NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

Milly memandangi punggung tegap Arkan yang perlahan menghilang di balik pintu koridor lantai dua. Desahan napas lega berembus dari bibirnya. Biarpun hitung-hitungan pria itu mirip kalkulator usang yang kaku, angka sembilan tahun bulat terasa jauh lebih mendingan daripada pecahan hari yang membuatnya pusing tujuh keliling.

"Milly... itu tadi siapa? Benar-benar calon suamimu?" bisik ibu panti, memecah keheningan lobi. Tangannya yang agak kasar meremas pelan bahu Milly, matanya memancarkan kecemasan yang mendalam melihat kemewahan mansion yang terasa asing bagi mereka.

Milly berbalik, memasang senyum terbaiknya untuk menenangkan tujuh anggota keluarganya yang masih berdiri bergerombol di dekat pintu masuk. "Iya, Bu. Dia Tuan Arkananta. Memang agak... kaku dan suka bicara soal angka, tapi dia orang yang bertanggung jawab. Ibu dan yang lainnya tidak perlu khawatir."

"Nona Milly, mari saya antar menuju Paviliun Barat," sela Bara dengan nada sopan, memberikan isyarat kepada beberapa pelayan untuk membawa barang bawaan keluarga Milly.

Paviliun Barat mansion Mahendra ternyata tidak kalah megah dari bangunan utama. Desainnya minimalis namun tetap mewah, lengkap dengan fasilitas ruang santai dan beberapa kamar tidur yang luasnya sanggup membuat adik-adik panti melompat kegirangan di atas kasur empuk.

Setelah memastikan seluruh keluarganya nyaman dan mendapatkan makan malam yang layak, Milly kembali ke kamarnya sendiri di bangunan utama. Tenaganya benar-benar terkuras habis.

Ia mendudukkan diri di depan meja rias, menatap kotak beludru biru berisi cincin zamrud yang tadi siang berhasil ia pertahankan mati-matian dari cecaran Keluarga Wijaya. Tangannya bergerak menyentuh permukaan meja, lalu beralih mengambil ponsel lamanya yang tergeletak di sana.

Milly membuka galeri dan beberapa aplikasi lama di ponselnya. Melihat ikon Alight Motion dan memo kerja lamanya, ada rasa rindu yang mendalam. Dulu, ia adalah kendali penuh atas hidupnya sendiri, sesederhana mengatur konten promosi @Millyan di TikTok Shop atau begadang demi memotong video klien agar presisi per milidetik. Sekarang? Hidupnya diatur oleh algoritma dan variabel hukum milik seorang Presdir mafia.

"Sembilan tahun," gumam Milly, menatap pantulan dirinya di cermin yang kini mengenakan gaun mahal. "Aku pasti bisa bertahan."

Keesokan paginya, suasana mansion kembali bergerak dinamis. Belum sempat Milly menghabiskan sarapan rotinya di ruang makan kecil, Madam Clarissa sudah kembali muncul dengan kehebohan khasnya. Dua asistennya mendorong rak gantung beroda yang membawa sebuah gaun pengantin yang ditutupi kain pelindung sutra putih.

"Nona Milly! Selamat pagi!" sapa Madam Clarissa dengan nada melengking yang ceria. "Hari ini adalah hari mengepas gaun pengantin resmi Anda. Tuan Arkan memberikan instruksi yang sangat spesifik semalam."

Milly mengerutkan kening, meletakkan garpunya. "Instruksi spesifik? Jangan bilang dia meminta gaunnya diukur dengan rumus phytagoras lagi, Madam?"

Madam Clarissa terkekeh geli. "Bukan, Sayang. Tuan Arkan meminta kami menambahkan lapisan pelindung serat kevlar tipis di bagian korset bagian dalam gaun, serta memastikan panjang gaun tidak akan membuat Anda tersandung saat berjalan di altar minggu depan. Beliau bilang... 'Calon istriku memiliki tingkat kecerobohan di atas rata-rata, pastikan pakaiannya tidak mencelakakannya sendiri.'

Milly melongo. Serat kevlar? Dia pikir aku mau menikah atau mau ikut simulasi perang di hutan belantara?

