NovelToon NovelToon
Menggembala CEO Pemalas

Menggembala CEO Pemalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:488
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!

Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.

Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap Untuk Sang Analis

Permainan catur di lantai 42 KALUMPERRI CORP baru saja memasuki babak yang paling mendebarkan.

Bagi Aulia Putri, mengandalkan rencana dari seorang bos yang biasanya menghabiskan setengah waktu kerjanya untuk memburu monster digital terasa sangat berisiko.

Namun, setelah melihat kilat tekad dan kejeniusan dingin di sepasang mata gelap Khatyr Ali Fatih siang itu, Aulia memilih untuk menaruh seluruh kepercayaan profesional dan masa depannya di tangan sang CEO.

Rencana perangkap dokumen palsu (false document trap) dimulai tepat pukul lima sore pada hari Senin yang menegangkan itu.

Di dalam ruang kerja CEO yang terkunci rapat, Khatyr tidak lagi bersandar malas. Dengan kacamata baca berbingkai tipis yang jarang ia gunakan bertengger di hidung mancungnya, ia mengetik baris demi baris formula algoritme di layar komputernya dengan kecepatan yang luar biasa.

Aulia berdiri di sampingnya, memperhatikan bagaimana jemari panjang Khatyr bergerak lincah, menyusun sebuah dokumen analisis strategis mengenai 'Proyeksi Ekspansi Investasi Logistik Jalur Laut Asia Timur'.

"Dokumen ini harus terlihat sangat meyakinkan, Aulia," ujar Khatyr tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Vania adalah analis yang sangat cerdas. Jika draf ini terlalu mudah dipahami atau terlalu dangkal, dia akan langsung tahu bahwa ini adalah jebakan."

"Lalu, di bagian mana Anda menyelipkan kesalahan logika fatal itu, Pak?" tanya Aulia, mencondongkan tubuhnya sedikit untuk melihat diagram alur di layar.

Khatyr tersenyum licik, mengetuk salah satu kolom proyeksi arus kas di layar dengan ujung penanya.

"Di sini. Pada kolom estimasi biaya lindung nilai valuta asing. Secara sekilas, formulanya terlihat sangat sempurna menggunakan metode regresi linier standar yang biasa diajarkan di universitas. Namun, jika algoritme ini diintegrasikan dengan sistem otomatisasi inti milik Kalumperri, terjadi overlapping perhitungan bunga majemuk yang akan menciptakan defisit fiktif sebesar lima ratus miliar rupiah pada tahun ketiga."

Khatyr mendongak, menatap Aulia dengan binar mata jenaka yang penuh kemenangan.

"Hanya orang yang benar-benar mendesain arsitektur sistem inti Kalumperri dari nol, yaitu aku yang bisa mendeteksi anomali perhitungan ini dalam waktu singkat. Bagi analis konvensional seperti Vania, draf ini akan terlihat seperti mahakarya analisis manajemen mikro yang ditulis oleh lulusan terbaik Universitas."

Aulia terpukau. Kejeniusan Khatyr yang selama ini disembunyikan di balik topeng kemalasannya kembali membuat dadanya bergetar dengan kehangatan yang aneh.

"Baiklah. Langkah pertama disetujui. Bagaimana cara kita memberikan umpan ini kepada Vania?"

"Itu bagianmu, Partner," jawab Khatyr seraya mengedipkan sebelah matanya.

"Buatlah seolah-olah kamu secara tidak sengaja meninggalkan draf cetak dokumen ini di dalam map merah di atas meja kerjamu saat kamu pergi ke pantry lobi depan esok pagi. Vania pasti akan memanfaatkan kesempatan itu untuk mencurinya demi mendapatkan bukti fisik yang dia dambakan."

Hari Selasa pagi tiba dengan ketegangan yang sunyi.

Pukul sembilan lewat lima belas menit, sesuai dengan skenario yang dirancang, Aulia meletakkan map merah tebal berisi draf analisis strategis palsu itu di sudut meja kerjanya yang sangat mudah terlihat dari koridor lift eksekutif.

Ia kemudian bangkit berdiri, membawa gelas kertas kosongnya, dan berjalan menuju pantry lobi depan dengan langkah santai, meninggalkan meja kerjanya kosong tanpa pengawasan selama lima belas menit penuh.

Dari balik celah kaca buram di dekat pantry, Aulia mengamati koridor lantai 42.

Benar saja, hanya dalam hitungan menit, sosok wanita dengan setelan blazer merah marun yang tajam melangkah keluar dari lift eksekutif.

Vania Larasati berjalan dengan langkah tergesa-gesa, berpura-pura membawa tumpukan dokumen riset pasar.

