[After We Meet]
Zelma Agatha, merupakan sesosok gadis yang memiliki Toko Kue yang cukup ramai akan pembeli di kotanya, Heavent Hills. Ia membuka toko kuenya seperti biasa, hari itu ia dihampiri oleh sesosok pria yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Pria tersebut merupakan seorang Mafia ternama, Marc Lawrence. Ia juga merupakan seorang duda yang memiliki seorang anak tunggal.
Pertemuannya dengan pria tersebut benar-benar membuatnya tidak akan menyangka akan mengubah kehidupan romansanya kedepan.
Ikuti terus cerita ini, akan ada banyak kisah menarik dan hal-hal baru yang akan di hadapi Zelma selama bersama Marc!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nocturnlax, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
"Lo gak harus jawab itu sekarang, but one thing you should know that I love you so much more, no matter what."
"Marc..." Ucap Zelma lirih.
"Please don't be in love with someone else, Zel." Marc meraih tangan gadis itu dan memegangnya dengan lembut, dikecupnya punggung tangan Zelma.
"Marc, gue tau ini terlalu cepat buat lo ngutarain perasaan. Tapi, gue belum bisa jawab semua itu sekarang. Kasih gue waktu buat mikir dulu ya?" Pinta Zelma, ia menatap pria itu dan meyakinkannya.
Raut wajah Marc terlihat lesu saat mendengar jawaban dari Zelma, ia memalingkan wajahnya dari gadis itu dan menatap nanar. Zelma yang melihat akan hal itu membuatnya jadi merasa bersalah.
Suasana diantara mereka berubah jadi canggung, tidak ada perbincangan yang terjadi. Marc sudah meminum tiga buah kaleng soda, sedangkan Zelma sedari tadi hanya bisa menatapnya.
Marc kemudian berlalu dari hadapannya tanpa berpamitan, lagi-lagi ia ditinggal sendiri. Zelma dilanda perasaan murung, ia benar-benar tidak tau harus melakukan apa selagi Marc menunggunya mengolah semua hal tersebut di kepalanya.
"Gue salah ya?" Gumamnya dalam hati, ia mencari-cari dimana letak kesalahannya.
"Zel, lo kesini bareng siapa?" Saat tengah tenggelam dalam pikirannya, ia tersadar akan suara yang sangat familiar di telinganya, itu Gisel.
Ia duduk tepat di tempat Marc, ia menaruh tas selempangnya di atas meja dan menatap Zelma dengan alisnya yang terangkat sebelah. Ia bingung melihat sahabatnya yang satu ini murung di saat yang lain tengah menikmati acara.
"Gue dijemput Marc. Sel, gue mau ngomongin sesuatu." Nada bicara Zelma berubah menjadi parau, seketika Gisel sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang dialami sahabatnya.
"Lo mau bicarain ini disini atau mau cari tempat lain?" Zelma menyarankan Gisel untuk segera membawanya pergi dari tempat ini.
"Kita ke taman yang di halaman depan aja, gimana? soalnya gue gak bisa bawa lo jauh-jauh, gue kesini bareng suami gue." Zelma dengan cepat mengiyakan ajakkan dari Gisel.
Mereka berdua beranjak bersamaan meninggalkan Roof Top, Gisel sempat berpamitan kepada suaminya untuk pergi sebentar bersama Zelma dengan alasan mencari sedikit udara segar.
Mereka berdua berjalan melewati tamu-tamu lainnya, Zelma bahkan tidak perduli akan orang-orang disekitarnya. Setibanya ia dan Gisel di taman halaman depan Mansion milik Marc, Zelma langsung menjatuhkan dirinya pada kursi taman yang dekat dengan Air Mancur.
"Sel, ada yang confess ke gue tentang perasaannya. Tapi, gue belum bisa jawab itu sekarang dan menurut lo apa gue salah karena butuh waktu buat ngejawab?" Gisel mengernyitkan alisnya, sudah lama sekali ia tidak mendengar ada seseorang yang berani mengutarakan perasaannya kepada Zelma.
