Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7. Waspada
Bremmm... Tett... tet... tet!
Mesin RX-King itu kembali meraung nyaring begitu pemuda berambut gondrong itu menginjak tuas persneling. Nadia duduk di jok belakang dengan posisi menyamping karena pergelangan kaki kanannya yang bengkak tidak bisa ditekuk dengan leluasa. Tas ransel tuanya ia dekap erat-erat di dada, berfungsi sebagai pembatas sekaligus pelindung antara tubuhnya dan punggung tegap pemuda asing itu.
Motor melesat membelah jalanan kota yang mulai padat. Embusan angin kencang menerpa wajah Nadia, menerbangkan helai demi helai rambutnya yang kusut. Di tengah laju motor yang cukup kencang, rasa takut yang sempat ia tekan kini perlahan kembali merayap, menyergap isi kepalanya.
Nadia mulai mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Matanya bergerak dengan gelisah, menatap papan penunjuk jalan, nama-nama ruko, hingga gedung-gedung yang mereka lewati. Ia memaksakan otaknya yang lelah untuk bekerja keras, berusaha mengingat dengan saksama setiap rute dan tikungan yang mereka lalui.
“Sekarang aku ada di alamat mana ya? Ini jalan apa?” batin Nadia menjerit panik dalam diam.
Ia meremas kain tas ranselnya semakin kuat. Muncul ketakutan baru di dalam benaknya jika pemuda berpenampilan bad boy yang memboncengnya ini memiliki niat terselubung dan membawanya ke daerah asing yang terpencil, tempat yang tidak ia kenali sama sekali, di mana ia tidak akan bisa melarikan diri atau meminta pertolongan. Trauma semalam membuat Nadia berada dalam mode waspada penuh. Ia tidak bisa lagi mempercayai siapapun sepenuhnya.
Setiap kali motor berbelok ke jalan yang lebih kecil, jantung Nadia berdegup dua kali lebih cepat. Ia terus menatap spion motor, berharap bisa melihat ekspresi wajah pemuda itu, namun pemuda berambut gondrong itu tetap fokus menatap jalanan di depan dengan sikap acuh tak acuh, seolah tidak peduli dengan kegelisahan hebat yang sedang melanda penumpangnya di belakang.
**
Ckiiiiit.
Motor RX-King itu akhirnya berhenti di sebuah persimpangan sempit antara gang padat penduduk dan jalan besar. Di hadapan mereka, berdiri sebuah rumah yang ukurannya terbilang cukup besar dan bertingkat dua. Dindingnya tampak kokoh, meski catnya sudah sedikit memudar termakan usia.
Nadia langsung mencengkeram tas ranselnya lebih erat, matanya bergerak liar memandangi bangunan itu dengan napas tertahan. Ia mengira pemuda ini akan membawanya masuk ke dalam rumah bertingkat tersebut.
Pemuda berambut gondrong itu menurunkan kedua kakinya untuk menyangga motor, lalu menoleh ke belakang. Begitu melihat tubuh Nadia yang kaku, wajahnya yang pucat pasi, dan sepasang matanya yang dipenuhi ketakutan luar biasa, pemuda itu menghembuskan napas pendek. Ia akhirnya menyadari ketakutan mendalam yang sejak tadi melanda penumpangnya.
"Nggak usah takut. Aku nggak bakal macam-macam," ucap pemuda itu dingin, namun ada sebersit nada menenangkan di dalamnya. "Kita nggak lewat pintu depan."
Pemuda itu kembali menyalakan mesin, lalu menuntun motornya perlahan membawa Nadia menyusuri sebuah jalan samping yang berupa jalan setapak sempit di sisi rumah besar tersebut. Jalan setapak itu dibatasi oleh tembok tinggi, jalannya cukup bersih namun ukurannya sangat pas-pasan. Bisa dilewati dengan berjalan kaki atau motor yang berjalan pelan, namun jelas tidak akan muat untuk kendaraan roda empat.
Di area paling belakang rumah itulah, motor akhirnya benar-benar dimatikan.
Mata Nadia langsung tertuju pada sebuah bangunan kecil terpisah yang berdiri di sana. Sebuah paviliun satu lantai. Ukurannya terbilang minimalis, dibilang mewah atau bagus sekali tentu tidak karena fasilitasnya sederhana, namun dibilang jelek pun sama sekali tidak. Bangunan itu tampak bersih, terawat, dan memiliki pintu serta jendela kayu yang kokoh.
Bagi Nadia, yang beberapa jam lalu sempat terlantar dan mengira akan menggelandang di emperan toko atau bangku halte yang panas, paviliun kecil ini sudah terasa jauh lebih dari cukup. Ini adalah sebuah kemewahan di tengah keterpurukannya. Sebuah tempat aman di mana tidak akan ada Nyonya Sarah yang memandangnya jijik atau Axel yang melontarkan tuduhan kejam.
Pemuda gondrong itu turun dari motor, lalu melempar kunci motornya ke udara dan menangkapnya dengan santai. "Ini paviliun belakang. Kamarmu di sini. Paling tidak, di sini aman dari orang-orang jalanan," katanya acuh tak acuh sambil berjalan menuju pintu untuk membukanya.
