Novel keempat berjudul TELUH SAMBER NYOWO.
Sejak awal, Fani sudah menduga bahwa ia akan ditugaskan di desa setelah lulus dari pendidikan kebidanan.
Namun, ia tak pernah menyangka bahwa desa tempat ia ditugaskan sangat terpencil dan berada di tengah hutan.
Pergolakan batin, kerap ia rasakan.
Terlebih, gangguan ghaib tak henti-hentinya meneror setiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUTIK
"Mbak Fani baik-baik saja?" tanya Lilis.
"Aneh sekali Lis, kemarin benar-benar terlihat nyata."
"Mbak Fani tenang dulu ya! ada baiknya, kejadian kemarin dilupakan saja!"
Fani hanya diam. Selain terkejut, otaknya kini dipenuhi banyak tanya sekaligus rasa penasaran yang besar. Alhasil, pada jam istirahat. Fani mengajak Rifki untuk berboncengan sepeda menuju rumah Tutik. Tak lain dan tak bukan adalah untuk memperjelas semuanya. Sepanjang perjalanan, Fani terus berharap bahwa apa yang dokter Agung katakan tidaklah benar, meski sudut hatinya yang lain mengiyakan.
Setelah beberapa menit mengayuh sepeda, sampailah mereka berdua di sebuah halaman rumah yang ditumbuhi pohon talas. Rumah yang sudah tidak pantas lagi untuk disebut rumah hunian. Lebih tepatnya hanya tinggal puing-puingnya saja. Fani melangkah gontai, menatap nanar ke sekeliling puing bangunan di depan matanya.
"Apa ini? kenapa bisa jadi begini?"
"Sayang, sepertinya.."
"Semalam itu nyata kan?"
"Iya nyata, aku ada, aku menemanimu kemari."
"Benarkah Tutik dan suaminya.."
"Benar, aku rasa benar."
Tubuh Fani terhuyung jatuh. Beruntung, Rifki sigap menangkapnya. Fani linglung sesaat sebelum kemudian mulai menitikan air mata. Entah apa yang ia tangisi. Entah takut, entah marah ataukah muak dengan semua hal yang telah menimpanya.
"Sayang, kita kembali saja ya ke rumah!"
Fani hanya mengangguk lalu berjalan, naik ke boncengan sepeda. Rifki mengayuh pedal sepeda, menjauh dari puing bangunan rumah berhantu yang sekali lagi mempermainkan Fani.
...🌸🌸🌸...
"Kondisimu sedang tidak stabil sekarang, sebaiknya tidak usah balik ke puskesmas!" saran Rifki.
Fani hanya memeluk kekasihnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Aku tahu kamu lelah. Aku juga tahu, apa yang kamu inginkan sekarang tapi, pikirkan ribuan kali lagi sebelum mengambil keputusan!"
Fani mempererat pelukannya.
"Aku akan tetap di sini. Beberapa hari lagi akan lewat bulan pertama. Setelah itu bulan kedua lalu bulan ketiga dan semua mimpi buruk ini akan segera berakhir," ucap Fani dengan tatap mata yang menyiratkan sebuah keterpaksaan.
"Semua barang telah kukemasi. Setelah ini, aku akan pulang ke kota. Sabar ya! aku janji akan datang menjengukmu dua atau tiga minggu ke depan. Bertahanlah!"
"Iya."
Dengan berat hati, Rifki meninggalkan Fani. Mereka berdua tidak memiliki pilihan lain. Besarnya bea siswa yang telah Fani terima, tidak mungkin bisa ia kembalikan. Satu-satunya jalan hanya bertahan, menjalani semuanya hingga masa penugasan berakhir.
Di puskesmas, semua orang berusaha menghibur Fani hingga akhirnya, tawa kecil mulai terdengar. Perlahan-lahan, Fani mulai bisa menyingkirkan kekalutan pikirannya. Bersenda gurau dengan semuanya hingga jam pulang kerja pun tiba. Fani dan Lilis berjalan beriringan, kembali ke rumah dinas.
...🌸🌸🌸...
Usai adzan maghrib tepat, terdengar suara ketukan dari pintu depan. Fani beranjak dari tempatnya duduk untuk membukakan pintu. Tubuhnya mematung seketika kala melihat Tutik lah yang sedang berdiri di hadapannya.
"Bu bidan kenapa tidak datang? katanya mau memeriksa keadaan saya dan bayi saya?"
...Deg......
Sepersekian detik kemudian, Fani tersadar. Lekas ia banting pintu dengan kencang lalu berlari masuk ke dalam kamar. Lilis yang bingung lekas menghampirinya.
"Mbak Fani kenapa?"
Fani hanya diam, melipat lutut di depan ranjang. dan kemudian, suara Tutik kembali terdengar.
"Bu bidan.. bu bidan.."
Fani berteriak.
"Mbak Fani kenapa? ada apa mbak?"
