NovelToon NovelToon
SCANDAL Part II: To Cacth A Star

SCANDAL Part II: To Cacth A Star

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

SCANDAL Part II: To Catch a Star

Sinopsis:

Bagi dunia, Galasky Ardayana (35 tahun) adalah definisi kesempurnaan. Aktor papan atas yang telah merajai layar kaca selama 12 tahun, pewaris tunggal Ardayana Group yang membangkang, dan pria lajang yang paling diinginkan se-Indonesia. Namun, di balik lampu spotlight, Gala adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan di masa kuliah membuatnya menutup pintu hati rapat-rapat, lebih memilih hidup sebagai "perjaka tua" daripada harus terluka lagi.

Namun, ketenangannya hancur saat Airaya Greline Pradipta (19 tahun)—putri dari sahabat karibnya sendiri, Elang Adytama—muncul kembali sebagai gadis dewasa yang luar biasa cantik... dan sangat berani.

Yaya tidak main-main. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia 16 tahun. Dia juga tidak peduli kalau Gala adalah orang yang sering menggendongnya saat ia masih bayi. Bagi Yaya, Gala adalah satu-satunya pria yang harus ia taklukkan.

"Om Gala, jangan sok jual mahal. Daripada diledekin perjaka tua terus sama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Gala melangkah masuk ke dalam kamar tidur tamu yang temaram itu. Langkah kakinya yang tegap. Sepasang matanya yang tajam menatap lurus ke arah Aira dengan ekspresi wajah yang terlampau datar, sedatar semen cor-coran yang biasa ia pakai untuk menipu paparazi. Tidak ada sisa-sisa kehangatan dari pria yang semalam menghabiskan masakan rumahan dingin di meja makan. Yang ada hanyalah Galasky Ardayana dalam mode kepala keluarga yang paling tegas.

"Bagus, Aira. Lebih baik kamu menyusul Shaka ke Amerika dan kuliah saja di sana," ucap Gala dengan suara baritonnya yang rendah, dingin, dan penuh penekanan mutlak. "Atau perlu Om telepon Papa kamu sekarang juga buat jemput kamu dari apartemen ini?" ancam Gala tanpa keraguan sedikit pun.

Gala tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang dingin tanpa cela. Matanya menatap Aira dengan pandangan yang menusuk tajam selama beberapa detik. Setelah melemparkan kalimat yang sanggup meruntuhkan seluruh keberanian palsu sang Tuan Putri, Gala membalikkan tubuhnya begitu saja. Dia berniat melangkah lebar untuk keluar dari kamar tamu, kembali menerapkan silent treatment yang paling dibenci gadis itu.

Mendengar ayah disebut, kepuasan atas kebebasan 100 persen yang tadi dirasakan Aira langsung menguap ke udara. Rasa takut yang sesungguhnya kini merayap naik menjerat lehernya. Aira tahu betul, jika Elang Adytama sampai pulang dari China karena masalah ini, riwayat kedekatannya dengan Gala akan tamat selamanya.

Aira langsung bangkit dari atas tempat tidur dengan gerakan cepat. Dia berlari kencang mengejar punggung tegap Gala yang sudah hampir mencapai ambang pintu.

"Jangan, Om... Yaya gak mau... Hiks... Jangan telepon Ayah," tangis Aira pecah seketika. Kali ini, air mata yang mengalir di pipinya murni merupakan tangisan nyata yang lahir dari rasa panik dan penyesalan yang teramat sangat, bukan lagi bagian dari skenario drama air mata palsunya yang bulus.

Aira menubruk punggung kokoh Gala dari belakang, melingkarkan kedua tangan mungilnya di sekeliling pinggang pria itu dengan sangat erat, seolah takut jika dia melepaskannya sedikit saja, Gala akan benar-benar menghilang dari hidupnya.

Gala menghentikan langkah kakinya tepat di ambang pintu, namun dia tidak membalikkan badannya. Tubuhnya menegang kaku menerima serangan pelukan dadakan yang sangat familier itu.

"Jadi, sebenarnya apa yang kamu mau, Aira? Hidup bebas? Keluyuran sampai subuh? Menggoda laki-laki mana saja sesuka hati kamu? Apa hal seperti itu yang benar-benar kamu inginkan dari hidup ini?" tanya Gala dengan suara yang ditekan. Nadanya yang ketus terdengar sangat dingin, dan yang paling membuat hati Aira mencelos adalah bagaimana Gala masih tetap memanggilnya dengan nama lengkapnya, bukan panggilan 'Yaya' yang biasa pria itu gunakan saat emosinya sedang melunak.

