Tahap Revisi
Tentang Vyolla, seorang gadis barbar yang dipaksa masuk ke dalam karakter Putri, sosok protagonis wanita di dalam novel yang selalu ia rutuki nan hina-hina..
📢 Novel pertamaku ini ceritanya ringan dengan protagonis yang anti menye-menye 🔥💪
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bantalguling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamitan...
Ibu tercengang dengan pertanyaan Putri yang kini membuat ayah bertanya penuh selidik. Bahkan, sekarang ayah mulai mempercayai omongan Putri dibanding istri dan anak bungsunya. Dengan mata ibu yang semakin melotot, membuat Vyolla bergidik ngeri. Ngeri, kalau ternyata bola mata ibu tiba-tiba copot.
"Nggak Yah, ngapain juga Ibu bohong. Emang dia sendiri yang bilang nggak mau ganti ponsel kok." Ibu memberikan pembenaran dengan gelagapan. Dan itu membuat Vyolla semakin ingin memperkeruh suasana.
"Demi Allah Bu, aku benar-benar nggak merasa Ibu memberiku uang ponsel dari Ayah." Vyolla memasang wajah teraniaya, "aku udah berani sumpah loh Bu, jadi aku nggak mungkin bohong."
Ibu semakin gusar. Ditambah sorotan tajam ayah yang tidak pernah ibu dapatkan sebelumnya, semakin membuatnya tidak bisa duduk dengan tenang. Dengan memelas, ibu melihat ke arah Lani supaya anaknya itu bisa membantunya keluar dari situasi keos ini. Tapi memang pada dasarnya Lani itu berhati jahat, ia sama sekali mengacuhkan tatapan ibunya, karena ingin mencari posisi aman dihadapan sang ayah.
"Kamu berani bohong, Na?"
Semua tergemap dengan ucapan ayah. Na? Ana? Ayah menyebut langsung nama ibu?
"Ayah panggil ibu apa, tadi?" Ibu masih tak percaya dengan pendengarannya.
"Na, Ana. Namu kamu Ana kan? Atau nama Ana juga ternyata nama palsu?"
'Hahahahhaaa, seneng banget gue woy! Ternyata tanpa perlu strategi, kita bisa berhasil juga Put.' Vyolla berusaha mengontrol wajahnya supaya tak terlihat sedang bahagia di atas kericuhan rumah tangga ini.
"Terserah Ayah!" Ibu pergi dan disusul Lani.
'Jiakh, dasar cewek. Kalau udah kepepet, pasti ujung-ujungnya pergi sambil marah,' ucap jiwa Vyolla yang lupa bahwa iapun seorang wanita.
"Maafin Ayah yah sayang. Ayah benar-benar nggak tahu kalau ternyata ibu kamu seperti ini."
"Gapapa Yah, aku udah biasa diperlakukan semena-mena sama Ibu."
"Hah? Gimana maksudnya?"
"Aku nggak akan berusaha menjelaskan tanpa bukti Yah. Soalnya nanti aku pasti dibilang bohong dan cuma halu doang."
"Hm?"
"Saran aku, mending Ayah pasang CCTV aja buat memantau aktivitas dirumah ini seperti apa. Tapi jangan sampai Ibu dan Lani tahu, biar nggak ada pencitraan Yah. Gimana?"
Ayah tersenyum tipis mendengar saran dari Vyolla. Dan gimana dengan Vyolla? Tentu saja, iapun tersenyum penuh kemenangan karena yakin jika ayah Putri akan mengikuti saran darinya.
"Oiyah Yah, masalah aku ke Jakarta itu gimana, diijinin nggak?”
"Pasti dong sayang. Apalagi kamu baru diangkat jadi asisten GM, ya harus pergi."
"Yeee, maacih Ayah~" Vyolla menghampiri ayah dan langsung memeluk pria paruh baya itu dengan erat.
...****************...
"Hah... hah...."
Vyolla kembali terbangun dari tidurnya dengan keringat yang bercucuran. Suara tangis pilu yang waktu itu ia dengar, kini terasa semakin jelas. Dan suara itu ia yakini berasal dari seseorang yang cukup familiar di hidupnya. "Tapi kenapa dia?"
Fokus Vyolla terpecahkan oleh nada dering ponsel nya yang terdengar cukup nyaring. Dengan malas ia mengangkat telepon dari orang yang setiap hari selalu ada disekelilingnya.
"Hmmm."
