NovelToon NovelToon
"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: mejatulis

Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SKANDAL DI BALIK LOKER OLAHRAGA

Kekalahan telak yang dialami oleh faksi Reza di Ruang Sidang Meja Bundar serta hilangnya perlindungan dari Bu Sandra ternyata tidak serta-merta membersihkan seluruh bibit perundungan di Harapan Elite. Bagi sisa-sisa pengikut Sherly, kebangkitan Rina adalah sebuah penghinaan terhadap kasta sosial yang telah mereka bangun dengan uang dan nama besar orang tua mereka.

Kamis sore, koridor gedung barat sudah sepi. Sebagian besar siswa telah pulang, menyisakan beberapa anggota klub olahraga yang masih berlatih di lapangan. Rina berjalan dengan langkah konstan menuju area loker olahraga pria di lantai dasar. Dia membawa sebuah map berisi jadwal inventarisasi fasilitas OSIS yang baru saja diserahkan oleh Devan. Sebagai Wakil Ketua Komite Pengawas, ini adalah tugas formal yang harus dia selesaikan sebelum gerbang sekolah ditutup.

Namun, Rina tidak berjalan dengan mata buta.

Di dalam saku seragamnya, ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan teks dari Andi masuk melalui jalur enkripsi privat mereka: “Rin, tangkapan layar CCTV koridor bawah mencurigakan. Clarissa, Keysha, dan dua anak tim basket baru saja masuk ke ruang loker pria membawa kamera dslr. Mereka sengaja melonggarkan selot kunci luar pintu darurat. Jangan masuk dulu.”

Rina menghentikan langkahnya tepat di tikungan koridor sepi, beberapa meter dari pintu kayu ganda ruang loker olahraga. Sebuah senyuman dingin yang sarat akan kemenangan taktis terukir di bibir anggunnya.

“Taktik kuno,” batin Rina. Di kehidupan pertamanya, skenario menjebak siswi di dalam ruang loker pria bersama cowok nakal untuk difoto dan disebarkan sebagai skandal asusila adalah cara paling efektif untuk menghancurkan masa depan seseorang di Harapan Elite. Kali ini, mereka mencoba menggunakan metode yang sama untuk mendepaknya dari OSIS.

Rina tidak mundur. Dia justru memanfaatkan situasi ini untuk membersihkan sisa-sisa gulma di angkatannya secara mutlak. Dia melirik ke arah ujung koridor, di mana Keysha sedang berdiri berpura-pura membaca mading sekolah, bertindak sebagai pengintai luar yang bertugas memastikan Rina masuk ke dalam jebakan.

Rina membalikkan tubuhnya, lalu berjalan kembali ke arah lobi tengah. Melalui pesan teks cepat, dia menginstruksikan Andi untuk mematikan sirkuit listrik lampu ruang loker pria selama tepat sepuluh detik begitu dia memberikan sinyal.

Rina sengaja mendekati Keysha dari arah belakang dengan langkah kaki yang sengaja diatur tanpa suara. Begitu jarak mereka hanya tersisa satu langkah, Rina menepuk bahu gadis itu secara halus namun dengan tekanan yang mengunci pergerakannya.

"Keysha," panggil Rina, suaranya yang jernih dan dingin beresonansi kuat di keheningan koridor.

Keysha tersentak hebat, hampir menjatuhkan ponselnya karena terkejut. Wajah cantiknya yang dilapisi riasan tebal langsung memucat begitu melihat sepasang mata bulat hitam Rina menatapnya lurus-lurus tanpa ada binar ketakutan sedikit pun.

"K-Rina? Kamu... ngapain di sini?" tanya Keysha terbata-bata, matanya melirik panik ke arah koridor bawah.

"Pak Raditya meminta perwakilan kelas kita untuk segera mengambil kotak sampel properti drama di ruang loker olahraga bawah," Rina berbohong dengan ekspresi wajah yang sangat meyakinkan, memancarkan aura otoritas seorang pengawas sekolah yang tak bisa dibantah. "Clarissa bilang dia ada urusan di OSIS, jadi dia memintamu untuk menemaniku ke bawah sekarang juga. Mari."

Rina langsung mencengkeram pergelangan tangan Keysha secara halus namun kuat—sebuah kuncian taktis yang membuat Keysha tidak memiliki pilihan selain berjalan mengikuti langkah kaki Rina menuju ruang loker olahraga pria. Di dalam otaknya yang panik, Keysha mengira Rina masih belum tahu apa-apa tentang jebakan di dalam. Dia berpikir bisa menggunakan kesempatan ini untuk mengunci Rina dari dalam begitu mereka sampai.