"Apa kamu tidak dengar Lis?"
Lilis diam sembari menajamkan pendengarannya namun, ia benar-benar tak mendengar suara apa pun selain suara jangkrik dan tonggeret yang saling bersahutan.
"Bu bidan kapok ya? Tadi, saya lihat loh pas bu bidan datang tapi, kenapa gak masuk ke dalam rumah? padahal, saya ada di sana. Saya tahu bu bidan datang, saya melihat bu bidan dari balik jendela rumah. Apa bu bidan tidak melihat saya?"
Fani menutup kedua telinganya.
"Bayi saya nangis terus bu. Saya harus bagaimana?"
"Diam! diam! diam kamu Tutik! diam!"
"Mbak.. Tutik, mana Tutik? kita hanya berdua."
"Suara Tutik terus muncul Lis."
Lilis benar-benar bingung. Dia tak melihat atau mendengar apa pun. Kiranya, hanya Fani seorang yang dapat mendengar suara Tutik.
"Lilis harus gimana mbak?"
"Suruh Tutik pergi!"
"Tutik.."
Bagaimana Lilis bisa melakukan apa yang Fani minta jika dia sendiri tidak bisa melihat keberadaan Tutik.
"Bu bidan.. bu bidan.. katanya gak bakalan kapok, kenapa gak mau datang?"
"Aaaaaaaa!!!!"
Fani kian histeris membuat Lilis kian panik. Alhasil, Lilis berlari menuju rumah pak Eko untuk meminta bantuan.
"Saya tidak tahu harus bagaimana lagi pak Eko. Mbak Fani histeris, sementara saya tidak tahu apa-apa. Tidak ada yang bisa saya perbuat."
"Iya-iya, kita ke sana sekarang!"
"Iya pak."
Fani masih histeris ketika Lilis dan pak Eko datang. Pak Eko berdiri sejenak sembari memandang ke sekeliling rumah sebelum kemudian mulutnya komat-kamit, merapalkan sesuatu yang Lilis pun tak dapat mendengarnya. Setelah itu, beliau usapkan kedua telapak tangannya ke wajah Fani yang seketika itu juga membuat Fani pingsan.
"Pak, mbak Fani kenapa?"
"Tidak apa-apa. Bu Bidan sudah tenang sekarang."
"Soal Tutik bagaimana?"
"Hemm.. hantu jahil. Dia sudah pergi sekarang."
"Kasihan sekali mbak Fani."
"Saya akan meminta istri saya untuk menginap di sini, menemani kalian!"
"Bagaimana kalau hantu Tutik itu datang lagi?"
"Tidak, dia tidak akan datang lagi. Jangan khawatir!"
"Terima kasih pak Eko."
"Ya sudah, saya pulang dulu sekalian memanggil istri saya!"
"Iya."
Malam yang mencekam, baik untuk Fani maupun Lilis. Meski Fani baru terbangun pada keesokan harinya namun, beberapa kali ia mengigau dalam tidurnya. Nama Tutik berulang kali ia sebut. Keringat dingin membasahi kening Fani. Sepanjang malam membuat Lilis terus merasa khawatir.
...🌸🌸🌸...
Keesokan harinya, tubuh Fani demam hingga menggigil. Dokter Agung menjenguknya di rumah dinas sekaligus memeriksa dan memberinya obat. Lilis di berikan libur untuk merawat Fani di rumah. Fani tak banyak bicara. Semenjak bangun pagi tadi, Fani lebih banyak diam, murung dan tatapannya pun seringkali kosong.
"Mbak Fani jangan gini terus!"
"Aku baik-baik saja kok Lis."
"Mbak Fani harus semangat, jalan masih panjang. Setiap hari yang berhasil mbak Fani lewati sama dengan semakin cepatnya mbak Fani meninggalkan tempat ini."
"Iya aku tahu tapi untuk bertahan rasanya, aku tidak mampu."
"Jangan menunjukkan kelemahan mbak Fani! Kita ini jauh lebih mulia dari pada mereka."
"Nyaliku ciut Lis, mentalku hancur."
"Mbak Fani hanya butuh istirahat yang cukup dan kemudian akan kembali kuat lagi."
"Terima kasih banyak ya Lis! kamu selalu membantuku."
"Lilis tidak ingin mbak Fani menyerah."
"Iya, aku juga tidak mau tapi keadaan ini sungguh berat untukku."
"Mbak Fani pasti bisa!"
Fani terkekeh.
"Pasti, aku pasti bisa!"
...🍂 Bersambung.... 🍂...
skrg yg dksih liat tu reka ulang'y Fan.....
serem'y
hii
hhaahhaayy de
ngiler nih....
suruh dtg ksono mah ogah.... hii
g ada asal muasal'y y knpe trjdi pnmpkan trus
cus ahh... lnjoot
kebuut fan.... ayo w bntu doa
skrg antiq
suka² otor bae ah 👻👻