Martini Salsabila Utari.
Dia adalah istri seorang preman terkenal bernama Gres Sandy.
Ini adalah kisahnya dan juga isi diarynya sejak masih di bangku SMP.
Kisah cinta juga persahabatannya yang penuh gejolak rasa serta dilema berwarna.
Kisah perjalanan hidupnya hingga menjadi istri dari seorang preman yang penuh suka serta duka pastinya.
Selamat membaca🙏🙏🙏Semoga tulisan sederhana author amatir ini mendapat kesan di hati para reader🙏🙏🙏
Mohon dukungan like, komen serta votenya jika berkenan🙏🙏🙏 Terimakasih banyak🙏🙏🙏😍😘💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJADIAN YANG TAK DIINGINKAN
Fahmi datang tak lama kemudian. Membuatku merasa sangat ingin sekali menangis. Menumpahkan segala isi hati yang melelahkan ini.
"Fahmiiii...hik hik hik!!!"
Aku menangis berjongkok ditrotoar gang tepat ditengah-tengah selokan yang berbau.
Membuat Fahmi turun. Memundurkan kembali sepeda motornya kepinggir jalan raya. Tak masuk kedalam gang kecil depan jalan rumah Amih.
"Kenapa, Mar?"
"Hik hik hik...huaaaa hu huhu... Fahmiii!!!"
"Jangan nangis disini, Mar! Nih pake helmnya! Yuk jalan dulu yuk!"
Aku senang, Fahmi mengerti. Bahwa kita memang harus segera beranjak pergi dari sini. Berharap orang-orang sekitar tak melihatku, cucunya Amih Munah yang tengah menangis dihadapan anak lelaki seusianya. Karena bisa jadi gosip panjang nantinya.
Fahmi membawaku setengah terbang. Meliuk -liuk menyalib beberapa kendaraan lain hingga jantungku serasa menciut. Takut.
Melewati jalan Angkasa Pura. Lalu berhenti tepat didepan halte bis dan menyuruhku turun dari motor. Ia menuntun motornya serta menstandard didalam halte yang sunyi sepi tiada orang.
Kami duduk ditembok tempat tunggu penumpang. Berdiam selama beberapa menit tanpa suara. Karena bingung, mau berkata apa.
"Mau cerita sama gue ga, tentang permasalahan kamu?" Akhirnya Fahmi memulai percakapan. Tapi aku bingung, memulai dari mana jawaban yang akan kuberikan. Yang ada hanya mendengus. Melepaskan helaan nafas yang tadi serasa sesak seraya menggeleng pelan.
Fahmi menunduk. Menarik jemariku kegenggamannya.
Kalo ada masalah, baiknya ceritain aja, Mar! Tadi kamu nangis setengah histeris tau!... Itu kalo bukan masalah, apa dong namanya? Girang? Gegara gue dateng? Keknya ga mungkin beud deh!!"
Aku diam merasakan hawa hangat jemari Fahmi mengalir kesekujur tubuhku. Merasa nyaman. Meski hanya pegangan tangan.
Hingga tiba-tiba ada beberapa orang bergerombol menyantroni kami. Mengelilingi kami.
Satu, dua....ada enam ternyata. Membuatku dan Fahmi duduk sedikit merapat...
"Mana konci motor lu, bocah? Sini! Hape lu pada, juga! Beraninya lu pacaran dikawasan gua!"
"Maaf, bang! Ini bukan motor saya bang!"
"Bangs*t, kunyuk, baj*ngan ni bocah ingusan!!!!... Berani lu sama gue? Hah??!?"
Brug!!!
Beberapa preman itu menendang motor Fahmi. Membuatku semakin merapatkan duduknya pada Fahmi. Jujur, aku keringat dingin ketakutan.
Suasana malam itu begitu sunyi dilokasi. Membuatku bingung, harus bagaimana meminta bantuan orang.
Fahmi masih menggenggam tanganku. Tangannya juga dingin meski masih bisa terlihat sedikit tenang.
Salah satu dari mereka menarik kerah kemeja Fahmi membuatku terpekik kaget.
"Diem!! Kalo lu ga mau bucin lu mati gue b*dik!!" kata salah satu dari mereka memperlihatkan senjata tajamnya yang terlihat menyembul dibalik pinggangnya membuatku menutup rapat mulutku.
Fahmi ditarik ketengah-tengah mereka. Dipukul dan dihajar habis-habisan dengan hantaman satu persatu membuatku teriak histeris.
Plak!!
Buggg!!!
Gubrak!!!
"Jangaaaaan!!! Tolong jangan pukul Fahmii!!! Tolong, toloooooong!!!"
Aku tak sanggup melihat Fahmi diperlakukan seperti itu. Tidak! Jangaaaaan!!!!
Ya Allah ya Tuhanku!!!! Tolong bantu, Fahmi! Pleaseeee!!! Gustiiiiii!!!!!!
Fahmi memandangku. Seolah berkata, janganberkata apa-apa. Tapi sungguh, aku tak bisa diam saja.
Kuterjang mereka dengan tenaga yang kupunya. Mencakar dan menggigit mereka semampu yang kubisa.
Tapi nyatanya tetap tak berhasil juga. Tiga dari mereka menerkamku. Menekuk tubuhku hingga aku diringsek dan ditarik mereka. Aku digusur menjauh agak kesemak-semak.
"Enaknya ni cewe kita kerjain aje!"
