Berkisah tentang Jenar Ayu Santika yang harus rela menjadi pengasuh Aiden (5 tahun). Bocah yang memiliki karakter usil dan nakal serta kecerdasan yang berbeda dengan anak yang seusianya.
Keusilan Aiden berhasil membuat Ayu kesulitan dan juga mendekatkan dia dengan Edwin (Papah Aiden).
Apakah Ayu bisa menjadi pengasuh yang baik bahkan menjadi Ibu bagi Aiden dan Istri Edwin?
Ikuti terus kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - PCM
“Aiden, benarkah Mamamu pergi meninggalkanmu?”
Aiden menatap bocah perempuan yang sekelas dengannya. Akibat ulah temannya yang meneriakkan pernyataan tersebut, membuat dia menjadi bahan ejekan.
“Benar. Mama telah pergi. Dia pergi ke surga,” jawab Aiden.
“Hah, maksudnya Mama kamu sudah meninggal?”
“Hm.” Aiden duduk di kursi miliknya lalu fokus pada gadget dan berusaha mengabaikan sekitar.
“Kenapa kamu tidak sampaikan kalau Mama mu sudah meninggal.”
“Sudahlah, aku malas membahas masalah ini.”
Hari ini dilewati oleh Aiden terasa sangat lama dan menjenuhkan. Biasanya dia sangat antusias, apalagi mendebat sang guru atau menjahili temannya. Tapi hari ini, Aiden tidak bersemangat untuk melakukan hal-hal yang biasa dia lakukan.
Entah mengapa dia terganggu dengan ejekan teman-teman mengenai kondisi orangtuanya. Bukan karena menyesali kepergian sang Mama, tapi Aiden menginginkan sosok seorang Ibu.
Dia ingin setiap kali diantar dan dijemput oleh wanita yang bisa dia banggakan sebagai ibunya. Juga bermain di temani oleh orangtua yang lengkap.
Sampai akhirnya waktu pulang. Ayu melambaikan tangannya saat melihat Aiden keluar dari gerbang sekolah. Dahi Ayu berkerut melihat Aiden dengan wajah datarnya menghampiri Ayu yang berada di depan mobil.
“Hei tampan, bagaimana sekolahmu hari ini?”
“Biasa saja, bisakah kita segera pulang,” sahut Aiden sambil menunduk lalu membuka pintu mobil.
Aneh, ada apa dengannya?
Saat dalam perjalanan Ayu sempat beberapa kali menoleh ke arah Aiden yang duduk di sampingnya. Tidak biasanya mereka hanya diam, bahkan Aiden tidak memainkan gadgetnya dan asyik dengan game seperti yang biasa dia lakukan.
Apa dia sakit?
Bahkan sampai mobil terparkir rapi di carport kediaman Edwin, Aiden bergegas turun dari mobil lalu menuju kamarnya. Ayu mengekor langkah Aiden tanpa diduga setelah mengganti pakaiannya, Aiden langsung berbaring di ranjang.
“Kamu mau tidur siang?”
“Hm.”
“Tumben, apa kamu sakit?” tanya Ayu yang duduk di tepi ranjang. Aiden sendiri berbaring miring memunggungi Ayu yang menjulurkan tangannya menyentuh dahi Aiden untuk memastikan suhu tubuh Aiden.
“Aku baik-baik saja. Seharusnya Tante Ayu senang kalau aku bersikap seperti anak-anak pada umumnya.”
“Aku hanya khawatir kalau kamu sakit atau ... jangan bilang kamu sedang jatuh cinta?”
Aiden pun berbalik memutar tubuhnya menghadap Ayu setelah mendengar pertanyaan perempuan itu.
“Aku ini baru lima tahun. Bagaimana bisa Tante menduga aku jatuh cinta,” elak Aiden.
“Yah mungkin saja, buktinya pikiran dan kebiasaan kamu berbeda dengan yang anak-anak seusia kamu. Siapa tahu kamu dewasa belum waktunya, karena kamu benar-benar spesial.”
Aiden menatap wajah Ayu, entah mengapa saat ini Aiden merasa Ayu cukup baik bahkan saat Aiden menjahilinya tidak membuat perempuan itu menghardik lalu melaporkan pada Papa Edwin. Ayu hanya mengejak atau bergumam setelah Aiden berhasil mengerjai dan usil padanya.
“Ya sudah kamu istirahat, tidur siang. Karena anak-anak seusiamu masih membutuhkan tidur siang untuk perkembangan otak dan tubuh.”
“Apa tante akan langsung pulang kalau aku tidur?”
Ayu terkekeh, mendengar pertanyaan Aiden.
“Aku akan ikut tidur di kamar sebelah.” Ayu beranjak dari kamar Aiden, menyisakan pemilik kamar yang saat ini berbaring memandang langit-langit kamarnya.
“Kapan Papa akan menikah lagi dan memberikan aku Ibu pengganti?” Aiden beranjak duduk, memikirkan hal yang tidak ingin sampai terjadi dalam hidupnya.
“Bagaimana kalau Tante Ayu yang menikah dengan Papa, rasanya dia tidak aneh-aneh. Karena perempuan lain belum tentu mau menerima aku,” gumam Aiden. “Apalagi Tante Mirna, aku sangat tidak menyukainya. Aku harus cari cara agar Tante Ayu dan Papa semakin dekat dan jatuh cinta.”
pak Edwin gercep
calon ibu & calon anak suka nge game😄