"First of all, sebelum gue jawab pertanyaan lo, kasih tau ke gue orang mana yang berani ngeconfess sama lo? is he hot?" Zelma yang ditanyai balik serasa mendapat intimidasi dari Gisel, ia mengumpulkan sedikit energi demi memancing gejolak keberanian untuk menjawab pertanyaan sahabatnya.
"Lo beneran mau tau orangnya? Tapi lo janji dulu sama gue buat gak kaget," Gisel memutar bola matanya dan mengiyakan dengan nada kesal.
"Marc." Mata Gisel membelalak mendengar jawaban yang diutarakan oleh Zelma.
"Hah?! Seriusan lo?!" Tak sengaja Gisel berteriak, Zelma langsung menaruh jari telunjuknya di bibir Gisel guna memberi tahu untuk tetap tenang.
"Gue serius, Sel. Lo aja gak percaya apalagi gue,"
"Tadi sebelum gue sama dia kesini, dia tiba-tiba nyium gue." Gisel menggeleng-gelengkan kepalanya dan masih tidak percaya tentang apa yang telah diperbuat Marc kepada sahabatnya.
"Terus lo gimana?! Lo ngelawan?!" Zelma menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Gue... gak ngelawan, gue keburu ngefly pas itu." Gisel mengutik dahi gadis itu, Zelma meringis sambil memegang dahinya.
Gisel memperbaiki posisi duduknya, ia bersandar pada kursi yang tengah didudukinya dan memalingkan wajahnya dari Zelma menatap air mancur di depan mereka.
"Zel, lo gak salah kok buat mikir-mikir dulu buat ngejawab pertanyaan dari Marc. Tapi, ada satu hal yang harus gue tanya ke lo."
"Apa itu?"
"Lo ada perasaan juga gak sama Marc?" Zelma meremas dress yang ia kenakan sekarang, ia bimbang harus menjawab apa.
"Gue bingung, Sel. Gue gak ngerti sama perasaan gue sendiri, gue bahkan udah lama gak jatuh cinta sama orang."
Zelma bukan tipikal orang yang dapat menyimpulkan perasaannya dengan mudah, itulah mengapa ia cukup sulit mengambil keputusan.
"Lo harus paham sama perasaan lo sendiri, Zel. Sekarang gue punya pertanyaan lagi buat lo, lo nyaman gak tiap di dekat Marc?" Sekali lagi lontaran pertanyaan dari Gisel membuat Zelma menghela nafas.
"Iya, Sel. Gue akui tiap dekat dia gue ngerasa nyaman banget, I feel safe around him." Ujar Zelma lirih, tatapannya terpaku pada air mancur.
Sekelebat bayangan Marc yang selalu memberikan perhatian-perhatian kecil kepadanya tiba-tiba membuat Zelma yakin akan perasaannya, ia bahkan masih ingat akan dekapan Marc padanya yang begitu hangat.
"Kalau lo ngerasa kayak gitu artinya lo ada rasa juga ke dia, Zel. Walaupun itu cuma dikit doang, saran gue lo berdua harus lebih sering spend time berdua biar lo lebih yakin lagi sama perasaan lo," Gisel memberi saran yang cukup sederhana untuk Zelma.
"Everything takes time, Zel. Gue harap lo berdua bisa lebih dekat lagi." Gisel mengusap bahu sahabatnya dan mendekap Zelma dalam pelukannya.
Mereka tidak tau di sisi lain taman bahwa Marc sedang memperhatikan dan mendengar semua percakapan mereka, ia merasa bersalah telah memberikan kesan untuk memaksa Zelma menerima perasaannya.
Zelma yang sedari tadi masih berada dalam dekapan Gisel tiba-tiba menumpahkan air matanya, ia mengeluarkan segala emosi yang tertahan di hatinya. Gisel kemudian melepas dekapannya dan menyeka air mata sahabatnya.
"Gue tau lo merasa tertekan, It's okay to cry tapi jangan berlarut. You are too hot to cry tonight." Goda Gisel yang membuat Zelma terkekeh pelan.
"Sel, kok bisa ya Marc suka sama gue?" Gisel menatap keatas sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir, ia mencoba berfikir untuk itu.
