Tomboy dan cuek..hanya kata itu sepertinya yang tepat menggambarkan sosok gadis cantik bernama Bintang.
Tak akan ada yang menyangka jika gadis tomboy yang selalu tampil sederhana itu adalah seorang putri konglomerat. Putri dari donatur terbesar dirinya bersekolah saat ini.
Memiliki sahabat yang juga cantik namun tak setomboy dirinya. Gadis lembut yang selalu ada untuk dirinya, sahabat yang sudah menemani dirinya bertahun-tahun. Dialah Rembulan, gadis yang merupakan sahabat baik Bintang.
Pertemuannya dengan seorang pemuda tampan yang senang sekali menebar pesona. Mampu dengan mudah membuat kaum hawa menjerit histeris hanya dengan melihat paras tampannya.
Pemuda playboy yang sering berganti pacar selama bersekolah. Namun semua pesona nya tak berarti dihadapan seorang Bintang.
Sikap yang bertolak belakang antara Bintang dan Langit membuat keduanya kerap berseteru. Status keduanya yang sama-sama kapten dari tim basket sekolah nya membuat kedua orang itu sering bertemu dan berinteraksi.
Akankah timbul cinta seiring berjalannya waktu? Atau waktu tidak akan mengubah apapun antara dua manusia itu??
Ikui terus kisah mereka☺️☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kembalinya biawak
Kiran melirik suami dan adik iparnya. Terlihat jelas jika Dewa ingin mengajak Bintang berbicara, namun jelas juga terlihat keraguan di mata suaminya itu.
Semalam, dirinya sudah memutuskan untuk memberi kesempatan pada lelaki yang sudah membahagiakannya selama tiga tahun ini. Tidak mudah memang, bahkan mungkin Kiran tak akan pernah melupakan penghianatan Dewa. Namun dirinya tak akan kalah dari perempuan kotor yang berusaha merebut suaminya.
"Makan yang banyak ya.." Kiran dengan telaten mengisi piring adik iparnya dengan nasi goreng yang ia masak bersama Naura selepas subuh tadi.
"Mau pake ayamnya?". Tawar Naura dan Bintang menggeleng.
"Kalo ini pasti mau.." Kiran meletakkan dua potong nugget ayam kesukaan Bintang tanpa menunggu persetujuan gadis itu.
Bintang memakan sarapannya dalam diam. Ia belum tahu bagaimana kelanjutan hubungan kakak dan kakak iparnya karena semalam, dirinya memilih mengunci diri dikamar dan tak ikut makan malam meski kedua kakak dan kakak iparnya membujuknya untuk makan.
Bintang terdiam saat tangannya digenggam seseorang, dari cincin yang dipakainya, Bintang tahu jika itu adalah Kiran. Menghela nafas sesaat, lalu menolehkan kepalanya pada si empu nya tangan.
"Mbak tahu kamu marah dan kecewa.."
"Harusnya mbak yang lebih marah dan lebih kecewa". Lirih Bintang memotong ucapan Kiran yang langsung tersenyum.
Bukan dirinya tidak marah dan kecewa. Ia sangat marah dan juga kecewa, namun dirinya memilih mempertahankan rumah tangganya. Ia tidak akan kalah dengan seseorang yang tak memiliki hak atas suaminya.
"Kita kan manusia biasa, Bintang. Kesalahan, kekeliruan, marah dan kecewa itu memang sifat kita". Bintang menatap netra coklat milik kakak iparnya.
Wanita dengan paras ayu yang memiliki kepribadian yang sangat ceria itu semalam menangis pilu. Bintang masih sangat mengingat bagaimana sorot mata penuh kehancuran kakak iparnya itu kemarin sore.
Tapi pagi ini, sorot mata itu sudah kembali ceria. Memancarkan semangat baru yang masih belum bisa Bintang mengerti tentang bagaimana bisa kakak iparnya cepat melupakan kesakitan kemarin.
"Tapi kan kita punya Allah.." Bintang melengos. Ia tahu akan bicara apa lagi kakak iparnya itu.
"Hey.." Kiran menarik dagu adik iparnya untuk menatap dirinya.
"Kalau yang Maha Mencipta saja bisa memaafkan, kenapa kita nggak?". Bintang diam, tak mau menatap mata kakak iparnya yang justru gemas melihat wajah adik iparnya.
"Aku bukan tuhan yang bisa mudah memaafkan kesalahan umatnya, mbak. Jangan berharap aku bisa seperti mbak Kiran yang cepat memaafkan kesalahan seseorang". Ucapan pedas Bintang ia tujukan pada kakak tertuanya melalui lirikan mata mautnya.
