Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: BENANG HALUS YANG TERIKAT KEMBALI
Pekerjaan kedinasan di Markas Komando Pusat Pendidikan Militer Satria Garda akhirnya selesai tepat ketika jarum jam dinding menunjukkan pukul empat sore. Bagi para perwira dan staf, dentang waktu tersebut merupakan penanda mutlak untuk segera membubarkan diri, kembali ke kediaman masing-masing demi melepas penat dan beristirahat setelah seharian penuh memeras otak serta tenaga di bawah rantai komando yang ketat.
Jika ada salah satu perwira yang menanyakan bagaimana nasib pengasuh harian anak Kapten Ayuni Ameera Bakri sepanjang siang tadi, jawabannya cukup ironis. Pengasuh harian yang baru saja disewa itu rupanya tengah lalai dari tugas utamanya. Terbuai oleh sepoi angin pegunungan Kota Bukit Raya yang sejuk, wanita paruh baya itu tidak sadar telah tertidur dengan sangat pulas di atas sebuah bangku taman kayu yang terletak tidak jauh dari tempat Alif dan Arkan bermain bola plastik tadi siang.
Namun, hebatnya takdir hari itu bekerja dengan cara yang sangat rapi. Ketika sang pengasuh akhirnya terbangun dari tidur nyenyaknya dengan wajah linglung, kedua anak kecil itu sudah kembali berada di dalam jangkauan matanya dalam kondisi aman, ceria, dan tanpa kurang suatu apa pun. Alif dan Arkan bahkan tampak tengah asyik menjilati es krim di tangan mereka masing-masing.
Di dalam benak dangkal sang pengasuh yang enggan ambil pusing, ia langsung berasumsi dan berpikir bahwa mungkin saja ibu dari salah satu anak tersebut— entah Kapten Ayu atau Lettu Yunita— yang kebetulan melintas lalu membelikan es krim mewah itu untuk mereka. Pada akhirnya, sang pengasuh memilih untuk bersikap masa bodoh. Baginya, yang paling penting adalah urusan domestik beres, anak tidak hilang, dan ia tetap mendapatkan bayaran gaji harian yang utuh di sore hari.
Sore itu, Ayu sudah melangkah pulang ke salah satu bangunan rumah dinas tipe K-45 yang ia tempati di dalam kompleks ksatrian Pusdikmil Bukit Raya. Begitu kakinya menginjak pelataran semen teras depan, matanya langsung menangkap sosok Arkan yang sudah berdiri tegak menyambut kedatangan ibunya dengan wajah yang belepotan.
"Ya ampun, anak Ibu... kok kotor banget hari ini? Ini habis makan apa, sayang?" ucap Ayu dengan nada gemas yang tak bisa disembunyikan. Ia segera berlutut di depan putranya, membuka tas kerja, lalu mengeluarkan selembar tisu basah untuk membersihkan sisa-sisa lelehan es krim cokelat yang berantakan di sekitar mulut dan dagu mungil Arkan.
"Es klim itu dali Ayah, Ibu," ucap Arkan tiba-tiba dengan suara cadelnya yang polos, menatap lurus ke dalam mata sang ibu.
Gerakan tangan Ayu yang sedang mengusap dagu Arkan seketika terhenti di udara. Jantungnya berdesir aneh.
"Ayah?"
"Iya Ayah... Ayah besal!" kata Arkan lagi dengan penuh keyakinan, merentangkan kedua tangan mungilnya lebar-lebar ke udara untuk menggambarkan betapa tingginya sosok yang ia maksud. Tentu saja Ayu seketika dirundung rasa bingung yang luar biasa. Pikirannya berputar cepat mencari logika.
Ayah besar siapa yang dimaksud oleh Arkan?
Ayu ingin sekali memanggil sang pengasuh untuk menginterogasi dan bertanya mengenai kronologi kejadian tadi siang di lapangan, namun wanita paruh baya itu rupanya sudah buru-buru pamit pulang duluan ke kampung bawah setelah menerima amplop gaji hariannya beberapa menit sebelum Ayu tiba di rumah. Ayu kembali menatap putranya, mencoba menelisik informasi dengan nada selembut mungkin.
"Arkan... coba cerita sama Ibu, tadi siang Arkan main sama siapa saja?"
