NovelToon NovelToon
DiBuang Suami Di Pungut Om

DiBuang Suami Di Pungut Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AmeeraKa94

Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..

selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.

malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.

seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.

plak
plak
plak

"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.

pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.

Cring

Zzzzzrrkkk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Janji Yang pecah

Apartemen Keenan gelap. Cuma lampu meja yang nyala temaram. Udara panas. Sesak.

Clara menindih tubuh Keenan. Bibirnya sudah menempel di bibir Keenan. Napasnya memburu.

“Stop, Ra.” Suara Keenan serak. Tangan dia menahan bahu Clara.

Bayangan wajah Netha dan Queen muncul. Jelas. Nyakitin. Dia baru janji seminggu lalu. Janji gak bakal ngulangin lagi.

“Kenapa, Keen?” Clara menatapnya. Matanya berkaca. Parau. “Lo janji mau tanggung jawab.”

“Aku... aku udah janji sama Netha.” Keenan merem. Erat. “Gue gak bisa ngkhianatin dia lagi.”

Clara tertawa. Tapi tawanya dingin. Tanpa kehangatan. “Ckk. Janji? Sama perempuan yang nusuk gue sebulan lalu?”

Dia bangun. Duduk di atas perut Keenan. Tatapannya berubah. Tajam. Mengancam.

“Dengar ya, Keen.” Jari Clara nunjuk dada Keenan. “Kalau lo nolak gue sekarang, gue bakal lapor polisi. Gue bakal bilang Netha nyoba bunuh gue. Dengan bukti luka bekas operasi gue.”

Keenan diam. Napasnya berat. Rahangnya ngeras.

“Lo pilih sekarang.” Bisik Clara. “Gue, atau penjara buat istri lo.”

Hening 3 detik.

Keenan gak jawab. Tapi tangannya yang tadinya nahan bahu Clara... melemah. Jatuh ke kasur.

Clara langsung paham. Senyum kemenangan muncul di bibirnya. Dia nunduk. Lumat bibir Keenan lagi. Kali ini lebih dalam. Lebih paksa.

Keenan memejamkan mata. Bukan karena nikmat. Tapi karena benci sama dirinya sendiri.

Satu menit. Dua menit.

Lampu meja dipadamkan.

Sisanya... gelap.

---

*30 menit kemudian.*

Keenan duduk di pinggir ranjang. Punggungnya membungkuk. Kepalanya dipegang dua tangan. Napasnya berantakan.

Clara duduk di belakangnya. Selimut nutup tubuhnya. Tapi senyumnya puas. “Maaf, ya. Gue gak mau, tapi lo maksa.”

Keenan gak noleh. “Diem.”

“Kenapa? Lo Nyesel?” Clara nyenggol punggung Keenan. “Tenang aja. Gue gak bakal minta tanggung jawab. Gue cuma butuh lo inget... siapa yang selalu ada pas lo butuh.”

Keenan mendadak berdiri. Nyari celananya. Dipakai cepat. Tanpa liat Clara.

“Keen—”

“Jangan panggil nama gue Lagi!.” Potong Keenan. Suaranya dingin. Kosong. “Dari sekarang, kita selesai. Gak ada lagi hubungan! Gak ada utang. Gak ada ancaman.Paham Lo!”

Clara terbahak. “Lo pikir gue bakal diem? Lo udah di tangan gue, Keen. Selamanya.”

Keenan berhenti di pintu. Noleh setengah. “ gue ingetin satu hal sama Lo! Kalau lo berani nyentuh Netha lagi... gue sumpah bakal hancurin lo. Dengan atau tanpa bantuan Om Arsen.”ucap Keenan tegas

Braak. Pintu dibanting.

Tinggal Clara di kamar. Sendiri. Senyumnya hilang. Diganti tatapan dendam.

---

Jam yang sama. Rumah Netha. Dapur.

Ting.

Gelas kaca di tangan Netha jatuh. Pecah berantakan di lantai.

“Astagfirullah...” Netha langsung jongkok. Mau ngumpulin pecahan.

“Awkhh.” Jeritan tertahan. Jari telunjuknya tergores. Darah merah langsung keluar.

Netha natap darah itu. Bengong. Dadanya sesak. Perutnya mual. Padahal gak ada angin, gak ada hujan.

“Kenapa perasaan aku tiba-tiba jadi nggak enak gini...” Gumamnya pelan. Tangannya gemetar.

Dia berdiri. Darahnya netes ke lantai. Tapi dia gak peduli. Langkahnya goyah ke ruang tamu. Duduk di sofa. Peluk lutut.

Hatinya berdebar kencang. Bukan karena luka di jari. Tapi karena firasat. Firasat buruk yang selalu muncul tiap Keenan bohong.

`Mas... kamu ngapain?` Batinnya.

HP di meja bergetar. Nama: `Keenan`.

Netha natap lama. Gak diangkat. Hingga panggilan mati sendiri.

---

*Pagi harinya. Lokasi syuting.*

Netha datang telat. Mata panda. Make up gak bisa nutupin capeknya.

“Tha, lo kenapa? Sakit?” Inka langsung nyamperin, bawa kopi.

Netha duduk di kursi rias. “Gak. Cuma gak bisa tidur.”

Inka nyodorin kopi. “Nih. Tapi... lo liat ini belum?” Dia nunjuk HP-nya. Layar IG.

Story Ghea. Foto tangan Ghea yang digandeng tangan pria. Jas hitam. Jam tangan mahal. Caption: `My man, my safe place ❤️`

Walaupun muka gak keliatan, tapi jam tangan itu... Netha kenal. Itu jam yang sama dipakai Arsen waktu lewat di studio.