Dewa tersenyum kecut. Ia sadar akan lebih sulit mendapatkan maaf adiknya daripada istrinya. Selain karena pola pikir yang masih sangat labil, adiknya itu memang ia kenal sebagai gadis yang lumayan pendendam.
Bintang melanjutkan makannya, sementara Dewa memberi kode pada istrinya untuk membiarkan saja adiknya marah untuk sementara waktu.
"Aku udah selesai. Aku sekolah dulu kak.." Bintang mencium punggung tangan Juna, kemudian berlanjut pada Naura dan Kiran, lalu Dewa yang terakhir.
Meski sangat kesal dan marah, Bintang masih tau adab sopan santun terhadap kakak-kakaknya.
"Nih..buat tambah uang jajan", Dewa menyodorkan lima lembar uang berwarna merah pada adiknya.
"Nggak nerima sogokan! Uang aku udah banyak!". Ketus Bintang yang langsung berlalu pergi meninggalkan Dewa yang terkekeh.
"Jun.." Juna mengangguk, menerima uang sang kakak dan menambah beberapa lembar. Ia kemudian berjalan keluar untuk mengejar adiknya.
"Dek.." Bintang yang sudah duduk diatas motor menoleh saat Juna memanggilnya.
"Nanti traktir Bulan sekalian". Juna menyodorkan uang dari Dewa yang sudah ia tambahi beberapa lembar.
Dengan senyum mengembang, Bintang menerimanya dengan sukarela. Membuat Juna dan Naura yang kini berdiri disebelah Juna tergelak, gemas melihat kelakuan Bintang.
"Makasih kak.." Ucap Bintang. Ia tahu jika sebagian dari uang yang diberikan Juna padanya itu adalah uang Dewa yang tadi ia tolak.
"Katanya udah banyak uang, tapi diterima..dasar". Sindir Juna membuat Bintang mencebik.
"Sorry aja, yang tadi itu beda kasus. Nggak nerima sogokan". Juna yang gemas mencubit hidung mancung adiknya hingga mengaduh.
"Kamu nggak apa-apa mas?". Tanya Kiran yang berdiri berdampingan dengan Dewa didepan pintu rumah, mengamati interaksi Juna dan Bintang.
"Padahal kamu yang aku sakiti, tapi dia yang marahnya ngelebih-lebihin kamu". Dewa terkekeh pelan. Kalau dipikir aneh juga, wanita yang jelas langsung tersakiti bisa memaafkan dirinya, sementara adiknya justru mengibarkan bendera perang padanya.
"Apa perlu aku bujuk mas?". Dewa menoleh menatap istri cantiknya. Ia tersenyum lagi, senyum yang menggambarkan betapa konyol dirinya menghianati istri sesempurna Kiran.
"Tidak sayang. Biarkan saja dulu dia lampiaskan marah dan kecewanya padaku. Aku akan bicara padanya nanti, saat amarahnya sudah mereda". Dewa merangkul mesra pundak istrinya, bersikap seperti biasanya seolah tak pernah terjadi apapun diantara keduanya.
Dewa tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Kirani. Ia bersumpah akan setia pada istrinya itu. Tak akan lagi tergoda dengan segala bentuk bujuk rayu sekalipun itu datang dari masa lalu yang begitu ia cintai dulunya.
Kiran dan Naura melambaikan tangannya pada suami mereka yang berangkat bekerja. Ayah Henry memang memiliki beberapa perusahaan, namun ada dua perusahaan yang lebih besar diantara yang lain. Dua perusahaan itulah yang kini dipimpin oleh Dewa dan Juna.
"Mbak.."
"Semua baik-baik aja, Ra". Kiran tahu apa yang dikhawatirkan Naura.
"Kamu nggak usah khawatir..aku sama mas Dewa baik-baik aja". Naura tersenyum lega mendengar ucapan Kiran. Ia sempat takut jika Kiran akan benar-benar meminta cerai.
Sementara saat ini, Bintang tengah mengendarai sepeda motornya menuju sekolah. Ia tak menjemput Bulan karena hari ini temannya itu diantarkan oleh Bapak.
Bintang memarkirkan motornya, melepaskan helm dari kepalanya kemudian menghela nafas panjang seolah tengah meraup oksigen yang sangat banyak untuk mengisi paru-parunya.
"Tunggu aja lo. Abis lo kalo ketemu gue". Gumam Bintang dengan sorot mata tajamnya.
Merasa sudah lebih tenang, Bintang turun dari motor dan mulai berjalan menyusuri lorong yang akan membawanya ke kelas.