"Sama Ayah, Ibu. Ayah besal!" Arkan mendadak merengut, merasa kesal karena ibunya seolah-olah tidak memahami ucapannya. Tanpa penjelasan lebih lanjut, bocah kecil itu langsung berbalik badan dan berlari masuk ke dalam bagian dalam rumah, meninggalkan Ayu yang masih termangu di ambang pintu depan.
"Arkan... tunggu dulu, sayang," ucap Ayu pelan, melangkah masuk menyusul putranya sembari mendorong daun pintu kayu hingga tertutup rapat dan menguncinya dari dalam.
Sepanjang langkahnya menuju kamar, pikiran Ayu terus-menerus berputar laksana gasing. Ia benar-benar dirundung rasa penasaran, siapa sebenarnya sosok 'Ayah Besar' yang diceritakan oleh anaknya dengan begitu antusias? Apakah orang itu adalah Letkol Reyes? Sang komandan yang terkenal memiliki postur tubuh yang luar biasa tinggi besar, bahkan tinggi badannya menjulang hingga 204 sentimeter, mengalahkan rata-rata tinggi perwira lainnya. Tapi seingat Ayu, Arkan sudah sangat kenal dengan sosok itu dan selalu memanggil Reyes dengan sebutan 'Paman Raksasa' sejak mereka masih berdinas di kota lama.
Tapi kali ini berbeda, Arkan dengan sangat tegas menggunakan kata 'Ayah Besar'. Siapa pria berseragam loreng di ksatrian ini yang memiliki karisma sekuat itu hingga sanggup membuat Arkan memproyeksikan kerinduan figur ayahnya secara instan? Sebuah nama sempat terlintas di sudut tergelap benak Ayu, namun ia dengan cepat menepisnya karena menganggap hal itu terlalu mustahil dan mengerikan untuk menjadi kenyataan. Ayu menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir kabut pikiran itu, lalu menghampiri Arkan yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Sekarang anak Ibu yang ganteng mandi dulu, ya. Jangan lupa nanti gosok gigi yang bersih. Kalau tidak gosok gigi, nanti giginya dimakan...?" Ayu sengaja menggantung kalimatnya, memancing interaksi.
"Ulat, Ibu!" ucap Arkan memotong cepat, disusul oleh tawa kecil yang renyah sembari telapak tangan mungilnya menutupi mulutnya sendiri karena merasa lucu.
Setelah berhasil memandikan Arkan hingga bersih dan wangi, Ayu pun ikut membersihkan diri, mengganti seragam lorengnya dengan pakaian rumah yang santai, baru setelahnya ia bergerak cekatan di dapur kecilnya untuk menyiapkan menu makan malam sederhana untuk mereka berdua.
Saat jam makan malam tiba, suasana rumah dinas itu terasa begitu sunyi, hanya ditemani oleh suara denting sendok yang beradu dengan piring kaca. Ayu duduk mendampingi Arkan yang sedang menyuap nasi timnya sendiri. Rasa penasaran yang sempat tertunda sore tadi kembali merayap di dada Ayu.
"Arkan... Ibu mau tanya lagi boleh? Apa ayah besar juga yang kasih Arkan es krim?" tanya Ayu dengan nada suara yang sangat pelan dan hati-hati, tidak ingin membuat anaknya merasa tertekan.
"Iya ibu."
"Katakan sama ibu, ayah besar siapa? Maksud ibu namanya siapa?"
Arkan mendongak, matanya berbinar jenaka. "Ayah besal itu... Ayah ganteng, Ibu!"
Ayu menghela napas panjang, sedikit gemas dengan jawaban abstrak sang anak. "Iya, sayang... Ibu tahu dia ganteng. Tapi namanya siapa? Ibu kan gak tahu siapa Ayah Besar yang dimaksud Arkan kalau Arkan cuma bilang begitu."
Arkan justru tersenyum malu-malu, sebuah ekspresi wajah yang sangat jarang ia tunjukkan, lalu kembali menutupi mulutnya dengan kedua tangan. "Ibu... tadi Ayah kasih Alkan makan banyak banget di luangan kelja Ayah. Ada biskuit, ada es klim, banyak deh pokoknya! Ayah baik banget sama Alkan."