Saat asisten Madam Clarissa mulai membuka pelindung kain, sebuah mahakarya gaun pengantin bergaya A-line dengan brokat prancis yang sangat detail dan elegan terpampang di depan mata Milly. Gaun itu tampak anggun, klasik, dan tidak terlalu mencolok, sangat pas dengan selera minimalis Arkan namun tetap memancarkan kemewahan kelas atas.

Tap. Tap. Tap.

Langkah kaki yang sangat familier terdengar mendekat dari arah pintu masuk ruang tengah. Arkan melangkah masuk dengan setelan kemeja putih yang lengannya digulung rapi, tanpa jas luaran. Di tangannya, ia membawa sebuah map hitam baru.

Mata elangnya langsung tertuju pada gaun pengantin yang terpajang, lalu beralih menatap Milly yang masih memegang sepotong roti.

"Bagaimana, Madam? Apakah potongannya sudah sesuai dengan standar keamanan yang kuminta?" tanya Arkan, suaranya bariton memecah keheningan ruangan.

"Sangat sempurna, Tuan Arkan. Serat kevlar antipeluru ringan sudah tertanam rapi di balik lapisan brokat utama, dan kami sudah memotong bagian bawah gaun sebanyak lima sentimeter agar Nona Milly tidak menginjak gaunnya sendiri," lapor Madam Clarissa dengan bangga.

Arkan berjalan mendekat, berhenti tepat di jarak satu meter dari tempat Milly berdiri. Ia memandang Milly dari balik lensa kacamatanya yang jernih. "Bagus. Aku tidak mau hari pernikahan kita berubah menjadi bencana hanya karena kau tersandung kainmu sendiri di depan para kolega bisnisku."

Milly mendengus kencang, meletakkan rotinya ke piring dengan sedikit hentakan. "Tuan Arkan yang Terhormat, terima kasih atas perhatiannya yang luar biasa perfeksionis ini. Tapi jujur ya, apa tidak sekalian saja saya pakai helm proyek di altar nanti?"

Arkan tidak membalas sindiran Milly. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis yang menawan sekaligus menyebalkan. Ia menyodorkan map hitam yang dibawanya ke depan dada Milly.

"Simpan protesmu, Millyanita. Ini adalah jadwal gladi bersih dan susunan acara untuk minggu depan. Pelajari setiap detiknya. Jika kau melakukan satu saja kesalahan gerakan saat prosesi..." Arkan menjeda kalimatnya, menurunkan pandangannya ke arah jemari Milly yang memakai cincin zamrud. "...aku akan menganggapnya sebagai pengurangan nilai kinerja, dan kontrak sembilan tahunmu akan langsung mendapatkan penyesalan bunga majemuk."

Milly buru-buru menyambar map hitam dari tangan Arkan sebelum pria itu sempat mengoceh lebih jauh tentang bunga majemuk atau denda penalti lainnya. Ia membuka lembaran kertas di dalamnya yang ternyata berisi bagan alur pergerakan, posisi berdiri, hingga estimasi waktu per menit yang diatur dengan sangat rigid.

"Tuan, ini jadwal pernikahan atau jadwal peluncuran roket luar angkasa?" protes Milly, menunjuk satu baris yang ditulis dengan tinta merah tebal. "'Durasi berjalan dari pintu masuk altar menuju pendeta: dua menit empat puluh detik. Toleransi keterlambatan: nol detik.' Anda bercanda, ya?"

"Aku tidak pernah bercanda tentang efisiensi waktu, Millyanita," sahut Arkan datar, menatap Milly dengan sorot mata mengintimidasi. "Setiap detik yang terbuang adalah kerugian. Dan di hari pernikahan nanti, ratusan pasang mata dari kalangan elit dan media akan menguliti setiap gerak-gerikmu. Satu kesalahan kecil darimu akan merusak kalkulasi yang sudah kususun matang."

Milly merengut, melirik ke arah Madam Clarissa yang hanya bisa melempar senyum penuh simpati, sementara kedua asistennya mulai sibuk merapikan kembali sisa-sisa kain brokat di sekitar gaun pengantin berkelapis kevlar itu.