Bintang tersenyum membalas sapaan teman yang tak sengaja berpapasan dengannya. Pagi ini cuaca sangat cerah, langit terlihat sangat indah pagi ini.
Namun senyum Bintang pudar saat melihat sosok lelaki yang hari kemarin baru saja ia jenguk bersama teman-temannya.
Langit..pemuda itu sudah duduk manis di kursinya dengan dikerubungi oleh para gadis. Seperti gula yang selalu dicari keberadaannya oleh semut. Begitulah Langit.
Dengan malas, Bintang masuk kedalam kelas dan meletakkan tasnya. Gadis itu meletakkan kepalanya diatas meja dengan lengan yang ia jadikan sebagai bantal.
"Kak Langit kemana aja?",
"Katanya sakit ya?".
"Emang kak Langit sakit apa?",
"Kamu kasian banget, Lang", Bintang kembali menghela nafas panjang. Mood nya semakin hancur mendengar rentetan pertanyaan para gadis penggila Langit.
"Ini judulnya..kembalinya biawak". Batin Bintang yang kembali memejamkan matanya. Mood nya yang sejak kemarin buruk, kini bertambah buruk saja karena Langit sudah kembali bersekolah.
"Bibin..." Bintang langsung mengangkat wajahnya saat mendengar namanya dipanggil. Dan suara itu, Bintang sangat mengenalnya.
Sementara para gadis yang sejak tadi mengerubungi Langit terdiam sesaat ketika Bulan memanggil nama Bintang. Namun itu hanya sesaat, karena selanjutnya mereka kembali sibuk menanyakan keadaan Langit bahkan menanyakan ingin makan apa pemuda itu saat nanti istirahat.
Berbeda dengan para gadis itu, kini fokus Langit sudah beralih pada gadis yang tampak sedang berbicara serius dengan Bulan.
Tadi dirinya tak menyadari kehadiran Bintang karena banyaknya gadis yang mengerubungi mejanya.
"Oke..jumpa pers nya udah dulu ya. Langitnya masih butuh istirahat dan ketenangan". Roman mencoba mengusir para gadis dengan cara halus.
Sementara Sam? Pemuda itu bahkan terlihat sangat acuh. Tak peduli apa yang dilakukan dua sahabatnya.
Fokusnya ada pada gadis yang kini tengah berbicara dengan Bintang. Entah sejak kapan gadis itu terlihat menarik bagi Sam. Yang pasti, kini Sam lebih suka memperhatikan gadis itu diam-diam seperti sekarang ini. Entah apa yang dibicarakan Bintang, hingga gadis yang tengah ia perhatikan menunjukkan berbagai macam ekspresi wajah.
Mulai dari terkejut, marah, kini terlihat sedih namun juga kesal. Dan wajah itu mampu membuat Sam melengkungkan senyum.
"Lah..temen gue dua-duanya kaga ada yang waras". Gumam Roman yang melihat Sam dan Langit tersenyum samar tanpa alasan.
"Langiiiit...." Semua mata kini tertuju pada sosok gadis yang baru saja meneriakkan nama Langit. Gadis dengan seragam yang menempel ketat dibadannya yang mulai terbentuk itu tampak berjalan tergesa menghampiri Langit. Membuat para gadis yang sejak tadi mengerubungi Langit mulai mundur.
"Kamu kemana aja? Aku nyari kamu dari kemarin tau.." Suara yang dibuat selembut mungkin itu mampu membuat Bintang memeletkan lidahnya seolah ingin muntah.
"Aku kangen banget sama kamu.." Rengeknya dengan suara manja.
"Aku kangen banget sama kamuuu..." Cibir Bintang yang menirukan suara manja gadis yang ia panggil kucing itu.
Si kucing langsung melirik galak pada Bintang. Namun Bintang tampak acuh saja hingga Bulan menyenggol kaki sahabatnya.
Sementara Langit tersenyum samar melihat bagaimana Bintang. Gadis yang sangat berbeda dari gadis kebanyakan. Gadis itu bahkan tak sedikitpun meliriknya. Padahal kemarin gadis itu menjenguknya.
...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...
...Aku mau kreji up lagi biar kalian juga ikutan kreji ngasih like sama komennya..sukur-sukur dikasih vote🤭😅😅😂...
...Mak othornya ngarep banget yak?😂😂 biarin deh gapapa ngarep dikit mah🥰😂...
...Ikuti terus kelanjutan Langit dan Bintang yang nggak pernah akur itu. Jangan lupa tampol like nya, komennya juga..wokeeeey👍🏻👌👌...
...Oke cukup sekian, sarangheo sekebon dan lopelope banyakbanyak buat kalian semua😘😘🥰🥰💐💋♥️'...