Melihat binar kebahagiaan yang begitu tulus di mata putranya, Ayu tidak tega untuk terus mencecar dengan pertanyaan berat. Ia mengusap lembut pipi gembul Arkan yang mulai kemerahan. "Ya sudah, habisin nasinya, terus sekarang Arkan siap-siap tidur, ya. Nanti, Arkan janji harus kenalin Ibu sama sosok Ayah Besar itu, ya?"
"Iya, Ibu! Janji!" sahut Arkan riang, mengacungkan jari kelingkingnya yang mungil ke udara.
Malam semakin larut, menyisakan desau angin pegunungan Bukit Raya yang perlahan menembus celah-celah jendela kaca rumah dinas. Setelah memastikan Arkan tertidur lelap di sampingnya, Ayu berbaring telentang menatap langit-langit kamar yang temaram.
Entah mengapa, malam ini Ayu memutuskan untuk mengubah beberapa kebiasaan domestik yang telah ia rawat dengan sabar selama bertahun-tahun. Jika selama masa perantauan kedinasannya yang jauh dari ibu kota pusat ia yang selalu mengambil inisiatif paling awal—seperti bertanya mendahului tentang kabar harian, menanyakan apakah suaminya sudah makan, atau sekedar menekan tombol panggilan telepon kabel duluan—maka malam ini, ada setitik rasa lelah yang amat besar mendesak di dadanya. Ayu ingin melihat, ia ingin menguji ego suaminya. Apakah pria yang menyandang status sebagai kepala rumah tangganya itu akan berinisiatif mengabari dirinya duluan setelah tahu bahwa istri dan anaknya baru saja menempati wilayah mutasi yang baru?
Namun, waktu yang merayap lambat laun seolah memberikan jawaban yang dingin. Layar ponsel di atas nakas tetap gelap gulita tanpa ada satu pun notifikasi panggilan atau pesan singkat yang masuk. Apa yang ditunggu-tunggu tak kunjung berkabar. Kenyataan pahit itu perlahan mencekik dada Ayu, hingga tanpa sadar ia terlelap dalam tidurnya sembari mendekap erat tubuh putra kecilnya. Di sudut matanya yang jernih, selembar bening air mata tampak mengalir perlahan, hampir lolos keluar membasahi bantal kainnya.
Sungguh, jika ia mau membuka kotak pandora hatinya yang paling jujur, sejak awal malam pertama pernikahan mereka digelar hingga detik ini, Ayu sering kali merasa bahwa pernikahan ini sesungguhnya bukan pernikahan yang nyata. Segala sesuatunya terasa hambar, hampa, dan berjalan satu arah. Ayu selalu dipaksa untuk berjuang sendirian, merayakan ekspektasi dan kebahagiaan itu sendirian.
Bahkan untuk momen-momen krusial yang bagi wanita lain adalah hal yang sakral—seperti hari ulang tahun suaminya, hari peringatan pernikahan (anniversary) mereka, hingga hari kelahiran Arkan—semuanya seolah-olah hanya Ayu yang menghafal mati sendirian di dalam kepala. Di sisi lain, saat hari ulang tahun Ayu sendiri tiba, atau sekadar momen perayaan kebersamaan mereka, suaminya mana pernah meluangkan waktu atau memiliki memori manis untuk memberikan kejutan kecil untuknya. Pria itu selalu berdalih sibuk dengan urusan pasien dan operasi di rumah sakit militer.
Bahkan jika dipikir-pikir dengan logika yang waras, hubungan suami istri di antara mereka berdua pun terasa sangat mekanis dan menyakitkan. Mereka hanya akan berhubungan badan ketika pria yang menjadi suaminya itu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk atau sedang dilanda kekesalan luar biasa yang dibawa dari lingkungan kantor rumah sakit pusat yang berada jauh di ibu kota bagian timur. Tubuh Ayu seolah hanya dijadikan sebagai tempat pelampiasan stres dan amarah kedinasan semata. Jika hari-hari biasa sedang berjalan normal, mana ada kata romantis atau sentuhan penyayangan yang keluar dari insting pria itu untuknya.
Namun, Ayu terlalu takut untuk menghadapi kenyataan bahwa pilihannya di masa lalu keliru. Ia adalah seorang wanita dengan kepribadian perfeksionis yang amat tinggi; ia selalu ingin segala aspek kehidupannya—termasuk urusan rumah tangga—terlihat sangat sempurna, harmonis, dan natural di mata publik serta di hadapan teman-teman sejawatnya.