"Jangaaaan!!! Jangan apa-apain Martiniiiii!!! Niih, ambil motor sama hape gueeee!!!! Jangaaan!!!" kudengar suara Fahmi berteriak-teriak histeris semakin jauh karena diapun digusur semakin menjauh.
Aku menangis, berteriak sekuat tenaga. Hingga menendang salah satu dari mereka dengan kuat hingga agak terpental.
"Sialan ni cewek! Kecil-kecil tenaganya kuat juga!"
Aku berlari sekuat tenaga setelah berhasil melepaskan diri. Berteriak membabi buta berharap kendaraan lewat yang lalu lalang berhasil menarik perhatiannya.
"Tolooooooong! Toloooooong!!!!!"
Alhamdulillah, sebuah sepeda motor gede berisikan dua pria berhenti dan membantuku.
Mereka berjibaku menghantam para preman yang tadi mengejar dan meringsekku dan Fahmi hingga menjadi seperti tikus comberan. Tergeletak dengan wajah bersimbah darah. Pingsan.
"Teman saya, bang, disana! Tolong bantuin bang!!!" Aku menarik tangan salah seorang dari pria yang menolongku.
Setengah berlari menghampiri Fahmi yang tergeletak tak sadarkan diri.
Ternyata 3 dari preman tersebut telah melarikan diri bersama motor Fahmi.
"Fahmi!!! Fahmiiiiii!!!! Bangun Fahmi!!!!! Fahmiiiiiiiiiiii!!!!! Bangun woy!!!! Banguuun!!!! Huaaaaa... Fahmiiiiii hik hik hik!"
Tuhanku, Azza Wazzalla.... Apakah nasibku seburuk ini???? Mengapa hidupku setragis iniiiiiii.
Tolong selamatkan Fahmi!!!! Please ya Allah!!!!
Setelah kedua kakak baik hati itu menolongku dan Fahmi menelpon ambulans dan juga kepolisian setempat, selang seperempat jam mereka datang.
Membawa Fahmi dan aku kerumah sakit terdekat diwilayah Kemayoran.
...........
Ini pukul 1 malam. Ketika kulihat mamaku dan juga ayahnya Fahmi datang menemui kami diruang IGD rumah sakit Kemayoran.
Terlihat wajah mamaku yang pucat pias bagaikan mayat. Mungkin shock karena anak yang selalu menyusahkan ini begitu membebaninya.
Mama dan ayah Fahmi keluar ruangan. Sepertinya mereka akan berdiskusi. Membuatku menunduk diam dikursi depan ranjang tidur Fahmi. Fahmi masih terlelap meski kini sudah mendapat cairan infusan.
Aku ingin keluar. Ingin memberi penjelasan pada mama juga ayahnya Fahmi.
"Pria b*jingan sepertimu... ternyata juga melahirkan keturunan b*jingan!!!"
Mama????
Perkataan kasar mama pada ayah Fahmi membuatku ternganga. Menjadikanku tak berani melangkah mendekat.
"Aku mencarimu kemana-mana, Leny! Aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku padamu! Tapi kamu hilang bagai ditelan bumi!!! Aku seperti orang gila! Mencarimu kemana-mana!"
Aku masih terdiam. Sedikit menyimak, kalau sepertinya mereka punya kisah dimasa lalu. Karena kata-kata mama dan ayahnya Fahmi justru tak terdengar seperti diskusi permasalahan kami yang dirampok 6 orang preman gila dikawasan Angkasa Pura Kemayoran.
"Kalau kau memang merasa menyesal pada tindakanmu padaku 16 tahun yang lalu,.... Aku tunjukkan padamu! Itu adalah hasil perbuatan jahatmu padaku!!!!!"
Mama menunjukku. Menunjukku. Tepat diwajahku. Yang ternyata ia sadari kehadiranku sedari tadi.
Tuhanku!!!!!
Aku ternyata adalah anak biologis ayahnya Fahmi!!!!
Terlahir karena diperk*sa paksa ayahnya!!!?!?
What the hell, author?
Sekejam inikah dunia memperlakukanku? Sesosok makhluk hidup bernama 'manusia hina' yang terlahir tidak dengan keinginan kuat dan belas kasih sayang cinta kedua orangtuanya.
Masya Allah, Subhanallaaaaaah...
Apa yang harus aku lakukan kini, Tuhan? Aku dan Fahmi ternyata "saudaraan"!
........................................................
Habis airmataku mengering.
........................................................
Hanya tatapan kosong menatap keduanya yang begitu angkuh sombong berdiri dihadapanku.
Dan aku, bertepuk tangan untuk itu.
"Keren sekali drama kalian! Sangat kereeeen!!! Prok prok prok!!!"
Aku membalikkan tubuh. Kembali masuk kedalam ruang IGD tempat Fahmi berbaring.
Menatap wajah Fahmi yang lebam tak karuan. Dengan pandangan hampa tak bersisa. Habis sudah semua, menguap entah kemana.
Hanya bisa tersenyum sinis dan bergumam kecil dalam hati...,
"Kau ternyata saudaraku, Fahmi!!!!... Ayahmu ternyata adalah ayah biologisku juga, Fahmi!!!!... Hebatnya Tuhan mengatur skenario ini untuk kita, bukan?... "
"Aku harus apa, Fahmi? Harus bagaimana? Harus berbuat apa? Nothing!!!!!!"
-Bersambung-