"Judes banget non."
"Ya karena, kamu ganggu."
"Oh jadi kamu tuh kayak gini yah orangnya. Di hotel manggut-manggut, di luar langsung ogah-ogahan."
"Itu namanya saya profesional. Lagian ini udah tengah malam Pak, nggak bisa apa neleponnya besok pagi?"
"Iyah sorry neleponnya kemaleman. Saya cuma mau tanya, besok pergi ke Dufan nya mau janjian di hotel, atau saya jemput kamu kerumah?"
"Kalau Bapak ngerasa seorang pria, harusnya sih tahu jawabannya apa."
"Berarti ketemu di hotel yah."
"Hmmmm."
"Oke. Jam lima pagi udah di depan hotel yah Put."
"Hah? Bapak tadi jawab jemput kan? Tapi kok jadi janjian di depan hotel?"
"Dih, saya bilang janjian di hotel, kamu jawab hmmm. Berarti tandanya setuju dong?"
"Ih, ngaco! Saya pikir Bapak beneran cowok, yang pasti bakal jawab jemput saya dirumah. Jadi saya PD aja jawab hmm hmm hmm."
"Hahahaha."
"Nggak mau tahu, pokoknya jemput. Nanti saya Sherlock alamat rumah sayanya. Oke? Oke dong. Bye."
Vyolla menutup sepihak teleponnya. Ia kemudian mengirim pin lokasi rumahnya kepada Bagas.
"Semoga kali ini gue bukan hanya bisa mendengar suara doang, tapi wajahnya juga." Vyolla memaksakan dirinya untuk kembali tidur.
"Put, itu bos lo?" bisik Lani, ketika ia melihat Bagas tengah bertegur sapa dengan ayah.
"He-eum."
"Comblangin gue sama dia dong Put! Gila, udah cakep, bos lagi. Gurrihhhh."
Vyolla mengingat-ingat adegan ini di cerita novel Cherry. Harusnya, pertemuan Bagas dengan Lani ini ketika Bagas mengantarkan Putri pulang yang jatuh pingsan di hotel. Dan saat Lani minta dicomblangkan, Putri dengan polosnya langsung setuju dan berusaha keras untuk mendekatkan Bagas kepada Lani.
Vyolla pun kembali mengingat cerita awal mula kenapa Bagas menjadi dekat dengan Putri. 'Cerita novel lo, benar-benar udah berubah banget ya Cher. Di cerita lo sebelumnya, Si Bagas bisa dekat sama Si Putri karena dia pingsan kecapekan dihadapan Si Bagas. Akhirnya Si Bagas merasa kasihan sekaligus takjub dengan sifat kerja kerasnya yang tanpa batas. Dan karena rasa kasihan itu, Si Bagas mulai melirik Si Putri. Deket, deket, deket, timbullah benih-benih cinta diantara mereka berdua.'
"Yeee, malah ngelamun! Gimana, lo mau kan jodohin gue sama dia?" Lani menyikut lengan Putri kencang.
"Boleh, tenang aja."
"Yes. Thanks Put."
'Tenang, iyah tenang, tenang aja Lan, tunggu tanggal mainnya. Ha-ha-ha.' Vyolla tertawa dalam hati setelah mendapatkan ide bagus untuk mempermainkan Lani, adik Si Kurang Aseumnya Putri.
"Aku pergi dulu ya Yah," ujar Vyolla seraya mencium tangan ayah.
"Iyah, hati-hati yah Put."
"Nak Bagas. Tolong jaga anak ibu yah, selama di sana. Ibu khawatir kalau dia tidak bisa jaga diri."
"Pasti Bu. Tapi saya yakin kok jika anak ibu ini sangat bisa jaga dirinya sendiri. Yakan Put?" Bagas mengusap pucuk kepala Putri.
"Ih, rambut saya jadi berantakan lagi nih," protes Vyolla yang dengan cepat langsung merapikan kembali rambutnya.
"Yaudah, aku bantu rapihin." Bagas malah kembali mengacak-ngacak rambut Putri yang sekarang sudah berubah bagaikan rambut singa.
Sedangkan ayah, ibu dan Lani hanya terbengong melihat interaksi antara Putri dan Bagas. Mereka speechless ketika Putri yang introvert parah, nyatanya bisa bergaul dengan luwes tanpa beban, bahkan dengan seorang pria!
aku mampir ya baca, like dan coment. Mampir juga baca novel q yuk..