Begitu mereka berdiri di depan pintu kayu ganda ruang loker yang remang-remang, Rina mendorong pintu tersebut terbuka lebar. Suasana di dalam ruangan sangat sunyi, hanya dipenuhi deretan loker besi hijau yang berbaris rapi di bawah pendar lampu neon yang berkedip samar.

"Masuk duluan, Keysha. Kotaknya ada di barisan loker paling ujung belakang," perintah Rina dengan nada suara yang sangat tenang.

Keysha melangkah masuk dengan ragu-ragu. Begitu tubuh Keysha sepenuhnya berada di dalam ruangan, Rina menekan tombol kirim pesan teks kosong kepada Andi di ponselnya.

Bzzz... Klik.

Seluruh sirkuit listrik di ruang loker olahraga pria mati total dalam sekejap, menenggelamkan ruangan luas itu ke dalam kegelapan mutlak yang pekat.

"Aaaakh! Lampunya kenapa mati?!" jerit Keysha histeris dari dalam kegelapan, rasa panik langsung menyerang pertahanan mental remajanya.

Di tengah kegelapan total itu, dua anggota tim basket yang sudah bersiap di balik loker dengan kamera siap jepret mengira bahwa target mereka—Rina—telah melangkah masuk sesuai skenario. Atas instruksi awal dari Clarissa untuk langsung menyergap dan mengunci target dari belakang, salah satu cowok itu langsung merangsek maju dan memeluk tubuh Keysha yang sedang berdiri panik di dekat pintu.

"Dapat lo, kuper! Jangan harap bisa lepas!" seru cowok itu dengan tawa sinisnya yang puas, langsung menarik tubuh Keysha ke arah salah satu bangku panjang di tengah ruangan.

"Lepasin! Ini gue, Keysha! Bego lo ya! Lepasiiin!" jerit Keysha sejadi-jadinya, mencoba meronta namun tenaganya kalah jauh dibandingkan atlet basket sekolah tersebut.

Tepat pada detik kesepuluh, sistem daya listrik kembali diaktifkan oleh Andi. Lampu neon di langit-langit menyala terang benderang seketika, menerangi seluruh sudut ruang loker olahraga pria.

Cekrek! Cekrek!

Clarissa yang berdiri di sudut seberang dengan kamera DSLR-nya secara refleks menekan tombol rana berulang kali karena lampu menyala, memicu kilatan blitz kamera yang menyilaukan mata. Namun, begitu pandangan matanya fokus melihat objek di dalam bidikan kameranya, senyuman puas di wajah Clarissa langsung membeku total.

Di tengah ruangan, salah satu siswa tim basket sedang memeluk erat tubuh Keysha yang seragamnya sudah sedikit berantakan karena meronta, sementara Rina... sedang berdiri tenang di ambang pintu ganda, bersandar pada pilar beton dengan kedua tangan terlipat di dada.

Sepasang mata hitam pekat milik Rina menatap pemandangan kacau di depannya dengan ekspresi wajah yang sangat datar, seolah-olah dia sedang menonton sebuah pertunjukan teater komedi tingkat rendah yang sangat membosankan. Di samping Rina, Kai Mahardika mendadak muncul dari balik koridor, didampingi oleh dua petugas keamanan yayasan yang wajahnya tampak sangat serius.

"Sebuah pertunjukan skandal dokumen visual yang sangat terstruktur, Clarissa," ucap Rina, suaranya yang jernih dan dingin menggema memecah keheningan ruang loker. "Andi baru saja menyalin seluruh rekaman digital dari kartu memori kameramu langsung ke server pusat data Komite Disiplin melalui jaringan nirkabel sekolah. Dan melihat posisi Keysha yang berada di dalam pelukan anggota tim olahraga pria... kurasa rumor skandal asusila ini akan sangat cocok untuk menghiasi papan pengumuman digital besok pagi dengan nama kalian berdua sebagai tajuk utamanya."

Wajah Clarissa dan Keysha langsung berubah menjadi pucat pasi seputih kain kafan. Mereka baru saja menyadari satu kenyataan yang sangat horor seumur hidup mereka: jebakan yang mereka susun dengan sangat rapi untuk menghancurkan Rina, kini telah berbalik arah sepenuhnya meremukkan leher sosial mereka sendiri di Harapan Elite.

 

1
Deevy Tresiyana
mantap💪Thor lanjutkan karya-karya mu yg kereeen👍🤭
Ulla Hullasoh
kerennn Tror
Ulla Hullasoh
wowww👍
Tamaa
ambisius sekali si Rina
Tamaa
Kok 16 tahun? bukannya harusnya 18 tahun, soalnya dia balik ke 10 tahun yang lalu
Tamaa
Jejak dulu 👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!