Apa tujuan dari kehidupan?
Kekayaan?
Kekuasaan?
Kejayaan?
Tidak, tujuan dari kehidupan hanyalah kesenangan.
Ketika mereka mendapatkan kekayaan, mereka senang.
Ketika mereka mendapatkan kekuasaan, mereka senang.
Ketika mereka mendapatkan kejayaan, mereka senang.
Tujuan hidup sesimpel itu, pada akhirnya ketika mereka meraih tujuan, mereka akan senang.
Dan aku bereinkarnasi kedua kalinya untuk kesenangan.
Menggunakan segudang harta kekayaan dan pengetahuan, aku akan mencari kesenangan di kehidupanku yang ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hermit of Imagination, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
014. Negara ini
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan." Ferdinand berbicara sebelum menghisap rokoknya.
"Apanya yang tidak seperti yang aku pikirkan. Kecuali kalian, mana ada polisi khusus yang jalan-jalan dengan seluruh pasukan."
"Fuuh." dia mengeluarkan asap rokok dan melanjutkan. "Bukannya kami malas-malasan, hanya saja kami sudah menyelesaikan semua perintah dan tugas yang ada."
"Jika sudah selesai, maka laporkan! Biar diberi pekerjaan. Bukannya malah menunda laporan agar bisa liburan."
"Tentu saja kami tau prosedur itu. Kami juga sudah melakukannya, hanya saja tuan kami memberikan sedikit kesantain. 'Pergi ke Kota Elevana, untuk mendirikan markas utama. tidak ada batas waktu.' Begitulah perintahnya."
"Dan kau memanfaatkan perintah itu untuk bersantai?"
"Mau bagaimana lagi. Itu adalah tujuan tuan kami memberi perintah."
Yang benar saja, ada juga orang seperti itu. Dunia itu luas …
"Aku sebenarnya ingin bertanya dari tadi, kalian ini, kan polisi … tapi kenapa itu adalah ordo, dan juga kepada memiliki tuan, bukanlah polisi itu Hanya bersumpah setia kepada negara."
Ferdinand menyalakan rokoknya, sebelum menjawab. Padahal rokoknya baru mati. Ini orang benar-benar pecandu rokok.
"Pada dasarnya, kami adalah ksatria. Itulah kenapa nama kami Ordo Stella. Kami diangkat menjadi ksatria hanya untuk formalitas tuan kami. Tapi karena kami terlalu banyak nganggur dan nggak begitu berguna, tuan kami mengirim kami ke kepolisian. Dan jadilah sekarang, pasukan polisi khusus."
Ada juga yang seperti itu, baru tau aku. Dimana pun itu, tugas utama seorang ksatria adalah melindungi tuannya, tapi tuannya malah mengirim mereka ke kepolisian. Tapi, bagaimanapun juga mereka tetaplah seorang ksatria, jadi mereka diwajibkan mengikuti perintah Tuannya.
"Alasannya ada dua kenapa kami dikirim ke kepolisian." Ferdinand menyedot rokoknya dan mengeluarkan asapnya sebelum melanjutkan. "Pertama adalah agar kami bisa membangun kekuatan kami dengan menjadi kuat melalui pengalaman bertempur nyata. Kedua, untuk membasmi para mafia di kerajaan ini yang merusak negara."
"Membasmi Mafia?"
"Iya, sebelum raja sekarang naik tahta, raja terdahulu kurang becus dalam mengerjakan tugasnya, menjadikan negara ini sebagai sarang mafia. Bukan hanya itu saja, bahkan ada juga beberapa faksi bangsawan yang hampir mau melakukan kudeta.Tapi, para bangsawan itu sudah diatasi saat raja sekarang naik tahta menggunakan cara pembantaian dengan bekerja sama dengan tuan kami."
"Pembantaian? itu artinya bukanlah raja sekarang adalah seorang tiran."
"Raja sekarang memang Tiran, tapi kerajaan masih damai sekarang, bahkan lebih baik dari sebelumnya, dan juga negara ini malah menjadi negara adidaya."
"Gila!" dalam kehidupanku sebelumnya aku sudah banyak membaca cerita sejarah. Dari itu semua aku bisa mengetahui bahwa kebanyakan raja tiran itu jarang yang bisa membuat pencapaian bagus dalam mengelola negara. Tapi raja ini berhasil membuat negara tirani ini menjadi negara adidaya. Kelihatannya umur negara ini masih panjang.
"Lalu gimana dengan mafia."
"Seperti yang aku katakan tadi, kami sudah menyelesaikan tugas, meskipun hanya menyisakan satu organisasi mafia saja."
"Oh, jadi begitu." aku memiliki tebakan dalam pikiranku. "Alasan kenapa kalian disuruh mendirikan markas di kota Elevana karena di sanalah basis utama mafia itu bergerak."
"Kenapa kau bisa tahu?" Ferdinand tampak sedikit terkejut.
"Dengan begitu banyaknya kau memberikan petunjuk, orang bodoh pun bisa tahu."
"Begitukah, aku kelihatannya terlalu banyak berbicara."
"Semuanya, ada yang perlu ditanyakan?" Selagi aku dan Ferdinand berbicara, Komandan Stella sudah selesai mengatur seluruh pasukan, dan menyusun strategi penyerangan. "Jika tidak ada, laksanakan."
"Siap laksanakan." Seluruh pasukan menjawab dengan semangat.
Setelah aku lihat-lihat, Vienna adalah kapten divisi satu.
