Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.
Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:
punya rumah sendiri.
Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.
Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.
Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.
Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.
Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.
Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
Ada keputusan yang tidak pernah benar-benar terasa ringan.
Bukan karena jalannya sulit.
Melainkan karena setiap langkah yang kita ambil selalu berarti meninggalkan sesuatu yang kita cintai.
-----
Malam itu aku hampir tidak tidur.
Suara Marni dari pesan suara di ponsel Amira terus terngiang di kepalaku.
"Hati-hati sama Anggun..."
"Dia masih dendam..."
"Aku takut dia nekat..."
Setiap kali memejamkan mata, wajah Amira kembali muncul.
Wajahnya ketika masih sehat.
Ketika tertawa.
Ketika berpamitan berangkat ke Jakarta.
Hingga wajahnya yang semakin kurus saat terbaring di rumah sakit.
Aku membuka mata.
Langit di luar jendela masih gelap.
Azan Subuh belum terdengar.
Di sampingku, Andi tidur memeluk bantal kecil milik ibunya. Sesekali bibir mungilnya bergerak pelan, seperti sedang mengigau.
Sementara Lala sudah terbangun lebih dulu.
Gadis itu duduk di tepi ranjang sambil melipat seragam sekolahnya.
"Belum tidur, Pak?" tanyanya lirih.
Aku menggeleng pelan.
"Nggak bisa."
Lala menatapku beberapa saat, lalu kembali menundukkan kepala.
Sejak kepergian Amira, putriku memang lebih banyak diam.
Usianya baru empat belas tahun.
Namun keadaan memaksanya tumbuh lebih cepat daripada anak-anak seusianya.
Pagi mulai datang.
Setelah mengantar Lala berangkat sekolah dan menitipkan Andi kepada ibu, aku berjalan menuju rumah Mbok Diyah.
Lukman sudah lebih dulu berada di sana.
Melihat wajahku, dia langsung tahu ada sesuatu yang ingin kusampaikan.
"Gimana, Kang?"
Aku mengeluarkan ponsel Amira dari saku.
"Aku sudah buka."
Lukman mengangguk pelan.
"Ada petunjuk?"
"Ada."
Aku menceritakan semua isi pesan Marni.
Tentang ancaman Anggun.
Tentang laki-laki tua yang diduga seorang dukun.
Dan tentang firasat buruk yang selama ini dipendam Amira sendirian.
Selama aku bercerita, Mbok Diyah hanya memejamkan mata.
Sesekali jemarinya bergerak pelan memutar tasbih kayu yang sudah kusam.
Suasana menjadi hening.
Hingga akhirnya aku menghela napas panjang.
"Aku mau ke Jakarta."
Kalimat itu membuat Lukman langsung menoleh.
"Sendirian?"
"Iya."
"Lha terus Lala sama Andi?"
"Mereka sama neneknya dulu."
Lukman tampak ragu.
"Menurutku sebaiknya jangan gegabah, Kang."
"Aku bukan mau cari ribut."
"Lalu?"
"Aku cuma ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Amira."
Mbok Diyah akhirnya membuka mata.
Tatapannya lurus ke arahku.
"Kalau memang itu keputusanmu..."
"...berangkatlah."
Aku mengangguk pelan.
"Tapi ingat satu hal, To."
Beliau berhenti sejenak.
"Jangan berangkat membawa dendam."
Aku terdiam.
"Dendam membuat manusia gampang dibutakan."
"Kalau hatimu dikuasai amarah, kamu akan lebih mudah dijerumuskan."
Aku menunduk.
Nasihat itu terasa menampar.
Karena sejak semalam aku memang dipenuhi keinginan untuk mencari orang yang menyebabkan semua penderitaan Amira.
Mbok Diyah melanjutkan,
"Pergilah untuk mencari kebenaran."
"Bukan untuk melampiaskan kemarahan."
Aku mengangguk pelan.
"Insyaallah, Mbok."
Menjelang sore, aku mulai menyiapkan beberapa pakaian seperlunya.
Hanya dua stel baju.
Sarung.
Jaket tipis.
Dompet.
Ponsel.
Buku catatan kecil milik Amira.
Dan ponsel peninggalannya yang kini menjadi satu-satunya petunjuk yang kumiliki.
Tidak lebih.
Sebelum menutup tas, mataku berhenti pada foto keluarga kami.
Foto sederhana yang diambil beberapa tahun lalu saat Lebaran.
Aku, Amira, Lala, dan Andi.
Semuanya masih tersenyum.
Tanpa sadar jemariku mengusap wajah Amira di foto itu.
"Insyaallah..."
"Aku akan cari jawabannya."
Sore menjelang magrib.
Lala pulang sekolah.
Begitu melihat tas ransel yang sudah tergeletak di ruang tengah, ia langsung memahami maksudnya.
"Bapak jadi berangkat?"
"Iya."
"Gak lama, kan?"
Aku tersenyum tipis.
"Semoga."
Lala terdiam beberapa saat.
Lalu menghampiriku.
"Bapak tenang aja."
"Lala bisa bantu Nenek jagain Andi."
Dadaku kembali terasa sesak.
Aku mengusap kepala putriku pelan.
"Kamu masih anak-anak."
"Tapi keadaan bikin Lala harus belajar."
Kalimat sederhana itu justru membuat mataku mulai memanas.
Aku menarik tubuhnya ke dalam pelukan.
"Maaf ya, Nak..."
Lala menggeleng.
"Bapak gak usah minta maaf."
"Yang penting... pulang."
Aku mengangguk pelan.
"Iya."
"Bapak pasti pulang."
Malam itu...
Keputusan akhirnya benar-benar kuambil.
Besok pagi, aku akan berangkat menuju Jakarta.
Bukan untuk mencari pekerjaan seperti yang dulu dilakukan Amira.
Melainkan untuk mencari jawaban...
atas kematian perempuan yang paling kucintai.
(Bersambung)