Nadia masih berdiri mematung di dekat motor, menatap daun pintu paviliun yang baru saja dibuka oleh pemuda berambut gondrong itu. Di dalam amplopnya memang ada uang pesangon, namun rasa sungkan dan kewaspadaan membuat Nadia memberanikan diri untuk bertanya sebelum melangkah lebih jauh.
"I-ini... punya siapa? Terus bayarannya berapa sebulan?" tanya Nadia dengan nada ragu dan suara yang masih sedikit bergetar.
Pemuda berambut gondrong itu menghentikan langkahnya di ambang pintu, berbalik, lalu menatap Nadia dengan pandangan yang datar namun sarat akan realita. Ia mengisap napas dalam-dalam sebelum menjawab dengan ketus namun santai.
"Memangnya kamu punya uang?" sahut pemuda itu lempeng, membuat Nadia seketika terbungkam. "Pakai saja dulu. Bersihkan paviliun ini dengan baik, jangan kemana-mana."
Nadia terpaku. Kata-kata pemuda itu terdengar acuh tak acuh, tapi ada kepedulian yang tersembunyi di baliknya. Pria asing ini tahu betul bahwa seorang gadis yang terlantar di pinggir jalan dengan kaki pincang tidak akan punya banyak simpanan untuk menyewa tempat tinggal yang layak secara mendadak.
Belum sempat Nadia mencerna kebaikannya, pemuda itu kembali bersuara sembari melirik pergelangan kaki Nadia yang membengkak.
"Nanti malam aku temani kamu lapor ke Pak RT supaya legal. Sekarang istirahat saja di dalam, jangan kelayapan dulu," tambahnya dingin.
Setelah mengucapkan kalimat yang cukup panjang itu, si pemuda berambut gondrong berbalik begitu saja. Tanpa menunggu ucapan terima kasih atau jawaban dari Nadia, ia berjalan santai menyusuri jalan setapak sempit, menstarter motor RX-King miliknya dengan sekali hentakan, dan pergi meninggalkan paviliun belakang. Deru mesin motornya perlahan menjauh, menyisakan kesunyian yang menenangkan bagi Nadia.
Nadia memandangi kunci yang menggantung di slot pintu paviliun. Untuk pertama kalinya sejak malam jahanam itu, seulas napas lega yang panjang keluar dari dadanya. Setidaknya, untuk beberapa jam ke depan, ia memiliki tempat tersembunyi yang aman untuk menangis dan merawat luka-lukanya tanpa perlu takut dihakimi oleh siapa pun.
Nadia perlahan mendorong pintu kayu paviliun itu hingga terbuka lebar. Ketika ia melangkah masuk dengan kaki yang terseok-seok, matanya langsung mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan.
Paviliun itu memang tidak luas, namun tata letaknya sangat efisien dan fungsional untuk ditinggali satu orang. Begitu masuk, Nadia langsung disambut oleh sebuah ruang utama kecil yang merangkap sebagai area santai. Di sana, terdapat sebuah kasur busa berukuran single yang diletakkan langsung di atas lantai ubin, lengkap dengan sepasang bantal yang dilapisi seprai bermotif garis-garis yang sudah agak pudar warnanya. Di sudut ruangan, berdiri sebuah lemari pakaian kayu dua pintu yang ukurannya tidak terlalu besar, cukup untuk menampung isi ransel tuanya.
Maju beberapa langkah ke dalam, terdapat sebuah sekat dinding pendek yang memisahkan area tidur dengan sebuah dapur mini. Di atas meja dapur semen yang dilapisi keramik putih, ada sebuah kompor gas satu tungku yang tabungnya sudah terpasang, sebuah wajan kecil, dan beberapa buah piring serta gelas plastik yang tertata rapi di rak gantung. Tepat di sebelah dapur mini tersebut, terdapat sebuah pintu plastik kecil yang menuju ke kamar mandi dalam. Sebuah ruangan sederhana dengan bak mandi air tawar, sebuah gayung, dan kloset jongkok yang tampak bersih meski dindingnya sedikit berlumut.
Secara keseluruhan, tempat itu memang sedikit berdebu karena sudah lama tidak ditempati, namun udaranya sama sekali tidak pengap berkat sebuah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah tembok belakang. Jendela itu membiarkan cahaya matahari siang masuk dengan bebas, menerangi ruangan yang tenang itu.
Nadia menurunkan tas ranselnya ke atas kasur busa dengan perlahan. Ia mengusap permukaan kasur itu dengan telapak tangannya yang gemetar. Tempat ini tidak memiliki fasilitas mewah seperti pendingin ruangan atau lantai marmer mengkilap layaknya kamar megah Axel di rumah keluarga Pramoedya. Namun, bagi Nadia, paviliun sederhana yang sunyi ini terasa jauh lebih berharga. Di sinilah ia akhirnya bisa menutup pintu rapat-rapat, mengunci dunia luar yang kejam, dan mendapatkan kembali secuil rasa aman yang sempat dirampas habis-habisan darinya.
***