Ada juga pria yang dengan mata tertutup yang memegang sebuah senapan bolt-action. Dia tampak sangat pendiam, suasana di sekitarnya Sangat redup. dia memiliki tinggi 165 cm tapi karena dia bungkuk dia terlihat pendek. rambutnya berwarna hitam panjang sebahu tampak tidak terurus.
Aku yakin orang inilah yang menembakku.
"Oii, siapa pria itu." Aku bertanya kepada Ferdinand.
"Kapten divisi kedua, Ryan Walker."
"Dia kan, yang berhasil menembak ku."
"iya, dia sniper yang handal."
BOOM
Perhatikan ku tertarik karena suara ledakan keras. itu adalah suara yang dihasilkan oleh komandan Stella yang dengan kedua kapak miliknya berhasil menghancurkan penutup lubang yang sangat lebar dibawah. Setelah itu dia memimpin beberapa divisi masuk ke lubang. Beberapa divisi ditinggalkan untuk menjaga pintu masuk.
"Apa yang kau lakukan, cepat bergerak." Ferdinand dari belakang mendorongku.
"Eh, aku juga ikut?"
"Tentu saja."
"Betapa merepotkan. Bolehkah aku mengeluarkan senjata?"
"Lakukan sesukamu."
Dengan begitu aku mengeluarkan Thor karena itu mudah dibawa. Total peluru dalam Thor sekarang sekarang adalah 18, tapi untungnya aku sudah menyiapkan 96 peluru peringkat 4 sebagai cadangan. ini juga adalah peluru yang sama yang aku gunakan saat bertarung melawan Ferdinand dan Vienna tadi. Dengan begini hanya tersisa 90 peluru di brankas emas.
Untuk berjaga-jaga aku juga mengisi ulang Poseidon. aku memiliki 12.000 peluru peringkat 4 sebagai cadangan untuk Poseidon. sekarang aku setelah aku mengisi ulang itu tertinggal 9000.
Dan juga aku mengeluarkan sebuah artefak EX, yang berbentuk cincin, dan memasangkannya di jari tengah tangan kananku.
Di kelompok ini, entah kenapa aku merasa sangat mencolok, itu tentu saja yang utama adalah karena pakaian, tapi disamping itu ada juga aspek lainnya.
"Kalian ini sangat eksentrik ya? masih menggunakan senjata jarak dekat seperti pedang dan tombak di era sekarang."
Benar, kebanyakan penyihir di kelompok ini menggunakan senjata jarak dekat sebagai senjata utama. Ini membuatku sangat berbeda berada di tengah kelompok ini.
Entah itu di bumi atau di dunia sihir. Di era sekarang, pedang dan tombak sudah banyak ditinggalkan karena dinilai kurang efektif. Banyak orang berganti menggunakan senjata api.
Jarak sangat menentukan bagi kemenangan seorang penyihir. Dari dulu hingga sekarang, sihir yang dapat melakukan serangan jarak jauh itu ada sepanjang waktu. Hanya saja, dulu itu tidak akan membuat supremasi senjata jarak dekat berkurang, karena mereka membutuhkan waktu yang relatif lama untuk bisa mengaktifkan sihir jarak jauh
Tapi itu hanya dulu, dari waktu ke waktu. Sihir terus menerus berkembang dan ditingkatkan, yang dulunya membutuhkan waktu relatif lama, sekarang bisa dilakukan dengan waktu yang sangat singkat. Inilah yang membuat supremasi senjata jarak dekat seperti pedang dan tombak menurun drastis.
Tapi, meskipun begitu, penganutnya dan penggunanya masih ada sampai sekarang. Kebanyakan dari mereka agar dapat mengimbangi sihir era sekarang, mereka lebih berfokus pada kecepatan, seperti Ferdinand dan Vienna. Dengan kecepatan, seseorang bisa membunuh musuhnya sebelum musuh itu bisa melakukan gerakan.
"Ini ada kaitannya dengan masa lalu kami sebagai sebuah geng jalanan."
Ahh, pantas aja … sebagai geng jalanan mereka pasti akan sulit untuk membangun sihir mereka karena kurangnya sumberdaya yang memadai. karena itukah mereka menggunakan senjata jarak dekat. Iya, lagipula itu sangat mudah untuk membangun sihir seperti itu, yang penting punya otot dan roh, itulah utamanya. Aku dulu juga sama seperti mereka.
"Eh tunggu dulu, ksatria … dari geng jalanan? … bukan dari kaum bangsawan? Bagaimana bisa?" Kebanyakan ksatria itu berasal dari kaum bangsawan, tentu saja rakyat jelata juga bisa menjadi kesatria. Tapi itu kadangkala hanya individu yang berbakat, bukan kelompok.
"Tuan kami itu sedikit eksentrik kau tau." Ferdinand menyalakan rokok lagi sebelum lanjut berbicara. "Seperti yang aku bilang tadi, beliau menjadikan kami ksatria hanya karena formalitas. Karena beliau tidak begitu menyukai kaum bangsawan meskipun beliau sendiri adalah bangsawan, beliau memilih kami sebagai ksatria karena memiliki hubungan dengan komandan di masa lalu.
"Dan juga kenapa kau begitu terkejut mendengar latar belakang kami. kami sudah sangat terkenal di seluruh negeri, bahkan di seluruh dunia."
"Mau sombong."
"Siapa juga."
pakai nama aja Thor
saudaraku mohon ini yg sering baca novel saya gk enak baca pakai pihak pertama
Salam Permata Elemen.
🔥SEMANGAT TERUS THOR NGETIKNYA👏👏👏🔥
'setelah meminumnya' yang bener thor