"Om... Gak gitu... Yaya... Yaya minta maaf, Yaya tahu Yaya salah," isak Aira di belakang punggung Gala. Kepalanya bersandar erat di punggung Gala yang bidang, membuat kaos oblong tipis yang dikenakan pria itu pelan-pelan menjadi basah dan hangat karena rembesan air mata yang terus mengalir deras dari mata sayunya. "Tapi Om cuekin Yaya... Tiga hari Om hilang gak ada kabar... Hiks... Yaya kesal..."

Gala mendengus sinis, matanya menatap kosong ruangan apartemen yang sunyi. "Minta maaf? Buat apa kamu minta maaf, Yaya? Bukankah semalam kamu kelihatan sangat puas main-main di luar sana?" jawab Gala dingin, menyembunyikan rasa cemburu buta yang sebenarnya masih membakar ulu hatinya

"Om! Yaya sayang banget sama Om!" teriak Aira frustrasi di balik punggung Gala, mempererat pelukan tangannya di pinggang sang aktor. "Tapi setelah apa yang udah kita laluin semalam itu... dan Om waktu malam itu bilang kalau Yaya ini milik Om... tapi besoknya Om malah ghosting Yaya begitu aja... Yaya cuma mau Om lihat Yaya! Yaya mau dianggap, Om... Bukan sebagai formalitas biologi semata karena Om kelepasan aja malam itu... Hiks..."

Mendengar curahan hati yang keluar jujur dari mulut Aira, detak jantung Gala mendadak berdegup kencang. Kalimat "bukan formalitas biologi" bener-bener telak menghantam sisa-sisa ego dewasanya. Gala memejamkan matanya rapat-rapat, menghela napas panjang untuk menstabilkan gemuruh aneh di dadanya.

Perlahan, Gala membalikkan tubuh tegapnya. Dia menatap wajah Aira yang sudah sembap, hidungnya memerah, dan matanya yang berkaca-kaca menatapnya penuh harap. Menatap kerapuhan gadis di depannya, pertahanan kokoh spek aktor terbaik peraih Piala Citra milik Galasky Ardayana akhirnya kembali runtuh dan hancur lebur tanpa sisa untuk kesekian kalinya.

Tuk!

Gala mengulurkan tangannya, menyentil kening polos Aira dengan kekuatan yang cukup pelan namun sukses membuat gadis itu memekik kecil.

"Ya udah... Makanya jangan menangis lagi," ucap Gala pelan. Nada suaranya yang tadinya sedingin es batuan kutub utara kini mulai melunak 180 derajat, kembali menjadi suara bariton hangat yang sangat dirindukan Aira selama tiga hari ini. "Kalau kamu gak mau Om telepon Papa kamu sampai dia terpaksa pulang dari China malam ini juga, makanya kamu jangan nakal lagi. Paham?"

Aira mendongak, kedutan di bibirnya menahan senyum yang hampir meledak saat melihat tatapan Gala kini sudah kembali melunak.

Gala tidak membiarkan jarak di antara mereka tercipta kembali. Kedua tangan kekarnya bergerak turun, membalas pelukan hangat Aira dengan sangat erat. Dengan satu gerakan protektif, Gala menarik tubuh ramping Aira masuk ke dalam dekapan bidang dada bidangnya, membiarkan gadis itu menempel semakin erat pada tubuhnya.

1
Desy Bengkulu
wala mak posesifnyoooo
langsung di kurung yeeee
🤣🤣🤣🤣🤣🤣om om mateng satu ini emang beda
jhiee: wkwkwk iya dong🤣 tapi maklum aja si Aira emang segenit itu🤣🤣
total 1 replies
Desy Bengkulu
wah si gala lebih serem dari elang ternyata yee gila🤣🤣🤣
jhiee: hahahah🤣🤣 salahin aja tuh om om yang lain, eh salahin aja si elang yang bilang dia gak ada nafsunya sama anak kecil🤣
total 3 replies
jhiee
ya bingung juga beb😭 masa gala jadi penjahat sih.. yang rubah licik kan si yaya🤧
Desy Bengkulu
aku komen satu rangkap aja ya beb
di sini kesannya gala jadi tersangka yang paling jahat ya ?!
Desy Bengkulu
hihihihi kayk mbak kunti aku beb cekikikan sendiri seneng banget up cerita yang ini
semngat beb , aku selalu menanti karya2 mu love you😘😘😘😘😘
jhiee: love you to🥺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!