"Mungkin lo orangnya asik dan pas aja gitu buat dia, selain itu lo juga cantik dan malam ini lo bener-bener seksi banget,"
Zelma mencerna baik-baik perkataan Gisel, ia memutar bola matanya tanda ia tidak mempercayai perkataan Gisel.
"Gue serius sumpah. By the way, gue gak pernah liat dress lo yang ini. Ini lo beli kapan? kok gak ngajak gue?" Gisel menatap kagum ke arah Zelma yang membuat gadis itu agak sedikit risih.
"Ini bukan gue yang beli, ini dibeliin sama Marc. Tadi siang anak buahnya mampir ke Toko nganterin mobil gue balik sama ngasih bingkisan yang ternyata dress ini." Ujar Zelma, namun tiba-tiba Gisel merasa heran saat sahabatnya itu mengatakan bahwa anak buah Marc mengantar mobilnya pulang.
"Kok mobil lo dibawa sama anak buahnya Marc? Bannya bocor apa gimana?" Zelma menggeleng.
Ia menceritakan kejadian yang ia alami saat menonton di bioskop kemarin malam kepada Gisel, merupakan alasan mengapa mobilnya diantar oleh anak buahnya Marc.
Gisel benar-benar ternganga, kini ia yang dibuat bergeming oleh Zelma. Pikirnya, jika sahabatnya ini bersama Marc akan banyak hal yang bisa mengancam nyawanya, namun ia percaya bahwa Marc akan selalu melindungi Zelma.
"Tapi lo gak apa-apa 'kan?" Tanya Gisel dengan khawatir.
"Gue gak apa-apa, kalau gak ada Marc gue gak tau lagi bakal kayak gimana."
"Zel!" Seru seseorang dari sisi kiri taman.
Memalingkan wajahnya, didapati Marc sedang berdiri menghadap ke arahnya sembari memegang sekaleng soda. Marc mengisyaratkan Zelma untuk ikut dengannya, buru-buru ia melangkah ke arah pria itu, ia meninggalkan Gisel seorang diri di taman.
Gisel hanya bisa menatap pungggung Zelma menjauh darinya, sedangkan ia masih tetap di tempat yang sama. Ia segera menelpon suaminya untuk menyusulnya di taman depan Mansion.
Zelma telah mensejajarkan badannya dengan Marc, ia kemudian bertanya kepada Marc tentang satu hal yang memang harus ia tanyakan.
"Marc, lo serius sama gue?" Marc belum menjawab, mereka terus berjalan hingga tiba di halaman belakang.
Pandangan Zelma disuguhkan dengan kolam berenang pribadi milik Marc yang begitu luas dan ia tebak itu cukup dalam juga untuk menenggelamkannya yang sama sekali tidak tau berenang.
Marc mengajak Zelma untuk duduk berdua di pinggiran kolam, ia melepas sepatunya dan menggulung kaki celananya kemudian memasukkan kakinya ke dalam kolam.
Zelma juga melakukan hal yang sama, ia melepas heelsnya dan mengangkat sedikit dressnya sehingga dapat memperlihatkan kakinya hingga ke paha, Marc yang melihat itu hanya bisa menelan ludah.
"Lo ngomongin apa aja tadi bareng Gisel?" Pandangan Marc fokus tertuju ke kolam, ia tidak berani melihat Zelma yang berada di samping kirinya.
"Banyak hal." Jawab Zelma sembari memain-mainkan kakinya di dalam air, pria itu mengangguk kecil akan jawaban yang ia dapat.
"Maafin gue soal yang tadi," Ujar Marc kemudian.
"Gue tau lo mungkin belum siap dan mikir gue nyatain perasaan terlalu terburu-buru. So, gimana kalau kita jalani aja dulu kayak biasanya?" Zelma kemudian mendekatkan badannya ke arah Marc, diraihnya tangan pria itu.
"Lo harus kenal gue lebih jauh dulu, takutnya gue gak sesuai apa yang lo harapin."
......................
semangat Thor 💪💪
HOLAAA KAK NESSS NISAA MAMPIR YA😻😸
gila sih