan seterusnya. Tak terasa Reni sudah setengah mabuk dan meracau tidak jelas dengan apa yang dikatakannya.
Banyak pengunjung melihat ke arahnya karena mabuk sendirian dan terlihat menyedihkan dengan keadaannya.
Di depan Reni, seorang pemuda melihat dirinya mabuk dan tersenyum tipis saat ada seorang wanita duduk sendirian di kursi. Lelaki itu berdiri dan menghampiri Reni yang meletakkan kepalanya di tangan sambil meracau.
"Mbak, boleh saya duduk disini?" Pemuda itu tanpa diundang duduk di depan Reni yang sedang mabuk.
Reni bangun saat mendengar ada suara lelaki datang di depan matanya. Namun, yang dilihatnya bukanlah wajah pemuda itu. Akan tetapi, wajah mantan suaminya. "Papa, kamu menjemputku?" tanya Reni menatap wajah suaminya dengan tersenyum.
"Iya, Papa datang menjemputmu," jawab pemuda itu mengaku sebagai Zai.
mampir y