NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Hujan deras menghantam kaca jendela kamar hotel dengan ritme yang monoton dan memekakkan telinga.

Di luar, kabut tebal khas pegunungan Puncak mulai turun, menelan siluet pepohonan dan menyisakan pemandangan yang samar-samar.

Namun, bagi Amira Zoe, kegelapan di luar sana sama sekali tidak sebanding dengan kehampaan yang sedang mencengkeram dadanya.

Ia berdiri terpaku di depan jendela, menatap butiran air yang berkejaran turun di atas kaca. Tatapannya kosong.

"Aku lelah, Tuhan..." gumam Amira, suaranya parau, hampir tenggelam oleh suara gemuruh guntur di kejauhan.

"Setelah Rizal, lalu sekarang Yudha juga Engkau ambil. Apa salahku? Mengapa pernikahan selalu menjadi kutukan bagiku?"

Setitik air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, mengalir melewati pipinya yang pucat.

Dua kali ia jatuh cinta, dua kali ia menyusun impian tentang masa depan, dan dua kali pula takdir merenggutnya tepat di depan altar.

Rizal, calon suami pertamanya, tiada karena penyakit mendadak sebulan sebelum pernikahan mereka dua tahun lalu. Dan Yudha, juga pergi untuk selamanya akibat serangan jantung tepat satu hari sebelum akad nikah mereka dilaksanakan seminggu yang lalu.

Dua kali gagal menikah bukan lagi sekadar nasib buruk. Bagi Amira, itu adalah sebuah trauma yang menguliti kewarasannya.

"Aku ingin mengakhiri hidupku..." Amira berbisik lirih, merapatkan jemarinya pada bingkai jendela yang dingin.

"Tapi aku takut, akan neraka-Mu."

Sudah seminggu ini Amira melarikan diri, bersembunyi di hotel yang seharusnya menjadi tempat bulan madunya bersama Yudha.

Di kamar bernuansa romantis ini, ia justru menghabiskan waktu dengan meratapi nasib dan mengasingkan diri dari dunia luar.

Tidak ada ucapan belasungkawa yang ingin ia dengar. Tidak ada tatapan kasihan yang sanggup ia hadapi.

Namun, waktu tidak pernah berhenti berjalan untuk mereka yang patah hati.

Hari terakhir masa reservasinya telah tiba. Kamar ini harus segera dikosongkan.

Amira tahu, ia tidak bisa terus-menerus bersembunyi di atas gunung ini.

Ia harus kembali menghadapi kenyataan di Yogyakarta.

Dengan gerakan lambat dan mekanis, Amira mulai mengemas pakaiannya ke dalam koper.

Setiap helai baju yang ia lipat terasa seberat batu. Ketika ia hendak menutup tas jinjingnya, ponsel di atas meja nakas tiba-tiba bergetar kuat, memecah keheningan kamar.

Layar ponsel menyala, menampilkan nama yang sangat ia kenal. Mama.

Amira menatap layar itu lama. Ia tahu apa yang akan dikatakan mamanya.

Suara cemas, tangisan penuh kekhawatiran, dan bujukan agar ia cepat pulang.

Amira tahu ibunya sangat menyayanginya, namun saat ini, ia tidak memiliki energi yang cukup bahkan hanya untuk sekadar mengucap kata 'halo'. Beban emosionalnya terlalu sarat.

Tanpa berniat mengangkatnya, Amira menggeser tombol merah.

Kemudian ia menekan tombol daya agak lama hingga layar ponselnya menghitam sepenuhnya. Mati. Ia butuh ketenangan mutlak, setidaknya sampai ia tiba di rumah.

Amira menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengusir sesak yang menggelayut di dada.

Ia memakai jaket tebalnya, meratapi pantulan dirinya di cermin yang tampak kuyu, lalu menarik gagang kopernya keluar kamar.

Area parkir hotel terasa begitu dingin dan basah. Angin kencang meniupkan tempias air hujan langsung ke wajah Amira saat ia melangkah menuju mobil sedan putih miliknya.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mengangkat koper ke dalam bagasi, lalu menutupnya dengan bantingan keras.