Netha diem. Kopi di tangannya jadi dingin.

“Lo gak cemburu?” Inka ngeledek, tapi nadanya hati-hati. “Kemarin lo bilang gak punya hak. Sekarang?”

Netha naruh kopi. “Gue gak cemburu, Ka. Gue... kecewa.”

“Kecewa sama siapa?”

“Gak tau.” Netha bohong. Matanya berkaca. Dia cepet-cepet noleh. “Kerjain gue. Hari ini syuting adegan berat.”

---

*Siangnya. Kantor Yudhistira Group.*

Arsen lagi rapat. Tapi pikirannya gak di situ.

Tok tok. Asistennya masuk. “Pak, ada Mbak Ghea. Katanya mau ketemu.”

Arsen pijit pelipis. “Suruh tunggu.”

5 menit kemudian Ghea masuk. Gaun ketat. Senyum menang.

“Sayang... kangen.” Dia langsung duduk di pangkuan Arsen.

Arsen berdiri. Jaga jarak. “Ghea. Saya udah bilang. Hubungan kita cuma formalitas. Buat nenangin keluarga saya.”

Ghea mengerucut. “Formalitas, tapi kenapa lo diem aja pas gue upload story kemarin? Lo sengaja kan?”

Arsen jalan ke jendela. Membelakangi Ghea. “saya nggak main-main sama perasaan orang.”

“Terus sama perasaan istri keponakan lo?” Ghea nyerang. “Kemarin lo tatap dia kayak... kayak lo kenal dia lebih dari sekedar ‘istri Keenan’.”

Arsen diem. Genggamannya di ambang jendela sampai putih.

“Gue lihat, Om.” Suara Ghea melunak. “Utang budi lo ke dia... udah kebanyakan. Hati-hati. Utang bisa lunas. Tapi kalau udah jadi cinta, gak ada bank yang bisa cairin.”

Arsen balik badan. Tatapannya tajam. “Keluar.”

Ghea mendengus. “Dasar bujang lapuk. Gak berani jujur sama diri sendiri.”

Klik. Pintu ketutup.

Arsen menghela napas panjang. Dia ngeluarin HP. Buka galeri. Ada satu foto. Diam-diam dia ambil waktu di studio. Foto Netha lagi ketawa sama Inka. Natural. Tanpa make up tebal.

Dia hapus foto itu. Cepat. Seolah menghapus pikirannya sendiri.

`apa aku udah gila.` Batinnya. `Dia istri Keenan.dia Korban. aku nggak boleh kayak gini terus.`

Tapi kenapa makin dilarang, makin kepikiran?

---

*Malamnya. Rumah Netha.*

Keenan pulang. Bau parfum perempuan nempel di bajunya. Walau udah ganti baju di mobil.

Netha lagi duduk di ruang tamu. Baca skrip. Tapi matanya kosong.

Keenan batuk. “Tha...”

Netha angkat kepala. “udah Pulang?”

“Iya.” Keenan duduk. Jaga jarak. “Hari ini capek banget. Ada kerjaan dadakan.”

Netha angguk. “Hmm.”

Hening. Canggung. Berat.

Keenan ngeliat jari Netha diperban. “Tangan lo kenapa?”

“Kecelakaan kecil. Pecah gelas.” Netha jawab singkat. Tanpa emosi.

Keenan mau pegang tangan Netha. Tapi Netha narik duluan. “Udah malem, Mas. aku mau tidur.”

Dia berdiri. Jalan ke tangga.

“Tha, tunggu.” Keenan manggil.

Netha berhenti. Tapi gak balik badan.

“Maaf.” Suara Keenan pecah. “Gue... gue udah ngancurin kepercayaan lo lagi.”

Netha ketawa. Tanpa suara. Bahunya turun. “Terlambat, Mas. Kepercayaan itu kayak gelas. Sekali pecah... walaupun dilem, gak bakal sama lagi.”

Dia lanjut jalan ke atas.

Keenan duduk di sofa. Sendiri. Di kepalanya cuma ada satu kalimat: `Arggh. Maafkan aku, Netha.`

Tapi maaf... udah gak ada harganya lagi.

---

*Tengah malam. Kamar Netha.*

Netha gak bisa tidur. Dia buka IG. Cari akun Arsen. Private.

Dia scroll story Ghea lagi. Foto dinner. Foto tangan. Foto punggung Arsen.

Jari Netha berhenti di satu foto. Bayangan Arsen dari belakang. Bahu lebar. Postur yang sama kayak kemarin di studio.

`Kenapa aku kok jadi sakit liat ini ya?` Netha nanya ke dirinya sendiri. `aku ini kan istri Keenan. aku juga benci dia. Seharusnya aku seneng dong kalau dia sama cewek lain.`

Tapi hati gak bisa diajak debat.

Dia lempar HP. Peluk bantal. Air mata netes. Satu. Dua.

Bukan karena Keenan. Tapi karena... dia bingung sama perasaannya sendiri.

Di luar kamar, Keenan juga gak tidur. Duduk di balkon. Rokok di tangan. Tapi gak dinyalain.

Dia ngerasa masuk perangkap. Perangkap yang dia buat sendiri.

Dan jauh di Yudhistira Tower, Arsen juga melek. Natap langit-langit. Mikirin perempuan yang gak seharusnya dia pikirin.

Tiga orang. Satu rumah tangga hancur. Satu utang budi. Satu rasa bersalah.

Dan badai... baru mulai.

To be continued...

1
Anwar Ghazi
bagus cerita nya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!