Sore harinya, mansion utama kembali sunyi setelah Madam Clarissa dan timnya pamit undur diri. Milly berjalan menuju Paviliun Barat untuk memeriksa keadaan keluarganya. Begitu melangkah masuk ke ruang tengah paviliun, ia mendapati ibu dan adik-adiknya sedang berkumpul dengan wajah yang jauh lebih ceria. Di atas meja komunal, berbagai macam hidangan mewah dan camilan hangat sudah tersaji dengan rapi.

"Milly, Tuan Arkan benar-benar luar biasa," puji ibunya saat melihat Milly masuk. "Dia tidak hanya menyiapkan tempat ini, tapi tadi Bara mengantarkan dokumen jaminan kesehatan dan tunjangan pendidikan untuk adik-adikmu. Katanya, itu bagian dari 'aset domestik' yang wajib dilindungi oleh perusahaan."

Milly tertegun di ambang pintu. Jantungnya berdesir aneh. Aset domestik?

Ia tahu betul bahwa dalam revisi kontrak tertulis mereka, tidak ada klausul yang mewajibkan Arkan membiayai sekolah adik-adiknya atau memberikan jaminan kesehatan untuk ibunya. Pria itu sengaja melakukannya di luar perjanjian, menyamarkannya di balik istilah-istilah korporat yang kaku agar tidak terlihat seperti sebuah kebaikan yang tulus.

Milly berbalik, melangkah cepat kembali ke bangunan utama mansion. Ia menaiki tangga marmer menuju ruang kerja Arkan dengan tekad bulat. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia mendorong pintu kayu mahoni besar itu hingga terbuka.

Cklek.

Arkan yang sedang memeriksa berkas di balik meja besarnya mendongak, alisnya bertaut melihat kedatangan Milly yang tiba-tiba. "Kau tidak mengenal konsep mengetuk pintu, Gadis Ceroboh?"

"Tuan Arkan," panggil Milly, mengabaikan teguran itu. Ia berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan meja mahoni. "Apa maksud dari tunjangan pendidikan dan jaminan kesehatan untuk keluarga saya? Itu tidak ada di dalam kontrak sembilan tahun kita."

Arkan meletakkan penanya, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulitnya yang mewah. Wajahnya kembali datar, sedingin es, tanpa riak emosi sedikit pun.

"Itu adalah manajemen risiko biaya, Milly," ucap Arkan ketus, seolah sedang menjelaskan laporan keuangan bulanan. "Jika keluargamu sakit atau kesulitan finansial, fokus kerjamu sebagai tameng sandiwaraku akan terganggu. Gangguan fokus berarti potensi kecerobohanmu meningkat sebesar 25%. Aku hanya memotong variabel pengganggu sebelum hal itu merugikan efisiensi Mahendra Group."

Milly menatap rahang tegas pria di depannya, lalu tersenyum tipis di balik kacamata bulatnya. Ia mulai paham bahwa di balik semua rumus matematika dan istilah bisnis yang kejam ini, Arkananta Mahendra memiliki caranya sendiri yang sangat unik dan luar biasa gengsi untuk melindungi orang-orang yang berada di bawah kendalinya.

"Terserah apa kata Anda, Tuan Perfeksionis," ujar Milly dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Tapi, terima kasih. Terima kasih karena sudah menjaga mereka."

Arkan sempat terdiam selama satu detik penuh, matanya terkunci pada senyuman tulus Milly yang tampak begitu kontras dengan kegelapan dunianya. Namun, sedetik kemudian, ia berdeham pelan dan kembali meraih penanya.

"Jangan cepat berpuas diri, Milly. Besok pagi jam tujuh tepat, gladi bersih pertama di altar akan dimulai. Jika kau terlambat satu detik saja dari bagan alur yang kuberikan..." Arkan menjeda kalimatnya, menatap Milly dengan kilat mata elangnya yang berbahaya. "...aku tidak akan segan menambahkan bunga majemuk harian pada sisa kontrak sembilan tahunmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!