Amira segera masuk ke dalam kabin mobil, menyalakan mesin, dan menghidupkan wiper pada kecepatan maksimal.

Pandangan ke depan sangat terbatas. Air seolah ditumpahkan dari langit, membuat jalanan aspal di depannya tampak berkilau dan licin.

Ia mencengkeram kemudi dengan erat. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya, bukan karena takut pada badai di luar, melainkan karena rasa lelah yang teramat sangat di dalam dirinya.

"Mari kita selesaikan ini," bisiknya pada diri sendiri.

Amira menginjak pedal gas, melajukan mobilnya membelah hujan deras, meninggalkan hotel di puncak itu di belakangnya.

Ia mulai menuruni jalanan pegunungan yang berkelok-kelok, bersiap untuk perjalanan panjang kembali ke Yogyakarta.

Sementara itu di belahan jalan yang lain, Daniel Narendra baru saja melangkah keluar dari lobi sebuah resor mewah di kawasan Puncak.

Pertemuan bisnis dengan beberapa investor asing yang melelahkan itu akhirnya selesai.

Daniel melonggarkan sedikit dasinya, mencoba menghalau rasa penat yang menggelayut di pundak. Namun, wajah lelahnya seketika melembut saat ponsel di saku jasnya bergetar.

Nama pengasuh putrinya tertera di layar, tetapi Daniel tahu betul siapa yang sebenarnya ingin berbicara.

Ia segera menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.

"Papa..."

Suara cicit kecil yang terputus-putus langsung menyapa indra pendengarannya. Jantung Daniel berdesir hangat.

"P-papa, kapan pulang?" tanya suara di seberang sana, terdengar begitu polos dan rapuh.

"Felia rindu Papa."

Daniel tersenyum tipis, langkah kakinya melambat di sepanjang selasar lobi.

"Papa sudah selesai kerja, Sayang. Ini Papa bersiap untuk pulang sekarang."

Namun, kalimat berikutnya dari bibir mungil balita berusia dua tahun itu seketika menghentikan detak jantung Daniel.

"Felia juga rindu Mama. Apakah Mama akan kembali dari surga, Papa?"

Deg!

Daniel merasakan jantungnya seperti diremas dengan kuat oleh tangan tak kasat mata.

Rasa sesak yang teramat sangat tiba-tiba menghantam dadanya hingga ia kesulitan bernapas selama beberapa detik.

Rasa bersalah, kesedihan, dan kepedihan yang selama ini ia kubur rapat-rapat mendadak meluap ke permukaan.

Selena telah pergi selamanya, meninggalkan luka menganga yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh anak sekecil Felia.

Daniel menarik napas berat, mencoba menstabilkan suaranya agar getaran kesedihannya tidak tertangkap oleh sang putri.

Ia berdeham kecil sebelum menjawab dengan nada selembut mungkin.

"Felia sayang. Papa sebentar lagi pulang," ujar Daniel, sengaja mengalihkan pertanyaan tentang surga yang selalu merobek hatinya.

"Felia nanti tunggu Papa di rumah, ya? Jangan nakal sama Suster."

"Iya, Papa..." jawab Felia, terdengar sedikit kecewa namun tetap patuh.

"Anak pintar. Sampai ketemu di rumah, Sayang."

Daniel menutup ponselnya. Ia menatap layar gawai yang kini menghitam dengan pandangan nanar.

Bayangan wajah mendiang istrinya dan tangisan Felia yang kerap mencari ibunya setiap malam membuat kepala Daniel berdenyut.

Tanpa membuang waktu lagi, Daniel melangkah lebar menembus hawa dingin Puncak menuju area parkir VIP.

Ia segera masuk ke dalam mobil SUV hitam besarnya dan membanting pintu dengan rapat, memutus suara bising hujan deras di luar.

Setelah menyalakan mesin mobilnya, Daniel mencengkeram setir dengan urat-urat tangan yang menegang.

Pikirannya kalut, dipenuhi keinginan untuk segera sampai di rumah dan memeluk putrinya.

Di tengah guyuran hujan yang kian menggila dan jarak pandang yang memburuk, Daniel menginjak pedal gas, melajukan mobilnya membelah jalanan Puncak yang licin.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!