Ketika melewati meja kerja Aulia dan melihat map merah tebal yang tergeletak di sana, langkah kaki Vania seketika terhenti.

Vania melirik ke sekeliling lorong yang sepi, lalu dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, ia membuka map merah tersebut, mengambil draf dokumen di dalamnya, memasukkannya ke dalam map riset miliknya sendiri, dan segera melangkah kembali masuk ke dalam lift dengan senyum kemenangan yang sangat lebar di wajahnya.

Aulia menarik napas lega, tersenyum tipis di balik gelas kertasnya. Umpan telah ditelan sepenuhnya.

Pukul dua siang, badai yang sesungguhnya akhirnya pecah di KALUMPERRI CORP. Atas permintaan darurat dari Vania Larasati yang didukung oleh beberapa direktur senior loyalis Andra, sebuah Rapat Koordinasi Direksi Luar Biasa mendadak diadakan di Ruang Konferensi Utama lantai 40.

Suasana di dalam ruangan itu sangat mencekam. Pak Haryo selaku Direktur Senior duduk di kursi pimpinan dengan dahi berkerut dalam, sementara para direktur divisi lainnya berbisik-bisik dengan wajah tegang.

Vania berdiri di depan layar proyektor dengan ekspresi wajah yang memancarkan kemenangan mutlak.

Di sampingnya, beberapa lembar dokumen draf palsu yang ia curi dari meja Aulia pagi tadi sudah digandakan dan dibagikan kepada seluruh anggota rapat.

Khatyr Ali Fatih duduk di kursi utamanya dengan gaya yang sangat santai, menopang dagunya dengan sebelah tangan seolah-olah rapat darurat ini adalah hal paling membosankan di dunia.

Di belakangnya, Aulia Putri berdiri tegak dengan tablet di tangannya, memancarkan ketenangan profesional yang tak tergoyahkan.

"Para hadirin dewan direksi yang terhormat!" seru Vania dengan suara lantang yang memecah keheningan ruangan.

"Hari ini, saya berdiri di sini untuk membongkar sebuah pelanggaran tata kelola perusahaan paling berat yang pernah terjadi dalam sejarah Kalumperri Corp! Sebuah penipuan sistematis yang mempertaruhkan masa depan investasi kita!"

Vania menunjuk langsung ke arah Aulia dengan jarinya yang dicat merah gelap.

"Selama satu bulan terakhir, kita semua terpukau oleh keputusan-keputusan strategis yang diambil oleh Pak Khatyr sebagai CEO. Namun faktanya, keputusan-keputusan hebat itu bukan hasil pemikiran dari CEO kita yang jenius! Melainkan hasil rancangan sepihak dari sekretaris pribadinya, Aulia Putri!"

Bisikan terkejut langsung meledak di seluruh ruangan. Pak Haryo menggebrak meja dengan wajah merah padam. "Vania! Tuduhanmu sangat lancang! Apa bukti fisik yang kamu miliki untuk mendukung klaim gila ini?!"

"Ini buktinya, Pak Haryo!" jawab Vania penuh kemenangan, mengangkat dokumen draf merah marun palsu tersebut ke udara.

"Dokumen ini adalah draf rencana ekspansi logistik laut Asia Timur yang saya temukan secara langsung. Gaya penulisan, analisis risiko, dan formulasinya seratus persen identik dengan skripsi akademis milik Aulia Putri! Dokumen ini membuktikan bahwa sekretaris baru ini telah bertindak melampaui otoritasnya, menjadi 'CEO Bayangan' yang mendikte seluruh kebijakan korporasi kita secara ilegal!"

Vania menatap Khatyr dengan pandangan menghina.

"Bagaimana penjelasan Anda mengenai dokumen ini, Pak CEO? Apakah Anda bersedia mengakui bahwa Anda hanyalah boneka yang digerakkan oleh sekretaris Anda sendiri?"

Seluruh mata di dalam ruangan kini tertuju pada Khatyr, menunggu reaksi panik atau kemarahan dari sang pimpinan tertinggi.

Namun, Khatyr tidak panik sedikit pun. Sebaliknya, ia justru tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat meremehkan di dalam ruangan yang tegang itu.

Ia perlahan bangkit dari kursi kulitnya, merapikan kerah jas biru dongkernya, lalu berjalan mendekati layar proyektor dengan langkah tegap yang dipenuhi karisma kepemimpinan yang mendominasi.

1
falea sezi
nyimak klo bagus q ksih hadiah thor🤭
Althea Shalmaira: semoga suka kak/Smile//Whimper/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!