Maka dari itu, ketika orang-orang di luar sana atau beberapa rekan persit mulai membicarakan desas-desus atau keburukan perangai suaminya, Ayu akan memasang perisai pertahanan yang kuat. Ia akan sibuk berbicara dan mengarang narasi indah di depan semua orang bahwa suaminya adalah sosok pria yang amat mencintainya dan sangat bertanggung jawab—sebuah khayalan fana yang Ayu sendiri tidak tahu kapan akan menjelma menjadi kenyataan di dunia nyata.
Di sisi lain ksatrian, di dalam ruang kerja rumah jabatan yang luas, Kolonel Victor sedang berdiri menatap keluar jendela kaca yang mengarah langsung ke barisan lampu taman Mako. Selama lima tahun perpisahan mereka, Victor sebenarnya tidak benar-benar melepaskan pandangannya dari Ayu. Ia secara rahasia mengirimkan satu, bahkan banyak pasang mata—para anggotanya yang terpercaya—untuk mengawasi keselamatan dan gerak-gerik Ayu dari kejauhan.
Beberapa dari informan itu bahkan ada yang berada di dalam lingkaran terdekat Ayu. Ketika para informan itu melaporkan percakapan konyol atau keluhan samar Ayu mengenai dinamika rumah tangganya, Victor sering kali bertindak konyol dengan berpura-pura bertanya pada adiknya, Shaneen, memancing informasi sensitif yang ujung-ujungnya hanya akan membuat dirinya diomeli habis-habisan oleh Shaneen karena adiknya tahu betul sang kakak semata-mata hanya ingin tahu kabar dan memastikan wanita tersebut baik-baik saja.
Namun, akhirnya, setelah penempatan tugas Victor yang baru terbentang jauh dan dibentengi oleh hamparan laut lepas, Victor memutuskan untuk benar-benar berhenti mencari tahu lagi semua hal tentang kehidupan Ayu. Pria itu memilih mundur sepenuhnya ke dalam bayang-bayang. Satu-satunya hal yang selalu ia rapalkan di dalam setiap sujud sejadah malamnya adalah sebuah untaian doa sederhana, semoga Ayu selalu bahagia. Sebuah doa tulus yang tidak pernah ia ubah satu kata pun hingga detik ini.
Namun, apa yang terjadi siang tadi di lapangan hijau benar-benar di luar kendali logika taktis Victor. Sang Kolonel merasa dirinya mengalami sebuah kepuasan batin yang sangat luar biasa dan tak ternilai harganya hari ini. Bagaimana bisa, hanya karena seorang bocah kecil bernama Arkan memanggilnya dengan sebutan 'Ayah', ia bisa merasakan luapan kebahagiaan yang begitu membuncah di dalam dadanya?
Bahkan, saat ia sempat mencium gemas pipi gembul anak kecil itu di ruang kerjanya tadi siang, rasanya seolah-olah ia sedang menyalurkan seluruh rasa rindu dan cintanya yang terkubur dalam kepada Ayu. Aroma wangi yang menguar dari pakaian rajut yang Arkan kenakan siang tadi terasa sangat familier di indra penciuman Victor, wangi itu adalah wangi lavender yang sama persis dengan harumnya parfum yang dipakai Ayu saat melintas melewatinya di ruang rapat koordinasi tadi pagi.
Victor tersenyum tipis di dalam kegelapan ruang kerjanya. Dengan ide taktisnya membawa Alif sekalian masuk ke dalam ruang kerja untuk diberikan camilan, Victor berhasil menyamarkan motif emosionalnya dengan sangat rapi. Langkah itu terbukti tidak menimbulkan kesan yang tidak enak, kecurigaan staf, atau rumor kurang baik kedepannya di lingkungan markas.
Sepertinya, pikir Victor sembari membetulkan posisi duduknya, dirinya memang sangat pantas menyandang jabatan sebagai seorang komandan tertinggi di ksatrian ini. Cara berpikir taktisnya dalam menghadapi urusan hati ternyata terbukti mampu berjalan dua kali lebih cepat dan visioner ke depan daripada biasanya. Takdir di Bukit Raya baru saja dimulai, dan Victor tahu, ia tidak akan membiarkan air mata Ayu tumpah sia-sia di bawah wilayah hukum komandonya.